| |
C © updated 27062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Hj. Aisyah Aminy, SH
Lahir:
Padang Panjang, Sumatera Barat, 1 Desember 1931
Agama:
Islam
Suami:
Drs. Desril Kamal
Pendidikan:
- Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, tahun
1957
Pekerjaan:
- Anggota DPR/MPR, 1987 – 2004
- Ketua Komisi I DPR RI, 1992-1999
- Wakil Ketua Panitia Ad Hoc II BP MPR RI, 1999-2004
Penghargaan:
- Bintang Jasa Utama dari pemerintah pada HUT Kmerdekaan RI ke-59
17 Agustus 2004.
Alamat Rumah:
Jalan Pulo Asem Raya No. 1, Rawamangun, Jakarta Timur
Telp. 021-4893022
E-mail: aisyah@tokoh.net
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI =
01
02
03
04
05
06
= Hj Aisyah Aminy, SH (06)
Berkibar di Semua Gelanggang
Keaktifan Aisyah tidak hanya sebatas bidang politik, hukum, dan
pemberdayaan perempuan. Ia juga terjun ke organisasi seni budaya,
sosial, dan keagamaan.
Setahun sejak menjadi advokat (1960), Aisyah Aminy terjun pula
ke organisasi seni budaya. Ia masuk ke dalam organisasi Himpunan Seniman
Budayawan Islam (HSBI) yang waktu itu diketuai Yunan Helmi Nasution dan
pernah menjadi anggota Pengurus HSBI.
Di masa sekarang, HSBI masih memproduksi sandiwara-sandiwara televisi.
Bersama Majelis Seniman Budayawan Islam (MASBI) yang diketuai Buya
HAMKA, dihasilkan prinsip-prinsip seni dalam Islam, termasuk masalah
patung dan seni pentas.
Pada tahun 1979, saat aktif di KOWANI, Aisyah juga menjadi anggota Dewan
Film Nasional. Dewan ini bertujuan memajukan perfilman nasional agar
menjadi tuan di rumah sendiri dan mendorong sineas-sineas Indonesia agar
lebih kreatif dan maju.
Aisyah juga peduli pada pengembangan dan pelestarian budaya serta
pengembangan masyarakat daerahnya, Minangkabau. Minangkabau selain
dikenal keindahan alamnya juga keunikan budayanya yang menganut sistim
matrilineal (garis keturunan dari ibu), sementara mayoritas suku bangsa
di Indonesia adalah patrilineal (garis keturunan dari ayah).
Sejak peristiwa PRRI di Sumatera Barat, banyak masyarakat Minang yang
merasa terguncang. Aisyah dan tokoh-tokoh Minang seperti Djamaludin
Malik, dr Rusmali, Usmar Ismail, Asrul Sani dan lainnya menyelenggarakan
acara ‘Minang Mangimbau’ tahun 1962 di Gelora Bung Karno Jakarta.
Tujuannya mengembalikan kepercayaan diri masyarakat Minang agar tetap
bangga dengan adat dan budayanya. Juga menggugah perhatian masyarakat
Minang di perantauan terhadap daerahnya.
Tahun 1971, kaum perempuan Minangkabau mendirikan Yayasan Bunda yang
diketuai Ny. Adam Malik. Aisyah sebagai penasehat hukumnya. Yayasan ini
mendirikan SMP dan SMA Bunda serta Akademi Pariwisata Bunda.
Tahun 1989, melalui suatu musyawarah besar, dibentuk Gerakan Seribu
Minang (Gebu Minang). Aisyah menjadi dewan penyantun tahun 2001-2004.
Lembaga ini merupakan badan pengkajian dan penggerak masyarakat dalam
pengelolaan dana-dana yang dihimpun untuk pembangunan Sumatera Barat.
Kemudian dibentuklah Yayasan Gebu Minang dimana Aisyah menjadi dewan
penyantunnya periode 2001-2004. Yayasan ini mengelola dana-dana yang
dihimpun untuk kesejahteraan masyarakat dan nagari. Gebu Minang kini
menjadi gerakan ekonomi dan budaya Minang yang menasional.
Dari ICMI sampai MUI
Setahun kemudian, yakni 7 Desember 1990, dibentuk Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia (ICMI) yang dipimpin B.J Habibie. ICMI adalah
organisasi kemasyarakatan yang bersifat keislaman, yang bercirikan
kebudayaan, keilmuan, dan kecendekiawanan. Kegiatan-kegiatannya
memberikan perhatian kepada masyarakat lemah, dari segi ekonomi maupun
ilmu dan teknologi.
Aisyah merasa terkesan karena para birokrat saat ini tak lagi sungkan
tampil sebagai seorang muslim. Di masa kepemimpinan Adi Sasono, Aisyah
menjadi anggota Dewan Penasehat ICMI. Kala itu, keberadaan ICMI banyak
yang menolak. Bahkan Gus Dur menganggap ICMI sebagai sektarian dan
membentuk tandingan, Forum Demokrasi.
Pergelutan Aisyah pun merambah ke dunia keagamaan. Tidak heran jika ia
kemudian menjadi anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)
sejak tahun 1990 sampai sekarang.
Komisi ini membahas berbagai masalah hukum Islam dan memberikan fatwa
tentang berbagai hal, seperti kasus Ajinomoto di tahun 2001. Kala itu,
MUI mengeluarkan fatwa bahwa Ajinomoto mengandung zat yang tidak halal.
Namun Gus Dur sebagai presiden waktu itu justru menyatakan sebaliknya.
Aisyah beranggapan Gus Dur terlalu berorientasi pada kepentingan materi
dan mengabaikan keyakinan umat yang ingin mengkonsumsi makanan halal.
Mungkin Gus Dur mengira, Komisi Fatwa asal saja memberikan label dan
hanya mendengar kata orang. Padahal, hal itu sudah dikaji mendalam oleh
LPOM MUI yang terdiri dari pakar di bidangnya.
Aisyah bahkan pernah menjadi pimpinan Lembaga Konsultasi dan Bantuan
Hukum untuk Wanita dan Keluarga yang didirikan MUI dan Humanika. Pendiri
lembaga ini, Aisyah dan Amirudin Siregar mewakili MUI, sementara Nani
Jamin dan Adi Sasono mewakili Humanika. Di dalamnya bergabung berbagai
pakar dari psikolog, agama, ahli psikoterapi dan sebagainya.
Ketika perhatian dunia beralih pada masalah-masalah hak asasi manusia
(HAM), maka tahun 1993 pemerintah Indonesia juga ikut menunjukkan
perhatiannya dengan mendirikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas
HAM). Aisyah adalah satu yang terpilih sebagai anggotanya. Ketua
pertamanya adalah almarhum Ali Said SH dan sekretaris jenderalnya
dipegang almarhum Baharuddin Lopa.
Meski dibentuk berdasarkan Keppres, sehingga ada kekhawatiran gerak
langkahnya tidak akan independen, justru para anggotanya berusaha
membuktikan bahwa Komnas HAM bukan alat pemerintah.
Menurut Aisyah, independensi sebuah organisasi tidak tergantung pada
siapa yang mendirikannya, tetapi dinilai dari sikap, integritas dan
komitmen yang kokoh dari para anggotanya dalam menegakkan dan menjunjung
tinggi hak asasi manusia di Indonesia.
Kegiatan teranyar Aisyah Aminy saat ini adalah mendirikan Bakti Aminy
Consultant bersama anak-anak dan para keponakannya. Salah satu misinya
adalah memacu pembangunan daerah-daerah seiring era otonomi daerah.
Ketika para yuniornya di PPP bertanya, apakah dirinya ingin menjadi
anggota parlemen terus, Aisyah menjawab bahwa berbakti untuk Nusa dan
Bangsa tidak mesti di parlemen. ►e-ti/rh-ht ==>
Kembali
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|