| |
C © updated 27102006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Ahmad Fuad Fanani
Lahir:
Agama: Islam
Pekerjaan:
- Ketua Lembaga Studi Islam DPP IMM
- Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)
- Ketua Program Kajian Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)
- Dosen FE UHAMKA, Jakarta
- Direktur al-Maun Center for Islamic Transformation Jakarta
- Kontributor Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR)
Pendidikan:
Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta
Kegiatan Lain:
- Penggagas Lingkar Muda Indonesia
- Peneliti MAARIF Institute for Culture and Humanity
|
|
| |
|
|
|
|
| OPINI |
|
|
 |
OPINI: Ahmad Fuad Fanani (02)
Membendung “Syahwat” Politik Muhammadiyah Polemik fatwa
resmi Muhammadiyah untuk mendukung Amien, tentu harus diingat kembali.
Dukungan itu terbukti banyak menimbulkan riak-riak konflik di internal
Muhammadiyah. Selain itu, asumsi awal bahwa dengan keluarnya dukungan
resmi menjadikan suara PAN naik dan Amien confidence maju dalam pilpres,
akhirnya hanya menjadi impian yang jauh dari kenyataan.
Meskipun PAN hanya menduduki peringkat ke-7 dalam pemilu legislatif,
Muhammadiyah secara resmi mempertegas kembali dukungannya pada Amien
Rais untuk terus maju sebagai calon presiden. Sebelumnya, pada sidang
pleno di Yogyakarta pada 9-10 Februari lalu, Muhammadiyah juga sudah
mengeluarkan pernyataan yang senada. Menurut mereka, dalam hal ini suara
PAN adalah modal pertama, sedangkan Muhammadiyah adalah modal utama.
Maka, dengan modal utama itu warga Muhammadiyah yang aktif di parpol
lain beserta para elemen reformis lainnya, diharapkan memberikan suara
pada Amien Rais pada pilpres (pemilihan presiden) Juli nanti.
Di alam demokrasi, dukungan resmi Muhammadiyah itu sah-sah saja, apalagi
yang mengeluarkan adalah para “pemilik tertinggi” organisasi itu.
Kehendak Amien untuk terus maju dalam pilpres, meski realitas obyektif
PAN mengalami penurunan drastis, sah juga dilakukan. Apalagi, Amien Rais
merasa bahwa yang akan memilih dirinya lebih besar dari pemilih PAN.
Beberapa survei yang ada juga menunjukkan pemilih pada umumnya banyak
yang membedakan antara partai dan calon presiden yang akan dipilih.
Namun, dukungan resmi Muhammadiyah terhadap Amien, haruslah diberi
catatan. Adalah fakta bahwa warga Muhammadiyah sangat rasional, modern,
dan plural. Polemik fatwa resmi Muhammadiyah untuk mendukung Amien,
tentu harus diingat kembali. Dukungan itu terbukti banyak menimbulkan
riak-riak konflik di internal Muhammadiyah. Hal itu misalnya pada
terlihat protes dari warga Muhammadiyah yang juga aktif di PKS, PPP,
Golkar, atau PBR yang merasa dianaktirikan secara politik setelah
lahirnya keputusan resmi tersebut. Gugatan JIMM (Jaringan Intelektual
Muda Muhammadiyah) yang menganggap bahwa dukungan resmi itu sebagai
bentuk pelanggaran khittah dan runtuhnya peran Muhammadiyah sebagai
tenda bangsa, juga patut diperhatikan.
Selain itu, asumsi awal bahwa dengan keluarnya dukungan resmi menjadikan
suara PAN naik dan Amien confidence maju dalam pilpres, akhirnya hanya
menjadi impian yang jauh dari kenyataan. Suara PAN malah terbukti ambrol
dan kalah dengan pendatang baru seperti Partai Demokrat, bahkan
posisinya di bawah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dengan beberapa
contoh itu, dapat diambil pelajaran bahwa meski pengurus Muhammadiyah
mengajak secara resmi warganya untuk memilih partai tertentu, mereka
tetap memiliki pilihan sendiri yang diyakininya. Kenapa PP. Muhammadiyah
kini malah lebih mempertegas dukungannya dan bertindak seolah menjadi
“tim sukses” pencapresan Amien Rais?
Keteledoran Pembacaan
Dalam menganalisis persoalan sosial dan politik, banyak orang terjatuh
pada kesalahan berpikir. Yakni kecenderungan orang untuk melakukan apa
yang dikenal dengan over-generalisation. Kesalahan berpikir ini (fallacy
of dramatic instance) bermula dari penggunaan satu dua kasus untuk
mendukung argumen yang bersifat umum atau general. Menurut Jalaluluddin
Rakhmat (1999), argumen yang overgeneralized ini biasanya agak sulit
dipatahkan, karena rujukannya seringkali diambil dari pengalaman pribadi
seseorang (individual’s personal exsperince).
Dukungan resmi Muhammadiyah, sangat mungkin akibat keteledoran semacam
ini. Pengurus Muhammadiyah meyakini, bahwa karena Amien Rais adalah
salah seorang politisi yang masih terbukti bersih, maka ketika
mencalonkan diri sebagai presiden pasti akan didukung oleh semua kader
Muhammadiyah dan banyak elemen masyarakat yang menginginkan perubahan.
Soalnya, dengan sistem organisasi Muhammadiyah yang –menurut Hajriyanto
Y. Thohari- sangat sentralistik dan miskin paradigma federasi, keputusan
yang dikeluarkan oleh pimpinan pusatnya selama ini biasanya pasti akan
diikuti oleh segenap warganya. Hal itu bisa tampak mulai dari keputusan
tentang penetapan jatuhnya hari raya, keputusan tarjih, pedoman
organisasi, atau pendirian badan-badan otonom yang menunjang aktivitas
organisasi.
Bila Muhammadiyah tetap berasumsi itu, tentu saja kritikan Mohamad Abid
al-Jabiri tentang homogenitas metode bepikir umat tentu sangat relevan.
Pada umumnya, umat Islam banyak yang masih menyukai model berpikir
secara bayani (tekstual). Dalam model berpikir ini, semua hal dipandang
secara tekstual, material, dan konkret. Semua akan dilihat sebagai
hitam-putih dan otomatis. Karena Amien mantan ketua PP Muhammadiyah dan
kader terbaiknya, maka semua orang Muhammadiyah pasti akan mendukungnya.
Bila ada yang tidak mendukung, itu pasti terdapat “kelainan” dan bisa
jadi mereka adalah “musuh dalam selimut”. Padahal, semestinya sebagai
organisasi modern yang anggotanya banyak yang berpendidikan, mestinya
mereka harus berani meninggalkan cara berpikir yang terbukti banyak
menyebabkan kejumudan dan kemunduran umat ini. Mereka harus berani mulai
berpikir secara rasional (burhani) dan imajinatif (irfani).
Maka, Muhammadiyah dan Amien mesti segera berpikir ulang tentang asumsi
generalnya itu. Soalnya, saat ini figur alternatif yang diharapkan bisa
menjadi pemimpin bangsa dan terbukti bersih bukan hanya dia. Susilo
Bambang Yududoyono dan Hidayat Nurwahid adalah figur baru dan bersih
yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Selain itu, kepatuhan warga
Muhammadiyah dalam soal organisasi dan agama terhadap keputusan resmi
para pengurusnya, tentu bisa lain ketika menyangkut persoalan politik.
Kontribusi Bangsa
Memang suara ormas Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah gampang
menjadi pusat perhatian dan rebutan banyak pihak. Meminjam istilah KH
Mustofa Bisri, seringkali NU dan Muhammadiyah terlampau ge-er (gede
rumangso). Jika Muhammadiyah terus terlibat aksi dukung-mendukung dan
bahkan lebih mempertegas sikap partisannya, tradisi politik yang kurang
baik akan terulang. Maksudnya, jika nantinya ada salah satu atau mantan
pucuk pemimpin Muhammadiyah punya keinginan yang sama dengan Amien,
pasti akan didukung juga. Pada akhirnya, sangat mungkin orang yang ingin
menjadi pengurus Muhammadiyah, hanya menjadikan amanah itu sebagai batu
loncatan untuk lebih mempermudah menggapai tangga kekuasaan (baca
politik). Warga Muhammadiyah pun, akan terbebani terus-menerus oleh
“ambisi” politik para pemimpinnya.
Sejarah membuktikan, hal itu hanya memperboros energi umat. Jika
dukungan itu memperoleh hasil, imbalan (reward) yang diberikan pada
organisasi lebih kecil dibandingkan dengan apa yang dinikmati oleh
elitenya. Sebaliknya, jika gagal maka hukuman (punishment) secara
psikologis dan moral, umumnya akan lebih banyak dibebankan pada
warganya. Tanpa dukung mendukung pun, organisasi masyarakat seperti NU
dan Muhammadiyah, terbukti bisa berkiprah maksimal.
Peran yang paling tepat untuk berkontribusi secara nyata terhadap bangsa
adalah menjaga jarak dengan kekuasaan, memperteguh independensi, dan
memperkuat civil society. Tradisi civil society yang sudah berjalan di
Muhammadiyah lewat jalur pendidikan dan amal usaha, tentu amat sayang
bila ditinggalkan begitu saja. Justru, dengan menjadi “oposan” yang
baik, mereka akan lebih leluasa untuk bekerjasama dengan siapa saja
tanpa kehilangan sikap kritisnya. Toh, tanpa berkuasa pun, Muhammadiyah
tidak akan kehabisan cara untuk berkiprah menyumbangkan yang terbaik
bagi bangsa seperti yang selama ini dijalaninya. Politik romantisme dan
ketidakpercayaan diri dengan mengorbankan independensi sebuah organisasi
dan membebani para anggotanya, sudah selayaknya diakhiri. Wallahu
A’lam. (24/05/2004:
http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=580) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|