| |
CR updated 15072002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama :
Edwin Gerungan
Lahir :
Jakarta, 17 Juni 1948
Pendidikan :
- SMA PSKD, Jakarta (1966)
- Jurusan Teknik Mesin Universitas Trisakti (1966-tidak selesai)
- Principia College Illinois, AS (Buchelor of Art, 1972)
- Program for Executive di Carnagie Mellon, AS (1980)
Karir :
- Treasury sampai Vice President di Citibank (1972-1997)
- Executive Consultant di Arco Asia Inc, Singapura (1997-1998)
- Arco Dallas, Texas, AS (1998-1999)
- Executive Vice President Treasury and International Coordination Bank
Mandiri (1999-2000)
Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), 3 November 1999
Komisaris Bank Danamon Indonesia, 16 Juni 2003
|
|
| |
|
|
|
|
| EDWIN HOME |
|
|
 |
Edwin Gerungan
Bankir yang Sempat Memimpin BPPN
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Mandiri, Senin
16/5/2005, memilih Edwin Gerungan, mantan Kepala Badan Penyehatan
Perbankan Nasional (BPPN) sebagai komisaris utama menggantikan Binhadi.
mantan vice
president Citibank dan Executive Vice
President Treasury and International Coordination Bank Mandiri,
setelah melepas jabatan Kepala BPPN 3 November 1999, kemudian
menjabat komisaris di Bank Danamon Indonesia sejak Juni 2003.
Pengangkatannya sebagai Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)
cukup mengejutkan banyak pihak. Sebab sebelumnya, nama Edwin Gerungan
jarang terdengar. Ia sangat jarang dipublikasikan. Bahkan saat proses
pengangkatannya ia tak pernah dibicarakan sebagai salah satu kandidat
Ketua BPPN. Ia pun diangkat tanpa melalui fit and proper test.
Namun, di kalangan perbankan dan pasar modal, track record Edwin dinilai
sangat baik. Seorang analis pasar modal, Lin Che Wei, berpendapat
penunjukan Edwin adalah kabar baik setelah selama ini hanya mendengar
kabar buruk tentang BPPN. Pasar pun, katanya, mendukung Edwin. Sebab, ia
tidak terlibat politik dan profesional murni. Begitu pula, mantan Menko
Ekuin Kwik Kian Gie menilai, penunjukan Edwin sebagai langkah tepat karena
reputasinya selama ini memang bagus.
Penunjukkan Edwin ini memang mendadak. Hal ini diakui sendiri oleh Edwin
yang mengaku baru mengetahui penunjukan dirinya Jumat pagi, 3 November
1999. Ia
pun tidak pernah membayangkan akan memimpin BPPN. "Jabatan ini tidak
pernah kebayang," kata pria sederhana yang sehari-harinya mengendarai
mobil Peugot ini.
Ungkapan itu memang tidak berlebihan. BPPN kini mengelola aset negara tak
kurang Rp 600 triliun. Sementara untuk tahun ini, lembaga ini harus
mencapai target penjualan aset itu sebesar Rp 18,9 triliun. Ketika masih
dipimpin Cacuk Sudarijanto, BPPN sudah menyetor sebesar Rp 12 triliun
untuk APBN, sehingga masih sekitar Rp 6,9 triliun yang harus dipenuhi.
Nilai itu belum termasuk target pemasukan RAPBN 2001 sebesar Rp 27 triliun.
Tentu, itu bukan soal gampang.
Edwin lahir di Jakarta, 17 Juni 1948. Setelah menamatkan SMA, ia masuk
jurusan Teknik Mesin Universitas Trisakti. Baru satu semester, ia mendapat
beasiswa dari Principia College Illinois, Amerika Serikat (AS), sampai
memperoleh gelar Bachelor of Art (BA) Religion and Philosophy. Pulang dari
negeri Paman Sam itu, Edwin berkarir sebagai bankir di Citibank, Jakarta.
Jabatan pertamanya, treasury. Karirnya pun pelan-pelan naik, dan terakhir
menjadi Vice President di bank tersebut. Selanjutnya, ia bekerja sebagai
Executive Consultant di Atlantic Richfield Company (Arco) Asia Inc,
Singapura. Tak lama, ayah dua anak ini ditempatkan di Arco Dallas, Texas,
AS.
Di Arco, kabarnya, Edwin dipersiapkan untuk menduduki posisi pimpinan.
Namun, dalam perjalanan kemudian, Arco dibeli British Petroleum. Karena
itulah ia mendapatkan pesangon golden handshake dalam jumlah besar.
Kemudian, Mei 1999, ia diajak bergabung dengan Bank Mandiri sebagai
Executive Vice President Treasury and International Coordination. Baru
satu tahun bertugas, lelaki yang selama 25 tahun berkarir di perbankan itu,
diberi tanggung jawab yang lebih besar menjadi Ketua BPPN. Tidak sampai
dua tahun ia pun digantikan oleh Putu Ary Suta yang pengangkatannya juga
mengejutkan.
*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|