|
|
 |

Nama:
Gesang Martohartono
Lahir:
1 Oktober 1917
Rekaman CD:
Seto Ohashi (1988), Tembok Besar (1963), Borobudur (1965), Urung
(1970), Pandanwangi (1949), dan Swasana Desa (1939).
Album Emas:
bengawan solo
jembatan merah
saputangan
si piatu
roda dunia
dunia berdamai
tirtonadi
pemuda dewasa
luntur
bumi emas tanah airku
dongengan
sebelum aku mati
|
|
Gesang Martohartono
Sebuah Legenda Maestro Keroncong
Tak banyak penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa menjadi legenda di
masyarakat. Satu dari yang sedikit itu, ialah maestro keroncong asal Solo,
Gesang Martohartono, pencipta lagu Bengawan Solo. Sebuah lagu keroncong
yang menyeberangi lautan. Lagu yang sangat digemari di Jepang. Lagu
merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. Lagu yang telah menjembatani
pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia.
Dan, tak banyak pula dari penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa
bertahan hingga usia 85 tahun. Gesang bahkan telah membuktikan bahwa dalam
usianya yang ke-85 tahun, masih mampu merekam suaranya. Rekaman bertajuk
Keroncong Asli Gesang itu diproduksi PT Gema Nada Pertiwi (GMP) Jakarta,
September 2002.
Peluncuran album rekaman itu bertepatan dengan perayaan ulang tahun Gesang
ke-85, yang diadakan di Hotel Kusuma Sahid di Solo, Selasa (1/10) malam.
Hendarmin Susilo, Presiden Direktur GMP, menyebutkan produksi album
rekaman Gesang yang sebagian dibawakan sendiri Gesang, merupakan wujud
kecintaan dan penghargaannya pada dedikasi sang maestro terhadap musik
keroncong.
Sudah empat kali PT GMP memproduksi album khusus Gesang, yaitu pada 1982,
1988, 1999, dan 2002. Dari 14 lagu dalam rekaman compact disk (CD), enam
di antaranya merupakan lagu yang belum pernah direkam. Yaitu Seto Ohashi
(1988), Tembok Besar (1963), Borobudur (1965), Urung (1970), Pandanwangi
(1949), dan Swasana Desa (1939). Selebihnya lagu-lagu lama karya Gesang,
yang temanya menyinggung usia Gesang yang sudah senja seperti Sebelum Aku
Mati, Pamitan, dan tentu saja Bengawan Solo.
Ini memang lebih sebagai album penghormatan atas sebuah legenda daripada
sebuah produk yang tak punya selling point. Dalam album ini suara Gesang
agak "tertolong" karena didampingi penyanyi-penyanyi kondang: Sundari
Soekotjo, Tuty Tri Sedya, Asti Dewi, Waldjinah.
"Terus terang, suara saya jelek. Apalagi saat rekaman itu saya sedang
sakit batuk, sehingga terpaksa diulang-ulang hingga, ya, lebih lumayan,"
ungkap Gesang polos. Menurut dia, sebenarnya aransemen dan iringan musik
oleh Orkes Keroncong Bahana itu dia rasa kurang cocok untuk kondisi
vokalnya.
***
SUDAH lima tahun terakhir, perayaan HUT Gesang diadakan di hotel yang
sama. Penyelenggaranya gabungan dari anggota keluarga Gesang dan Yayasan
Peduli Gesang (YGP) dari Jepang. YGP semula merupakan wadah sejumlah warga
Jepang yang memiliki penghormatan khusus pada Gesang, dan mereka
menghimpun dana untuk membantu kehidupan Gesang. Sebagian dari mereka
adalah orang Jepang yang berusia di atas 80 tahun, karena pada masa perang
dahulu sudah mengagumi lagu Bengawan Solo.
Mereka datang berombongan dari Jepang-asal Tokyo, Pulau Shikoku, Yokohama-dan
tiba sehari sebelumnya. Setiap tahun anggota rombongan berganti-ganti, dan
sebagian anggota tetap. Menurut Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang,
Okihara Toshio, sebenarnya banyak warga Jepang yang berniat datang ke
Solo, tetapi terbentur teknis untuk mengumpulkan mereka sehingga hanya
terkumpul 26 orang.
Bayangkan. Mereka menempuh jarak ribuan kilometer hanya untuk mengucapkan
selamat ulang tahun kepada Gesang. Selain mesti membeli tiket pesawat
terbang pergi-pulang dan mengeluarkan biaya akomodasi, mereka juga membawa
cenderamata buat Gesang. Dari amplop berisi uang yen hinga lukisan. Bahkan
ada yang sengaja datang ke Solo untuk bisa bernyanyi (bermain piano)
bersama Gesang. Ada juga yang menari.
Ketua Yayasan Peduli Gesang, Ny Yokoyama Kazue (55) agak menyayangkan
ketidakhadiran sejumlah warga Jepang yang tinggal di Kota Solo, padahal
tahun lalu saat perayaan HUT Gesang mereka datang. HUT yang istimewa itu,
85 tahun, hanya dihadiri kurang dari 100 orang.
Ia juga menyayangkan ketidakhadiran kalangan pemusik dan penyanyi
keroncong setempat. Padahal panitia dari Jepang telah menyiapkan
penghargaan kepada mereka. HUT Gesang malam itu terasa sepi tanpa
kehadiran penyanyi Waldjinah, komponis Andjar Any, atau kalangan musik
keroncong lainnya. Tak satu pun kalangan pejabat yang hadir, maupun mereka
yang selama ini menyebut dirinya menghargai musik Indonesia.
Barangkali ini sebuah ironi tentang sebuah bangsa yang konon sangat
mengagungkan kepahlawanan. Ny Yokoyama mengaku, sebenarnya ia hanya
melanjutkan usaha mendiang Hirano Widodo, salah seorang warga Jepang (tinggal
di Klaten) pengagum Gesang. "Saya sudah telanjur berjanji pada Pak Hirano
tatkala beliau dirawat di rumah sakit," tutur Ny Yokoyama. Ia bahkan
mengaku, sebelumnya tidak mengenal Gesang.
***
MENYEBUT kekaguman terhadap Gesang sebagai sebuah legenda, rasanya tidak
adil tanpa menyebut peran PT Gema Nada Pertiwi yang dipimpin Hendarmin
Susilo (57). "Saya termasuk warga keturunan, tetapi saya cinta negeri ini,
dan menyukai lagu-lagu daerah di sini seperti gending, degung, lagu-lagu
Tapanuli, terutama keroncong," ungkapnya.
Hendarmin mengaku, kecintaannya pada musik keroncong seperti sudah
mendarah-daging, dan karena itu ia siap berkorban. Ia juga menghormati
Gesang, bahkan telah menganggapnya sebagai "orangtua"-nya.
Kalau bukan berdasar rasa kagum dan penghargaan yang mirip mitos, rasanya
memang tak masuk akal sebuah perusahaan rekaman memproduksi album rekaman
musik keroncong. "Apalagi di masa sulit sekarang ini," kata Hendarmin. "Memang
banyak teman Asiri yang menyebut saya gila."
Ditambahkan, kalau cuma dihitung dengan ilmu dagang, memproduksi album
keroncong jelas merugi. Tentang besarnya prosentase pemasaran album musik
keroncong, misal dibanding musik pop, Hendarmin bertamsil, "Wah, kita
harus menggunakan kaca pembesar untuk bisa melihatnya."
Sebagai gambaran, rekaman Album Emas Gesang (1999) cuma laku 7.000 kaset
dan 1.000 CD. Bandingkan dengan album musik pop Indonesia yang, kalau
meledak, bisa mencapai 400.000 keping. "Tetapi, dalam hidup ini kan ada
harga yang lain. Yakni ketika kita dihargai oleh orang lain, seperti
penghargaan orang Jepang terhadap Pak Gesang itu. Macam itu tidak bisa
dinilai dengan uang saja," katanya.
Hendarmin juga menyebutkan, sebenarnya bukan hanya kalangan masyarakat
Jepang yang mengagumi Gesang. Nama Gesang dengan Bengawan Solo-nya juga
cukup dikenal pula di daratan Tiongkok. Dalam kaitan itu ia menyebut jasa
Bung Karno yang pada masa lalu sering membawa misi kesenian ke RRC, juga
Vietnam, dan negara Asia Tenggara yang lain.
Bengawan Solo
bengawan solo, riwayatmu ini
sedari dulu jadi perhatian insani
musim kemarau, tak seberapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh ...
mata airmu dari solo
terkurung gunung seribu
air mengalir sampai jauh
akhirnya ke laut ...
itu perahu, riwayatmu dulu
kaum pedagang s'lalu naik itu perahu
Keroncong yang Menyeberangi Lautan
Lagu "Bengawan Solo" yang berlanggam keroncong, sangat terkenal di Jepang.
Orang Jepang langsung tahu bila kita menyebut "Bengawan Solo", karena
sudah sejak lama mereka kenal. Terutama bagi mereka yang sudah berusia
lanjut, mendengar lagu ini menimbulkan adanya perasaan nostalgia.
Demikianlah, melalui "Bengawan Solo" yang digubah, telah tumbuh pertukaran
yang bersejarah antar rakyat Jepang dan Indonesia.
"Bengawan Solo" masuk ke Jepang untuk pertama kali sekitar setengah abad
yang lalu di kala masa perang. Pada waktu tentara Jepang mendarat di Pulau
Jawa, lagu itulah yang dari radio terdengar secara luas di kalangan
serdadu Jepang serta orang-orang Jepang yang berada di sini.
Seusai perang, berkat para tentara Jepang dan orang-orang perusahaan
dagang Jepang yang pulang kembali ke negerinya, lagu tersebut kerap
terpelihara eksistensinya, bahkan "Bengawan Solo" dengan syair dalam
bahasa Jepang menjadi sangat populer. Konon orang orang di Jawa yang
mendengar lagu itu merasakan ketenangan hati serta nostalgia, mengingatkan
mereka akan masa mudanya karena melodi lagu serupa dengan lagu rakyat
Jepang.
Salah pengertian bahwa "Bengawan Solo" merupakan lagu rakyat yang
komponisnya tidak dikenal, berlangsung cukup lama. Akan tetapi ada
orang-orang Jepang yang berdaya upaya bagi terjalinnya pertukaran antar
rakyat biasa dengan Indonesia, mereka mencari melodi-melodi indah dari
negeri-negeri lain dan membantu para komponis yang terlupakan.
Setelah mencari dan melacak keberadaan penggubahnya, Gesang pada tahun
1989, dengan dana yang dikumpulkan dari himpunan persahabatan Jepang-Indonesia
di berbagai tempat di Jepang, telah dibentuk Dana Himpunan Gesang dengan
alasan bahwa "Bengawan Solo bersifat Abadi", bahkan sampai didirikan
sebuah monumen patung setengah badan Gesang di Taman Jeruk, Kota Solo.
Gesang datang pada festival salju Sapporo atas undangan himpunan
persahabatan Sapporo dengan Indonesia pada tahun 1980, untuk pertama kali.
Setelah itu telah berkali-kali datang ke Jepang atas undangan himpunan
persahabatan Jepang. Demikianlah pagelaran keroncong berlangsung di Jepang
untuk pertama kali dengan membawakan lagu "Bengawan Solo". Melalui Gesang
dan musik keroncong, orang menjadi sadar bahwa musik adalah sesuatu yang
mutlak perlu bagi persahabatan dan perdamaian dunia. Lebih-lebih lagi,
berkat kerendahan hati Pak Gesang; kepribadiannya telah membawa keakraban
dan kehangatan bagi orang Jepang. Berkat kunjungannya ke Jepang, keroncong
telah mengalami boom secara diam-diam.
Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. "Bengawan Solo" yang
melintasi batas negara, dengan memperkayakan hati manusia telah
menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan
Indonesia.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), sumber Kompas dan
www.id.emb-japan.go.jp/283p18.html
|
|