| |
C © updated 09082005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
ARIFIN M. SIREGAR
Lahir:
Medan, Sumatera Utara, 11 Februari 1934
Agama:
Islam
Pendidikan:
- Nederlandsche Economische Hogeschool, Rotterdam, Negeri Belanda
(1953-1956)
- Universitas Munster, Jerman Barat (1958)
- Universitas Munster, Jerman Barat (doktor, 1960)
Karir:
- Bekerja sebagai research-worker di Institut fur
Industriewirtschaftliche Forschung di Universitas Munster, Jerman Barat
(1960-1961)
- Economic Affairs Officer di United Nations Bureau of General Economic
Research and Policies di New York (1961)
- Mendirikan dan menjalankan Bagian Ekonomi United Nations Economic and
Social Office, Beirut (1963)
- Economist Asian Department IMF, Washington DC (1965)
- Wakil IMF di Laos sebagai Penasihat Keuangan/Moneter Pemerintah Laos
(1969-1971)
- Direktur Bank Indonesia (1971)
- Alternate Governor of IMF untuk Indonesia (1973-1983)
- Gubernur Bank Indonesia (1983 -1988)
- Alternate Governor of IDB untuk Indonesia (1983)
- Menteri Perdagangan Kebinet Pembangunan V (1988-1993)
- Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Amerika Serikat dan
Grenada (Agustus 1993-Februari 1998)
Kegiatan Lain:
- Penasihat dan Anggota Delegasi Indonesia pada sidang IGGI
- Penasihat dan Anggota Delegasi Indonesia pada sidang Asian Development
Bank
- Penasihat dan Anggota Delegasi Indonesia pada sidang Islamic
Development Bank
Karya:
- Antara lain: Problems of Development Planning in the Federation of
Malay, (UN Report), New York, 1962
- Indonesian Entrepreneurs, Institute of International Studies,
University of California, 1969
Alamat Rumah:
Jalan Teuku Umar 61, Jakarta Pusat Telp: 349316
|
|
| |
|
|
|
|
| ARIFIN SIREGAR HOME |
|
|
 |
Arifin M Siregar
Pemimpin Bertangan Dingin
Gubernur Bank Indonesia (1983–1988) bergaya kepemimpinan konservatif,
hati-hati dan bertangan dingin ini menjabat Menteri Perdagangan Kebinet Pembangunan V
(1988-1993). Kemudian, Arifin dipercaya menjadi Duta Besar Luar Biasa
dan Berkuasa Penuh untuk Amerika Serikat dan Grenada, menggantikan
Abdul Rachman Ramly (Agustus 1993-Februari 1998). Dia digantikan
oleh Prof Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti.
'Ketika Arifin M Siregar, putera Batak kelahiran
Medan, Sumatera Utara, 11 Februari 1934, ini masuk BI, 1971, perekonomian
Indonesia sedang sulit. Ia ikut terpilih untuk mengatasi keadaan. Kala
itu, banyak pihak
menyambutnya dengan senang. Editorial di pelbagai media massa
Ibu Kota menyuarakan antusiasme. Tampaknya, ia dianggap berhasil.
Pada 23 Maret 1983, ia diangkat menjadi Gubernur, setelah sebelumnya
menjabat Direktur BI, dengan setingkat menteri negara. Kalangan bankir menilainya
sangat cocok menjalankan kepemimpinan bergaya konservatif, seperti
pendahulunya, Rachmat Saleh. Sampai awal 1985, ia selalu mengatakan, ''Saya
masih harus tetap berhati-hati dan waspada dalam mengambil kebijaksanaan.
Agar di belakang hari keadaan ekonomi jauh lebih baik.''
Tidak hanya dalam memimpin BI Arifin berhati-hati. Pejabat tinggi yang
tidak menyukai golf ini juga memantangkan alkohol, rokok, dan tidak suka
makanan berlemak. ''Di pesta-pesta, kalau tiba waktu toast, saya cukup
mengangkat gelas bersama tamu lainnya. Dan saya tidak meneguk isinya,''
kata Arifin. Tidak berarti ''anak Medan'' ini kaku. '
'Meskipun tak
pernah mabuk, di pesta saya dikenal biang hura-hura,'' katanya. Banyak
orang tahu maksudnya; ia mudah bergaul.Hingga lulus SMA, anak kedua dari
tiga bersaudara ini menunggui -- kota kelahirannya. ''Waktu kecil saya
suka memancing lele, belut, dan ikan gabus,'' tuturnya. Umpannya kodok
kecil dan cacing. Sering pula ia bermain layang-layang, bahkan berantem.
''Semua jenis permainan anak-anak sudah saya alami,'' katanya.
Setamat SMA, Arifin merantau ke Eropa. Ayahnya, Maskud Siregar, bekas
pengusaha ekspor impor, rupanya tidak selalu mengiriminya banyak uang.
Sehingga, ''Saya terpaksa kuliah sambil bekerja,'' kata Arifin. Setelah
belasan tahun di rantau, pada Februari 1960 Arifin berhasil meraih gelar
doktor dalam bidang ekonomi, dengan yudisium magna cum laude, dari
Munster Universitat, Jerman Barat. Disertasinya berjudul Die
Asussenwirtschaft und wirtschaftliche Entwicklung Indoneisens (Perdagangan
Luar Negeri dan Perkembangan Ekonomi Indonesia). Setahun kemudian, 1961,
karya tersebut dibukukan.
Sebenarnya, ''Saya ini bukan anak yang pandai. IQ saya pun biasa-biasa
saja,'' katanya. ''Tetapi, saya memiliki kemauan kuat.'' Lebih dari itu,
''Ibu sayalah yang mendorong keberhasilan saya.'' Sang ibu, Siti Maimun
Pulungan, sudah wafat.
Ayah tiga anak -- satu telah meninggal -- ini rupanya tidak banyak
melakukan olah raga, selain sekali-sekali jogging dan jalan kaki.
Kerjanya cukup keras. Setiap hari, ia mulai pukul 08.00 dan pulang ke
rumah rata-rata pukul 19.00. Sampai awal 1985, ''Sejak saya kerja di BI
baru dua kali ambil cuti,'' katanya. Istrinya, Hadiati yang keturunan
Jawa, memaklumi keadaan itu.
Selain untuk bersantai dengan keluarga, waktu senggangnya ia manfaatkan
pula menekuni bacaan. Di luar karya William Shakespeare, ia juga membaca
Goethe, Imanuel Kant, dan Jean Paul Sartre. Laki-laki yang mengaku
dirinya sebagai ''Batak kesasar, lantaran tidak bisa main catur dan
musik,'' ini fasih berbahasa Belanda, Prancis, Inggris, dan Jerman.
► pdat
|
|