| |
C © updated 03032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ |
|
| |
Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Agama:
Islam
Istri:
Khotimah Rahayu
Anak:
-Imam Prawoto,
-Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
-Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
-Khoirun Nisa (perempuan),
-Muhammad Hakim Prasojo,
-Sofyah Alwida (perempuan),
-Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
Ayah:
Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam
Rasydi)
Ibu:
Pengalaman Pendidikan:
-IAIN Ciputat
-Pondok Pesantren Gontor
-Sekolah Rakyat di Gresik
-Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
Pengalaman Pekerjaan:
-Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
-Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2
3 4 5 6 7
8
9
10
11
12
13
14
15 ==
►
English Version
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (5)
Ma’had Al-Zaytun
Laboratorium Alam dan Kegiatan Ekonomi Terpadu
Informasi fisik, statistik dan angka rasanya kurang cukup untuk
menggambarkan Ma’had Al-Zaytun. Gambaran yang lebih jelas mungkin bisa
disarikan dari laboratorium alam dan beberapa proses kegiatan ekonomi
terpadu yang ada di kawasan kampus ini yang merupakan penerapan konsep
pendidikan sebagai gula dan ekonomi sebagai semutnya.
Perkembangan pesat yang dialami oleh ponpes ini sering membuat orang
bertanya. Darimana dananya? Syaykh AS Panji Gumilang menjelaskannya
berulang kali, yaitu dari umat Islam Indonesia. Di samping dari sumbangan
umat Islam Indonesia, Ma’had Al-Zaytun juga memperoleh sumber pembiayaan
dari kegiatan ekonomi terpadu yang dilakukan di dalam kampus Ma’had Al-Zaytun.
Selain kegiatan belajar mengajar, urusan perut juga harus diperhatikan.
Memenuhi kebutuhan pangan manusia sebanyak ini setiap hari tentu tidaklah
mudah sebab membutuhkan manajemen yang solid, biaya yang besar dan tim
yang handal.
Secara finansial untuk memenuhi kebutuhannya, Ma’had Al-Zaytun tidak bisa
bergantung sepenuhnya dari uang partisipasi dari wali murid serta
sumbangan dari seluruh sahabat. Moto mandiri dan mampu bersaing dengan
bangsa lain benar-benar harus dijalankan. Oleh sebab itu, Ma'had Al-Zaytun
membuat sebuah mega proyek laboratorium alam yang sekaligus merupakan
kegiatan ekonomi terpadu, yang sudah direncanakan dengan matang.
Pemimpin kampus ini menyadari bahwa manusia, hewan dan tumbuhan
membutuhkan air, bahan pangan, dan tempat/lahan agar dapat hidup layak.
Kebutuhan-kebutuhan inilah yang coba dipenuhi secara mandiri oleh Ma'had
Al-Zaytun melalui mega proyek laboratorium alamnya.
Dalam usahanya sebagai kampus yang mandiri dan terpadu secara ekonomi,
Ma'had Al-Zaytun juga menyediakan sarana dan prasarana pendukung serta
menjalankan berbagai industri seperti industri pengolahan susu, industri
tahu dan tempe, industri pengolahan pangan, industri pengolahan pakan
ternak, pabrik beras, pabrik pengolahan gararn beryodium, percetakan, toko
serba ada (toserba), kantin umum, warung telepon (wartel), warung pos,
Bank Jabar dan BRI, barber shop, Koperasi Bersama Ma'had al-Zaytun dengan
Masyarakat Desa Mekarjaya, mess karyawan, dan sebagainya.
Di atas lahan seluas 1.200 hektar itu, Ma'had Al-Zaytun membuat sebuah
laboratorium alam yang dijadikan percontohan bagi seluruh santri dan
penghuni kampus. Di sana dibangun sebuah unit ekonomi terpadu yang pada
akhirnya menyokong keberlangsungan hidup kampus ini.
Laboratorium alam seperti apa yang dimaksudkan? Dalam kampus ini, setiap
jengkal lahan dimanfaatkan seoptimal mungkin. Lahan-lahan yang ada
dikapling sesuai peruntukannya masing-masing. Misalkan saja, lahan
peternakan, dimana dipelihara berbagai jenis hewan, antara lain, domba,
sapi potong, sapi perah, unggas, dan juga hewan peliharaan lain, yang
kesemuanya menjadi salah satu sumber penghasilan Ma'had Al-Zaytun.
Di atas lahan peternakan ini dibangun banyak bangunan seperti bangunan
peternakan sapi perah dan sapi potong, kambing perah dan kambing potong,
rusa, kuda dan itik, Bangunan peternakan untuk karantina, bangunan
hatchery untuk pengembangan dan budidaya ikan air tawar, bangunan
laboratorium kultur jaringan, bangunan laboratorium embrio transfer dan
inseminasi buatan, bangunan pengolahan susu, dan bangunan Pengolahan Pakan
Ternak.
Lahan perkebunan dan pertanian, ditanami tanaman komersial, yaitu jati mas,
jagung manis, jeruk siam garut, mangga, rumput king grass, serta seluruh
jenis tanaman baik tanaman buah maupun tanaman keras dari seluruh propinsi
di Indone-sia. Pengerjaan aktifitas agrobisnis tersebut di atas, seperti
halnya dengan semua aktifitas pembangunan Ma’had Al-Zaytun, secara
keseluruhan dilaksanakan oleh tim yang solid.
Alkisah, seorang santri sedang duduk makan dengan lahap di kantin yang
besar. Meja-meja terbuat dari kayu jati berjejer rapi dipenuhi oleh
santri-santri lainnya. Di atas piring nasi santri itu terdapat daging sapi
kecap, ayam goreng, kentang, sayur kacang panjang. Tidak jauh dari
piringnya tergeletak sebuah pisang, asinan mangga dan segelas air putih.
Bila proses tersedianya makanan dan berdirinya kantin itu diurut ke
belakang, akan dimengerti lebih jauh apa yang sudah dilakukan di Ma’had
Al-Zaytun.
Meja yang terbuat dari kayu jati yang digunakan di kantin itu merupakan
olahan sendiri. Di sana ada industri meubel yang diawaki karyawan yang
sudah terlatih dan sekaligus sebagai tempat praktek para santri. Pabrik
ini menghasilkan berbagai macam produk mulai dari lemari, meja, kursi,
hingga hiasan meja dan dinding. Dari pabrik inilah meja kayu jati yang ada
di kantin itu berasal. Pabrik meubel ini pula yang menyuplai berbagai
kebutuhan perabotan untuk kelas, asrama, kantor dan sebagainya.
Untuk mengantisipasi kebutuhan kayu pada masa depan, di sekeliling kampus
dilakukan penanaman pohon jati. Pohon-pohon jati ini ditanam setelah
melalui serangkaian proses penelitian yang disebut kultur jaringan.
Tujuannya agar diperoleh bibit jati unggul yang bisa memberikan manfaat
berlipat ganda.
Demi kepentingan penelitian ini dibangunlah bangunan laboratorium kultur
jaringan yang diisi oleh dosen/ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Di sinilah mereka melakukan praktek lapangan dan berkreasi
sebebas-bebasnya menerapkan ilmu pengetahuan yang selama ini tidak
teraplikasikan di IPB itu sendiri.
Selain bibit jati unggul, laboratorium kultur jaringan juga mengembangkan
hampir semua tanaman yang ada. Misalkan saja, rumput untuk makanan sapi.
Melalui penelitian dan pengembangan yang dilakukan sedemikian rupa,
rumput-rumput untuk makanan sapi menjadi lebih besar dan tinggi batangnya
serta padat protein. Makanan sapi yang bermutu tentu saja akan
menghasilkan sapi-sapi yang berkualitas.
Rumput sangat diperlukan karena Ma’had Al-Zaytun memiliki peternakan sapi
perah dan sapi potong, kambing perah dan kambing potong, rusa, kuda dan
itik. Oleh karena itu, disediakan sebuah lahan khusus untuk
rumput-rumputan itu yang kemudian diolah di sebuah bangunan Pengolahan
Pakan Ternak.
Daging sapi yang menjadi menu konsumsi para santri juga mempunyai kisahnya
tersendiri. Sapi-sapi yang diternakkan di Ma’had Al-Zaytun
dikembangbiakkan dengan teliti. Ada tiga jenis sapi yang dipelihara, sapi
perah, sapi potong dan sapi unggul. Untuk meningkatkan produktivitas
peternakan hewan khususnya sapi, Ma’had Al-Zaytun telah berhasil melakukan
embrio transfer dan inseminasi buatan. Sapi-sapi yang diternakkan di
Ma’had Al-Zaytun benar-benar terus dikembangkan secara optimal sebab
kebutuhan akan daging sapi bagi seluruh penghuni kampus sangat besar.
Daging dan susu sapi ini kemudian diolah di dapur dan pabrik pengolahan
susu.
Proses yang sama juga terjadi atas ayam goreng, kentang, sayur kacang
panjang, pisang, asinan mangga yang dikonsumsi oleh santri itu. Semuanya
diternakkan dan ditanam di seputar lahan Ma’had Al-Zaytun yang kemudian
diolah sendiri di dapur pengolahan bahan pangan. Di dapur inilah
dihasilkan berbagai makanan snack dan roti untuk dimakan oleh santri di
kala jam istirahat sekolah, sarapan pagi, makan siang dan makan malam
untuk seluruh penghuni Ma’had Al-Zaytun. Sedangkan persediaan bahan baku
pangan seperti daging, sayur mayur dan sebagainya disimpan rapi dalam
kamar-kamar penyimpanan yang dilengkapi dengan beberapa pendingin
berkekuatan besar.
Kebutuhan akan beras juga dipenuhi secara mandiri dengan menanam padi di
atas lahan Kampus Al-Zaytun. Kebutuhan beras Ma’had Al-Zaytun rata-rata
4,5 – 5 ton perhari dengan surplus antara 12-15 ton per hari yang kemudian
dijual ke pasar. Hasil penjualannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari seperti sabun mandi, odol, dan sebagainya. Semua persediaan
ini disimpan dan dijual di Koperasi Al-Zaytun. Jadi nasi yang dikonsumsi
oleh santri itu termasuk seluruh penghuni Al-Zaytun berasal dari tanah
tempat Al-Zaytun berdiri.
Lalu bagaimana dengan segelas air di hadapan santri itu? Kebutuhan akan
air di Ma’had Al-Zaytun juga mendapat perhatian serius. Jauh sebelum
Ma’had Al-Zaytun berdiri, daerah ini terkenal kering dan tanahnya sulit
menyerap air. Kini, semuanya sudah berubah. Semua gedung di Kompleks
Ma’had Al-Zaytun dilengkapi sarana penyerapan air. Sehingga jika hujan
turun air terserap ke dalam tanah.
Di samping itu, Ma'had Al-Zaytun juga menyiasati persediaan air sebab
lahan yang diolah oleh Ma'had Al-Zaytun terbilang lahan yang kurang subur.
Guna mencukupi kebutuhan air dan antisipasi datangnya musim kemarau,
Ma'had Al-Zaytun membuat danau buatan/empang yang sekaligus dipergunakan
untuk peternakan ikan dan sebagai penyeimbang air tanah yang merupakan
pendukung pengairan di lingkungan kampus ini.
Empat buah empang yang berukuran 100 X 100 m2 dengan kedalaman 6 m dan 1
buah danau seluas 7 ha dipersiapkan untuk olah raga air. Waduk Istisqa
seluas 1 ha, kedalaman 9 m, berada di sebelah utara Masjid Rahmatan lil 'Alamin
berfung-si untuk penampungan air permukaan. Air yang ditampung digunakan
untuk kepentingan asrama dan mengairi 30 ha areal yang telah
dikonsolidasikan. Sehingga kawasan kampus ini tidak akan kekeringan pada
musim kemarau dan tidak akan kebanjiran pada musim hujan.
Ma’had Al-Zaytun benar-benar menjadi sebuah percontohan yang konkrit
tentang kemandirian bagi bangsa ini. Melalui laboratorium alam ini, selain
untuk kepentingan edukasi bagi para santri, bangsa ini bisa tersadar dan
tergugah bahwa kemandirian bukanlah hal yang mustahil. Bahkan tidak
tertutup kemungkinan, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sangat
diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain sebab mampu mandiri dan turut
membantu bangsa-bangsa lain. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya, dan
itulah yang sedang diceritakan oleh Ma’had Al-Zaytun melalui laboratorium
alamnya. ►atur-juka-crs ►LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|