| |
C © updated 20062008-27072007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr kompas |
|
| |
Nama:
John Ario Katili
Lahir:
Gorontalo, 9 Juni 1929
Meninggal:
Jakarta, 19 Juni 2008
Isteri:
Ileana Syarifa Uno
Anak:
Amanda Katilli
- Werner Katilli
Pendidikan:
- Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, 1953
- University of Inssbruck, Austria, 1958
- Program Doktoral Geologi ITB, cum laude, 1960
- University of Kentucky, 1963
- University of Los Angeles, 1969
Karir:
- Guru Besar ITB, 1961
- Deputi Ketua LIPI, 1969-1974
- Dirjen Pertambangan Umum, 1973-1984
- Dirjen Geologi & SDM, 1984-1989
- Wakil Ketua MPR/DPR, 1992-1997
- Duta Besar untuk Rusia, Kazakhstan, Turkmenistan dan Mongolia,
1999-2003
Kegiatan lain:
- Ikatan Ahli Geologi Indonesia
- Akademi Ilmu Pengetahuan Alam Rusia
- Uni Geologi Internasional
- Dewan Riset Nasional
- Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
Karya Tulis:
Sekitar 250, dari tahun 1951-2005
Penghargaan:
- Bintang Mahaputera Adipradana, 1997
- Dr H
- Berbagai bintang kehormatan dari Swedia, Perancis, Belanda dan Rusia
|
|
| |
|
|
|
|
| JA KATILLI HOME |
|
|
 |
John Ario Katili (1929-2008)
Doktor Geologi Pertama
Mantan Wakil Ketua MPR Prof Dr John Ario Katili meninggal dunia Kamis
19 Juni 2008 sekitar pukul 17.30 di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI)
Jakarta. Doktor pertama di bidang geologi dari ITB (cum laude 1960) kelahiran Gorontalo, 9 Juni 1929,
itu meninggal akibat pembuluh darah di bagian kakinya pecah.
Dibawa ke RSPI Rabu 18 Juni 2008 sekitar pukul 18.00 dan sempat
dirawat di ruang ICU. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka
perumahan Bintaro Sektor III, Jalan Pinguin V CH 6 Jakarta Selatan.
Dimakamkan Jumat (20/6). Katili meninggalkan seorang istri, Ny Ileana
Syarifa Uno, dan dua anak, Amanda Katili dan Werner Katili.
JA Katili, menjadi anggota DPR 1992-1997 dan menjabat Wakil Ketua DPR/MPR.
Sebelumnya menjabat Dirjen Pertambangan Umum, 1973-1984 dan Dirjen
Geologi dan Sumber Daya Mineral Departemen Pertambangan dan Energi
(1984-1989).
Selain berkarir di legislatif dan pemerintahan, dia juga pernah menjabat
pembantu Rektor ITB dan Dekan Departemen Teknologi Mineral ITB. Guru
Besar ITB itu menulis sedikitnya 11 buku dan 250 karya tulis.
Kepakarannya di bidang geologi sangat dihormati di dunia internasional.
Dia menjadi Ketua South East Asia of Geological Socientis dan anggota
The National Geographyc Society.
Atas berbagai pengabdiannya, dia mendapat anugerah Bintang Mahaputra,
Medali Kehormatan Commandeur de L'Ordre National du Merite dari
pemerintah Perancis. Sejumlah penghargaan juga diperoleh dari pemerintah
Kerajaan Belanda, Swedia dan Rusia.
****
Peluncuran Biografi JA Katili
Peran Vital Ilmu Kebumian
Jakarta, Kompas 27 Juli 2007- Bumi Indonesia ibaratnya pedang bermata
dua. Di satu sisi berisi materi yang dapat membawa kekayaan berlimpah,
tetapi juga dapat membawa musibah. Untuk mengelola bumi tersebut, peran
ilmu terkait kebumian seperti geologi sangat penting.
Salah satu tokoh setia dalam menggeluti ilmu tersebut ialah John Ario
Katili yang meluncurkan biografinya, Rabu (25/7) malam. Peluncuran buku
biografi JA Katili, Harta Bumi Indonesia, tersebut dihadiri sejumlah
tokoh, antara lain Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar.
JA Katili diangkat sebagai guru besar geologi di Institut Teknologi
Bandung (ITB) tahun 1961. Dia juga sempat berkarier sebagai Direktur
Jenderal Pertambangan Umum Departemen Pertambangan dan Energi. Katili
pernah menjabat sebagai Presiden Pertama Asosiasi Perhimpunan Ahli-ahli
Geologi Asia Tenggara.
Kariernya di bidang politik antara lain menjadi Wakil Ketua MPR/DPR
(1992-1997) serta Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk
Federasi Rusia, Kazakhstan, Turkmenistan, dan Mongolia (1999-2003).
Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam sambutannya mengatakan, JA Katili
merupakan seorang saintis, birokrat, dan politisi sekaligus. Meski
demikian JA Katili tidak pernah meninggalkan bidang kepakarannya.
Bumi Indonesia, dalam pandangan Jusuf Kalla, mempunyai dua sisi, yakni
manfaat dan musibah, sehingga peran geologi sangat penting.
"Tiga tahun terakhir seakan bumi kita hanya membawa musibah melulu yang
kemudian menimbulkan berbagai tanda tanya. Hanya saintis yang dapat
menjelaskan, termasuk juga soal gempa, tsunami, dan belakangan kejadian
luapan lumpur di Sidoarjo," ujarnya.
Di sisi lain, sejak lama bumi Indonesia dikenal dengan kekayaannya,
seperti kekayaan mineral tambang. Sebetulnya berbagai kesulitan kita
seharusnya dapat diatasi dengan menggunakan kekayaan luar biasa itu. Di
dunia, misalnya, sedikit sekali negara yang mempunyai tiga jenis mineral
strategis, yakni tembaga, nikel, dan bauksit sekaligus seperti di
Indonesia.
"Mungkin kita kalah di bidang manufaktur dan jasa, tetapi kita memiliki
sumber daya alam yang luar biasa. Untuk mengelolanya, kita membutuhkan
keahlian. Sekarang masih kita serahkan kepada orang asing untuk
pengelolaannya. Kita butuh banyak geolog muda yang mau mengelola sumber
daya alam kita. Biografi ini akan memberikan petikan pengalaman dan
pencerahan bagaimana agar kekayaan alam itu dapat bermanfaat bagi kita,"
ujarnya.
Amanda Katili, putri pertama JA Katili, menambahkan, buku itu sekaligus
untuk memberikan referensi tentang dinamika bumi, sumber daya alam, dan
termasuk di dalamnya pelestarian lingkungan hidup. "Buku untuk
memberikan gambaran bagaimana seorang saintis terbentuk," ujarnya.
Amanda, yang juga merupakan anggota Staf Khusus Menteri Negara
Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, berharap dengan terbitnya buku itu
semakin banyak yang memerhatikan dinamika bumi dan kelestarian
lingkungan hidup. (INE
John dan Ilmu Kebumian bagi Bangsa
NINOK LEKSONO
Malam itu, Rabu (25/7) di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, John Ario Katili
sibuk menerima ucapan selamat dari hadirin yang datang dari berbagai
lingkungan berbeda. Pria berusia 78 tahun itu menjadi tuan rumah bagi
para tamu yang hadir, di antaranya Wapres M Jusuf Kalla, Menteri Negara
Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, geolog Belanda Prof Herman Verstappen,
Rektor ITB Djoko Santoso, Illy (istrinya), serta anak dan cucu.
Melihat riwayat hidupnya, wajar kalau sosok yang akrab dipanggil John
oleh sebayanya, atau Pak Katili oleh generasi cucu murid seperti Rektor
ITB ini, punya banyak teman dari berbagai lingkungan. John adalah geolog
dan ahli ilmu kebumian top, pendidik, birokrat, politisi, serta
diplomat.
Akan tetapi, dari semua itu, ciri yang paling menonjol dari John adalah
sebagai ilmuwan. Tentang hal ini, Wapres punya cerita. Saat John jadi
duta besar di Moskwa, Kalla datang sebagai Menteri Perdagangan. Ketika
semobil, ia berharap John berkomentar tentang perdagangan, nyatanya dia
terus berkisah tentang ilmu kebumian.
"Sebetulnya saya rada bosan," kata Wapres. Tetapi, itulah John yang ia
anggap sebagai orang Bugis meski kelahiran Gorontalo. Selesai sebagai
dubes, John menghadap Kalla dan memberinya buku. Kalla mengira itu buku
tentang Rusia, ternyata masih tentang geologi.
Namun, Wapres menghargai dedikasi dan ilmu yang digeluti John. Ketika
wilayah Indonesia banyak diguncang bencana alam, seperti tsunami dan
gempa bumi, apa yang dipelajari John dirasanya makin penting dan relevan.
Di luar itu, Wapres menegaskan, dunia dewasa ini dicirikan tiga
kebutuhan yang demikian menekan, yakni energi, komoditas, dan mineral.
Untuk isu tersebut, banyak pengalaman dan ilmu John yang bisa
dimanfaatkan.
John memang sosok otoritatif untuk soal-soal itu. Hal ini tercermin pula
dari judul biografinya yang malam itu diluncurkan, Harta Bumi Indonesia
(Grasindo, 2007). Kalau saja ada banyak orang Indonesia yang cakap dalam
ilmu kebumian seperti John, kekalahan bangsa ini di bidang manufaktur
dan layanan (services) bisa di-offset dengan kemampuan menggali harta
bumi Indonesia.
Wapres menyebut JA Katili sebagai sosok pencerahan karena ia—yang
bersama teman seangkatannya memilih jurusan geologi FIPIA UI tahun 1950—figur
yang punya visi bahwa negeri seperti Indonesia yang terentang sepanjang
5.000 km, rumah bagi 129 gunung api, dan tempat bertemunya tiga lempeng
tektonik utama dunia jelas membutuhkan ahli geologi.
Bersama dengan vulkanologi, geofisika dan meteorologi, geologi amat
penting tak saja untuk hidup lebih arif di tengah alam yang amat dinamik,
tetapi juga untuk bisa menambangnya secara bijak.
Kalau kemudian John bisa menyusuri karier di bidang yang amat
ditekuninya, itu tak lepas dari keahlian khusus yang dimilikinya sebagai
profesional. Keahlian khusus ini memang dia pupuk dengan tekun melalui
riset dan sosialisasi sains. Misalnya, John menulis Ihtisar
3.000.000.000 Tahun Sejarah Bumi yang menjadi salah satu bacaan favorit
siswa SMP pada paruh dekade 1950-an.
Kalau masyarakat Indonesia mau menyusuri kembali buku- buku—ada 11—yang
ditulis John, banyak inspirasi yang bisa digali. Misalnya tentang
bagaimana sumber alam bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan dan
ketahanan nasional seperti yang dia tulis.
Penuh warna
Dengan 11 buku dan 250 artikel ilmiah, John tak diragukan lagi sebagai
penulis produktif. Hobi yang ditekuni sejak lepas mahasiswa tingkat satu
tak bisa dilepaskan dari peranan HB Jassin, yang saat itu menjadi
anggota redaksi majalah mingguan Mimbar Indonesia. Jassin-lah yang
melihat potensi John untuk menyalurkan hard science kepada khalayak
dengan bahasa yang mudah dipahami.
Jalinan asmara dengan Illy, panggilan Ileana, yang masih keponakan dalam
hubungan keluarga pun tak kalah menarik. Keakraban sejoli ini berawal
dalam acara pengumpulan dana untuk membangun kembali Masjid Agung
Baiturrahim di Gorontalo akibat gempa besar tahun 1939.
Padahal, seperti dikutip oleh Agung Adiprasetyo, CEO Kompas-Gramedia,
yang memberi sambutan mewakili penerbit, John hanya melihat kambing
setiap bangun tidur, sementara Illy melihat mobil karena ia berasal dari
kalangan the haves.
Namun, dalam perkembangan John diberkati kekayaan ilmu, pengalaman
birokrasi dan diplomasi, yang mengantarkan dia pada berbagai jabatan
penting. Untuk birokrasi, tampaknya John terkesan pada pertemuannya
dengan ko-proklamator Mohammad Hatta.
Selain menegaskan kekayaan Indonesia dalam mineral, Bung Hatta sempat
bertanya, "Apa yang bisa dilaksanakan dengan pengetahuan geologi yang
Saudara kuasai?" Batu itu kan menghasilkan mineral, tambah Bung Hatta. "Ya
Pak," jawab John. "Apakah Saudara juga tahu kalau mineral itu mempunyai
peranan utama dalam percaturan hubungan internasional?" tanya Bung Hatta
lagi.
Selaku Dirjen Pertambangan, John banyak terlibat dalam berbagai
penetapan kebijakan, perundingan, dan penegakan cara kerja birokrasi
modern yang cepat dan dinamis.
Kecekatan, juga dalam mengambil inisiatif, dipraktikan John ketika
mengemban tugas sebagai dubes di Moskwa. Ini pun termasuk proses menarik
karena untuk jabatan itu Presiden BJ Habibie (waktu itu, 1999) yang
mengangkat dia, Presiden Gus Dur menyetujui, dan Wapres Megawati yang
melantik.
Ia tiba di Moskwa 11 Desember 1999, dan lima hari kemudian menyerahkan
surat kepercayaan kepada (mendiang) Presiden Boris Yeltsin. Seperti
tertuang dalam biografi, John mengenal baik negara tempat ia bertugas.
Sebagai bukan diplomat karier, ia berhasil membuktikan diri bukan
diplomat karbitan. Pengalaman dalam perundingan internasional, juga
sebagai goodwill ambassador, ada padanya.
Peristiwa berarti yang terselenggara selama dia menjadi dubes adalah
Forum Komisi Bersama Indonesia-Rusia tahun 2002. Sidang yang dihadiri
sekitar 100 orang, termasuk menteri luar negeri dan pejabat tinggi kedua
negara, sempat mengundang kekaguman Menlu Rusia yang berkomentar, John "salah
satu dubes terbaik di Moskwa".
Dia tak saja telah menerbangi dunia dan berbagai karier, tetapi satu hal
yang tetap dekat di hatinya adalah alam Gorontalo, kampung halaman indah
yang sejauh mata memandang hanya barisan elok pepohonan hijau dalam
lindungan pagar bukit berselimut kabut.
John beringsut pada usia senja, tetapi inspirasi yang ia torehkan bagi
bangsa Indonesia justru semakin muda dan segar. Dengan tsunami, gempa,
dan letusan gunung membuat ilmu kebumian yang ia geluti setengah abad
silam justru makin terasakan makna dan kegunaannya. ►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|