Enam Putra Terbaik
Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Jakarta 10/11/2004: Gelar pahlawan nasional dianugerahkan kepada enam
putra terbaik bangsa, yakni Maskoen Soemadiredja, Andi Mappanyukki, Raja
Ali Haji, KH. Achmad Ri'fai, Gatot Mangkoepradja dan Ismail Marzuki.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan dalam rangkaian
peringatan Hari Pahlawan 10 November, di Istana Negara Rabu (10/11/2004).
Keenam pejuang nasional itu dianggap berjasa meraih, mempertahankan,
serta membela bangsa dan negara melalui bidang politik dan kebudayaan.
Penganugerahan gelar itu disampaikan Presiden kepada ahli waris dari
keenam pahlawan nasional tersebut.
Siapa keenam pahlawan nasional itu?
Maskoen Soemadiradja, tokoh pejuang yang telah bersama-sama dengan tokoh
nasional lainnya meraih, membela, dan mempertahankan kemerdekaan
Indonesia. Pada tahun 1927, dia memulai perjuangan untuk mencapai
kemerdekaan Indonesia dengan melakukan propaganda menyebarluaskan prinsip-
prinsip nasionalisme melalui organisasi pergerakan politik untuk
menanamkan kesadaran berbangsa. Akibat kegiatannya itu, pada tahun 1929,
Maskoen bersama tiga tokoh partai politik lainnya yaitu Soekarno, Gatot
Mangkoepradja dan Suhada ditahan 8 bulan, kemudian dibuang ke Digul
Andi Mappayukki, Raja Bone ke-32 yang dikenal memegang prinsip menentang
pemerintahan kolonial Belanda. Andi pernah menolak tawaran pemerintah
kolonial Belanda untuk dijadikan pejabat di Gowa Barat. Dia adalah tokoh
masyarakat yang berpengaruh di kalangan aristokrat Sulawesi Selatan.
Perjuangannya dimulai pada tahun 1905, saat berumur 20 tahun, sebagai
perwira kerajaan Gowa, ketika bertugas perang melawan kolonial Belanda
untuk mempertahankan pos pertahanan terpenting di Gunung Sari.
Raja Ali Haji adalah tokoh bahasa melayu, pencipta sajak Gurindam 12
tahun 1847, yang diterbitkan di Belanda pada tahun 1953. Beliau juga
merupakan pelopor perkampusan monolingual melayu.
KH Ahmad Ri'fai adalah tokoh pelopor gerakan sosial keagamaan Jamaah
Ri'faiyah Tarjumah yang dimulai di Pekalongan tahun 1850. Dalam
perjuangannya menentang penjajah Belanda,. Ahmad Ri'fai mendirikan
lembaga pendidikan dan mengadakan tablik agama keliling di wilayah Jawa
Tengah. Ulama pejuang ini meninggal dunia dalam pengasingannya di Manado.
Ismail Marzuki, dikenal sebagai pejuang dan juga tokoh seniman pencipta
lagu bernuansa perjuangan yang dapat mendorong semangat untuk membela
kemerdekaan. Dia adalah tokoh yang menciptakan karya lagu lebih dari 200
lagu, yang sebagian besar adalah lagu-lagu bernuansa perjuangan yang
sangat dibutuhkan pada saat itu.
Pada tahun 1931, dia memulai menciptakan lagu "O Sarinah'' yang
menggambarkan suatu kondisi kehidupan bangsa yang tertindas. Lagu-lagu
ciptaannya antara lain Rayuan Pulau Kelapa yang dicipta tahun 1944, Gugur
Bunga (1945), Halo-Halo Bandung (1946), Selendang Sutera (1946), Sepasang
Mata Bola (1946), dan Melati di Tapal Batas (1947).
Gatot Mangkoepradja adalah tokoh pejuang yang secara konsisten melawan
penjajahan Belanda. Ia dikenal sebagai pemrakarsa pembentukan tentara
sukarela Pembela Tanah Air, yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional
Indonesia (TNI). Dia pejuang yang pada tahun 1927 memulai perjuangannya
ketika dia bergabung dan aktif dengan Perhimpunan Indonesia di Belanda.
Beliau bersama dengan Natsir, Muhammad Hatta, Ahmad Soebardjo dan Semaun
dikirim mengikuti konggres liga penentang imperialisme, dan penindasan
kolonialisme yang diselenggarakan di Brusel Belgia. Pada tahun 1930,
bersama Ir. Soekarno ikut menggelorakan pembelaan yang dikenal dengan
''Indonesia Menggugat''. *e-ti |
|
|
|