| |
C © updated
24062003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kps |
|
| |
Nama:
Dr. Boediono
Lahir:
Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943
Agama:
Islam
Pendidikan:
- S1: Bachelor of Economics (Hons.), University of Western Australia
(1967)
- S2: Master of Economics, Monash University, Melbourne, Australia (1972)
- S3: Doktor Ekonomi Bisnis Wharton School University of Pennsylvania, AS
1979
Pekerjaan:
Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001-2004)
Dosen Fakultas Ekonomi UGM
|
|
| |
BERITA LAINNYA:
= Presiden Minta Boediono Masuk Tim Ekonomi
= Ancaman Krisis Lagi
= Jangan Wariskan Ekonomi Bobrok |
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Prof Dr Boediono
Ekonomi Penentu Demokrasi
Bangsa Indonesia telah memilih jalur demokrasi untuk
membangun negara ini. Pilihan itu adalah benar. Selanjutnya, dengan
menarik pelajaran dari pengalaman sendiri dan pengalaman negara-negara
lain yang mengikuti jalur ini, bangsa Indonesia memperoleh gambaran
mengenai jalan yang kemungkinan akan dilalui ke depan.
Demikian disampaikan Prof Dr Boediono, yang juga Menko Perekonomian
Kabinet Indonesia Bersatu, saat menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul
"Dimensi Ekonomi Politik Pembangunan Indonesia" saat pengukuhannya
sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), di
Balai Senat UGM, Yogyakarta, Sabtu (24/2) pagi.
Pidato pengukuhan itu dihadiri sejumlah menteri, di antaranya Menteri
Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu,
Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, dan Menteri Pekerjaan Umum
Djoko Kirmanto.
Menurut Boediono, pada tahap awal faktor ekonomi sangat menentukan
pelaksanaan demokrasi. Kemungkinan kegagalan demokrasi sangat tinggi
pada tingkat penghasilan per kapita rendah, dan secara progresif menurun
dengan kenaikan penghasilan.
"Apabila kita hitung, tahun 2006 penghasilan per kapita Indonesia
diperkirakan sekitar 4.000 dolar AS, sedangkan batas kritis bagi
demokrasi sekitar 6.600 dolar AS. Kita belum dua pertiga jalan menuju
batas aman bagi demokrasi," ucapnya.
Sejumlah studi empiris lain, terutama oleh para ekonom menyimpulkan,
demokrasi bukan penentu utama prestasi ekonomi. Bagi negara-negara
berpenghasilan rendah, penegakan hukum lebih menentukan kinerja ekonomi
daripada demokrasi.
Apabila kesimpulan ini benar, lanjutnya, maka negara-negara
berpenghasilan rendah dapat memacu pertumbuhan ekonominya, meskipun
mereka belum siap menerapkan demokrasi, asalkan dapat memperbaiki
penegakan hukum. "Tetapi, seperti yang saya singgung tadi, dengan
meningkatnya kemakmuran, demokrasi akan makin 'diminta' oleh masyarakat,"
ujarnya.
Kelompok Pembaru
Boediono berpendapat, sejarah menunjukkan bahwa keberhasilan proses
transformasi menuju masyarakat yang makmur, demokratis dan terbuka
ditentukan oleh kelompok pembaru. Kelompok inilah yang menjadi ujung
tombak dan pengawal proses transformasi itu. Tanpa kelompok pembaru,
proses transformasi berisiko terhenti atau keluar dari jalur yang
diinginkan.
Di sisi lain, tuturnya, pertumbuhan ekonomi membantu tumbuhnya kelompok
pembaru. Tetapi harus memenuhi dua syarat, yakni pertumbuhan itu
menyentuh dan dapat dinikmati oleh sebagian besar rakyat (broad based),
serta prosesnya lebih mengandalkan pada kegiatan berdasarkan hasil kerja,
inisiatif dan ingenuitas sumber daya manusia, dan bukan semata dari
hasil penjualan kekayaan alam, bantuan luar negeri atau rezeki nomplok
lainnya.
Dia mengingatkan, satu masalah khusus dan sensitif yang dihadapi
Indonesia sejak kemerdekaan, adalah hubungan pengusaha pribumi dan
nonpribumi.
Menurut Boediono, untuk kepentingan pembangunan Indonesia dalam jangka
panjang, tidak ada solusi lain kecuali menyatukan kedua kekuatan itu
untuk membangun bangsa.
"Upaya itu harus menjadi bagian dari program besar integrasi bangsa,
dengan mengikis secara bertahap tapi sistematis sekat
sosio-ekonomi-kultural antara kedua kelompok ini. Masing-masing kelompok,
atau lebih tepatnya kaum elite dari masing-masing kelompok, harus lebih
membuka diri dan mengambil inisiatif untuk saling menjangkau dan dengan
kejujuran," katanya.
Dia menambahkan, keikutsertaan Indonesia di banyak forum, baik regional
maupun global, telah dan akan semakin membuka pikiran terhadap
praktik-praktik terbaik di dunia dan sangat berguna bagi upaya membangun
institusi-institusi pendukung modernisasi dan demokratisasi.
Terkait hal itu, investasi dari luar negeri, terutama dari negara-negara
yang menjunjung tinggi asas-asas good governance (tata kelola yang baik)
di negaranya, perlu dibuka lebar. (Suara Pembaruan, 24 Februari 2007)
Aman jika Capai 6.600 Dollar AS
Yogyakarta, Kompas - Meskipun proses demokrasi terus menunjukkan
kemajuan, dari segi pendapatan per kapita, Indonesia masih berada pada
zona risiko tinggi untuk keberhasilan demokrasi. Pasalnya, pendapatan
per kapita Indonesia diperkirakan sekitar 4.000 dollar AS, sedangkan
batas kritis bagi kelangsungan demokrasi adalah 6.600 dollar AS.
Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Perekonomian Boediono, Sabtu
(24/2), ketika menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar pada
Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dalam pengukuhan
yang digelar di Balai Senat UGM, beberapa Menteri Kabinet Indonesia
Bersatu terlihat hadir, antara lain Menkeu Sri Mulyani, Mendag Mari Elka
Pangestu, Mendiknas Bambang Sudibyo, dan Menperin Fahmi Idris.
"Sejumlah studi menunjukkan tingkat kemajuan ekonomi merupakan faktor
penentu keberlanjutan demokrasi," ujar dosen FE UGM sejak tahun 1974.
Boediono mengatakan, salah satu studi itu menyimpulkan, berdasarkan
pengalaman empiris selama 1950-1990, rezim demokrasi di negara dengan
penghasilan per kapita 1.500 dollar AS (dihitung berdasarkan purchasing
power parity/PPP dollar tahun 2001) mempunyai harapan hidup hanya
delapan tahun.
Pada tingkat penghasilan per kapita 1.500-3.000 dollar AS, demokrasi
dapat bertahan rata-rata 18 tahun. Pada penghasilan per kapita di atas
6.000 dollar AS daya hidup sistem demokrasi jauh lebih besar dan
probabilitas kegagalannya hanya 1 : 500.
"Posisi Indonesia di mana? Jika dihitung berdasarkan PPP dollar 2006,
penghasilan per kapita Indonesia diperkirakan sekitar 4.000 dollar AS.
Batas kritis bagi demokrasi sekitar 6.600 dollar AS. Kita belum dua
pertiga jalan menuju batas aman," katanya.
Karena itu, menurut Boediono, pada tahap awal kehidupan demokrasi,
Indonesia sebaiknya memberikan prioritas tertinggi bagi upaya memacu
pertumbuhan ekonomi dan menghindari krisis ekonomi. Itu akan mengurangi
risiko kegagalan demokrasi. Maka, perlu secepatnya mencapai batas aman
6.600 dollar AS.
"Seandainya kita menumbuhkan ekonomi tujuh persen setahun, maka dengan
laju pertumbuhan penduduk 1,2 persen setahun, penghasilan per kapita
tumbuh 5,8 persen setahun. Dengan laju ini, kita akan mencapai ambang
zona aman demokrasi dalam sembilan tahun. Apabila PDB tumbuh di bawah
tujuh persen, waktu untuk mencapai zona aman bagi demokrasi lebih
panjang lagi," tuturnya. (Kompas, 25 Febriari 2007) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|