| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15 16
17 =
WAWANCARA Budi Harsono (17)
Jangan Hilangkan Jati Diri TNI
Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak lahir secara tiba-tiba di saat
negara ini sudah mapan. Secara historis, cikal-bakal TNI adalah sebagian
rakyat bersenjata yang berjuang mengorbankan jiwa dan raganya mengusir
penjajah. Keniscayaan sejarah TNI itu yang tidak boleh hilang. Sebab,
itulah jati diri TNI.
Budi Harsono, pensiunan Jenderal Bintang Tiga TNI-AD, menggarisbawahi
hal itu. Menurut mantan Ketua Fraksi TNI/Polri DPR-RI (2001-2002) itu,
profesionalisme TNI sudah sepantasnya seperti halnya tentara di banyak
negara di dunia. Profesionalisme tentara bersifat universal.
Tapi, “Jati diri TNI sebagai bagian yang tak terpisahkan dari rakyat
tidak boleh hilang, apalagi dihilangkan dengan alasan apapun. Jati diri
TNI adalah kebersamaannya dengan rakyat, karena TNI mengabdi pada
kepentingan rakyat,” jelas anggota Fraksi Partai Golkar DPR-RI
(2004-2009) yang pernah menjabat Assospol Mabes ABRI (1997) itu kepada
Anis Fuadi, wartawan TOKOH INDONESIA, dalam satu kesempatan
bincang-bincang di ruang kerjanya Gedung DPR/MPR, Jakarta, belum lama
ini.
Di bawah ini bisa disimak paparan lengkap seputar persepsi, harapan,
sekaligus keprihatinan mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai
Golkar (2002-2004) itu ihwal jati diri TNI.
Majalah Tokoh Indonesia (MTI): Bisa Bapak jelaskan apa itu jati diri
TNI?
Budi Harsono (BH): Tentara di setiap negara memiliki ciri khas
dalam proses kelahirannya dan berproses sesuai dengan situasi dan
kondisi masing-masing. Tentara harus memiliki kekhasan agar tak mudah
dilumpuhkan.
Begitu pun dengan TNI. Proses pembentukannya berawal dari rakyat pejuang
bersenjata yang disatukan ke dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR). BKR
adalah embrio sekaligus bukti TNI adalah bagian yang tidak terpisahkan
dari rakyat. TNI mengabdi pada kepentingan rakyat. Ada kebersamaan TNI
dengan rakyat. Itulah jati diri TNI yang menjadi ciri khasnya.
Jati diri TNI bukan sesuatu hal yang dicari-cari atau direkayasa, tapi
sudah terbentuk sejak lahir. Jati diri TNI menyiratkan kebersamaan
rakyat dengan tentara. Jati diri inilah yang membuat TNI kuat.
Realitas itu yang tidak boleh dihilangkan dari sejarah bangsa ini.
Bangsa ini sama artinya telah melupakan sejarahnya sendiri bila
memisahkan TNI dari rakyat. Selamanya, TNI tidak boleh dipisahkan dari
rakyat. Bila dipisahkan dari rakyat, TNI tidak punya kekuatan lagi
(lemah) karena telah kehilangan jati dirinya.
Jadi jangan sekali-kali memisahkan TNI dari rakyat. TNI tidak punya
kekuatan lagi secara batiniyah, atau akan kehilangan ruhnya, jika
terpisah dari rakyat. Bila TNI kehilangan kekuatannya, akhirnya, bangsa
ini akan menderita.
MTI: Idealnya, di manakah jati diri TNI diposisikan pada kondisi
bangsa saat ini?
BH: Dalam perjuangan bangsa dan negara ini untuk mencapai tujuan
dan cita-cita nasional seluruh komponen bangsa dilibatkan sesuai dengan
bidangnya masing-masing.
Setiap komponen bangsa ini punya posisi yang sederajat sesuai dengan
peranan masing-masing dalam proses pertumbuh-kembangan negara ini. Tidak
ada yang berposisi lebih tinggi atau paling tinggi.
Profesi guru punya peran sendiri. Profesi dokter punya peran sendiri.
Begitu juga TNI punya peran sendiri. Dengan kebersamaan itu, ikatan
antarkomponen bangsa menjadi kuat.
TNI adalah bagian yang tak terpisahkan dari rakyat yang mesti
diberdayakan pemikirannya dalam setiap langkah yang ditempuh bangsa dan
negara ini mencapai cita-cita dan tujuan nasionalnya.
TNI jangan ditempatkan di luar proses perjuangan itu sebab pada
hakikatnya TNI berjuang untuk kepentingan rakyat. Sampai kapanpun, TNI
punya tanggung jawab menjaga keselamatan bangsa dan negara ini.
Karenanya, TNI sepatutnya bisa memberikan kontribusi pemikirannya bagi
bertumbuhkembangnya bangsa ini, agar TNI benar-benar merasa memiliki dan
dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia.
Untuk menyumbangkan pemikirannya TNI tidak harus berada di parlemen
seperti dulu, yang nota bene wilayah politik praktis.
Dewan Ketahanan Nasional atau Lembaga Ketahanan Nasional, misalnya, bisa
difungsikan sebagai wadah pemerintah mengakomodasi darmabakti, sumbang
saran, gagasan, aspirasi, dan pemikiran TNI untuk kemajuan bangsa dan
negara ini, khususnya dari pengamatan dari aspek Hankam terhadap
berbagai konsep kebijakan nasional.
Di negara manapun, tidak ada masalah yang didekati secara sektoral saja.
Solusi atas masalah di berbagai bidang kehidupan yang dihadapi bangsa
dan negara ini akan komprehensif bila juga memperhatikan dan
mempertimbangkan dari aspek Hankam.
Manfaatkan pemikiran dan pandangan TNI yang konstruktif terhadap
masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini. Sehingga, pada akhirnya,
setiap kebijakan negara diambil atas satu masalah bersifat komprehensif.
Memang, tugas TNI menjaga kedaulatan negara dari pihak luar yang
mengancam keselamatan bangsa. Tapi, tanggung jawab TNI bukan sekadar
mempersepsikan ada atau tidaknya ancaman musuh dari luar secara fisik,
tetapi juga ancaman nonfisik (seperti Narkoba atau pornografi) yang akan
melemahkan bangsa ini secara keseluruhan. Sebagai komponen bangsa,
tentunya TNI/Polri ikut terpanggil untuk memberikan pemikiran untuk
mengatasi berbagai masalah tersebut.
Kita ingin, TNI dapat kembali pada jati dirinya sebagai tentara rakyat,
tentara pejuang, tentara nasional dan tentara profesional. Jati diri
prajurit TNI inilah yang menjadi sumber kekuatan moral pengabdian
prajurit kepada negara dan bangsa.
MTI: Soal tuntutan profesionalisme TNI?
BH: Kita sepakat TNI harus profesional. Ketika kita bicara
profesionalisme TNI, kita bicara soal profesionalisme tentara secara
universal di dunia.
Misalnya, kemampuan menggunakan senjata (tank, pesawat tempur, kapal
laut) atau kemampuan taktis tentara dalam menyerang posisi musuh. Atau,
kemampuan tentara menembak. Hal-hal teknis ketentaraan seperti itu kan
bersifat universal. Saya berpendapat bahwa profesionalisme TNI memang
harus ditingkatkan kualitasnya, agar mampu melaksanakan tugasnya menjaga
keselamatan bangsa dan negara. Namun kekuatan TNI tidak sekadar
kemampuan profesionalisme, namun perlu juga kekuatan mental/spirit
perjuangan.
Oleh karena itu, selain profesionalisme, kekuatan TNI juga perlu
didukung oleh semangat dan mentalnya sebagai tentara yang berasal dari
rakyat dan berjuang untuk rakyat. Kekuatan khusus TNI adalah jati
dirinya.
‘Tentara bagiannya hanya mengurusi perang. Tentara yang profesional.
Bagianmu itu saja!’ demikian peran TNI diposisikan. Tapi menurut saya,
janganlah TNI dikotak-kotakkan seperti itu sebab akan menghilangkan jati
dirinya.
TNI ingin bersama rakyat, bukannya ingin memperalat rakyat. TNI ingin
berbakti pada negara ini. TNI ingin mengabdi pada kepentingan rakyat
karena jati dirinya memang berasal dari rakyat.
Karena itu, bila TNI dipisahkan dari rakyat sehingga hilang jati
dirinya, maka TNI akan menjadi lemah. TNI tidak punya kekuatan lagi
secara batiniyah, atau akan kehilangan ruhnya, jika terpisah dari
rakyat.
Bila TNI kehilangan kekuatannya, akhirnya, bangsa ini akan menderita.
Lemahnya TNI berarti lemahnya bangsa dan negara ini.
MTI: Maksud Bapak, profesionalisme jangan sampai menghilangkan jati
diri TNI?
BH: Benar. Kekuatan TNI adalah pada kemampuan profesionalismenya dan
semangat kejuangannya mengabdi pada negara. Dan hal ini tidak lepas dari
proses kelahirannya.
Sejarah TNI sangat berbeda dengan sejarah tentara di negara-negara lain.
Kita tidak bisa menyamakan jati diri TNI dengan tentara di negara-negara
lain. Kalau dipersamakan begitu saja, jati diri TNI akan hilang. Padahal
di situlah letak kekuatannya.
Dengan semangat kebersamaan, TNI bersatu padu dengan rakyat yang hanya
bersenjata bambu runcing mengusir penjajah yang memiliki persenjataan
hebat.
Kita ingat sejarah, TNI berperang melawan penjajah, rakyat membantu
dengan menyediakan makanan. Itu kan satu proses kerja sama yang secara
alamiah terbentuk ketika bangsa ini melawan penjajah.
Oleh karena itu, kebersamaan dan kemanunggalan TNI dengan rakyat jangan
sampai hilang. Singkatnya, tanpa rakyat TNI menjadi nothing. Tapi,
bersama rakyat TNI akan menjadi something.
Tapi dalam perkembangannya pada saat ini, TNI cenderung hendak dibuat
dan dikembangkan seperti tentara di negara-negara lain. Tentara yang
jauh dari rakyat. Padahal kekuatan TNI justru berada pada kebersamaannya
dan menyatunya dia dengan rakyat. Menjadi tentara yang profesional
boleh, tapi jati dirinya jangan sampai hilang.
TNI berasal dari rakyat dan berjuang untuk kepentingan rakyat. Jadi
berbeda dengan tentara di negara-negara lain. Kita harus hati-hati
sekali jangan sampai TNI lepas jati dirinya.
MTI: Ada indikasi-indikasi upaya sistematis memisahkan TNI dari
rakyat?
BH: Tanda-tanda yang jelas belum ada, tapi gejala ke arah itu sudah
mulai terasa. Dan, kewajiban saya sebagai mantan anggota TNI untuk
mengingatkan, bahwa jati diri TNI dan kebersamaannya dengan rakyat harus
tetap dilestarikan.
Generasi Angkatan ’45 telah mewariskan semangat kebersamaan TNI dengan
rakyat. Kebersamaan TNI-rakyat itu jangan sampai hilang. Jati diri TNI
itu harus tetap dilestarikan sepanjang zaman oleh generasi sekarang dan
generasi yang akan datang.
Bagaimanapun, upaya memisahkan TNI dari rakyat justru potensial
melemahkan TNI sendiri. TNI yang kuat bukan hanya pada badannya tapi
juga jiwanya. Jiwa TNI yang merakyat yang bersama rakyat dan
merasakan/empati pada kesulitan rakyat akan lebih mempererat hubungan
TNI dan rakyat.
Meski punya senjata lengkap tapi percuma saja bila jiwa anggota TNI
kosong. Sebab, sosok orang yang ada di belakang senjata (man behind the
gun) itulah yang menentukan.
Prajurit TNI harus merasa nyaman dalam melaksanakan tugasnya di
lapangan. Jadi harus tercipta kondisi yang membuat nyaman yakni dengan
selalu mengidentifikasi TNI sebagai bagian dari rakyat.
Konsep jati diri bangsa ini adalah kekeluargaan dan kebersamaan. Kalau
kita silau dengan yang ada di negara-negara maju dan lantas menirunya
mentah-mentah, dengan melupakan jati diri bangsa sendiri, kita tidak
akan menjadi apa-apa. Mengambang di awang-awang.
Kewajiban saya sebagai anak bangsa untuk mengingatkan, semangat
reformasi jangan sampai membuat TNI keluar dari jati dirinya. Saya tidak
berprasangka buruk pada pihak-pihak lain. Sekadar mengingatkan.
MTI: Tapi harapan Bapak akan berhadapan dengan sinisme dan trauma
pada masa lalu?
BH: Saya sangat menyadari, trauma terhadap eksistensi dan peranan
TNI di masa lalu masih menghantui pikiran sebagian besar elit politik di
negeri ini, termasuk rakyat sampai saat ini.
Kalau diibaratkan gerakan bandul, dulu TNI bergerak terlampau ke kanan.
Kini bandul terlalu diayunkan ke kiri. Belum bergerak sampai ke tengah,
posisi idealnya. Nah, untuk mengembalikan bandul kembali ke tengah atau
posisi ideal itu memang membutuhkan waktu dan proses.
Kita ingin bandul mengayun ke tengah kembali. Maka kewajiban saya
mengingatkan itu. Kalau tidak diingatkan, pasti akan hilang jati diri
TNI. Dunia politik bukan bidang TNI lagi.
Lepas dari realitas itu, kita harus memberikan informasi-informasi untuk
meyakinkan masyarakat soal jati diri TNI sehingga tidak sampai timbul
prasangka negatif bahwa TNI ingin berkuasa lagi atau TNI ingin
berpolitik praktis lagi.
TNI ingin bersama rakyat, bukannya ingin memperalat rakyat. TNI ingin
berbakti pada negara ini. TNI ingin mengabdi pada kepentingan rakyat
karena jati dirinya memang berasal dari rakyat.
Di masa sekarang, ketika negeri ini dilanda berbagai musibah bencana
alam seperti gelombang pasang tsunami, banjir bandang, atau tanah
longsor, aparat TNI adalah yang pertama kali turun ke lokasi bencana.
Itu dilakukan karena kecintaannya pada negara dan karena kecintaannya
kepada saudara-saudaranya yakni rakyat. Tanpa disuruh, TNI langsung
turun membantu saudaranya yang sedang dirundung kemalangan dan
kesusahan. Itu implementasi sekaligus refleksi dari jati diri TNI
sebagai bagian dari rakyat.
Tidak ada kan TNI kemudian mereklamekan dirinya sebagai garda terdepan
negara ini dalam penanganan bencana alam?
Itu membuktikan, rakyat dan negara sangat membutuhkan tentara yang kuat.
Tentara bisa kuat bila ia menyatu dengan rakyat sebagai bagian dari
keluarga besar Indonesia. Bukannya ia terpisah dari keluarga besarnya.
Ibarat sebuah keluarga besar, TNI adalah bagian dari keluarga besar itu.
TNI dilahirkan dari keluarga itu. Makanya, TNI pasti ikut bertanggung
jawab moral terhadap apa pun yang menimpa keluarga itu, termasuk
berbagai ancaman terhadap keselamatan hidup keluarganya. TNI bukanlah
orang luar.
Jadi sungguh disayangkan bila, semata-mata didorong kepentingan politis,
ada pihak yang berusaha memisahkan atau menghilangkan kebersamaan yang
sudah terjalin di dalam keluarga itu.
Mungkin terkait trauma pada kiprah TNI di masa lalu. Karena TNI punya
senjata sehingga dikhawatirkan TNI akan menguasai semua bidang bila
tidak diatur.
Masa lalu kan begitu sehingga tentara bilang A semua juga bilang A.
Trauma itu membuat pikiran yang jernih menjadi hilang karena ketakutan
akan muncul lagi kondisi seperti itu. Jangan sampai trauma tersebut
menghilangkan jati diri TNI.
MTI: Apa ini sekadar romantisme sejarah ataukah memang ada yang pasti
dipetik dengan melestarikan jati diri TNI ini?
BH: Kelestarian jati diri TNI, menurut saya, adalah hal yang positif
sampai kapan pun dan tidak boleh tergilas perkembangan zaman. Jati diri
TNI itu harus tetap lestari sepanjang zaman dan harus dijaga oleh
generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Kebersamaan TNI dan rakyat tidak hanya terwujud secara lahiriah tapi
juga dari aspek pemikiran dan batiniah. Pemikiran-pemikiran TNI dapat
menjadi sumbangan pemikiran yang positif terhadap berbagai kebijakan
nasional.
Mengapa saya katakan begitu? Karena, semua masalah di semua bidang
kehidupan yang dihadapi bangsa dan negara ini akan komprehensif
pengamatannya, di samping dari aspek kesejahteraan, juga didekati dari
aspek pertahanan dan keamanan.
Di negara manapun, tidak ada satu masalah yang didekati secara sektoral
saja. Itu pasti dipandang dari berbagai aspek kehidupan sehingga
sifatnya menyeluruh atau komprehensif.
Pandangan dari aspek Hankam diharapkan datang dari TNI sehingga, pada
gilirannya, TNI bertanggung jawab atas pertumbuh-kembangan, dan merasa
ikut memiliki, negara ini.
MTI: Jadi aspek Hankam harus jadi pertimbangan?
BH: Ada dua pendekatan yang secara umum dipakai dalam menyikapi
masalah, yakni pendekatan kesejahteraan dan pendekatan keamanan. Jadi,
pendekatan keamanan adalah salah satu kebutuhan hakiki setiap individu,
keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Memang, tugas TNI menjaga kedaulatan negara dari musuh yang mengancam
keselamatan bangsa dan negara. Dan tanggung jawab TNI itu bukan sekadar
mempersepsikan ada atau tidaknya ancaman musuh dari luar secara fisik,
tetapi juga ancaman nonfisik.
Masalah-masalah yang berkaitan dengan pornografi dan Narkoba, sekadar
menunjuk dua contoh, adalah masalah-masalah yang akan melemahkan bangsa
ini secara keseluruhan. Menyelesaikan masalah Narkoba dan Pornografi
yang sudah demikian merajalela di negara kita ini memerlukan juga
pandangan dari aspek Hankam.
Bangsa ini akan memiliki ketahanan yang tangguh bila kondisi fisik and
nonfisiknya kuat. Itulah hakekat yang ingin dicapai dalam pembangunan
nasional.
Kita bukan hanya ingin membangun badan, tapi juga jiwa bangsa ini. Kita
bisa simak kembali petikan lagu kebangsaan Indonesia Raya: Bangunlah
jiwanya, baru bangunlah badannya.
Percuma saja kalau kita bangun badan bangsa ini dulu jika jiwanya
kosong. Kita ini kan sekarang terbalik, yang dibangun badannya (fisik)
tapi jiwanya (mental) kurang mendapatkan perhatian. Buktinya, kesadaran
bernegara dan kesadaran bela negara sudah mengalami degradasi yang
tajam.
Padahal, maksud WR Soepratman menciptakan lagu Indonesia Raya, kita
harus membangun jiwa bangsa ini lebih dahulu, yang ditandai terbangunnya
SDM yang berkualitas. Baru setelah jiwa terbangun, kemudian dibangun
badan atau fisiknya.
Sekarang, pembangunan jiwa kurang mendapatkan perhatian. Kita larut
dengan perkembangan keadaan. Tanpa daya, hanyut mengikuti arus yang
mengalir. Kesadaran mencintai negara ini sudah hampir tidak ada lagi
akibat tergilas oleh pragmatisme dan egoisme pribadi atau kelompok.
MTI: Bukankah di partai-partai politik, di pemerintahan dan di
parlemen ada beberapa orang pensiunan TNI. Apakah keberadaan mereka
belum bisa menjamin bahwa aspek Hankam akan tetap terakomodir dalam
proses bangsa ini mencapai tujuan nasionalnya?
BH: Keberadaan para purnawirawan TNI di partai politik dan DPR kan
lebih bersifat individual sesuai kemampuannya masing-masing.
Keberadaan para purnawirawan tersebut tentunya berperan cukup positif
dalam arti kata sumbangan pemikiran dari aspek Hankam, dalam pelaksanaan
tugasnya sebagai anggota Dewan.
Namun, karena jumlahnya terbatas dan perannya dilakukan secara
individual maka hasilnya kurang maksimal.
Selanjutnya, saya ingin menyampaikan bahwa aktivitas dan peran
purnawirawan TNI adalah sangat tergantung pada kemampuan yang dimiliki
dan bagaimana lingkungan dapat menerima dan memerankan purnawirawan
tersebut. Dan ini berlangsung secara alamiah.
Purnawirawan TNI adalah juga bagian dari rakyat. Tidak ada
pengkotak-kotakan lagi. Setelah pensiun, ia menjadi rakyat sipil biasa
dan mendapatkan pekerjaan sesuai tuntutan dari lingkungan yang
membutuhkan.
Misalnya, seorang pensiunan TNI mempunyai bakat di bidang politik. Ia
bisa menyumbangkan pemikirannya di bidang politik. Bila partai-partai
politik menerimanya, itu karena sang pensiunan TNI dinilai punya
kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan.
Ada lagi mungkin pensiunan TNI yang ahli di bidang hukum, silahkan saja
bila ia mau berkarier di dunia hukum.
Pensiunan tentara bekerja di pabrik atau perusahaan kontraktor karena
punya kemampuan di bidang engineering. Kalau ia kemudian dipercaya
memimpin perusahaan, itu karena ia memang punya kemampuan, bukan karena
ia bekas tentara. Lingkungan kerjanya membutuhkannya sebagai pemimpin.
Termasuk di pemerintahan. Presiden memilih pensiunan TNI duduk di
kabinet dalam kapasitasnya sebagai pribadi-pribadi yang sudah tidak
aktif di militer. Pada lingkungannya tersebut, para purnawirawan
tentunya akan menekuni bidangnya masing-masing dan otomatis
pertimbangan-pertimbangan dari segi keamanan akan menyertainya dalam
melangkah.
Di negara-negara maju berlaku hal seperti itu. Semua berjalan dengan
sendirinya atau alamiah sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Negara
itu tidak melihat latar belakang asalnya tapi kemampuannya.
MTI: Pendapat Bapak soal Koter?
BH: Menurut saya, keberadaan Koter memang diperlukan. Karena sistem
pertahanan dan keamanan yang kita bangun selama ini adalah sistem
pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata).
Dalam menghadapi ancaman, sistem itu tidak hanya dipersiapkan pada masa
perang saja, tapi juga harus dipersiapkan sejak dini di dalam keadaan
damai.
Misalnya, bagaimana membina potensi daerah dalam menghadapi ancaman.
Karenanya sangat perlu dibentuk suatu komando kewilayahan, entah itu
bernama Koter atau apa pun namanya. Kalau istilah Koter mungkin masih
menimbulkan trauma masa lalu, silahkan dibuat nama yang lain.
Tapi yang jelas, komando kewilayahan bagi tentara itu sangat perlu.
Komando kewilayahan itu harus diberikan ruang lingkup tugas yang jelas
sehingga dia tidak akan masuk ke wilayah pihak lain. Tidak seperti yang
berlangsung di masa lalu di mana TNI juga menangani masalah politik.
Oleh karenanya, Koter harus focus pada tugas pokoknya, yakni
mempersiapkan daerah yaitu membina potensi kewilayahan menjadi kekuatan
kewilayahan untuk menghadapi ancaman.
MTI: Banyak pihak yang menuntut agar sistem Koter dihilangkan?
BH: Kalau komando kewilayahan ingin dihilangkan sama sekali, maka
sistem pertahanan dan keamanan kita mesti diubah dulu dong.
Sishankamrata harus diubah dulu. Sebab, sampai sekarang Sishankamrata
tetap disepakati. Tidak berubah.
Kekeliruan implementasi pada masa yang lalu tentunya tidak serta merta
menyalahkan system yang dianut. Koter pada masa lalu banyak melakukan
tugas-tugas di luar tugas pokoknya ini yang harus kita perbaiki.
Sishankamrata yang kita anut sudah teruji keampuhannya pada masa
perjuangan mempertahankan proklamasi kemerdekaan tahun 1945.
Sishankamrata adalah sistem yang melibatkan seluruh potensi komponen
bangsa ini dalam menghadapi segenap ancaman dari luar. Sistem Hankam itu
yang kita sepakati dalam UUD 1945. Sampai sekarang masih diakui dan
tetap kita lakukan. Konsekuensi kita menggunakan Sishankamrata itu
diperlukan komando kewilayahan yang selama ini kita dikenal sebagai
Komando Teritorial. Jadi, Koter itu sangat perlu dan harus ada tentu
dengan rambu-rambu yang tegas agar apa yang dikerjakannya tidak sampai
keluar pagar. Koter itulah yang membina potensi daerah menjadi kekuatan
kewilayahan untuk menghadapi ancaman. ►e-ti/af
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|