A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 23092005  
   
  ► e-ti/panwaslu  
  Nama:
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Lahir:
Muntilan, Pabelan, Magelang, 18 Oktober 1953
Agama:
Islam
Jabatan:
- Rektor UIN Jakarta
- Ketua Panitia Pengawas Pemilu

Pendidikan:
= Ponpes Pabelan, Magelang (1969)
= Sarjana Fakultas Ushuludin IAIN Jakarta (1981)
= IMaster and PhD Bidang Filsafat pada Middle East Technical University, Ankara, Turki (1995)
= Post Doctorate Research Program di Harfort Seminary, Conecricut, AS, selama satu smester (1997)
= International Visitor Program (IVP) ke AS (2002)

 
 
     
 
BERITA

 

BERITA:  01  02  03  04  05  06  07  08  =

 

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

Nyantri Bareng

 

BERITA 04: NYANTRI bareng. Itulah program pertama Dr. Komaruddin Hidayat saat dirinya terpilih menjadi Direktur Pascasarjana IAIN Syarief Hidayatullah Jakarta. "Nyantri ini konsepnya berbeda," kata Komaruddin saat menyampaikan keinginannya tersebut di hadapan peserta training jurnalistik plural di Cipayung Bogor, beberapa waktu lalu. Apa gerangan perbedaannya?

Kalau nyantri biasa, umumnya pesertanya homogen. Tapi untuk nyantri kali ini, kata Komaruddin, pesertanya bisa dari berbagai lintas agama yang ditempatkan di satu asrama yang sama. "Pesertanya juga dari kalangan muda semua. Bisa cendekiawan, dai, penginjil, atau siapa saja yang suka berdebat. Biarin saja mereka semua berantem di situ. Maunya apa, silakan. Nantinya, dari berantem-berantem itu semoga saja ada suatu dialog," papar Komaruddin yang juga dikenal sebagai pendiri Universitas Paramadina ini.

Untuk keinginannya ini, dirinya sudah mencoba menghubungi relasi-relasinya. "Lumayan, walau cuma via SMS sudah banyak yang mendukung keinginan ini," ujarnya seraya mengatakan, tak mudah mendudukkan berbagai keinginan untuk membangun keindonesiaan yang satu.

Tapi, dirinya sangat berharap, dengan nyantri bareng ini akan muncul suatu perdebatan yang lebih human. Karena hubungan dialog antar agama biasanya akan lebih mudah bila dimulai dari level yang lebih "murni". "Ya, karena dengan tengkar-tengkar dulu, pemahaman pluralismenya jadi ada. Nantinya kan mudah tuh untuk masuk dalam keindonesiaannya," ujar dia optimistis. (Pikiran Rakyat, Selasa, 15 Februari 2005) ►e-ti


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)