| |
C © updated 20062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/juka |
|
| |
Nama:
H PROBOSUTEDJO
Nama Kecil:
Suprobo
Lahir:
Yogyakarta, 1 Mei 1930
Agama:
Islam
Isteri:
Ratmani (Menikah, 11 Juni 1961)
Anak:
Dinarti, Septanto, Rita, Wati, Rani dan Priasto
Ayah:
Purnomo (R Atmoprawiro)
Ibu:
Rr Soekirah
Saudara:
Sukiyem, Sutjipto, Basirah, Suprobo (Probosutedjo), Suminah,
Suwito dan Noek Boesinah.
Saudara Satu Ibu:
HM Soeharto
Pendidikan:
- SD, Desa Pedes, (1945)
- SMP, Yogyakarta (1948)
- SMEA, Yogyakarta (kelas II, 1951)
- SGA, Pematangsiantar (1957)
- Kursus B-1, Pematangsiantar (1961)
Karir:
- Pasukan Tedjo Eko, Yogyakarta (1946)
- Pasukan KODM, Yogyakarta (1949)
- Koperasi Lumbung Desa (1949)
- Guru SMP Perguruan Kita, Serbelawan, Simalungun (1951)
- Pendiri dan Kepala SMP Progresif, Serbelawan (1953-1958)
- Guru Taman Siswa Pematang Siantar (1958-1963)
- Perwakilan PT Orisi, Medan di Jakarta (1963)
- Pendiri PT Setia Budi Murni (1964-1966)
- Pendiri PT Mertju Buana (1968)
- Pendiri PT Teguh Sri Kurnia (1972)
- Komisaris PT Bank Jakarta (1972)
- Direktur Utama PT Mertju Buana Raya Contractor (1972)
- Direktur Utama PT Kompos (1973)
- Direktur Utama PT Merbacal (1973)
- Direktur Utama PT Cipendawa Farm Enterprises (1974)
- Direktur Utama PT Kedawung Indah Cans (1975)
- Direktur Utama PT Menara Tri Buana (1976)
- Direktur Utama PT Menara Bumi (1976)
- Direktur Utama PT Garmak Motor (1976)
- Komisaris Utama PT Keramika Indah Perkasa (1978)
- Direktur Utama PT Sagitarius Sari (1979)
- Pendiri PT Artamas Buana Jati
- Pendiri PT Asuransi Sagita Sarana Rahardja
- Ketua Komisaris PT Garishindo Buana Leasing (1984)
- Direktur Utama PT Putra Bangsa Sejati (1985)
Kegiatan Lain:
- Pendiri Institut Pertanian Yogyakarta
- Pendiri Akademi Wiraswasta Dewantara (1981)
- Pendiri Universitas Mertju Buana, Jakarta (1985)
- Ketua Umum PS Galatama Mertju Buana (1980-1985)
- Ketua Pengurus Daerah Pelti DKI Jakarta (1985)
- Pendiri SD, SMP, SMA, Sekolah Pertanian dan STM di Kemusuk, Yogyakarta
- Pendiri Wongso Menggolo di Kemusuk, Yogyakarta
Buku:
- Keimanan Guru Pengusaha, Yudhagama, Jakarta, 1997
- Keprihatinan yang Memprihatinkan, Jakarta, 1998
- H Probosutedjo 75 Tahun, Merindukan Kesejahteraan Rakyat Jelata (Refleksi
Pers 1974-2005), Nurinwa Ki S Hendrowinoto, dkk, Universitas Mercu Buana
– Yayasan Biografi Indonesia, 2005)
Alamat Rumah:
Jalan Diponegoro 20, Jakarta Pusat
Alamat Kantor:
Jalan Menteng Raya No.29
E-mail:
probosutedjo@tokoh.net |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI ==
01
02
03
04
05
06
07
08
09 ==
H Probosutedjo (02)
Sang Pejuang Cilik Berjiwa Mandiri
Sejak kecil, Probosutedjo sudah memiliki semangat kejuangan dan
kemandirian. Setiap pagi naik sepeda dan berjalan kaki (jika sepedanya
rusak) menyusuri rel menuju sekolahnya yang berjarak tiga sampai 10 km.
Kemudian pada usia remaja sudah ikut bergerilya, sebagai pejuang termuda,
pejuang cilik, melawan penjajah Belanda. Kemudian, tepat dalam usia 21
tahun, 1 Mei 1951, bertekad mandiri merantau ke Medan.
Probosutedjo lahir 1 Mei 1930 di Desa Kemusuk, kurang lebih 10 kilometer
arah barat kota Yogyakarta, dari sebuah keluarga yang cukup terpandang
akar garis keturunan dan kejuangannya. Ayahnya, bernama Purnomo. Ibunya,
bernama Rr Sukirah. Dari darah Sang Ayah, dia mewarisi jiwa pejuang.
Sedangkan dari garis darah Sang Ibu, dia mempunyai trah dengan Keraton
Yogyakarta.
Sang Ayah, bernama kecil Purnomo, berganti nama setelah menikah, menjadi
R Atmoprawiro, sebagaimana kebiasaan masyarakat desa Kemusuk dan Jawa
pada umumnya. Nama setelah menikah itu adalah gabungan dari nama orang
tua sendiri dan nama dari mertua. Atmo diambil dari nama mertua, yaitu
Atmosudiro. Sedangkan Prawiro diambil dari nama ayahnya, Prawirodiryo.
Sedangkan Sang Ibu, Soekirah, adalah keturunan Demang Wongso Menggolo,
pendiri desa Kemusuk. Demang Wongso Menggolo memiliki dua orang anak,
yaitu Dronolawe (ikut memberontak melawan Belanda) serta anak perempuan
bernama Wongsowijoyo, menikah dengan Djomenggolo yang kemudian menjadi
demang di Kemusuk Utara.
Kemudian, Cicit Wongsowijoyo, setelah menjadi demang, menikah dengan
salah seorang keturunan Hamengku Buwono VII dari salah seorang selirnya.
Pernikahan itu melahirkan Notosudiro, bergelar Raden Ngabei Notosudiro.
Notosudiro mempunyai putra tunggal bernama Sukiman. Setelah menikah
dengan Suminem, Sukiman berganti nama menjadi Atmosudiro, dengan
panggilan kehormatan Raden Ngabehi Atmosudiro.
Dari pernikahan ini, Raden Ngabehi Atmosudiro dikaruniai sembilan orang
putra-putri, yaitu Dasuki (Mangkusudiro), Soekirah (ibunda Probosutedjo),
Soepilah (Sastroharjo), Soepardi (Notosuparto), Soekarno (Uayengsudiro),
Soemadi, Soetimah (Warsosudiro), Soedarmadi (Prawiro Sudarmadi), dan
Soekinah (Dipodiwarno).
Jadi, Probosutedjo yang bernama kecil Suprobo adalah cucu Raden Ngabehi
Atmosudiro. Dia merupakan anak keempat dari tujuh orang putra-putri
bersaudara, buah kasih pernikahan R. Atmoprawiro dengan Rr. Sukirah
yaitu Sukiyem, Sutjipto, Basirah, Suprobo (Probosutedjo), Suminah,
Suwito dan Noek Boesinah.
Keluarga ini berada di lingkungan Desa Kemusuk yang amat subur. Karena
kesuburannya itu, pemerintah kolonial Belanda membuka perkebunan tebu
dan membangun Pabrik Gula di Rewulu, sebelah utara desa itu.
Kakek Probosutedjo, Raden Ngabehi Atmosudiro, yang pada waktu itu
dipercaya sebagai sindhoer (di atas mandor besar) di Pabrik Gula Rewulu,
memberi kesempatan yang luas bagi sanak-saudara dan penduduk sekitar
menjadi pegawai di perkebunan tebu dan pabrik gula itu. Termasuk ayah
Probosutedjo, Atmoprawiro, yang kemudian menjabat mandor kepala di
perkebunan tebu itu.
Sebagai mandor kepala, kehidupan ekonomi keluarga ini tergolong
berkecukupan untuk ukuran desa Kemusuk kala itu. Keluarga ini menjadi
cukup terpandang dan menjadi tempat orang mengadukan keluh-kesahnya.
Dalam kondisi kehidupan ekonomi yang berkecukupan dan suasana Desa
Kemusuk yang subur dengan rerimbunan daun dan gemericik air yang jernih,
itu Probo dididik berhati teduh, berakal budi jernih dan bertutur kata
santun. Dia diasuh dengan kasih sayang dengan berbagai dinamikanya untuk
belajar menghayati dan mensyukuri nilai-nilai kehidupan, sebagai bekal
meniti jalan kehidupan masa depan.
Saat Probo masih berusia belia 10 tahun, pada tahun 1941, sudah
memperoleh kepercayaan dari ayahnya, yang mandor kepala di perkebunan
tebu, untuk menukarkan uang sebesar lima gulden menjadi pecahan senilai
500 sen setiap hari Sabtu. Nilai satu gulden setara 100 sen. Uang itu
untuk membayar gaji para buruh setiap akhir pekan. Masing-masing buruh,
rata-rata memperoleh gaji delapan hingga 10 sen per minggu, setelah
dipotong uang makan. Gaji buruh masih rendah sekali ketika itu, sangat
jarang yang menerima gaji di atas 15 sen.
Probo mendapat tugas khusus menukarkan uang gulden ke Koperasi Atmo,
jaraknya 500 meter dari rumah. Uang lima gulden, setelah menjadi recehan
berbetuk sen, benggol atau bribil beratnya cukup lumayan sebab bahannya
terbuat dari tembaga, harus dibawa dalam kantongan. Sang Ayah, begitu
jelinya, sudah melihat bakat dan kemampuan Probo sehingga dipercaya
untuk menukarkan uang.
Probo menikmati masa kecil yang sangat menyenangkan dan membahagiakan.
Memiliki banyak sahabat sepermainan. Di antaranya, permainan petak umpet
dan bernyanyi di bawah sinar temaran bulan kala malam tiba. Kala itu,
Probo lebih senang bermain dengan teman-teman yang sudah dewasa,
dibanding dengan teman sebayanya.
Ditambah lagi kehangatan kasih sayang kedua orang tua dan
saudara-saudaranya. Sang Ibu, meskipun selalu sibuk membuat kue-kue
kecil untuk dijual kepada pegawai perkebunan gula, selalu memberi
perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknya.
Sang Ibu, Rr Soekirah, yang dikenal dengan sebutan R Nganten Atmoprawiro,
juga mengasuh anak-anaknya dengan belajar tirakat dan kemandirian. Sang
Ibu mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang dan pengorbanan atas
kesenangan duniawi yang diwujudkan dalam berbagai laku spiritual atau
olah batin.
Sifat dan sikap kebersahajaan, nrima ing pandum dan welas asih, selalu
diasuhkan Sang Ibu kepada anak-anaknya. Sang Ibu yang selalu murah
senyum, banyak memberikan petuah berharga, yang menjadi kekayaan batin
serta membentuk pribadi anak-anaknya. Seperti gemi, nastiti lan
ngati-hati, yaitu hemat, tekun, dan selalu bersikap hati-hati (waspada).
Juga pepatah open dan kopen, yaitu sikap merawat serta memelihara segala
sesuatu.
Suatu hari, Sang Ibu marah melihat orang yang tidak menghabiskan makanan
yang telah diambilnya, sehingga terbuang. Dalam keyakinan Sang Ibu,
orang yang menyia-nyiakan nasi (makanan) akan mendapat kutukan dari Dewi
Sri berupa paceklik panjang yang mengakibatkan kekurangan pangan dan
terjadinya pagebluk.
Ketika itu, belum ada sekolah di Kemusuk. Masalah pendidikan belum
menjadi kebutuhan utama masyarakat. Namun, oleh Sang Ibu, pendidikan
sudah merupakan kebutuhan dan keharusan bagi anak-anaknya. Maka Probo
kecil harus bersekolah di Desa Pedes, sekitar tiga kilometer dari
rumahnya. Setiap hari, dia harus berjalan kaki pulang-pergi dari
rumahnya ke sekolah.
Pada zaman Jepang, 1942-1945. Probo masih duduk di Sekolah Dasar. Saat
itu banyak diajarkan nyanyian perjuangan melawan sekutu Inggris dan
Amerika dan juga lagu-lagu perjuangan Jepang dan disiplin yang sangat
mengesankan. Tiap pagi menyanyikan lagu kebangsaan Jepang yakni Kimigayo.
Usai itu siswa diajak menghadap ke arah utara untuk memberikan
penghormatan kepada Kaisar Jepang. Siswa kemudian diajak menghadap lagi
ke Kepala Sekolah, Leo Yadira, yang sudah siap berpidato memberikan
pengarahan dan petunjuk mengenai budi pekerti. Kemudian sebelum masuk
kelas, harus berolahraga (taisooo) dengan diiringi lagu olahraga.
Pada malam hari, Probo yang pada zaman Jepang (sekitar 1943) baru
berusia 13 tahun, setiap sore hari diminta ayahnya mengajar
pemberantasan buta huruf anak-anak remaja, teman-teman seumuran kakaknya.
Walau masih siswa kelas lima Sekolah Rakyat (SR), probo berani saja dan
mampu mengajar pemberantasan buta huruf itu. Di samping mengajar membaca
dan menulis, Probo juga mengajarkan nyanyian-nyanyian Jepang yang
dipelajari di sekolah. Banyak nyanyian Jepang yang masih diingatnya
hingga sekarang, seperti Miyoto, Kainoto dan Kainosoru.
Probo kecil menekuni sekolahnya. Dia pun melanjut ke SMP di Yogyakarta,
yang berarti harus berjalan kaki lebih jauh lagi, sekitar 2 x 10
kilometer pulang-pergi. Perjalanan jauh yang melelahkan selama
bertahun-tahun itu, tidak membuat semangat belajarnya surut. Bahkan
sebaliknya, didorong dukungan ayah-ibunya, semangat belajarnya makin
tinggi.
Agar tidak terlambat, dia harus berangkat subuh pukul 04.00 dan pulang
malam hari. Sering kali dalam perjalanan pulang, Probo melihat bintang
Kemukus atau bintang berekor. Kesempatan melihat bintang Kemukus, bagi
orang Jawa, dipandang sebagai pertanda bahwa terhadap yang bersangkutan
akan terjadi sesuatu yang besar.
Setelah lulus SMP, dia melanjut ke Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA),
juga di Yogyakarta. Pada saat itu, Probo sangat merasa senang dan bangga.
Pasalnya, dia tidak harus berjalan kaki lagi menuju sekolah. Sebab
kakaknya, Soeharto, yang telah menjadi tentara dan berpangkat Letnan
Kolonel (Letkol), memberinya sepeda. Suatu hal yang masih langka
dimiliki anak-anak di desanya kala itu.
Probo menekuni sekolahnya. Sang Ibu memberinya dorongan untuk
berprestasi. Dia memang merasa paling dekat dengan Sang Ibu. Dalam
kenangannya, Sang Ibu tidak pernah merasa lelah mengasuh, mendidik dan
menabung sedikit demi sedikit untuk biaya sekolah anak-anaknya.
Sang Ibu juga selalu menjenguk Soeharto, kakak Probo, yang ikut bibinya
di Wuryantoro, Wonogiri. Kala menjenguk Soeharto, Sang Ibu selalu
membawakan oleh-oleh serta uang simpanannya untuk jajan.
Sang Ibu sering melakukan tirakat, loro lopo dan gedhe prihatine. Pada
saat Soeharto masih dalam kandungan, misalnya, Sang Ibu melakukan puasa
ngebleng yang nyaris merenggut nyawanya. Semua itu dilakukan Sang Ibu
sebagai permohonan kepada Tuhan agar diberi kesehatan, kesejahteraan dan
kebahagiaan anak-cucu serta keturunannya. Juga sebagai ekspresi rasa
syukur sepanjang hidup kepada Allah atas karunia drajat, semat dan
pangkat.
Sikap Sang Ibu ini telah menanamkan prinsip dan makna kehidupan bagi
anak-anaknya bahwa hidup tidak hanya ditimbang dari dunia fisik
melainkan juga harus ditimbang dari kehidupan rohani. Sikap rohani itu
harus diamalkan dalam tutur kata, serta harmoni dengan lingkungan, baik
dengan keluarga maupun tetangga dengan harus saling menghormati satu
sama lain.
Begitu pula keteladanan Sang Ayah yang mampu mengayomi dan bertanggung
jawab sebagai kepala rumah tangga. Sang Ayah menanamkan nilai-nilai
kejuangan kepada anak-anaknya. Semua masalah selalu dihadapi dan diatasi,
dalam kondisi sesulit apa pun semasa penjajahan Belanda sampai Indonesia
Merdeka.
Perpaduan pribadi kejuangan Sang Ayah dan kasih kerohanian Sang Ibu yang
sedemikian rupa membuat suasana rumah tangga mereka sangat rukun dan
tenteram. Suasana itu membuat Probo dan saudara-saudaranya mereguk
kebahagiaan semasa kecil. Bahkan suasana keluarga tenteram itu telah
membentuk sikap dan perilaku mereka dalam mengarungi mahligai kehidupan
kemudian hari.
Pejuang Cilik
Proses pengasuhan orang tua, telah membentuk pribadi Probo memiliki
nilai-nilai kerohanian dan kejuangan yang tinggi. Pada usia 16 tahun,
Probo sudah ikut bergerilya. Dia seorang pejuang cilik, termuda, dalam
pasukan gerilya yang dikenal dengan nama pasukan Tedjo Eko (komandannya
Tedjo Eko).
Walaupun kemudian, pasukan ini terpaksa ditinggalkannya, karena banyak
melakukan penjarahan terhadap warga kota. Probo yang memiliki semangat
kejuangan yang tulus demi bangsanya mengambil sikap meninggalkan pasukan
ini.
Pada 1946, saat Probo ikut bergerilya, Sang Ibunda tercinta meninggal
karena penyakit kanker kandungan yang dideritanya. Kala itu, seorang
saudaranya menemui Probo yang sedang bergerilya dan memberitahu
meninggalnya Sang Ibu. Betapa terperanjatnya Probo mendengar berita itu.
Lalu, Probo berusaha mencari Soeharto yang pada waktu itu sedang
melakukan perlawanan gerilya terhadap penjajah Belanda di Semarang.
Namun, dia tidak berhasil menemukan Soeharto. Dengan sangat kecewa,
Probo pulang ke desa Kemusuk untuk melihat wajah Sang Ibu terakhir kali.
Kakaknya, Soeharto, bersama teman-temannya bekas PETA dan Heiho, pada
1945 membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang nantinya menjadi Tentara
Keamanan Rakyat (TKR) di Yogyakarta. Ketika pembentukan BKR itu,
Soeharto dipercaya sebagai Kepala Penerangan. Kemudian, setelah
Proklamasi, ketika pembersihan markas Jepang di Kota Baru, Soeharto
menjadi pemimpin pasukan sebagai Komandan Batalion X dengan pangkat
Mayor.
Tidak Senang Terhadap Belanda
Ketika Belanda melakukan tindakan pendudukan kembali, tahun 1949, Probo
yang sudah remaja merasa tidak senang. Ketidaksenangan itu
dilampiaskannya dengan mengganggu penjajah itu. Biasanya pada sore hari
tatkala banyak orang sudah beristirahat, Probo malah menggunakan
kesempatan itu menghalau sapi yang sedang berkubang di tengah sawah
hingga berlari kencang ke arah asrama Belanda. Padahal sore hari,
biasanya Belanda sedang mandi-mandi di sungai.
Begitu melihat aksi Probo menghalau sapi ke arah asrama, Belanda itu
sangat marah. Probo dikejar-kejar diteriaki sebagai londo, bahkan
memberondongnya dengan tembakan senjata. Jika sudah demikian, Probo
segera terjun ke lembah agar terhindar dari tembakan. Tetapi, suatu
ketika, dua sahabatnya menjadi korban. Yang satu perutnya terkena
tembakan sampai ususnya keluar, satu lagi kakinya terkena peluru.
Probo punya banyak cara mengganggu sekaligus menunjukkan ketidaksenangan
terhadap pendudukan Belanda, terlebih setelah Ayahnya meninggal dunia
Januari 1949 akibat ditembak serdadu Belanda.
Bersama kakak perempuannya, Probo sering berangkat dari desa Kemusuk
menuju kota Yogyakarta, mengunjungi Bu Harto yang ditinggal pergi oleh
Pak Harto bergerilya. Dari desa Probo biasanya membawa oleh-oleh beras
atau kelapa.
Ketika kembali ke desa, Probo suka berjalan menyusup sembunyi-sembunyi
supaya jangan sampai ketahuan Belanda. Belanda suka sekali melakukan
patroli. Setiap pemuda yang ketahuan melintasi jalan-jalan dihabisi.
Pasalnya, Desan Kemusuk dikenal Belanda sebagai kampung kelahiran Pak
Harto. Di sana setiap Jumat Belanda mengadakan pembersihan seisi sudut
kampung habis diobrak-abrik.
Gerilya Lagi
Pada 1949, Probosutedjo ikut gerilya lagi. Dia bergabung dengan pasukan
KODM (Komandan Onder Distrik Militer, setingkat Koramil sekarang).
Komandannya bernama Asikin, masih satu kampung dengannya. Dalam pasukan
itu, Probo memang berusia paling muda namun memiliki semangat juang
paling tinggi. Ia berani menyusup-nyusup ke mana-mana.
Ketika itu Soeharto sudah menjabat Komandan Resimen 22 dengan pangkat
Letnan Kolonel. Seoharto berjuang melawan Belanda di Semarang, kemudian
menjadi Komandan Wehrkreise III memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949,
yang dikenal dengan peristiwa 6 jam di Yogyakarta yang pada waktu itu
telah menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia.
Belanda memburu Soeharto sampai ke desa Kemusuk, tapi tidak menemukannya.
Sampai pasukan Belanda merasa putus asa dan marah.
Suatu ketika seorang kepala keamanan kampung ditangkap, dipaksa
menunjukkan lokasi persembunyian keluarga Pak Harto termasuk Probo.
Siang hari persis jam tiga pada 8 Januari 1949 hari Jumat Kliwon,
Belanda mengadakan pembersihan di desa Kernusuk.
Setiap laki-laki, terutama pemuda yang ditemukan Belanda, ditembak mati.
Pada pembersihan hari pertama 23 orang pemuda ditembak mati. Kemudian
sesudah Serangan Umum 1 Maret 1949, korban yang ditembak Belanda
berjumlah 126 orang, termasuk 62 orang anggota Brimob.
Kala itu, Probosutedjo berada di desa Kemusuk. Di tenga berondongan
peluru tentara Belanda, dia pulang ke rumah untuk mengambil senjata
sekalian menemui ayahnya.
Namun, Sang Ayah kemudian menyuruhnya segera menyelamatkan diri bersama
adiknya Soewito. Seraya menggandeng adiknya, Probo memanggul senjata
yang tadinya disimpan di kamar. Tentara Belanda mengejar dan menembaki
ke arah Probo dan adiknya.
Probo sambil membawa Sang Adik, terus saja berlari ke arah selatan,
sesekali berbelok ke rumah-rumah penduduk menghilangkan jejak, lalu dari
utara menyeberang rel menuju selatan. Setelah melewati gundukan tanah
rel kereta api, keduanya terlepas dari kejaran tentara Belanda. Probo
dan Adik selamat.
Namun Sang Ayah dan ratusan pemuda desa menjadi korban rentetan tembakan
peluru tentara Belanda.
Menjelang magrib, Probo menyelinap dengan sangat hati-hati berusaha
pulang ke rumah. Firasatnya menuntun untuk pulang. Sekitar pukul
setengah tujuh malam, dia tiba di rumah.
Dan ternyata dia menemukan Sang Ayah telah gugur. Dia pun menghela nafas,
bersyukur masih bisa melihat wajah Sang Ayah untuk terakhir kalinya.
Di situlah Probo baru tersadar bahwa hari itulah pertemuan yang terakhir
kali dengan Sang Ayah dalam keadaan masih sama-sama hidup.
Mula-mula Probo tidak sadar sudah kehilangan orang terkasih. Ia hanya
merasa tambah panas hati terhadap Belanda.
Waktu pulang dan tiba di rumah Probo tersadar, sebab menyaksikan seorang
kakak dan adek perempuan terkecilnya usia empat tahun, disertai seorang
pengasuh, menangis sesunggukan saling berpelukan. Dalam isakan tangis,
Probo diberitahu kalau Ayah mereka sudah meninggal dunia ditembak
Belanda.
Karena situasi darurat, jenazah Sang Ayah pun segera dimakamkan di
pemakaman keluarga Wongso Menggolo, di daerah Gedong. Tidak sempat
disandingkan dengan makam Sang Ibu di pemakaman Gunung Pule, pemakaman
keluarga pendiri desa Kemusuk, Wongso Menggolo, terletak persis di
pegunungan. Tanahnya terdiri batu-batuan. Dalam kondisi darurat terasa
tak mungkin menggali kuburan berbatuan dalam waktu singkat. Jasad
jenazah Sang Ayah saja tak sempat lagi dibungkus kain kafan. Hanya
bungkusan seadanya yang melilit.
Probo bersama saudaranya menjadi yatim-piatu. Sang Ibu sudah lebih
dahulu meninggal dunia, tahun 1946, akibat terkena penyakit kanker
kandungan.
Saat ayahnya meninggal, Probo baru berusia 18 tahun. Namun, dia tidak
mau larut dalam kesedihan. Dia meneguhkan hati dengan tekad meneruskan
cita-cita kedua orang tuanya sebagai pejuang.
Probosutedjo selalu mengenang ayahnya sebagai seorang pahlawan yang
menyelamatkan desa Kemusuk, tanah kelahirannya, dari penjajah Belanda.
Dan, sejarah membuktikan bahwa kelak salah seorang putra desa Kemusuk
menjadi seorang pejuang, Jenderal Besar, dan pernah menjadi pemimpin
bangsa dan negara selama 32 tahun.
Ikut Sang Kakak
Sebelum ibunya meninggal, Probosutedjo diajak kakaknya Mayor Soeharto
tinggal bersama di Yogyakarta. Kala itu, Mayor Soeharto masih bujangan
dan tinggal di rumah yang cukup besar di Jalan Merbabu No. 2A Yogyakarta.
Mereka hanya tinggal berdua di rumah itu. Di sinilah pertama kalinya
Probo tinggal di rumah yang sudah ada listrik dan lantainya dilapisi
karpet. Probo terpesona dan sangat senang tinggal bersama kakaknya.
Soeharto membimbingnya untuk selalu menjaga kebersihan dan bertanggung
jawab. Tanpa disuruh pun, Probo setiap pagi bertanggung jawab
membersihkan rumah, mengambil air dan mengisi bak serta menyetrika
pakaian. Pada waktu itu air ledeng tidak bisa sampai ke dalam rumah.
Kedua kakak-beradik ini sangat bahagia tinggal di rumah besar itu. Namun
rumah itu terasa lengang dengan beberapa kamar yang masih kosong.
Untuk mengatasi kesepiannya, Probo senang bergaul dengan beberapa tukang
batu yang kebetulan bekerja di rumah itu, di antaranya bernama Pak Merto.
Pak Merto, sering mengobrol dengannya hingga malam, bercerita tentang
agama dan wayang. Cerita Pak Merto itu sering membuat Probosutedjo
tertidur.
Sampai suatu ketika, Amir Murtono, mencari rumah datang bertamu. Kepada
Probo, Amir Murtono menyatakan hasratnya untuk tinggal di salah satu
kamar yang belum terpakai di rumah itu. Probo menyambutnya dengan senang
hati, karena dia memang memerlukan teman.
Kenangan bahagia lainnya saat tinggal bersama kakaknya adalah menunggang
kuda. Seringkali Soeharto menyuruh-nya mengembalikan kuda tung-gangannya
ke Markas Batalion X. Probosutedjo yang kala itu baru berusia 15 tahun
sangat merasa gagah dan bangga menunggang kuda meskipun hanya sebatas
jarak dari rumah ke Markas Batalion X.
Rasa bangga dan gagah juga memenuhi kenangan Probo, tatkala bersama
Soeharto, sering pulang ke desa Kemusuk memakai mobil dinas sedan
Chevrolet. Apalagi jika warga desa Kemusuk melihatnya, rasa bangganya
bertambah besar. Namun, nasehat Sang Ibu tetap membimbingnya untuk
rendah hati.
Kemudian, 1947, Soeharto menikah dengan RA Siti Hartinah (Ibu Tien).
Jika sebelum menikah Soeharto selalu membawa jatah makan ke rumah, lalu
sesudah menikah tidak boleh lagi. Karena ada peraturan bahwa tentara
yang sudah kawin tidak boleh mengambil jatah makanan untuk di rumah.
Sehingga Ibu Tien selalu menyediakan kebutuhan makan sehari-hari. Probo
yang tetap tinggal bersama kakaknya meski sudah berkeluarga, merasa
berbahagia dan tetap membantu seperti sediakala.
Kebiasaan Probo di Desa Kemusuk suka bercocok tanam, diterapkannya
dengan menanam berbagai jenis sayuran, antara lain bayam dan terong, di
rumah yang pekarangannya cukup luas dan kurang terpelihara.
Berjiwa Mandiri
Tak lama sesudah Belanda mundur dari kota Yogyakarta, Probosutedjo
dipercayakan menangani Koperasi Kas Desa. Koperasi yang merupakan
lumbung desa itu berfungsi mengumpulkan padi dari berbagai desa. Saat
ditanganinya, roda kehidupan desa semakin membaik. Jumlah padi yang
dikumpulkan semakin banyak, mencapai ratusan ton. Dia pun mendapat gaji
yang cukup lumayan.
Namun, kesibukannya mengurusi Kas Desa membuat semangat dan waktu
belajarnya menjadi berkurang. Sehingga dia tidak sempat lagi melanjutkan
sekolah. Saat itu, dia sudah kelas dua SMEA.
Apalagi ketika itu, meski sudah bekerja di Koperasi Lumbung Desa, Probo
masih belum merasa puas. Dia ingin mandiri dan merantau ke Sumatera
karena tidak ingin membebani kakaknya, Soeharto. Akhirnya, Probo
memutuskan keluar dari sekolah.
Keputusan ingin hidup mandiri, itu semakin menggelora tatkala ada
kesalahpahaman dengan Ibu Tien. Bermula saat Probo mengizinkan
Sudwikatmono mengambil tanaman bayam yang ditanaminya. Sore harinya, Ibu
Tien ingin memetik bayam, yang ternyata sudah habis. Probosutedjo
terkena getahnya, dia dimarahi Ibu Tien. Ketika itu, perasaan
Probosutedjo sangat nelongso.
Probo memutuskan untuk berangkat merantau, bertepatan dengan hari ulang
tahunnya yang ke-21, 1 Mei 1951. Dia menjual sepeda pemberian kakaknya
untuk menambahi uang simpanannya yang tidak cukup sebagai bekal hidup.
Tujuannya ke kota Medan. Menuju Medan, dia singgah di Jakarta menginap
di Merdeka Selatan, tempat tinggal Sri Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX)
yang pada waktu itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Kebetulan Kepala Bagian Rumah Tangganya bernama Hendro Budjono kenal
baik dengan kakaknya. Hendro Budjono yang tidak berkeluarga seperti
terkejut mendengar keinginan Probosutedjo mencari pekerjaan ke Sumatera.
Namun Hendro tak bisa menghalangi, hanya bisa menggeleng-kan kepala.
Karena tekad Probosutedjo sudah bulat untuk meretas jalan hari depannya
yang lebih baik secara mandiri. ► mti/ht-mlp-tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|