| |
C © updated 22082008-02022005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ctr |
|
| |
Nama:
Dr Fuad Bawazier
Lahir:
Tegal, Jawa Tengah, 22 Agustus 1949
Agama:
Islam
Pendidikan:
= S1 FE UGM
= S3 (doktor) ekonomi University of Maryland, Amerika Serikat
Karir:
= Asisten dosen FE UGM
= Dirjen Pajak Depkeu
= Menteri Kuangan Kabinet Pembangunan VII (1998)
= Anggota MPR-RI dari PAN 1999-2004
= Anggota DPR-RI dari PAN (2004-2009)
Organisasi:
= Pelajar Islam Indonesia (PII)
= Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
= Ketua Korps Alumni HMI (KAHMI)
= Ikatan Akuntan Indonesian (IAI)
= Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI).
= Ketua DPP Partai Amanat Nasional
= Pengurus YPI Al-Azhar Jakarta
= Ketua Pengurus Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya 2002-2007
= Ketua Persahabatan Indonesia-Malaysia (Prima)
|
|
| |
|
|
|
|
Fuad Bawazier
Dari Golkar ke PAN Lalu Hanura
Mantan Menteri Keuangan Orde Baru ini menjadi salah satu tokoh Partai Hati
Nurani Rakyat (Hanura). Sebelumnya, dia kader Golkar yang masuk ke Partai Amanat Nasional
(PAN. Namun, akhirnya secara resmi ia mengundurkan diri dari PAN, 9 Agustus 2005. Tampaknya dia sangat
kecewa atas kiprah partai itu dalam menyikapi berbagai hal yang
berkembang dalam tahun-tahun terakhir ini.
Apalagi pada Kongres PAN 7-10
April 2005, dia yang sempat diunggulkan menjadi Ketua Umum PAN, ternyata
kalah oleh Soetrisno Bachir atas dukungan Amien Rais.
Dukungan berpihak (restu) dari Amien Rais itu pula, salah satu
penyebab kekecewaannya. Dia kecewa karena pada era reformasi ini, masih
kental restu-restuan di partai. Dia yakin jika pemilihan ketua umum
dilakukan secara fair dan demokratis, dia akan memenangkan pemilihan itu.
Dia salah
seorang kandidat yang tergolong gencar menggalang dukungan dengan
mengunjungi pengurus-pengurus wilayah dan daerah. Pengalamannya di
birokrasi semasa Orde Baru menjadi kekuatan tersendiri baginya.
Bagi sebagian orang, sebutan orang orde baru mungkin dianggap sebuah
momok yang merugikan bahkan menakutkan. Namun, selama lebih lima tahun
reformasi bergulir, mantan pejabat orde baru yang satu ini, selalu tampil
percaya diri berkiprah dalam barisan orang-orang yang menyebut diri tokoh
reformis sejati.
Kiprahnya di Partai Amanat Nasional justru sangat diperhitungkan,
apalagi dengan pengalaman dan kekayaannya sebagai pejabat pada masa orde
baru. Pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 22 Agustus 1949, yang mengawali
karir sebagai asisten dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, ini
menjabat Direktur Jenderal Pajak Departemen Keuangan sebelum mencapai
puncak karir sebagai Menteri Keuangan terakhir rezim orde baru (1998).
Setelah bergulirnya reformasi, doktor ekonomi lulusan University of
Maryland, Amerika Serikat, ini bergabung dengan tokoh reformasi Amien Rais
di Partai Amanat Nasional. Ketika itu, banyak orang menduga, Fuad memang
sengaja masuk dalam kubu Amien Rais yang kala itu sangat keras menghujat
Pak Harto dan rezim orde baru.
Fuad dengan sangat brilian mampu berperan sedemikian baik di PAN.
Pengalaman di birokrasi dan pengalaman berorganisasi yang dimiliki
didayagunakannya dengan sangat intensif. Sejak sekolah, memang dia sudah
gemar aktif di organisasi. Mulai dari Pelajar Islam Indonesia (PII),
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sampai menjadi ketua Korps Alumni HMI (KAHMI)
dan organisasi profesi Ikatan Akuntan Indonesian (IAI) dan Ikatan Sarjana
Ekonomi Indonesia (ISEI).
Bahkan di bidang organisasi sosial dan pendidikan, juga dia berkiprah
dengan serius, seperti di YPI Al-Azhar Jakarta dan Pengurus Masjid
Nasional Al-Akbar Surabaya, di sini dia menjadi ketua periode 2002-2007.
Juga dalam organisasi pergaulan antatbangsa dia berkiprah sebagai Ketua
Persahabatan Indonesia-Malaysia (Prima).
Maka, dengan mengandalkan pengalaman di berbagai bidang itu pantas dia
mengejar jabatn Ketua Umum PAN. "Saya pikir, dengan semua pengalaman
organisasi dan birokrasi yang saya alami, wajar jika saya sekarang
mengincar posisi Ketua Umum PAN," kata Fuad kepada para wartawan.
Fuad tampak percaya diri dalam pencalonannya kendati dia menghadapi
negative campaign dengan tudingan sebagai orang orde baru. Dia tidak
terlalu merisaukan sebutan orang orde baru itu. Dia terus maju menggalang
dukungan ke beberapa wilayah (Dewan Pengurus Wilayah) dan daerah (Dewan
Pengurus Daerah), dengan menyampaikan visi-misinya jika terpilih menjadi
ketua umum PAN.
Dalam beberapa kesempatan dia melontarkan otokritik pada PAN. Pada
Pemilu 1999, delapan bulan setelah berdirinya, PAN mampu meraih 7,4 juta
suara. Namun, pada 2004, setelah lima tahun bekerja keras, suara PAN malah
turun. Menurut Fuad, Ini pasti ada yang tak beres. Dia melihat, walau
bukan persoalan besar, masalah-masalah kecil yang menumpuk telah
menjadikan PAN seperti orang sakit kronis.
Menurutnya, selama lima tahun terakhir, PAN hanya memeras habis Amien.
Sehingga Jelas tidak akan kuat. Sebab, ketokohan tidak akan mampu menopang
organisasi yang demikian besar. Ketokohan, ada batas usia dan kemampuan.
Makanya, dia menawarkan, harus membangun sistem yang kuat. Sebab, sstem
akan jauh lebih kokoh dan langgeng dibandingkan dengan ketokohan. Kalau
tokoh, 5-10 tahun pasti tumbang.
Maka dia pun sangat mengapresiasi inisiatif Amien Rais yang menyatakan
tidak bersedia lagi dicalonkan. Menurutnya, rupanya Pak Amien sadar betul,
kalau satu periode lagi memimpin, pasti akan mendorong lahirnya feodalisme
dan kultus individu.
►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|