| |
C © updated
04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/tempo |
|
| |
Nama:
Dr (HC) H Hamzah Haz
Lahir:
Ketapang, Kalimantan Barat, 15 Februari 1940
Agama :
Islam
Isteri:
1. Asmaniah
2. Titin Kartini
Pendidikan:
- SMP, Pontianak, Kalimantan Barat
- SMEA, Pontianak, Kalimantan Barat
- Akademi Koperasi Negara, Yogyakarta (1962) Jurusan Ekonomi Perusahaan,
Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura, Pontianak (tingkat V, 1970)
Karir:
- Guru SM Ketapang (1960-1962)
- Wartawan suratkabar Bebas, Pontianak, Kalimantan Barat (1960-1961)
- Pimpinan Umum Harian Berita Pawau, Kalimantan Barat
- Ketua PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, (1962)
- Ketua Badan Pemeriksa Induk Koperasi Kopra Indonesia (1965-1970)
- Ketua Presidium KAMI Konsulat Pontianak (1968-1971)
- Asisten Dosen di Universitas Tanjungpura Pontianak (1968- 1971)
- Anggota DPRD Tk I Kalimantan Barat (1968-1971)
- Anggota DPR RI (1971-2001)
- Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM (1998-1999)
- Wakil Ketua DPR (1999-2001)
- Menko Kesra dan Taskin (1999)
- Wakil Presiden RI (26 Juli 2001-2004)
Alamat rumah:
Jalan Tegalan No. 27
Jakarta Timur |
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3
4 5 6 7 ==
Dr. H. Hamzah Haz
Akomodatif Tetap Jadi Wapres
Bila ada tokoh politik yang layak menyadang predikat akomodatif, maka
Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan yang juga menjabat Wakil
Presiden RI, ini pantas disebut. Ia tidak bersuara terlalu vokal, tetapi
juga tidak terlalu lunak. Hamzah punya gaya sendiri: keras dengan kemauan
tapi juga lembut dalam kompromi. Maka, kendati sempat mendapat
‘perlawanan’ dalam Muktamar PPP Mei 2003, ia terpilih kembali sebagai
Ketua Umum PPP 2003-2008.
Kini ia menjadi salah seorang kandidat presiden. Peluangnya terbuka jika
ia berhasil menggalang kekuatan terutama dengan partai-partai Islam. Namun
diperkirakan ia lebih berpeluang tetap menjadi wakil presiden dengan
membangun koalisi dengan Capres dari partai berbasis nesionalis, seperti
PDI-P dan Partai Golkar. Ia memang termasuk pilihan utama kedua partai
besar itu sebagai calon wakil presiden.
Hamzah lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, 15 Februari 1940. Sejak SMP,
ia sudah aktif berorganisasi. Setamat Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA)
di Pontianak pada 1961, ia menjadi wartawan surat kabar Pontianak, Bebas.
Ia tidak memilih bekerja di bank, sebagaimana teman-temannya yang lulusan
SMEA. “Saya lebih suka menjadi wartawan. Di sini saya bisa langsung
bergaul dengan masyarakat secara luas,” katanya.
Karir jurnalistik hanya sempat dijalaninya selama setahun. Sebab, tahun
berikutnya ia ikut ayahnya, anggota Koperasi Kopra yang mendapat tugas
belajar di Akademi Koperasi Negara Yogyakarta. “Mengingat koperasi juga
menyangkut orang banyak, saya memu-tuskan untuk ikut kuliah bersama ayah,”
kilahnya.
Karena giat organisasi sejak SMP, di kampusnya itu pun ia giat
berorganisasi dengan mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.
Sekaligus ia terpilih menjadi ketuanya.
Pada 1965, Hamzah kembali ke Pontianak dan membawa gelar sarjana mudanya.
Selanjutnya, ia meneruskan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas
Tanjungpura dan mengambil jurusan ilmu perusahaan. Di tempatnya kuliah itu,
ia sempat jadi asisten dosen. Selanjutnya, statusnya naik menjadi dosen di
fakultas tersebut. Di luar kegiatan akademis, ia menjadi Ketua Presidium
KAMI Konsulat Pontianak dan mewakili Angkatan 66 di DPRD Kalimantan Barat.
Hamzah sempat menjadi Wakil Ketua DPW Nahdlatul Ulama (NU) Kalimantan
Barat. Kemudian, mewakili NU ia hijrah ke Gedung DPR/MPR di Senayan pada
1971. Setelah NU berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan, ia
terpilih secara terus-menerus menjadi anggota DPR mewakili PPP. Di PPP, ia
sudah beberapa periode menjadi pengurus. Terakhir, ia menjadi salah
seorang ketua DPP PPP, sebelum akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum DPP
PPP pada akhir 1998.
Sebagai anggota DPR, Hamzah adalah seorang wakil rakyat yang sangat fasih
bicara masalah moneter, khususnya mengenai APBN. Memang, selama di DPR ia
selalu masuk dalam komisi APBN. Terakhir, bersama Umar Basalim, Ketua Umum
DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menulis buku “Kebijaksaan
Fiskal dan Moneter” yang diberi pengantar oleh Prof. Dr. Anwar Nasution.
Pada 1998 ia menjadi Menteri Negara Investasi/Kepala Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM) memperkuat kabinet Presiden Habibie. Selama menjadi
Meninves/Kepala BKPM, Hamzah tidak menempati rumah dinas bagi menteri.
Sebab, ia tidak ingin menjabat posisi menteri selamanya. Tanggal 10 Mei
1999, ia mengundurkan diri dari jabatan menteri karena ada desakan
masyarakat agar pimpinan partai tidak duduk sebagai menteri.
Sebagai hasil Pemilu 1999 terbentuk kabinet pimpinan Presiden KH
Abdurrahman Wahid. Tanggal 29 Oktober 1999, ia diangkat menjadi Menteri
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan (Menko
Kesra dan Taskin). Tetapi daripada dipecat ia memilih mengundurkan diri
pada 26 November 1999 untuk kembali berkonsentrasi penuh memimpin partai.
Pada hari Kamis, 26 Juli 2001, Hamzah terpilih sebagai Wakil Presiden
ke-9. Langkah menuju posisi RI-2 yang ditempuhnya berliku dan di luar
rencana. Bermula jatuhnya Gus Dur dari kursi presiden dan otomatis
digantikan Megawati yang menjabat wapres. Lalu ia bertarung menghadapi
nama-nama yang cukup dikenal luas seperti Akbar Tandjung, Susilo Bambang
Yudhoyono, Agum Gumelar, dan Siswono Yudo Husodo. ►tsl/Majalah
Tokoh Indonesia Volume 09
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|