|
|
 |

Nama:
Alwi Abdurrahman Shihab
Lahir:
Rappang, Sulsel, 19 Augustus 1946
Agama:
Islam
Jabatan:
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (General Chairman of Nation
Awakening Party)
Isteri:
Ashraf Shahab, MBA (Jakarta, 14 Juli 1961 – Guru)
Anak:
M. Rizvi Shihab (Student Penn State University, USA)
Samira Shihab (High school, USA)
S. Samy Shihab (Elementary school, Tadika Puri)
Pendidikan Formal :
University of AI-Azhar, Cairo - Mesir (1968)
IAIN Alaudin, Ujung Pandang - Sulsel (1986)
University of Ain Shams, Cairo - Mesir (1990) - Ph.D
Temple University, USA (1992) - M.A
Temple University, USA (1995) - Ph.D
Harvard University: The Center For the Study of Word Religious, USA
(1995-1996) Post -Doctorate
Pengalaman Pekerjaan :
1975 -1979 : Presiden Direktur Glass Priangan Factory, Cianjur,
Indonesia
1979 -1982 : Presiden Direktur Alfa Contracting Company, Jeddah
1982 -1986 : Presiden Direktur PT. Prima Advera, Jakarta
1982 : Pendiri Yayasan Darul Qur'an, Jakarta
1986 -1990 : Comisaris Eagle Tripelti, Jakarta
1986 : Comisaris PT Dhafco Manunggal Sejati, Jakarta
Pengalaman Akademik:
1985 -1988 : University of Aweroes, Jakarta, Penceramah
1993 -1995 : Temple University Department of Religion, USA, assistant
Professor
1994 -1995 : Philadelphia College of Textile & Science (spiritual
Development Program), USA - Penceramah
1996 : Harford Seminary , Harford, Connecticut, USA, Professor
1998 : Harvard University - Divinity School, USA, Professor
2002 : Dosen Universitas Islam Kadiri, Kediri, Jawa Timur
2002 : Dosen Pasca Sarjana Universitas Indonesia
Karir Politik:
1999 : Anggota DPR RI
1999 - 2000 : Menteri Luar Negeri Republik Indonesia
2002 - 2005 : Presiden Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Keanggotaan :
1988 : Anggota Presidium International Forum Indonesia (IFI),
Jakarta
1994 : Anggota Advisory Board of The Religious Consultation on Population
Reproductive Health and Ethies, Washington DC
1995 : Anggota International Scholars Annual Trialogue (ISAT),
Philadelphia., USA
1996 : Anggota International Connection Committee, American Academy of
Religion, Atlanta, Georgia, USA
1998 : Anggota Board of Trustee Harvard Center for the Study of World
Religions Cambridge, USA
1998 : Anggota of the Advisory Board, Center for the Study of World
Religions Harvard Divinity School, USA
1999 : Bina Bangsa (Nation Building) Foundation - Chairman of the Board,
Jakarta
2000 : Patron ICWA ( Indonesian Council of Word Affairs), Jakarta
Penghargaan :
1996 : Penghargaan Akademi dari Pemerintah Mesir
Publikasi / Buku:
Inclusive Islam (Islam Inklusif, 1997)
Muhamadiyah movement and controversy with Christian Mission
(Membendung Arus, 1998)
Sufistic Islam (Islam Sufistik, 2001 )
Teaching Islam in the West (Segera)
Alamat:
JI. Garut No.31 Menteng Jakarta Pusat
dan
Jl. Poso, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
|
|
Wawancara Dr. Alwi Shihab
PKB Miliki Otoritas Redam Radikalisme
Negeri ini terpuruk antara lain karena merajalelanya korupsi, kolusi dan
nepotisme (KKN). Sementara, penyebab utama KKN, menurut Dr Alwi Shihab,
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), adalah rendahnya penghayatan
kita tentang nilai-nilai moralitas. Orang ke masjid, ke gereja, tapi
korupsi jalan terus. Jadi, kata mantan Menteri Luar Negeri ini, sebenarnya
krisis kita adalah krisis moralitas.
Ia juga berbicara tentang proyeksi perolehan suara PKB dan kemungkinan
koalisi dengan partai lain dalam pencalonan Presiden dan Wakil Presiden
pada Pemilu2004. Ia berharap perolehan suara PKB di atas 20%. Sementara,
kriteria partai yang kemungkinan diajak berkoalisi adalah memiliki visi
dan misi serta semangat yang sama. ”Kita tidak duduk bersama dengan partai
yang menginginkan syariah Islam dimasukkan dalam konstitusi. Itu nanti
bisa berantakan,” katanya. Perihal peluangnya menjadi calon presiden atau
wakil presiden, ia mengatakan posisi seperti itu bukan ia yang menentukan,
melainkan partai dan para kyai.
Alwi juga bicara tentang radikalisme agama, termasuk dalam dunia Islam.
”Kita adalah satu-satunya partai yang memiliki otoritas keagamaan yang
dapat mengkounter radikalisme ini,” katanya. Hal ini mendapat simpatik dan
dukungan dari mereka yang merasa terganggu dengan hadirnya radikalisme
agama di dunia termasuk di Indonesia. Berikut petikan wawancara wartawan
Tokoh Indonesia dengan doktor lulusan Temple University, USA (1995) dan
Harvard University USA (1996), ini di Kantor PKB, Jalan HR Rasuna Said,
Kuningan, Jakarta.
Apa sebenarnya yang harus menjadi agenda utama bangsa kita saat ini?
Bagaimana mengembalikan citra bangsa Indonesia. Sebab, belakangan ini
bangsa kita telah diberikan stigma oleh masyarakat dunia internasional
sebagai bangsa yang paling korup di Asia dan bahkan ke 3 di dunia.
Bagaimanapun kita berbicara tentang berdemokrasi, pemerataan, pemulihan
ekonomi atau apa saja, tetapi kalau stigma ini belum diangkat, orang akan
mengatakan bahwa kita tidak pernah serius dalam menjalankan reformasi dan
demokratisasi.
Karena korupsi itu terus berjalan, bagaimana kita dapat mengembangkan
demokrasi. Demokrasi itu mengandung semangat bagaimana menyejahterakan
bangsa, pemerataan, penegakan hukum dan lain-lain. Tetapi, di lain pihak,
korupsi terus berjalan, itu namanya ketimpangan.
Menurut saya, yang pertama harus kita kerjakan adalah mau mengubah stigma
tersebut. Harus dimulai dari atas dengan memberikan keteladanan. Yang
berkuasa mau menunjukkan “political will”. Salah satunya adalah menerima
masukan dari masyarakat dan dijadikan bahan untuk bertindak memberantas
KKN.
Menurut pandangan Anda, apa faktor penyebab utama KKN?
Rendahnya penghayatan kita tentang nilai-nilai moralitas. Orang ke masjid,
ke gereja, tapi dalam masalah korupsinya jalan terus. Jadi sebenarnya
krisis kita adalah krisis moralitas.
Padahal Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius. Tapi sepertinya
tidak ada korelasinya kehidupan keberagamaan kita dengan tingkah laku
sehari-hari. Menurut Anda apa penyebabnya?
Pemahaman keagamaan yang keliru. Orang dianggap religius jika ia sering
naik haji, rajin sholat Juma’at. Tetapi kesalehan sosial dalam bentuk
menyantuni, tidak menggrogoti hak orang dan ikut perihatin terhadap
kekurangan orang lain, itu kurang seimbang. Jika seimbang, itu baru
disebut religiusly. Untuk bisa ke situ, harus dimulai dengan panutan.
Sebuah panutan yang benar-benar menunjukkan bahwa dia mempuyai tekad untuk
ke arah itu. Panutan juga harus dari kita, dari para pemimpin partai,
pemimpin masyarakat, gubernur dan yang lain.
Coba Anda bayangkan sepertiga dari jumalah anggota DPR yang muslim itu
sudah naik haji, tapi di pihak lain masyarakat menganggap bahwa banyak
sekali praktek yang tidak agamais di DPR, seperti korupsi, dan sebagainya.
Jadi, hubungan dengan Tuhan yang terrepresentasi dengan haji serta
hubungan dengan masyarakat dengan tidak menggrogoti hak orang lain, itu
tidak paralel jalannya. Karena dianggap keagamaan itu, kesalehan itu
adalah naik haji, ke masjid dan sebagainya. Jadi ibadah hanya dianggap
simbol-simbol saja. Dengan menggunakan pakaian tertentu seperti kopiah
dianggap sudah beragama. Apakah dia korupsi atau tidak, itu urusan yang
lain.
Anda menyebutkan bahwa hal itu terjadi DPR dan elit bangsa ini, padahal
mereka sepatutnya menjadi panutan. Lalu kalau demikian, masalah ini
semakin pelik, sehingga kapan kita dapat keluar dari masalah ini?
Jadi harus dimulai dari diri kita sendiri, supaya yang di bawah itu
menjadi mengikuti. Kita harus tetap introspeksi diri. Sebab tiap-tiap
manusia memiliki keterbatasan dan di antara kita tidak ada yang sempurna.
Saya juga tidak sempurna sebagai pimpinan partai. Tetapi kita harus
memulainya.
Semasa Anda menjabat Menteri Luar Negeri, pada pemerintahan Gus Dur,
ada wacana kebijaksanaan yang waktu itu menjadi kontraversial di kalangan
masyarakat, yaitu keinginan pemerintah membuka hubungan dagang dengan
Israel. Sebenarnya apa yang melatarbelakangi keinginan itu?
Sebenarnya permasalahannya adalah bahwa Gus Dur memiliki sebuah pemikiran
yang memprioritaskan pemulihan ekonomi. Karena perihal pemulihan ekonomi
kita sangat erat hubungannya dengan pihak barat. Sehingga kita membutuhkan
investor-investor barat untuk masuk ke mari. Dan, bagi Gus Dur dengan
membuka hubungan dagang dengan Israel, ia mau menunjukkan bahwa Indonesia
adalah sebuah negara yang tidak membeda-bedakan bangsa dan etnis dalam
rangka agenda economy recovery dan dalam tataran perdagangan dunia.
Kemudian dengan kebijakaan tersebut, Gus Dur ingin membuka sebuah wacana
bahwa ternyata beberapa negara-negara Arab dan Islam sudah membuka
hubungan dagang dengan Israel. Bahkan Malaysia yang dikenal dengan
anti-Israel memiliki hubungan dagang dengan Israel dan volumenya lebih
besar dari kita. Bahkan Mesir sudah memiliki hubungan diplomatik dengan
Israel, kemudian Yordan, Oman dan masih banyak lagi. Juga, toh tanpa kita
buka kantor, hubungan dagang dengan kita sudah ada.
Gus Dur ingin menunjukan bahwa ia toleran dengan semuanya. Bukan hubungan
diplomatik. Sebab hubungan diplomatik itu bersangkut-paut dengan politik.
Tetapi hubungan dagang atau ekonomi. Dan pada waktu konsep itu bergulir,
kita mendapat sambutan baik dari Amerika atau Eropa bahwa pemerintahan Gus
Dur betul-betul tidak membedakan. Sehingga diharapkan ada investasi masuk,
tanpa mengorbankan prinsip dasar kita terhadap perjuangan bangsa Palestina.
Sebab, sebagaimana kita ketahui, loby Yahudi-Amerika terutama di Wall
Street sangat kuat. Sehingga dengan demikian dapat menarik simpati mereka.
Paling tidak, Gus Dur mau, di bawah pemerintahannya pemulihan ekonomi
dapat belangsung lebih cepat. Menurutnya, kenapa kita mesti munafik,
padahal kita sendiri sudah memiliki hubungan dagang dengan Israel, hanya
saja perlu untuk ditingkatkan. Jadi yang sebenarnya kita tuju adalah
negara-negara barat, khususnya Amerika dengan mengundang
perusahaan-perusahaan multinational yang sebagian besar loby-lobynya
dipengaruhi oleh orang-orang Yahudi.
Posisi saya ketika masalah tersebut muncul adalah sebagai menteri atau
pembantu Presiden. Tetapi kalau seorang menteri tidak mau menuruti
presiden oleh karena perbedaan pendapat, ia harus keluar. Jadi kapasitas
saya adalah sebagai pembantu presiden yang menjalankan perintah Boss saya.
Kalau saya tidak mau menjalankan perintah, saya harus keluar. Tetapi oleh
karena saya tahu maksud Gus Dur demikian, itu yang membuat saya tetap
berada di kabinet.
Tapi sebagian masyarakat menentang keinginan itu, bahkan Anda didemo
ketika itu?
Ya. Waktu itu saya katakan kepada pihak-pihak yang demonstrasi, kalau saya
adalah menteri luar negeri Indonesia bukan menteri luar negeri orang-orang
yang tidak menghendaki hubungan dagang dengan Israel saja. Dan saya tahu
silent majority sebenarnya menginginkan adanya hubungan dagang selama
adanya keuntungan dagang. Kita tidak mengorbankan mandat yang diberikan
pemerintah, sebab kita tidak mengadakan hubungan diplomatik koq. Bahkan
saya katakan jika saya nanti sudah tidak menjadi menteri dan Anda protes
kepada Israel saya akan ikut dalam demontrasi Anda.
Anda disebut sebagai loyalis Gus Dur. Apa sebenarnya yang menjadi dasar
kedekatan Anda dengan Gus Dur?
Ya, tentu saya satu partai dengan beliau. Di samping itu kita sama-sama
menyikapi perbedaan itu. Karena kita melakukan pendekatan dengan
orang-orang yang berbeda dengan kita. Bagaimana kita mengakomodir
pandangan orang-orang yang berbeda dengan kita. Sehingga kita dapat
menciptakan hubungan yang harmonis.
Salah satu, misalnya, ketika menjabat sebagai Menlu, saya jelaskan bahwa
polisi luar negeri Indonesia itu eukoumenis. Artinya, sifatnya merangkul
semua pihak. Baratnya dirangkul guna mendapatkan investasi dan Timurnya
juga dirangkul. Hanya ketika saya menjabat Menlu para pengusaha-pengusaha
dari kawasan Teluk datang ke Indonesia. Para pengusaha dari petro dollar
itu datang ke Indonesia berbicara tentang investasi di Indonesia.
Eukoumenikal adalah istilah toleransi beragama, artinya kita satu rumah.
Itu yang ingin kita janjikan dengan negara-negara itu. Satu rumah. Waktu
menjadi Menlu, saya memulihkan hubungan dengan Portugis. Hubungan dengan
Australia kita usahakan baik, kita tidak mau bermusuhan, kita mau mencari
kawan. Kenapa? Karena kita butuh kawan untuk pemulihan ekonomi. Kalau
tidak simpatik, orang tidak mau berdagang di negeri ini.
Sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, bagaimana pendapat Anda
tentang dualisme PKB, antara PKB Kuningan dengan PKB Batu Tulis?
Kalau PKB Batu Tulis itu saya sudah anggap hampir menjadi sejarah.
Buktinya saja kemarin Pak Matori mengatakan, bahwa ia mau baik-baik dengan
kita. Saya katakan baik-baik, boleh tapi jangan seperti Fira’un ketika
sudah mau tenggelam bilang, “Saya mau mengikuti Tuhannya Musa.” Seharusnya
sebelum tenggelam harus bilang. Sebab kalau sudah tenggelam orang
beranggapan ketika mau tenggelam Anda baru baik.
Apakah ada kemungkian rujuk dengan PKB Batu Tulis?
Bisa saja ia kembali, tapi sebagai anggota biasa lagi ‘kan? Kalau sampai
situ, saya pikir tidak masalah. Sementara, kami juga mempuyai syarat yaitu
agar ia menarik kembali gugatannya. Tapi ia katakan, “Nanti setelah
selesai masalah di pengadilan”. Yang saya pikir dia sudah mengatisipasi
kekalahannya, baru setelah itu ia kembali. Itu ‘kan sama seperti kisah
Nabi Musa tadi?
Tapi menurut Anda sendiri bagaimana?
Ya, boleh saja. Tapi ‘kan yang membuat keputusan bukan saya. Dan, kalau ia
mau kembali, seharusnya sebelum masa pengadilan. Karena jika setelahnya,
situasinya ‘kan sudah berbeda. Jadi perlu lagi dirapatkan. Bisa juga
pilihan yang pertama bisa valid atau tidak. Jadi jika ada garis keras yang
mengatakan mau terima, masa orang sudah ketahuan kalah malah meminta yang
sama. Itu ‘kan realitasnya berbeda.
Pemilu sudah semakin dekat, apa langkah-langkah PKB untuk menambah
perolehan suara?
Ya, Alhamdulillah kita sudah banyak kemajuan, terutama di daerah-daerah
khususnya di daerah luar Jawa. Banyak orang yang tadinya belum mengenal
kita (PKB) dapat mengenal kita sebagai sebuah partai yang terbuka, partai
untuk semua bangsa ini seluruhnya, untuk kesejahteraan bangsa ini.
Termasuk di dalamnya sikap kita yang sama sekali tidak setuju perberlakuan
syariah Islam di dalam konstitusi kita.
Kita menginginkan dalam masyarakat yang prulalistik ini, kita betul-betul
hidup secara harmonis. Untuk itu, partai ini terbuka. Pimpinan partai ini
di daerah yang secara demografis mayoritas non-muslim, kita serahkan
kepada non-muslim. Ini menunjukkan betapa toleransinya kita. Sebagai misi
dan visi kita yang diimplementasikan di lapangan, contohnya, di Sulawesi
Utara, NTT dan Bali. Anda dapat melihat leadership itu di tangan bukan
saja non-NU tapi Non Muslim, supaya kita konsisten bahwa kita benar-benar
partai yang terbuka yang berorientasi pada Islam dan kebangsaan.
Secara garis besar, apakah yang menjadi visi dan misi PKB yang berbasis NU
dan berorientasi kebangsaan tadi?
Kebangsaan artinya kebangsaan yang bagi kita tidak bertentangan dengan
nilai-nilai Islam yang ingin kita perjuangkan. Nilai-nilai Islam yang
universal itu juga menekankan akan kecintaan terhadap bangsa dan negara.
Kita berada dan berjuang bukan untuk satu kelompok, tapi untuk
kesejahteraan bangsa ini. Yaitu keadilan sosial bagi semuanya. Bukan bagi
orang Islam saja. Hal ini kita inginkan terimplementasikan di bumi
Nusantara agar hubungan kita satu dengan yang lain didasarkan pada saling
menghormati dan saling peduli terhadap keprihatinan kelompok-kelompok yang
secara ideologi tidak bersama dengan kita (segi agama). Ini yang dimaksud
dengan berorientasi kepada wawasan kebangsaan yang kita perjuangkan.
Langkah-langkah konkrit apalagi yang PKB lakukan dalam rangka
konsolidasinya menjelang pemilu?
Di samping yang tadi, kita juga mengadakan upaya-upaya memberdayakan
perempuan. Mungkin kita salah satu partai yang mencanangkan yang 30 persen
itu (jumlah mininimum wakil perempuan dalam partai-red) sebelum RUU Pemilu
disahkan. Kemudian kami juga mengundang para tenaga-tenaga profesional
muda untuk memperkokoh barisan PKB. Dan, kita ingin wakil-wakil PKB dalam
legislatif sesuai dengan keinginan masyarakat luas, dikenal sebagai
orang-orang yang profesional dan berintegritas tinggi.
Kira-kira bagaimana proyeksi perolehan suara PKB dengan berbagai
langkah-langkah PKB tadi?
Kita mengharapkan sebuah perolehan suara yang signifikan, ada penambahan.
Karena, pertama, kita melihat masyarakat sekarang sedang haus akan sesuatu
yang menunjukkan nilai moralitas sebagai bagian dari kiprah politik. Dan
kita satu-satunya partai yang mencanangkan etika dan moral sebagai prinsip
dasar partai. Sehingga banyak sekali orang mengharapkan bahwa partai ini
dapat membawa aspirasi politik mereka. Dengan demikian akan banyak yang
mendukung PKB.
Kedua, dimana saat ini radikalisme agama marak di dunia, termasuk di dalam
dunia Islam. Maka kehadiran PKB sebagai suatu kekuatan yang meredam
radikalisme, sejak didirikannya NU, juga memberikan angin sejuk serta
simpatik dari mereka yang merasa terganggu dengan hadirnya radikalisme di
Indonesia ini. Mereka ingin radikalime ini diredam. Kita adalah
satu-satunya partai yang memiliki otoritas keagamaan yang dapat
mengkounter radikalisme ini.
Belum lagi dukungan dunia internasional yang menginginkan partai ini dapat
leading agar kedamaian dan kesejukan yang kita promosikan dalam lingkungan
masyarakat ini dapat mantap dan berkembang secara baik di hari-hari
mendatang. Dan tidak bisa tidak, kita harus menang sehingga dapat mewarnai
perpolitikan di Indonesia.
Bagaimana cara Anda dalam menyosialisasikan identitas, visi dan misi PKB
tersebut?
Ya, saya dan bersama teman-teman di mana-mana memberikan pencerahan kepada
masyarakat luas bahwa kita adalah partai yang moderat. Partai Islam yang
menginginkan hubungan yang harmonis dan tidak ingin bumi Nusantara ini
diisi oleh orang-orang yang memiliki pandangan keagamaan yang radikal.
Saya punya forum diskusi di televisi setiap Selasa pagi, di situ saya
dengan teman-teman menjelaskan apa yang dimaksud dengan Islam moderat itu.
Acara itu banyak didengar oleh para pemuka agama. Harapan kami mereka
dapat meneruskannya ke masyarakat luas. Saya juga pernah mengadakan talk
show di Amerika menjelaskan bahwa kita adalah satu-satunya partai yang
memiliki otoritas keagamaan, karena kita tahu agama Islam dan kita yakin
akan kesejukan dari ajaran Islam. Dimana kita berjalan seiring dengan NU.
Kita (PKB) wing politiknya (NU) yang akan berkembang dan meneruskan jejak
pendiri NU dalam memantapkan faham-faham yang sejuk atas ajaran Islam
sendiri.
Kira-kira berapa persentase perolehan PKB Pemilu 2004 nanti?
Kita tidak gegabah untuk memperediksi berapa, tapi kita mengharapkan lebih
dari 20%. Sehingga untuk pencalonan presiden itu memungkinkan yaitu calon
yang datang dari PKB sendiri.
Mengapa PKB masih tetap mencalonkan Gus Dur?
Sebab sampai saat ini PKB belum memiliki tokoh yang lain seperti Gus Dur.
Tetapi kita masih menunggu kesedian Gus Dur, keputusan partai dan para
kyai serta undang-undang kepresidenan.
Dengan keadaan kesehatan Gus Dur yang diperhadapkan dengan undang-undang
dan peraturan, masyarakat memproyeksikan bahwa Anda berpeluang sebagai
calon presiden atau paling tidak calon wapres?
Selain saya ‘kan masih ada tokoh-tokoh lain yang bisa kita jual. Tidak
mesti dari PKB, ada tokoh-tokoh NU dan bahkan di luar partai. Bagi saya
yang penting bagamana dapat membesarkan partai bukan bagaimana kita duduk
di suatu posisi. Jika PKB di mencalonkan tokoh NU bertujuan untuk
membesarkan PKB, atau bahkan PKB mencalon pihak ketiga yang bersimpati
dengan kita, sejauh dapat membesarkan PKB, itu akan kita utamakan. Kita
tidak berfokus pada perolehan kursi (kedudukan), tetapi mengutamakan
perolehan suara sehingga PKB dapat lebih besar.
Apakah ada kemungkinan koalisi dengan partai lain dalam proses pencalonan
Presiden dan Wakil Presiden?
Ya, jelas kita tidak bisa memenangkan sendirian paket presiden-wapres,
harus ada koalisi.
Menurut pandangan Anda dengan partai mana sebaiknya PKB akan berkoalisi?
Sebenarnya kita belum bisa melihat partai mana. Tetapi yang jelas koalisi
kita itu dengan kelompok tradisional, nasional dan agamis yang sesuai
dengan faham kesejukan tadi. Untuk kelompok yang nasionalis saat ini tidak
hanya PDI-P tetapi masih banyak lagi.
Dengan PDI-P memungkinkan, dengan Golkar juga memungkinkan, dengan PAN
sebenarnya juga tidak mustahil, karena sebenarnya kita sama-sama
berorientasi kebangsaan juga. Itu pun berdasarkan kesedian partai-partai
lain. Yang jelas, kita tidak ingin menerapkan syariah Islam. Jadi
kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja.
Apa yang menjadi kriteria PKB dalam hal koalisi dengan partai lain?
Memiliki visi dan misi yang sama, semangat yang sama. Kita tidak duduk
bersama dengan partai yang menginginkan syariah Islam dimasukkan dalam
konstitusi. Itu nanti bisa berantakan.
Kalau ada permintaan dari partai lain untuk berkoalisi dan Anda diminta
untuk menjadi presiden atau wapres, apa yang akan Anda lakukan?
Posisi yang seperti itu bukan saya yang menentukan. Pertama adalah partai
yang menentukan. Kemudian partai itu bukan ditentukan oleh fungsionaris
partai saja, tapi para kyai juga punya peranan besar dalam hal ini.
Ketika Gus Dur menjadi presiden, dan tentu PKB mengalami berbagai
pengalaman dan tantangan politik. Apa yang menjadi pertimbangan politik
PKB ke depan dengan pengalaman tersebut?
Saya kira yang terjadi pada masa lalu itu telah menjadi bahan pertimbangan
PKB bersama Gus Dur sendiri sebagai tokoh sentral dalam PKB. Gus Dur saat
ini masih menjadi tokoh sentral dan masih menjadi King Maker. Jika beliau
tidak dimungkinkan oleh undang-undang sebagai calon presiden, beliau masih
tetap sebagai king maker. Karena popularitasnya masih banyak, dan masih
didengar khususnya di dalam lingkungan NU dan PKB. Sehingga siapa yang dia
inginkan dengan pertimbangan-pertimbangannya itu akan banyak mewarnai
bursa calon presiden atau wapres.
Jadi apakah Anda sependapat jika Gus Dur tetap mencalonkan diri menjadi
presiden. Atau apakah tidak lebih baik beliau menjadi king maker atau
Bapak Bangsa?
Gus Dur memiliki pontensi untuk menjadi presiden atau menjadi king maker.
Hanya tinggal kesedian beliau dan pertimbangan para kyai. Dan juga yang
menjadi pertimbangan rencana undang-undang kepresidenan masih akan dibahas.
Dengan pengalaman PKB pada waktu lalu yang mendapat posisi sebagai
pemerintah, walaupun tidak sempat menjalankannya secara penuh, karena
kondisi-kondisi tertentu. Apa yang akan dilakukan atau apa konsep PKB
dalam pemerintah, jika nanti PKB memenangkan posisi sebagai eksekutif
dalam jabatan presiden atau wapres?
Kita melihat bahwa keterpurukan yang dialami Indonesia saat ini tidak
dapat terlepas dari krisis ekonomi yang melanda bangsa ini. Saya kira
untuk kita dapat meningkatkan daya beli masyarakat, yang akan membawa
kepada peningkatan pergerakan ekonomi, tidak ada jalan lain, kita harus
memperkuat small and medium enterprises.
Di Amerika, menurut status yang ada, sekitar 42% dari perekonomian itu ada
di tangan small and medium enterprise. Di Italia juga demikian dan negara
lain di Eropa. Sekarang, bagaimana kita menggunakan budget tidak terlalu
banyak untuk membayar utang atau dikuras hampir sepertiga hanya untuk
membayar cicilan utang dan bunga utang kita. Kita harus menyampaikan
kepada para kreditor, bahwa dengan peningkatan daya beli yang tinggi di
Indonesia, pada gilirannya dapat meningkatkan ekonomi mereka juga. Jangan
sampai kita dipaksakan untuk diberi utang hanya untuk membayar utang.
Sehingga hanya terus gali lobang tutup lobang. Dengan itu perlu dilakukan
upaya diplomasi yang offensif kepada negara-negara kreditor.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Artikel Lain:
== Profil Alwi Shihab
|
|