| |
C © updated 05022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin
Nama Populer:
NH Dini
Lahir:
Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936
Agama:
Islam
Suami:
Yves Coffin (bercerai)
Anak:
Marie Claire Lintang
Pierre Louris Padang
Pendidikan:
SD di Semarang, 1950
SMP di Semarang. 1953 -SMA di Semarang, 1956
Kursus Pramugari GIA di Jakarta, 1956
Kursus B 1, Sejarah, 1957-1959
Pekerjaan & Karya
Pramugari GIA (Garuda Indonesia Airways) 1950-1960
Menulis dan diterbitkan dalam bentuk kumpulan cerpen dan novel “Dua Dunia”,
1956
“Hati yang Damai” (1956)
“Pada Sebuah Kapal” (1973)
“La Barka” (1975)
“Namaku Hiroko” (1977)
“Keberangkatan” (1977)
“Sebuah Lorong di Kotaku” (1978)
“Padang Ilalang di belakang Rumah” (1978)
“Langit dan Bumi Sahabat Kami” (1979)
“Orang-orang Tran” (1983)
“Pertemuan Dua Hati” (1984)
“Polyboth” (1984)
“Pertemuan Dua Hati” (1986)
“Dari Parangakik ke Kampuchea” (2003)
Penghargaan:
Penghargaan sastra terbaik dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional (Depdiknas)
SEA Write Award bidang sastra dari Pemerintah Thailand
Organisasi:
Wahana Lingkungan Hidup
Forum Komunikasi Generasi Muda Keluarga Berencana
Sumber:
Suara Merdeka, Suara Pembaruan, dan sebagainya
|
|
| |
|
|
|
|
NH Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin)
Pengarang Sastra Feminis
Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah
Thailand ini sudah telajur dicap sebagai sastrawan di Indonesia, padahal
ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita
kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam
setiap tulisannya. Ia digelari pengarang sastra feminis. Pendiri Pondok
Baca NH Dini di Sekayu, Semarang ini sudah melahirkan puluhan karya.
Beberapa karya Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin yang dikenal dengan nama
NH Dini, ini yang terkenal, di antaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La
Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan
Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), belum termasuk karya-karyanya
dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan.
Budi Darma menyebutnya sebagai pengarang sastra feminis yang terus
menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki. Terlepas dari apa pendapat
orang lain, ia mengatakan bahwa ia akan marah bila mendapati ketidakadilan
khususnya ketidakadilan gender yang sering kali merugikan kaum perempuan.
Dalam karyanya yang terbaru berjudul Dari Parangakik ke Kamboja (2003), ia
mengangkat kisah tentang bagaimana perilaku seorang suami terhadap
isterinya.
Ia seorang pengarang yang menulis dengan telaten dan produktif, sepertl
komentar Putu Wijaya; 'kebawelan yang panjang.'
Hingga kini, ia telah menulis lebih dari 20 buku. Kebanyakan di antara
novel-novelnya itu bercerita tentang wanita. Namun banyak orang
berpendapat, wanita yang dilukiskan Dini terasa “aneh”. Ada pula yang
berpendapat bahwa dia menceritakan dirinya sendiri. Pandangan hidupnya
sudah amat ke barat-baratan, hingga norma ketimuran hampir tidak
dikenalinya lagi. Itu penilaian sebagian orang dari karya-karyanya. Akan
tetapi terlepas dari semua penilaian itu, karya NH Dini adalah karya yang
dikagumi. Buku-bukunya banyak dibaca kalangan cendekiawan dan jadi bahan
pembicaraan sebagai karya sastra.
NH Dini dilahirkan di Semarang, 29 Februari 1936 dari pasangan
Saljowidjojo dan Kusaminah. la anak bungsu dari lima bersaudara, ulang
tahunnya dirayakan empat tahun sekali. Masa kecilnya penuh larangan. Konon
ia masih berdarah Bugis, sehingga jika keras kepalanya muncul, ibunya acap
berujar, “Nah, darah Bugisnya muncul.”
la mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku
pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan
perasaannya sendiri. Ia sendiri mengakui bahwa tulisan itu semacam
pelampiasan hati. Ibu Dini adalah pembatik yang selalu bercerita padanya
tentang apa yang diketahui dan dibacanya dari bacaan Panji Wulung,
Penyebar Semangat, Tembang-tembang Jawa dengan Aksara Jawa dan sebagainya.
Baginya, sang ibu mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk watak dan
pemahamannya akan lingkungan.
Sekalipun sejak kecil kebiasaan bercerita sudah ditanamkan, sebagaimana
yang dilakukan ibunya kepadanya, ternyata Dini tidak ingin jadi tukang
cerita. la malah bercita-cita jadi supir lokomotif atau masinis. Tapi ia
tak kesampaian mewujudkan obsesinya itu hanya karena tidak menemukan
sekolah bagi calon masinis kereta api.
Kalau pada akhirnya ia menjadi penulis, itu karena ia memang suka cerita,
suka membaca dan kadang-kadang ingin tahu kemampuannya. Misalnya sehabis
membaca sebuah karya, biasanya dia berpikir jika hanya begini saya pun
mampu membuatnya. Dan dalam kenyataannya ia memang mampu dengan dukungan
teknik menulis yang dikuasainya.
Dini ditinggal wafat ayahnya semasih duduk di bangku SMP, sedangkan ibunya
hidup tanpa penghasilan tetap. Mungkin karena itu, ia jadi suka melamun.
“Barangkali renungan dan khayalan itu yang membentuk perkembangan saya,”
kata Dini.
Bakatnya menulis fiksi semakin terasah di sekolah menengah. Waktu itu, ia
sudah mengisi majalah dinding sekolah dengan sajak dan cerita pendek. Dini
menulis sajak dan prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang
ketika usianya 15 tahun. Sejak itu ia rajin mengirim sajak-sajak ke siaran
nasional di RRI Jakarta dalam acara Tunas Mekar.
Bukti keseriusannya dalam bidang yang ia geluti tampak dari pilihannya,
masuk jurusan sastra ketika menginjak bangku SMA di Semarang. Ia mulai
mengirimkan cerita-cerita pendeknya ke berbagai majalah. Ia bergabung
dengan kakaknya, Teguh Asmar, dalam kelompok sandiwara radio bernama
Kuncup Berseri. Sesekali ia menulis naskah sendiri. Dini benar-benar
remaja yang sibuk. Selain menjadi redaksi budaya pada majalah remaja
Gelora Muda, ia membentuk kelompok sandiwara di sekolah, yang diberi nama
Pura Bhakti. Langkahnya semakin mantap ketika ia memenangi lomba penulisan
naskah sandiwara radio se-Jawa Tengah. Setelah di SMA Semarang, ia pun
menyelenggarakan sandiwara radio Kuncup Seri di Radio Republik Indonesia (RRI)
Semarang. Bakatnya sebagai tukang cerita terus dipupuk.
Pada 1956, sambil bekerja di Garuda Indonesia Airways (GIA) di Bandara
Kemayoran, Dini menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Dua Dunia. Sejak
itu, karyanya terus mengalir. Hingga kini, buku-bukunya mudah dijumpai di
toko-toko buku. Beberapa karyanya yang menjadi percakapan luas adalah Pada
Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Orang-orang
Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), Dari
Parangakik ke Kampuchea (2003). Belum termasuk di dalamnya karya-karyanya
dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan.
Sejumlah bukunya bahkan mengalami cetak ulang sampai beberapa kali - hal
yang sulit dicapai oleh kebanyakan buku sastra. Buku lain yang tenar karya
Dini adalah Namaku Hiroko dan Keberangkatan. la juga menerbitkan serial
kenangan, sementara cerpen dan tulisan lain juga terus mengalir dari
tangannya. Walau dalam keadaan sakit sekalipun, ia terus berkarya.
Dini dikenal memiliki teknik penulisan konvensional. Namun menurutnya
teknik bukan tujuan melainkan sekedar alat. Tujuannya adalah tema dan ide.
Tidak heran bila kemampuan teknik penulisannya disertai dengan kekayaan
dukungan tema yang sarat ide cemerlang. Dia mengaku sudah berhasil
mengungkapkan isi hatinya dengan teknik konvensional.
Ia mengakui bahwa produktivitasnya dalam menulis termasuk lambat. Ia
mengambil contoh bukunya yang berjudul Pada Sebuah Kapal, prosesnya hampir
sepuluh tahun sampai buku itu terbit padahal mengetiknya hanya sebulan.
Baginya, yang paling mengasyikkan adalah mengumpulkan catatan serta
penggalan termasuk adegan fisik, gagasan dan lain-lain. Ketika ia melihat
melihat atau mendengar yang unik, sebelum tidur ia tulis tulis dulu di
blocknote dengan tulis tangan.
Pengarang yang senang tanaman ini, biasanya menyiram tanaman sambil
berpikir, mengolah dan menganalisa. la merangkai sebuah naskah yang sedang
dikerjakannya. Pekerjaan berupa bibit-bibit tulisan itu disimpannya pada
sejumlah map untuk kemudian ditulisnya bila sudah terangkai cerita.
Dini dipersunting Yves Coffin, Konsul Prancis di Kobe, Jepang, pada 1960.
Dari pernikahan itu ia dikaruniai dua anak, Marie-Claire Lintang (kini 42
tahun) dan Pierre Louis Padang (kini 36 tahun). Anak sulungnya kini
menetap di Kanada, dan anak bungsunya menetap di Prancis.
Sebagai konsekuensi menikah dengan seorang diplomat, Dini harus mengikuti
ke mana suaminya ditugaskan. Ia diboyong ke Jepang, dan tiga tahun
kemudian pindah ke Pnom Penh, Kamboja. Kembali ke negara suaminya, Prancis,
pada 1966, Dini melahirkan anak keduanya pada 1967. Selama ikut suaminya
di Paris, ia tercatat sebagai anggota Les Amis dela Natura (Green Peace).
Dia turut serta menyelamatkan burung belibis yang terkena polusi oleh
tenggelamnya kapal tanker di pantai utara Perancis.
Setahun kemudian ia mengikuti suaminya yang ditempatkan di Manila,
Filipina. Pada 1976, ia pindah ke Detroit, AS, mengikuti suaminya yang
menjabat Konsul Jenderal Prancis. Dini berpisah dengan suaminya, Yves
Coffin pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985
melalui Pengadilan Negeri Jakarta.
Mantan suaminya masih sering berkunjung ke Indonesia. Dini sendiri pernah
ke Kanada ketika akan mengawinkan Lintang, anaknya. Lintang sebenarnya
sudah melihat mengapa ibunya berani mengambil keputusan cerai. Padahal
waktu itu semua orang menyalahkannya karena dia meninggalkan konstitusi
perkawinan dan anak-anak. Karena itulah ia tak memperoleh apa-apa dari
mantan suaminya itu. Ia hanya memperoleh 10.000 dollar AS yang kemudian
digunakannya untuk membuat pondok baca anak-anak di Sekayu, Semarang.
Dini yang pencinta lingkungan dan pernah ikut Menteri KLH Emil Salim
menggiring Gajah Lebong Hitam, tampaknya memang ekstra hati-hati dalam
memilih pasangan setelah pengalaman panjangnya bersama diplomat Perancis
itu. la pernah jatuh bangun, tatkala terserang penyakit 1974, di saat ia
dan suaminya sudah pisah tempat tidur. Kala itu, ada yang bilang ia
terserang tumor, kanker. Namun sebenarnya kandungannya amoh sehingga
blooding, karena itu ia banyak kekurangan darah. Secara patologi memang
ada sel asing. "Setelah lima tahun diangkat, sudah lolos. Kandungan saya
diangkat pada 1980. Ketika itu keluarga di sini tidak mau tanggung, takut
kalau saya tidak bangun lagi," kenangnya.
Kepulangannya ke Indonesia dengan tekad untuk menjadi penulis dan hidup
dari karya-karyanya, adalah suatu keberanian yang luar biasa. Dia sendiri
mengaku belum melihat ladang lain, sekalipun dia mantan pramugrari GIA,
mantan penyiar radio dan penari. Tekadnya hidup sebagai pengarang sudah
tak terbantahkan lagi.
Mengisi kesendiriannya, ia bergiat menulis cerita pendek yang dimuat
berbagai penerbitan. Di samping itu, ia pun aktif memelihara tanaman dan
mengurus pondok bacanya di Sekayu. Sebagai pencinta lingkungan, Dini telah
membuat tulisan bersambung di surat kabar Sinar Harapan yang sudah dicabut
SIUPP-nya, dengan tema transmigrasi.
Menjadi pengarang selama hampir 60 tahun tidaklah mudah. Baru dua tahun
terakhir ini, ia menerima royalti honorarium yang bisa menutupi biaya
hidup sehari-hari. Tahun-tahun sebelumnya ia mengaku masih menjadi parasit.
Ia banyak dibantu oleh teman-temannya untuk menutupi biaya makan dan
pengobatan.
Tahun 1996-2000, ia sempat menjual-jual barang. Dulu, sewaktu masih di
Prancis, ia sering dititipi tanaman, kucing, hamster, kalau pemiliknya
pergi liburan. Ketika mereka pulang, ia mendapat jam tangan dan giwang
emas sebagai upah menjaga hewan peliharaan mereka. Barang-barang inilah
yang ia jual untuk hidup sampai tahun 2000.
Dini kemudian sakit keras, hepatitis-B, selama 14 hari. Biaya
pengobatannya dibantu oleh Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto. Karena ia
sakit, ia juga menjalani USG, yang hasilnya menyatakan ada batu di
empedunya. Biaya operasi sebesar tujuh juta rupiah serta biaya lain-lain
memaksa ia harus membayar biaya total sebesar 11 juta. Dewan Kesenian Jawa
Tengah, mengorganisasi dompet kesehatan Nh Dini. Hatinya semakin tersentuh
ketika mengetahui ada guru-guru SD yang ikut menyumbang, baik sebesar 10
ribu, atau 25 ribu. Setelah ia sembuh, Dini, mengirimi mereka surat satu
per satu. Ia sadar bahwa banyak orang yang peduli kepadanya.
Sejak 16 Desember 2003, ia kemudian menetap di Sleman, Yogyakarta. Ia,
yang semula menetap di Semarang, kini tinggal di kompleks Graha Wredha
Mulya, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Kanjeng Ratu Hemas, istri
Sultan Hamengku Buwono X yang mendengar kepindahannya, menyarankan Dini
membawa serta perpustakaannya. Padahal empat ribu buku dari tujuh ribu
buku perpustakaannya, sudah ia hibahkan ke Rotary Club Semarang.
Alhasil, Dini di Yogya tetap menekuni kegiatan yang sama ia tekuni di
Semarang, membuka taman bacaan. Kepeduliannya, mengundang anak-anak di
lingkungan untuk menyukai bacaan beragam bertema tanah air, dunia luar,
dan fiksi. Ia ingin anak-anak di lingkungannya membaca sebanyak-banyaknya
buku-buku dongeng, cerita rakyat, tokoh nasional, geografi atau lingkungan
Indonesia, cerita rekaan dan petualangan, cerita tentang tokoh
internasional, serta pengetahuan umum. Semua buku ia seleksi dengan
hati-hati. Jadi, Pondok Baca Nh Dini yang lahir di Pondok Sekayu Semarang
pada 1986 itu, sekarang diteruskan di aula Graha Wredha Mulya. Ia
senantiasa berpesan agar anak-anak muda sekarang banyak membaca dan tidak
hanya keluyuran. Ia juga sangat senang kalau ada pemuda yang mau jadi
pengarang, tidak hanya jadi dokter atau pedagang. Lebih baik lagi jika
menjadi pengarang namun mempunyai pekerjaan lain.
Dalam kondisinya sekarang, ia tetap memegang teguh prinsip-prinsip
hidupnya. “Saya tidak mau mengorbankan harga diri demi uang. Misalnya saya
disuruh bikin biografi seseorang, dikasih bahan padahal bahan itu bayangan.
Saya tolak, meski pada saat yang sama saya butuh uang,” jelasnya.
la merasa beruntung karena dibesarkan oleh orang tua yang menanamkan
prinsip-prinsip hidup yang senantiasa menjaga harga diri. Mungkin karena
itu pulalah NH Dini tidak mudah menerima tawaran-tawaran yang mempunyai
nilai manipulasi dan dapat mengorbankan harga diri.
la juga pernah ditawari bekerja tetap pada sebuah majalah dengan gaji
perbulan. Akan tetapi dia memilih menjadi pengarang yang tidak terikat
pada salah satu lembaga penerbitan. “Saya pikir, kalau tidak punya
pekerjaan rutin, kreativitas dan daya cipta berkembang dan terus diasah,”
kilahnya.
Bagi Dini, kesempatan untuk bekerja di media atau perusahaan penerbitan
sebenarnya terbuka lebar. Namun seperti yang dikatakannya, ia takut
kalau-kalau kreativitasnya malah berkurang. Untuk itulah ia berjuang
sendiri dengan cara yang diyakininya; tetap mempertahankan kemampuan
kreatifnya.
Menyinggung soal seks, khususnya adegan-adegan yang dimunculkan dalam
karya-karyanya, ia menganggapnya wajar-wajar saja. “Saya spontan
menuliskannya. Kalau sekarang saya disuruh membacakannya di depan umum,
saya baca. Hal itu unsur kehidupan juga, seperti bernafas. Kenapa kalau
bernafas tidak malu. Seks dalam bentuknya tersendiri adalah satu puisi,”
ujarnya. Begitulah spontanitas penuturan pengarang yang pengikut kejawen
ini. la tak sungkan-sungkan mengungkapkan segala persoalan dan kisah
perjalanan hidupnya melalui karya-karya yang ditulisnya. ►atur
lorielcide
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|