| |
C © updated 25052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ jer |
|
| |
Nama:
Prof. Dr. Mubyarto
Lahir:
Yogyakarta, 3 September 1938
Meninggal:
Yogyakarta, 24 Mei 2005
Agama:
Islam
Isteri:
Sri Hartati Widayati
Anak:
Empat orang
Jabatan Terakhir:
- Guru Besar FE-UGM
- Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila Universitas Gadjah Mada
Pendidikan:
SM Gadjah Mada 1959
S2 Vanderbilt, 1962
S3 Iowa State, 1965
Publikasi:
> Pemberdayaan Ekonomi Rakyat & Peranan Ilmu-ilmu Sosial, 2002
Amandemen Konstitusi dan Pergulatan Pakar Ekonomi, Aditya Media, 2001
> Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Ekonomi,
BPFE, 2001
> Membangun Sistem Ekonomi, BPFE, 2000
> Reformasi Politik Ekonomi, Aditya Media, 1999
> Reformasi Sistem Ekonomi, Aditya Media, 1999
> Kembali ke Ekonomi Pancasila, Aditya Media, 1998
> Pemberdayaan Ekonomi Rakyat, Aditya Media, 1998
> Ekonomi Pancasila: Lintasan Pemikiran Mubyarto, Aditya Media, 1997
> Kisah-kisah IDT (Penyunting), Aditya Media, 1997
> Ekonomi dan Keadilan Sosial, Aditya Media, 1995
> Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia, LP3ES, 1987
> Ekonomi Pancasila : Gagasan dan Kemungkinan, LP3ES, 1981
> Politik Pertanian dan Pembangunan Perdesaan, Sinar Harapan, 1980
> Pengantar Ekonomi Pertanian, LP3ES, 1972
Alamat Kantor:
FE-UGM, Bulaksumur Yogyakarta 55281
Telepon: (62-274) 548510-15 ext 200
Alamat Rumah:
Sawitsari C-10 Yogyakarta 55283
Telepon (62-274) 885165
Email:
mubyarto@indo.net.id
Sumber:
Dari berbagai sumber antara lain Jurnal Ekonomi Rakyat Th. I - No.
11 - Januari 2003 http://www.ekonomi-rakyat.org/mubyarto
|
|
| |
|
|
|
|
== 01
02 ==
Prof. Dr. Mubyarto (1938-2005)
Perginya Legenda Ekonomi Pancasila
Oleh A Tony Prasetiantono
JUDUL di atas sengaja saya pilih untuk mengiringi kepergian Profesor
Mubyarto, seorang ekonom yang dalam seperempat abad terakhir gigih
memperjuangkan gagasan yang ia sangat yakini, yaitu Ekonomi Pancasila.
Pak Muby, demikian kami sehari-hari memanggilnya, telah pergi untuk
selamanya pada Selasa, 24 Mei 2005, di usia menjelang 67 tahun.
Peristiwa ini juga menyisakan pertanyaan besar, apakah gagasan Ekonomi
Pancasila juga akan berlalu seiring dengan kepergiannya? Akankah
wafatnya Pak Muby akan diikuti dengan sirnanya perjuangan mewujudkan ide
Ekonomi Pancasila?
Saya yakin tidak sedang sentimentil kalau berani menyebut bahwa bagi
komunitas Kampus Bulaksumur (Universitas Gadjah Mada, UGM), Pak Muby
boleh disebut sebagai legenda. Saya masih ingat, ketika dulu masuk ke
Fakultas Ekonomi UGM sebagai mahasiswa tahun pertama 1981, kami
memandangnya sebagai legenda hidup (living legend). Bagaimana tidak.
Tahun 1980, Pak Muby bersama sejumlah koleganya-di antaranya mantan
Menteri Keuangan Dr Boediono yang saat itu belum lama menyelesaikan
Ph.D-nya dari sekolah bisnis terbaik di dunia Wharton School, University
of Pennsylvania-sedang getol mengampanyekan gagasan Ekonomi Pancasila.
Media massa nasional pun, dengan gencar memberitakannya. Laporan utama
majalah Tempo, misalnya, memuat Laporan Utama, lengkap dengan wawancara
dan foto Pak Muby yang tengah berkaus singlet dan bersarung dalam gaya
yang sangat natural, khas Yogya. Kontroversi dan liputan media-massa
terhadap ide Ekonomi Pancasila, waktu itu benar-benar telah
"membesarkan" sosok Pak Muby. Meski hanya liputan sebatas media
cetak-karena waktu itu belum ada ingar-bingar televisi swasta-telah
melambungkan Pak Muby sebagai sosok "selebriti" dari "kampus ndeso"
Bulaksumur.
Dengan setting seperti itu, kami para muridnya pun terkagum-kagum
terhadap sosoknya yang amat populer, yang waktu itu mengajar Pengantar
Ekonomi Pancasila, dan kemudian juga matakuliah Ekonomi Indonesia.
Karena itu, tidak heran kalau Pak Muby menjadi "selebriti", dan
sekaligus "legenda hidup".
Kini, sang "legenda" itu telah tiada. Raganya yang ringkih tidak lagi
sanggup berpacu dengan penyakit jantung yang diidapnya, sejak beliau
pertama kali terkena serangan di Canberra, beberapa tahun silam.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana kelanjutan gagasannya mengenai Ekonomi
Pancasila? Meski almarhum selalu mengingatkan bahwa istilah Ekonomi
Pancasila bukanlah diciptakan oleh dirinya, namun oleh Profesor Emil
Salim pada tahun 1960-an, namun dalam perkembangannya, Ekonomi Pancasila
lebih melekat dengan sosok Pak Muby. Hal ini terutama disebabkan oleh
intensnya polemik tentang isu ini, setelah diseminarkan di Dies Natalis
Fakultas Ekonomi UGM pada 19 September 1980. Pak Muby adalah Ekonomi
Pancasila, dan Ekonomi Pancasila adalah Pak Muby!
EKONOMI Pancasila memang merupakan gagasan yang menimbulkan polemik, dan
boleh dibilang kontroversial. Ide dasarnya adalah, upaya untuk
menciptakan suatu kondisi agar para pelaku ekonomi di Indonesia
mendasarkan perilaku ekonominya pada rangsangan moral. Kalau semua
pelaku ekonomi sudah punya dasar moralitas yang kuat, perekonomian
nasional pun akan bekerja melalui mekanisme yang sehat sehingga akan
menghasilkan output yang baik.
Jika sudah semikian, maka ketakutan akan bahaya monopoli, ketamakan para
kapitalis, hanya yang kuat yang akan bertahan (survival of the fittest),
akan dapat dieliminasi. Pendek kata, kalau semua orang berperilaku
"baik", sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila, maka perekonomian
Indonesia pun akan bekerja secara baik.
Kondisi yang ideal ini memancing kritik. Tentu saja ini wajar. Kritiknya
terutama pada, bagaimana semua hal ideal itu diwujudkan? Bagaimana
membentuk manusia-manusia Indonesia menjadi Pancasilais sejati, sehingga
bisa mengamalkan Ekonomi Pancasila? Apakah dengan penataran P4? Apakah
ini tidak utopia? Lalu bagaimana?
Terhadap para pengkritiknya Pak Muby selalu berargumen, bahwa Ekonomi
Pancasila memang hal yang tidak mudah untuk diwujudkan. Karena itu, kita
perlu bekerja keras, komitmen tinggi bersama, dan harus ada kerja sama
di antara berbagai disiplin ilmu sosial. Ilmu ekonomi yang sekarang ada,
yang umumnya mengacu pada aliran Neo-Klasik, tidak akan sanggup untuk
menyelesaikan sendirian berbagai problem ekonomi yang kian complicated.
Masalah perekonomian sudah berkembang sedemikian kompleksnya sehingga
diperlukan bantuan dari disiplin ilmu lain untuk menguraikannya.
Misalnya, perilaku korupsi dan perburuan rente ekonomi (rent- seeking
behavior), hanya bisa diatasi melalui pendekatan sosiologis, psikologis,
maupun antropologis. Isu ini tidak bisa cuma diiris dengan pisau
analisis ekonomi semata. Ekonom bakal frustrasi dan tidak sanggup
mengatasinya jika cuma mengandalkan Ilmu Ekonomi saja.
Pak Muby adalah sosok yang sederhana dan rendah hati. Sebagai ekonom,
beliau terang-terangan mengaku bahwa Ilmu Ekonomi tidak mampu secara
sendirian mengatasi problem- problem ekonomi. Dirinya dengan jujur
mengatakan perlu minta bantuan disiplin ilmu lain. Hal ini tercermin
dari tulisan-tulisan dan diskusi-diskusinya yang selalu mengajak
disiplin dan ilmuwan sosial lain.
Kini, masa depan ide Ekonomi Pancasila akan menjadi tanda tanya besar
pasca- Mubyarto. Fakultas Ekonomi UGM dan Pusat Studi Ekonomi Pancasila
(Pustep) UGM, hendaknya tertantang untuk melanjutkan gagasan beliau.
Sejumlah muridnya yang lama berguru kepadanya, mulai dari Profesor
Gunawan Sumodiningrat hingga ekonom-ekonom yang lebih muda seperti
Revrisond Baswir dan Anggito Abimanyu, diyakini akan menjadi kader-kader
penerusnya.
PAK Muby memang telah tiada. Namun gagasan Ekonomi Pancasila akan
senantiasa diperlukan, dan praktis menjadi evergreen, terlebih saat kita
menyaksikan dan mengalaminya sendiri carut marut krisis ekonomi yang
maha dahsyat sejak akhir 1997, yang hingga kini pun masih menyisakan
bekas- bekasnya yang menyakitkan.
Selamat jalan, Pak Muby. Terima kasih atas semua jerih payahmu mengisi
kantung pemikiran perekonomian Indonesia selama ini. Legenda di Fakultas
Ekonomi UGM itu boleh pergi, namun gagasannya tidak boleh mati. Semoga
engkau berbahagia memulai kehidupan barumu di sana. Teriring salam dan
doa dari kami semua. ►e-ti/A Tony Prasetiantono Pengajar
Fakultas Ekonomi UGM, dan Mantan Asisten Profesor Mubyarto (Kompas, 25
Mei 2005)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|