| |
C © updated 11022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/csis |
|
| |
Nama:
Harry Tjan Silalahi
Lahir:
Kampung Terban, Yogyakarta, 11 Februari 1934
Saudara:
10 bersaudara
Pendidikan:
SD, SMP, SMA, Yogyakarta
FH UI, Jakarta (1962)
Organisasi:
Anggota IPPI (1952)
Ketua PMKRI Pusat (1961-1962)
Sekjen Front Pancasila (1965)
Pendiri Universitas Trisakti (1966)
Sekjen Partai Katolik Indonesia
Anggota DPR (1967-1971)
Ketua Partai Katolik Indonesia (1971)
Anggota DPA (1978-1983)
Wakil Ketua Dewan Direktur dan Anggota Dewan Kehormatan hingga sekarang
Sumber Data:
= Dari berbagai sumber, al: CSIS dan Kompas
|
|
| |
|
|
|
|
Harry Tjan Silalahi
Kontributor Politik Nasional
Wakil Ketua Dewan Direktur dan Anggota Dewan Kehormatan sebuah
lembaga pengkajian bernama CSIS (Center For Strategic & International
Studies) ini dikenal luas sebagai peneliti senior bidang politik, budaya
dan pertahanan. Sejak awal tahun 50-an, ia mulai aktif memberikan
kontribusi dalam dunia politik nasional dan banyak menulis di berbagai
surat kabar dan buku.
Lahir 11 Februari 1934 di Kampung Terban, Yogyakarta, kehidupan masa kecil
Harry Tjan Tjoen Hok, anak kedua dari sepuluh bersaudara, serba sulit.
Ayahnya buta huruf, ibunya penjual makanan kecil dan gudeg. Kedua orangtua
itu mengharapkan Harry menjadi orang berpendidikan. Bahasa ibu yang
pertama kali dia kenal bukanlah Mandarin, melainkan Jawa ngoko. Bahasa
Indonesia dikenalnya di sekolah menengah lewat judul bacaan Empat Sekawan.
Awalnya Harry Tjan bercita-cita menjadi dokter. Selepas SMP St Yusuf di
Dagen, Yogyakarta, dia masuk jurusan A (ilmu pasti) di SMA de Britto.
Selain gemar berorganisasi, di sekolah ia menyenangi pelajaran sejarah,
kesenian, dan ilmu kemasyarakatan. Karena sibuk berorganisasi, hal yang
menjadi kegemarannya selain berpidato, dia tidak naik kelas. Dia harus
pindah jurusan, ke jurusan C (ilmu sosial).
Ketika di SMA di kota kelahirannya, Harry anggota organisasi peranakan
Cina, Chung Lien Hui. Di masa kepemimpinannya, organisasi ini beralih nama
menjadi Persatuan Pelajar Sekolah Menengah Indonesia (PPSMI). Ia juga
aktif di Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI).
Setelah tamat SMA, Harry pindah ke Jakarta dan kuliah di Fakultas Hukum
dan Ilmu Kemasyarakatan Universitas Indonesia, hingga lulus tahun 1961.
Pilihan ke fakultas hukum pun, katanya, dipengaruhi oleh pernyataan
Muhammad Yamin di tahun 1946, yang menolak diadili Pemerintah Indonesia
karena Republik Indonesia masih memakai hukum Belanda.
Semasa kuliah di Jakarta, ia menjadi aktivis, sekaligus menjadi guru
sekolah dasar dan kepala sekolah menengah pertama (SMP). Ia juga aktif di
perkumpulan Sin Ming Hui, dan Perkumpulan Mahasiswa Katolik Republik
Indonesia (PMKRI).
Giat di bidang sandiwara, ia pernah main
dalam Taufan arahan Teguh Karya, malah pernah menyutradarai Mawar Hutan.
Selepas fakultas hukum, ia bekerja beberapa tahun di sebuah perusahaan
minyak asing di Pekanbaru. Ia kemudian terpilih sebagai Ketua PMKRI. Pada
tahun 1964-1971, ia duduk sebagai Sekretaris Jenderal Partai Katolik yang
diketuai Frans Seda. Dalam posisi sekjen itulah Harry menjadi anggota
DPR-GR/MPRS sampai tahun 1971.
Namanya mulai terkenal setelah aktif memimpin pengganyangan G-30-S/PKI,
dan menjadi Sekjen Front Pancasila. Giat dalam gerakan pembauran,
aktivitasnya di Partai Katolik mengantarkan ia ke kedudukan sebagai ketua,
hingga peleburan ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Pada saat itulah ia memperoleh marga Silalahi lewat persahabatannya
dengan Abe, alias Albertus Bolas Silalahi, yang juga pernah memimpin
Partai Katolik. Harry sebagai sekjen pengurus pusat, dan Abe ketua di
Tapanuli Utara. Waktu itu, AB Silalahi mempunyai saudara yang
merantau ke Pulau Jawa dan tidak pernah kembali. Harry "ditemukan" AB
Silalahi sebagai pengganti saudaranya yang hilang itu, yang dianggap telah
kembali dan diberi marga silalahi berikut segala hak karena gelar itu. Ia
dianggap keluarga penuh yang mempunyai orangtua, kakak, adik, keponakan,
juga sawah dan ladang. Kedua anak Harry juga diberi nama dengan marga
silalahi. Usai pemilu 1971, Harry tidak lagi giat di dunia
kepartaian. Ia memilih kegiatan di CSIS dan Yayasan Pendidikan Trisakti.
Di yayasan ini ia mengetuai bidang kemasyarakatan.
CSIS menurut Harry, berkeinginan menjadi think tank berbagai persoalan
bangsa. Ia menyangkal mentah-mentah bila CSIS dikesankan berhubungan
langsung dengan Golkar apalagi menjadi dapurnya Golkar. Menurutnya, sejak
awal CSIS tidak pernah jadi think tank untuk satu partai apa pun.
Harry juga menolak pernyataan pamor CSIS menyurut. Yang dia akui, CSIS
semakin inklusif. Ini pun sebuah hasil perjuangan yang dirajut
bertahun-tahun. Sejak awal berdiri, CSIS tak dikembangkan sebagai lembaga
eksklusif. Selain sejumlah nama orang Katolik dan Cina, ada juga Daoed
Joesoef, Barlianta Harahap, dan lain-lain, apalagi sekarang.
Hari-hari ini CSIS, sebagai lembaga pengkajian, tetap dikunjungi banyak
orang. Diskusi, seminar, ataupun acara bedah buku tetap dihadiri banyak
orang. Perpustakaan dengan lebih dari 50.000 eksemplar buku setiap hari
dikunjungi 100-150 orang. Dengan sekitar 130 karyawan, 50 di antaranya
analis dan sepertiga dari mereka adalah doktor lulusan luar negeri, CSIS
tetap diperhitungkan. Harry mengatakan bahwa mereka dilatih untuk bekerja
tanpa pamrih dan tidak menjadi penjual gagasan atau orang ke pemerintahan.
Di usianya yang ke-70 bulan Februari 2003 ini, ia ia mengaku bahagia
karena bisa menimba banyak ilmu kehidupan dari orang-orang dekatnya. Tidak
hanya dari kedua orangtuanya, mantri pembantu dokter mata terkenal Yap
Hong Tjoen (Yap senior), dari refleksi keagamaan yang dianut dan pergaulan
banyak orang, tetapi terutama juga dari rekan-rekan di Centre Strategic
for International Studies (CSIS). Ia mengakui bahwa CSIS telah membuat
dirinya terus-menerus muda.
Bukan hanya itu, wayang pun memperkaya dan membentuk sosok Harry Tjan
Silalahi. Di kamar kerjanya, tokoh Sukrosono, adik Sumantri dalam lakon
Sumantri-Sukrosono, ditempatkan dalam pigura besar. Baginya tokoh
Sukrosono memberikan teladan kesetiaan yang patut ditiru. Menonton wayang
juga membuatnya terkenang sebagai anak Tionghoa di tahun 40-an
bertelanjang kaki bersama teman-teman sekampung nglurug nonton wayang ke
mana-mana.
Sehari-hari ia bersama mereka cebar-cebur di Kali
Code, yang mengalir deras di samping rumahnya. Tak ada perasaan sebagai "anak
Cina". "Lingkungan saya adalah anak Jawa kampung," katanya.
Menikah dengan Theresia Marina Gani (almarhumah), dosen sastra Inggris FS
UI, Harry dianugerahi dua anak, Herman dan Harin. Pada tahun 1996, ia
menikahi Theresa Catharina Jing Liong dari Selandia Baru. Mengomentari
pernikahan keduanya, Harry bilang "Love in the afternoon," cinta senja
hari.
Hingga kini, penggemar olah raga renang ini masih
melakukan lari pagi, atau bersepeda. Ia juga masih tetap senang membaca,
ia pengagum Dr. Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro, Bung Karno, Bung
Hatta, juga Soeharto.
►atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|