| |
C © updated 22022006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sh |
|
| |
Nama:
Andreas Anangguru Yewangoe
Lahir:
Mamboru, Sumba Barat, NTT, 31 Maret 1945
Agama:
Kristen
Jabatan:
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
|
|
| |
|
|
|
|
| PUBLIKASI |
|
|
 |
Andreas A Yewangoe
Mengembangkan Budaya Keramahan
SALAH satu topik penting yang dibicarakan dalam Sidang Raya ke-9 Dewan
Gereja-gereja se-Dunia (DGD) di Porto Alegre-Brazil adalah tentang
pluralitas agama-agama dalam kaitannya dengan pemahaman diri kekristenan
(Religious Pluralism and Christian Self-Understanding).
Sudah tidak dapat diabaikan, bahkan hampir merupakan "hukum besi" di
dalam perkembangan peradaban abad ini bahwa kita hidup di dalam
pluralitas masyarakat, baik kebudayaan maupun agama-agama. Tidak ada
lagi ruang di dunia ini di mana hanya terdapat satu kebudayaan dan agama
yang tidak dipengaruhi oleh kebudaya- an-kebudayaan dan agama-agama
lainnya.
Proses pluralisasi yang menguasai hampir seluruh bidang kehidupan juga
mempengaruhi kehidupan keberagaman kita. Ini mengisyaratkan bahwa tidak
mungkin lagi, bahkan tidak boleh agama-agama mengisolasi dirinya di
dalam dinding-dinding tradisi mereka sendiri. Bahkan, munculnya
sikap-sikap ekstrem di dalam agama-agama disebabkan terutama oleh sikap
mengisolasi diri itu. Ada semacam sikap triomfalisme di situ yang
mengesampingkan agama-agama lain. Seakan-akan para penganut agama-agama
lain telah diperuntukkan bagi kebinasaan. Padahalnya kita semua, apapun
agama kita, adalah peziarah bersama menuju masa depan dalam upaya kita
mencapai kebenaran. Tak Seorang pun yang boleh mengklaim bahwa ia telah
menggenggam kebenaran itu di dalam tangannya sendiri. Allah begitu
mahakaya dan maha sempurna, sehingga tidak mungkin dapat dibahasakan
secara penuh hanya oleh cara formulasi tertentu oleh tradisi agama
tertentu.
Tantangan
Maka sikap yang memut- lakkan dan mengklaim kebenaran dalam tangan
sendiri itu tidak dapat dipertahankan lagi. Kekristenan yang untuk waktu
yang cukup lama melihat dirinya sebagai satu-satunya agama yang memiliki
kebenaran, justru ditantang oleh kehadiran dari agama-agama lain itu.
Kekristenan dengan demikian ditantang untuk melihat kehadiran
agama-agama lain itu secara baru.
Kekristenan ditantang untuk mengakui kehadiran "yang lain" (the others)
dalam perbedaan-perbedaan mereka, menyambut mereka, kendati
kadang-kadang mereka mengancam kita. Dengan kata-kata lain, kita
(kekristenan) ditantang untuk memperkembangkan suatu iklim spiritual
(spiritual climate) dan pendekatan teologis yang menyumbang kepada
terciptanya relasi-relasi yang kreatif dan positif di antara
tradisi-tradisi dari agama-agama dunia.
Maka, sebagai yang melakukan ziarah bersama, kita saling memperkaya
spiritualitas kita masing-masinng. Perjalanan ziarah spiritual
kekristenan sendiri telah memperkaya dan membentuk perkembangannya
sendiri. Kekristenan misalnya dipengaruhi oleh kehidupan
Yahudi-Helenistis.
Kekristenan pun pernah mengalami apa artinya menjadi "orang
asing"(stranger), dan sebagai demikian dianiaya dan ditindas. Tetapi
ketika kekristenan menjadi agama dunia, maka ia pun mengalami
keterpecahan di mana-mana. Keterpecahan itu tidak dapat dilepaskan dari
kebudayaan yang mempengaruhinya.
Maka, dalam kaitan dengan kebudayaan ini, perlu ditegaskan, kekristenan
justru dibentuk olehnya. Tapi hal yang sama dapat pula dikatakan untuk
agama-agama lain. Bahkan tidak ada satu agama pun yang tidak dipengaruhi
oleh agama-agama lain dalam perjalanan bersama ini.
Menghadapi kenyataan-kenyataan yang tidak terelakkan ini, maka
pertanyaannya adalah bagaimanakah kekristenan menghadapinya? Satu kata
penting yang dikemukakan dalam Sidang Raya itu adalah "hospitality"
(keramahan). Keramahan dilihat sebagai kata kunci hermeneutis dan titik
masuk ke dalam percakapan-percakapan selanjutnya. Bahkan di dalam
pergaulan-pergaulan yang lebih mendalam.
Tentu saja ini mempunyai akarnya di dalam Alkitab. Allah adalah Allah
semua bangsa-bangsa, demikian ditegaskan di dalam Perjanjian Lama. Ia
adalah Allah yang aktif di dalam semua ciptaan, bahkan sudah sejak awal.
Sedangkan di dalam Perjanjian Baru, inkarnasi (menjadi daging-Nya)
Firman Allah, yang oleh rasul Paulus diartikulasikan sebagai keramahan,
dan sebagai kehidupan yang mengarah kepada "orang lain". Dalam bahasa
puji-pujian (doksologi), Paulus menegaskan, bahwa Ia (Kristus) berada
dalam rupa Allah, namun tidak memandang kesetaraan dengan Allah itu
sebagai yang dipertahankan. Sebaliknya, Ia mengosongkan dirinya dan taat
hingga mati di kayu salib.
Bagi orang Kristen, pengosongan diri ini, di mana Kristus mengambil
kemanusiaan kita sebagai wajah-Nya, merupakan inti (pusat) dari
pengakuan iman kita. Maka tidak diragukan lagi, kita pun dipanggil untuk
"mengosongkan diri" menyambut "yang lain"itu sebagai saudara. Dalam
bahasa yang dipakai oleh Sidang Raya PGI yang baru lalu, Kristus adalah
manusia Bagi Orang Lain. Maka risikonya adalah, gereja pun mestilah
menjadi "gereja Bagi Orang Lain". Itu tidak berarti bahwa sikap seperti
itu bukannya tanpa risiko. Dalam situasi dimana ketegangan-ketegangan
politik dan agama terjadi, sikap-sikap keramahan membutuhkan keberanian
dan ketabahan. Bisa saja sikap keramahan ini ditafsirkan lain, misalnya
sebagai taktik baru untuk kristenisasi. Namun, budaya keramahan (the
culture of hospitality) mesti terus diperkembangkan. Inilah yang memberi
harapan bagi lestarinya kehidupan manusia (dan kemanusiaan).
Apa maknanya ini bagi kita di Indonesia ? Orang Indonesia dikenal
sebagai orang- orang yang sangat ramah tamah, yang menyambut orang-orang
lain, bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai keluarga sendiri.
Keberbagaian para penganut agama-agama di Indonesia mestinya tidak harus
merupakan alasan untuk saling curiga satu terhadap yang lainnya.
Kita adalah keluarga besar bernama Indonesia. Kita hidup bersama di
dalam sebuah "rumah" bernama Indonesia. Rumah itu telah kita bangun
bersa-ma dengan darah dan airma-ta Maka sebagai keluarga, keramah-
tamahan mestinya menjadi budaya yang dihirupi dan yang mengarahkan
kehidupan. Para penganut agama-agama yang berbeda-beda itu mestinya
makin membuka diri kepada "the others", siapa pun mereka. * Penulis
adalah Ketua Umum PGI (Suara Pembaruan, 22 Februari 2006)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|