Wapres Jusuf Kalla
3 Tahap Tanggulangi Bencana Tsunami
Jakarta 4/1/05: Pemerintah terus melakukan konsolidasi dalam menangani
Bencana Aceh, kata Wakil Presiden Jusuf Kalla, selaku Ketua Bakornas
Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) dalam Rapat Koordinasi (Rakor)
dengan jajaran Departemen/LPND terkait, Selasa, 4 Januari 2005 pukul
10.00 WIB d ruang Rapat Kantor Wakil Presiden Jl. Merdeka Selatan,
Jakarta Pusat.
Untuk itu, Wapres mengingatkan tiga hal yang harus dikerjakan secara
terencana yakni :
(1) Tahap Kedaruratan, (2) Tahap Rehabilitasi, dan (3) Tahap
Rekonstruksi. Tahap kedaruratan yang berlangsung Desember 2004 –Februari
2005 lebih memberikan penekanan pada upaya menguburkan yang meninggal
dan menyelamatkan yang hidup. Upaya penyelamatan ini dilakukan dengan
memberi bantuan kebutuhan pokok (beras, makanan instant, pakaian,
obat-obatan dll).
Tahap rehabilitasi mulai Februari 2005 – Februari 2006 memberikan
penekanan pada rehabilitasi yang cepat sarana umum dan rumah rakyat yang
rusak ringan yang meliputi sekolah, rumah sakit, PDAM, listrik, sarana
telekomunikasi, kantor-kantor pemerintah, pelabuhan, pasar-pasar
sehingga kegiatan ekonomi kembali lancar. Wapres menekankan
pembukaan sekolah harus dilakukan mulai Februari 2005.
Tahap rekonstruksi mulai tahun 2005 – 2009 membangun kembali sarana umum,
rumah penduduk, dan sarana kegiatan ekonomi secara permanent, dan ini
akan memakan biaya
sangat besar, diperkirakan akan mencapai lebih dari Rp 10 trilyun.
Dalam Rakor tersebut, juga diingatkan bahwa Bakornas PBP punya peran
yang besar untuk mengkoordinasikan secara sinergis dengan berbagai pihak.
Perencanaan mendasar diawali dengan penanganan bencana itu sendiri,
selanjutnya penanganan pengungsi dan perencanaan yang komprehensif untuk
rekonstruksi jangka panjang.
Wakil Presiden mengatakan pemerintah sangat menghargai keterlibatan
masyarakat, LSM baik domestik maupun asing, serta pemerintah asing yang
telah memberikan bantuan dalam periode kedaruratan. Respons dari
berbagai pihak ini menunjukkan
solidaritas masyarakat domestik dan masyarakat internasional sangat
tinggi atas bencana kemanusiaan ini. Namun diingatkan oleh Wapres bahwa
keadaan ini tidak berlangsung lama.
Keterlibatan LSM dan masyarakat internasional biasanya hanya pada priode
kedaruratan. Selanjutnya adalah merupakan tugas pemerintah bersama
seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu seluruh aparat pemerintah
harus siap untuk menangani lebih lanjut pada periode rehabilitasi dan
rekonstruksi dengan atau tanpa bantuan pihak lain.
Wapres telah memerintahkan agar Wakil Gubernur Provinsi NAD fokus pada
penataan pemerintahan di daerah bencana, sehingga diharapkan Pemda akan
dapat mengambil alih sebagian besar pekerjaan rehabilitasi dan
rekonstruksi. Wapres juga mengingatkan perlunya clearing data yang
terintegrasi. Oleh sebab itu, Posko Nasional PBP Kantor Wapres harus
diperkuat dengan mengikutsertakan seluruh instansi terkait.
Program TMMD
Dalam rapat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla pihak Mabes TNI melaporkan
untuk menanggulangi bencana Tsunami Aceh akan mempercepat program
Program “TNI Manunggal membangun Desa” (TMMD) 2005, dimana untuk program
ini Mabes TNI akan melibatkan 1000 orang taruna. Ini akan memperkuat
kekuatan TNI di Aceh yang selama ini telah diterjunkan di Aceh, yang
terjadi berbagai kesatuan yang membantu masyarakat mengatasi dampak dari
bencana.
Kepada Wapres dilaporkan juga berbagai langkah yang telah dilakukan oleh
masing-masing instansi.
Departemen Perhubungan, mengerahkan lagi 7 helikopter, 3 pesawat terbang
jenis
Cassa, 10 orang pilot, 3 orang injinir, 3 kapal dan sejumlah peralatan
komunikasi. Ini dimaksudkan agar daerah-daerah yang terisolasi dapat
dijangkau.
Departemen Luar Negeri, memfasilitasi dan mengarahkan bantuan dari
Negara-negara
asing. Departemen Perindustrian akan menyediakan 2500 tenda untuk
pengungsi. Namun realisasinya akan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan.
TELKOM melaporkan 35 buah dari 44 buah Sentral Telepon Otomat (STO)
telah difungsikan di NAD. 9 buah STO masih belum berfungsi di
daerah-daerah yang belum terjangkau karena kesulitan membawa peralatan
seperti Calang, Jeuram, Lhok
Nga. Di Banda Aceh telah dihidupkan kembali 110 saluran untuk
kepentingan pemerintah/bank/posko setempat. Juga akan dibangun
audio/video conference untuk menghubungkan antara posko NAD dengan posko
Pusat di Kantor Wapres.
Departemen Perdagangan akan segera mengembalikan fungsi pasar
tradisional membangun pasar tradisional darurat di wilayah terkena
musibah, sehingga aktifitas ekonomi masyarakat berangsur normal.
PLN melaporkan di Kota Banda Aceh saat ini listrik telah berfungsi
sekitar 40% sedangkan Meulaboh, listrik telah berfungsi 15%. PLN
menyediakan sepeda motor dan sepeda dayung untuk kelancaran petugas di
lapangan.
Akhirnya Wapres meminta semua instansi dalam priode darurat ini wajib
melaporkan perkembangan kegiatan aktifitas di Aceh dua kali dalam satu
hari, sehingga diketahui dengan persis tingkat kemajuan yang dicapai dan
kendala yang dihadapi untuk ditindak lanjuti segera. *e-ti/Media
Center LIN
|
|
|
|