Pemerintah-
NU-Muhammadiyah
Idul Fitri 14 November
Jakarta 12/11/2004: Pemerintah melalui Departemen Agama
menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1425 Hijriah, jatuh pada hari Minggu, 14
November 2004. Menteri Agama ad interim Alwi Shihab, mengemukakan hal itu
dalam sidang itsbat penetapan Idul Fitri 1425 H di jakarta (12/11/2004).
Sidang itsbat itu juga dihadiri Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan,
Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Yusuf Muhammad, perwakilan
Majelis Ulama Indonesia, dan organisasi-organisasi kemasyarakatan Islam.
NU-Muhammadiyah
Jakarta 11/11/2004: Seluruh umat Islam di Indonesia bakal melaksanakan
perayaan Idul Fitri tahun ini secara bersama-sama. Dua ormas Islam
terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah diperkirakan
memastikan Idul Fitri 1425 H jatuh pada 14 November 2004.
Ketua Lajnah Falakhiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) KH
Ahmad Ghazalie Masroeri mengatakan, kecil kemungkinan terjadi perbedaan
dalam menentukan 1 Syawal 1425 H.
Dalam jumpa pers di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (10/11/2004), Masroeri
mengatakan, dari perhitungan astronomi NU, bulan baru bisa dilihat pada
tanggal 14 tersebut. "Itu artinya, puasanya genap 30 hari atas dasar
istikmal (menggenapkan 30 hari) setelah rukyatulhilal (melihat bulan)
tidak berhasil," ujar Masroeri.
Masroeri mengatakan bahwa memang, NU baru akan melakukan rukyatulhilal
Jumat sore 12 November. Tapi, sangat mungkin hilal (bulan sabit) belum
bisa dilihat dengan kasat mata pada saat itu karena masih di bawah ufuk.
Dari perhitungan astronomi, di Jakarta, posisi hilal saat itu berada pada
ketinggian -3° dalam umur 18 jam.
Dijelaskan, menurut pandangan NU, istikmal tetap harus didahului proses
observasi bulan sabit di lapangan (rukyatul hilal). Akan tetapi, menurut
perhitungan hisab penyerasian Lajnah Falakiyah PBNU, posisi hilal pada
Jumat sore 12 November 2004 saat matahari terbenam di seluruh wilayah
Indonesia masih berada di bawah ufuk.
Menurutnya, pada saat itu dipastikan posisi hilal berada pada ketinggian
-3º18’. Padahal, berdasarkan ilmu hisab mutakhir, hilal dapat dilihat
jika memenuhi kriteria imkanurrukyat (visibilitas melihat bulan sabit)
dengan minimal ketinggian hilal pada 2º dalam umur delapan jam. Dengan
begitu, kata Masroeri, setelah observasi bulan sabit tidak berhasil,
barulah proses istikmal bisa dilaksanakan sesuai dengan yang dianjurkan
Rasulullah Muhammad SAW. *e-ti |
|
|
|