|
|
 |
Maruli Tobing, Wartawan Kompas Bom Malam Natal dan JI
Malam Natal 2000 berubah menjadi malam teror. Sedikitnya 38 bom meledak di
11 kota. Sejumlah gereja porak-poranda. Darah berceceran di mana-mana.
Jerit tangis ibu-ibu dan anaknya menghentikan suasana hening saat doa
memuliakan Allah.
Laporan resmi menyebut sedikitnya 20 orang tewas, 35 luka berat, dan 48
cedera ringan.
Peristiwa ini mengejutkan masyarakat Indonesia maupun internasional. Rumah
Allah tidak lagi dihormati, bahkan dijadikan target kekerasan.
Tragedi malam Natal sempat berubah menjadi misteri akibat lemahnya
pengetahuan kita mengenai aksi terorisme. Opini publik, termasuk pejabat
negara dan aparat keamanan, hanya mampu mengarah sebatas kecurigaan pada
Soeharto, sisa Orde baru, atau TNI yang akrab dalam permainan intelijen.
Tapi, apakah benar demikian?
Persoalannya adalah minimnya pemahaman mengenai terorisme, teroris, dan
teror. Konsep, teori, dan model yang digunakan bagi pendekatan persoalan
ini masih mengacu pada tahun 1970-an. Padahal, selama kurun waktu 1970-an
hingga sekarang telah terjadi perubahan drastis dalam visi, target, metode,
dan bentuk-bentuk organisasi teroris.
Dalam kasus bom Natal, misalnya, pejabat tinggi negara maupun mereka yang
terkait dalam masalah keamanan, membantah peristiwa ini terkait dengan
jaringan teroris internasional. Sikap demikian bergeming kendati Dedi
Mulyadi, veteran perang Afganistan, ditangkap polisi di Pangandaran, Jawa
Barat.
Dalam pemeriksaan ia mengaku, perencana dan donatur serangan bom di
Bandung, Sukabumi, dan Pangandaran adalah Encep Nurjaman alias Riduan
Isamuddin alias Hambali. Untuk pertama kalinya nama Hambali muncul dan
dikenal dari pengakuan Dedi.
Demikian pula ketika polisi menangkap Taufiq bin Abdul Halim (27) alias
Dodi Mulia, alias Doni, alias Yudi Mulya Purnomo, alias Dani, warga
Malaysia, dalam kasus pengeboman Atrium Senen, Jakarta Pusat, 1 Agustus
2001. Sama seperti Dedi, Dani ditangkap karena faktor kebetulan. Bom yang
disiapkan meledak secara premature.
Dalam perspektif pejabat, aksi kekerasan dikategorikan sebagai teror jika
ada kelompok mengaku bertanggung jawab. Sebab, terorisme bukan peristiwa
yang lepas seperti gas di udara, tapi menkomunikasikan keinginan dan
tuntutan teroris. Dalam kasus bom Natal dan rangkaian serangan bom
berikutnya, tidak ada satu pun kelompok yang merilis tanggung jawab itu.
Itu sebabnya kebingungan dan keragu-raguan kerap muncul dalam setiap
pernyataan pejabat, berkaitan dengan peristiwa kekerasan di Indonesia.
Contohnya saja, nama Hambali baru diajukan agar dimasukkan dalam daftar
pencarian orang (DPO) Interpol setelah terjadinya peristiwa 11 September
di AS, atau 10 bulan setelah bom Natal.
Sebaliknya, kelompok radikal sangat memahami persoalan ini. Mereka bahkan
memanfaatkannya dengan mendukung "kebingungan" itu melalui kampanye
propaganda di berbagai media massa. Mereka yang bergerak di luar jalur ini
segera dijadikan bulan-bulanan kritik dan cercaan, baik melalui media
massa maupun unjuk rasa.
Jika dirunut ke belakang, akan makin jelas tampak bagaimana peristiwa
kasat mata itu "disulap" menjadi mirip benang kusut.
***
Sebelum terjadinya serangan bom malam Natal, rangkaian ledakan bom dan
granat terjadi di beberapa kota. Hanya berselang empat hari setelah bom
mengguncang Plaza Hayam Wuruk, Jakarta Pusat (15/4 - 1999), misalnya, satu
ledakan keras memorak-porandakan ruang perkantoran di Kompleks Masjid
Istiqlal Jakarta. Bom ini disebut-sebut berdaya ledak tinggi hingga
memorak-porandakan sejumlah ruangan perkantoran di situ.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Sedang pelakunya hingga
sekarang masih misterius. Sebanyak 13 orang yang ditangkap Polri dan
diproses secara hukum, akhirnya bebas oleh putusan Pengadilan Tinggi
Jakarta, 5 Januari 2000. Polisi menangkap mereka karena diduga terlibat
dalam peledakan Plaza Hayam Wuruk, perampokan kantor cabang BCA, dan
terkait dengan peledakan bom di Istiqlal. Perampokan BCA hampir bersamaan
dengan peledakan di Plaza Hayam Wuruk. Lokasinya juga berdekatan.
Pada waktu itu polisi menyebut, mereka itulah pelakunya dan tergabung
dalam AMIN (Angkatan Mujahidin Islam Nusantara). Kelompok ini aktif
melakukan latihan militer di Desa Maseng, Caringin, Kabupaten Bogor. Tapi
sebaliknya, tokoh partai poltik maupun aktivis organisasi agama balik
menuding Polri melakukan rekayasa.
Menurut mereka, pernyataan Polri menyudutkan agama Islam. Sebab, dalam
daftar organisasi yang melakukan aksi makar, nama AMIN tidak pernah
tercatat atau terdengar. Mereka juga mencurigai 13 tersangka sebagai
korban salah tangkap, karena umumnya hidup melarat dan mencari nafkah
dengan berjualan keripik singkong dan kerupuk. Warga seperti ini jelas
tidak punya uang untuk membeli bahan peledak.
Reaksi yang sama juga terjadi ketika Polri berhasil menangkap Tazul Arifin
alias Sabar (34), pelaku pembacokan Ketua PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
Matori Abdul Jalil. Sedang rekannya, Tarmo alias Sarmo, tewas dikeroyok
massa. Peristiwa ini terjadi di rumah Matori, Jalan Elang Emas Blok
C-7/12, Kelurahan Tanjung Barat, Jakarta Selatan, 5 Maret 2000, atau 11
bulan setelah pengeboman di Istiqlal.
Dalam pemeriksaan, Sabar mengaku melaksanakan perintah Zulfikar, pimpinan
kelompok pengajian 12 orang. Setiap Sabtu dan Minggu, mereka melakukan
pengajian di salah satu masjid di daerah Kapuk, Cengkareng. Mereka adalah
anggota AMIN. Tapi, lagi-lagi media massa menyebutnya sebagai hasil
imajinasi Polri.
Polri sendiri tidak terlalu menanggapi tudingan tersebut, termasuk dalam
kasus-kasus berikutnya. Bahkan sebaliknya, Polri terseret arus opini yang
terbentuk ketika itu. Situasi politik yang memanas mulai merembes dalam
jajaran instansi penegak hukum ini. Keadaannya makin parah lagi setelah
pergantian Kepala Polri Rusdiharjo. Polri malah menjadi ujung tombak para
elite politik untuk mendongkel Presiden Abdurrahman Wahid.
Kalaupun kemudian Polri berhasil menangkap pelaku, lebih baik memilih
jalan aman dengan menghindar menyebut nama kelompok tersangka terkait
dengan agama. Tapi, di kalangan masyarakat hal ini melahirkan berbagai
spekulasi.
Salah satu yang paling menonjol, terbentuknya opini bahwa dalang peristiwa
peledakan bom adalah Soeharto, sisa Orde Baru, atau TNI. Akibat
psikologisnya, masyarakat menjadi apatis dan maklum jika pelaku tidak
tertangkap. Atau kalau tertangkap, sosoknya aneh-aneh, termasuk penjual
keripik singkong.
***
Pertengahan April 2002, Polri menangkap 13 orang di Desa Saketi,
Pandeglang, Provinsi Banten. Mereka aktif melakukan latihan militer di
daerah itu. Polisi menyita 9 pucuk senjata api, 7 di antaranya laras
panjang. Informasi mengenai kamp latihan ini diperoleh dari Dani,
tersangka peledakan bom di Plaza Atrium Senen, Gereja Santa Anna di Kali
Malang, dan Gereja HKBP Klender.
Identitas dan peran Dani sendiri waktu itu masih simpang-siur. Malah ada
indikasi mengaitkannya dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Namun, setelah
Menteri Luar Negeri Malaysia membeberkan kepada pers setempat mengenai 10
anggota Kumpulan Mujahidin Malaysia (KKM) yang melarikan diri ke
Indonesia, satu di antaranya Dani, barulah persoalannya menjadi jelas.
Syahrani alias Zia, salah satu di antara 13 orang yang ditangkap di Saketi,
adalah warga negara Malaysia. Dani dan Syahrani adalah buronan Polisi
Diraja Malaysia dengan tuduhan makar. Keduanya diancam hukuman mati.
Syahrani sudah diekstradisikan ke negaranya.
Sebelumnya, atau tepatnya 15 Januari lalu, polisi Filipina menangkap
Fathur Rohman Al-Ghozi (32), warga Indonesia asal Madiun (Jawa Timur). Ia
dituduh sebagai anggota JI (Jemaah Islamiyah) dan terlibat serangan bom di
stasiun kereta api Manila, 30 Desember 2000. Di rumahnya di kawasan Quiapo,
Manila, polisi menemukan 17 pucuk senjata M-16, 1 ton bahan peledak, dan
sejumlah peralatan lainnya.
Dalam sidang pengadilan, Al-Ghozi mengaku menjalankan perintah Hambali.
Peristiwa serangan bom itu, sepekan setelah bom malam Natal di Indonesia,
menewaskan 23 orang dan l00 orang dilarikan ke rumah sakit.
Al-Ghozi, alias Rony Asad bin Ahmad, alias Sammy Sali Jamil, tinggal di
Mindanao Selatan, Filipina, sejak tahun 1995. Atau setelah usai mengikuti
pendidikan agama di Pakistan dan latihan militer di Afganistan. Ia
dikabarkan berulang kali masuk ke Indonesia dan ikut mendirikan AMIN.
***
Tanggal 26 Juni 2002, usai mengikuti rapat koordinasi khusus dengan
gubernur, Kepala Polda, dan Kajati se-Jawa, Menteri Koordinator Bidang
Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan
kepada pers, ada kelompok sipil yang mengadakan latihan militer dengan
menggunakan senjata standar TNI di luar Jakarta. Ia minta pemerintah
daerah meningkatkan kewaspadaan agar konflik politik di daerah tidak
meluas menjadi konflik sosial.
Menko Polkam menjelaskan, informasi tersebut diperoleh dari Kepala Polda
Metro Jaya dalam rapat tersebut. Tapi anehnya, setelah esoknya berita itu
dimuat di halaman depan berbagai media, hari berikutnya muncul pernyataan
Polri bahwa informasi yang disampaikan Menko Polkam adalah peristiwa lama.
Tanpa merinci apa yang dimaksud peristiwa lama, tapi jelas adalah
penggerebekan dan penangkapan 13 orang yang dilakukan Polri di Desa Saketi,
Pandeglang, pertengahan April 2002. Dalam penjelasannya pihak Polri
mengatakan, tempat latihan militer itu tetap diawasi.
Ketika terjadi ledakan bom di Kuta, Bali, yang menewaskan 180 orang lebih
tanggal 12 Oktober, dan kemudian diikuti pengejaran Imam Samudra, semua
mata hanya tertuju pada proses pengejaran dan penangkapan. Demikian pula
ketika Imam Samudra "menyanyi" membuka jaringannya, kelompok Serang, dan
keterlibatan kelompok ini dalam berbagai pengeboman, dan perampokan.
Popularitas Imam Samudra jauh mengalahkan bosnya, Muklas. Ia menjadi
selebriti. Pengakuannya selalu menghiasi halaman depan media massa di
dalam maupun luar negeri. Bom bunuh diri yang menghebohkan, muncul dari
pengakuan Imam Samudra.
Di semua kota hingga sudut-sudut pedesaan masyarakat bergerombol di depan
televisi, mendengar kabar dan menyaksikan lanjutan penangkapan dan
pemeriksaan Imam Samudra. Pengejarannya sendiri cukup menegangkan. Apalagi
sebelum Amrozi tertangkap, Polri berulang kali salah tangkap, termasuk
seorang pria kurang waras.
***
AKAN tetapi, dari semua peristiwa yang berlangsung dengan antiklimaks
mirip happy ending dalam sinetron itu, tidak satu pun mempertanyakan
tindak lanjut sinyal yang disampaikan Menko Polkam dalam jumpa pers Juni
lalu. Padahal, dari sudut intelijen, sinyal tersebut sangat spesifik
karena menyebut lokasi dan sedang berlangsungnya aktivitas, yakni kelompok
Serang atau juga disebut kelompok Palem, basis jaringan Imam Samudra.
Seandainya aparat keamanan cepat merespons sinyal tersebut, akan terungkap
jaringan teroris yang selama ini menghantui masyarakat. Bahkan, barangkali
peristiwa bom di Kuta dapat dicegah.
Kamp itu sendiri jelas diketahui polisi terkait dengan jaringan teroris
internasional. Seperti diakui Bahrul Alam dalam penggerebekan sebelumnya,
anggota Kumpulan Mujahidin Malaysia ikut terjaring dan diproses secara
hukum. Mereka terlibat bom malam Natal, Plaza Atrium Senen, Gereja Santa
Ana, dan HKBP Klender. (Sinar Harapan, 27/6-2002)
KMM dibentuk aktivis agama asal Indonesia, termasuk Hambali, dan sejumlah
rekannya, alumni Afganistan asal Malaysia. Tujuannya melakukan teror dan
pengumpulan dana melalui kekerasan, termasuk perampokan bank. Di
Indonesia, dibentuk AMIN, yang fungsinya kurang lebih sama dengan KMM.
Tadinya tempat latihan itu berada di Desa Maseng, Kabupaten Bogor. Namun,
setelah heboh pengeboman Plaza Hayam Wuruk, perampokan BCA, pengeboman
Istiqlal, hingga pembacokan Matori Abdul Jalil, tempat latihan dipindahkan
ke Pandeglang. Baik AMIN maupun KMM adalah sayap militer JI di
masing-masing negara.
Lantas apa yang membuat Polri enggan bertindak?
Kita tidak mengatakan Indonesia telah bergeser mengikuti Pakistan. Yakni
kalangan militer dan intelijen aktif mensponsori kelompok radikal dan
terorisme, serta membangun jaringan internasional. Tapi, ini adalah
kesalahan almarhum Presiden Zia Ul Haq dengan ambisinya membangun Front
Islam Internasional.
Di Indonesia, masyarakat awam mungkin hanya akan mengatakan, ada kekuatan
besar melindungi kelompok yang melakukan latihan militer itu hingga Polri
takut bertindak. Seperti halnya kamp latihan militer di Poso, yang sempat
dihebohkan.
Namun yang pasti, kedua kamp ini telah melahirkan banyak perakit-perakit
bom andal. Maka, selama semua ini belum terungkap tuntas, setiap saat
peristiwa Kuta dapat berulang kembali dan membinasakan siapa saja. ***
Tokoh Indonesia, Maruli Tobing, Kompas
|
|
Tanggal 26 Juni 2002, usai mengikuti rapat koordinasi khusus dengan
gubernur, Kepala Polda, dan Kajati se-Jawa, Menteri Koordinator Bidang
Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan
kepada pers, ada kelompok sipil yang mengadakan latihan militer dengan
menggunakan senjata standar TNI di luar Jakarta. Ia minta pemerintah
daerah meningkatkan kewaspadaan agar konflik politik di daerah tidak
meluas menjadi konflik sosial.
|
|