| |
C © updated 12092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Letnan Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin
Lahir:
Makassar 30 Oktober 1952
Agama:
Islam
Jabatan:
Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan
Isteri:
Etty Sudiati
Anak:
- Moh. Benrieyadin
- Siti Benita Friyati
Pendidikan:
- Akabri Bagian Darat, 1974
- Para Komando
- Susjurpa Jump Master, Borne, Path Finder, Free Fall, Suslapa Inf di
USA
- Sus Interstrat
- Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat (Seskoad)
- Terorism in Low Intensity Conflic
- Lemhanas pada tahun 2000
- Master Of Businness Adm (MBA) dari Institut Manajemen Bisnis Indonesia
Karir:
- Komandan Peleton Grup 1 Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha)
- Komandan Nanggala X Timor Timur, 1976
- Komandan Nanggala XXI Aceh tahun 1977
Komandan Tim Maleo Irja 1987
- Satgas Kopassus Timor Timur, 1990
- Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), 1993
- Danrem-061/SK Kodam III/Siliwangi, 1995
- Kepala Staf Garnisun Tetap (Kasgartap) -1 Ibukota, 1996
- Kepala Staf Kodam (Kasdam) Jaya, 1996
- Panglima Kodam Jaya (Pangdam) Jaya , 1997
- Asisten Teritorial Kepala Staf Umum (Aster Kasum) TNI, 1998
- Staf Ahli Polkam Panglima TNI, 1998
- Koorsahli Panglima TNI, 2001
- Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI tahun 2002-2005
- Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Pertahanan RI sejak 15 April
2005
Penghargaan:
- Satya Lencana Seroja, Wira karya, Kesetiaan VIII, XVI, XXIV Th,
Gom IX/Raksaka, Gom VIII/Dharma Pala serta Bintang Kartika Eka Paksi
Nararya III dan Bintang Yudha Dharma Nararya
Alamat Kantor:
Jl. Medan Merdeka Barat No 13 - 14 Jakarta Pusat
KOTAK POS 2005 JAKARTA 10020
|
|
| |
|
|
|
|
| SJAFRIE HOME |
|
|
 |
Sjafrie Sjamsoeddin
DCM untuk Pengadaan Alutsista
Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin berupaya mengubah citra Dephan
profesional. Dia melakukan pembenahan ke dalam, terutama dalam
pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Dia membentuk Dealing Center Management (DCM), tim
bersama dalam departemen untuk membahas dan memutuskan pengadaan alutsista.
Mantan Langdam Jaya kelahiran Makassar 30 Oktober 1952, itu mengubah sebuah sistem yang sudah mengakar
yang sebelumnya tergolong boros dan bocor. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah
Apalagi di situ
begitu banyak kepentingan yang bermain, termasuk berbagai
pihak yang selama ini ikut menikmati rezeki nomplok dari pengadaan
alutsista untuk kepentingan Tentara Nasional Indonesia.
Letnan Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin, MBA, lahir di Makassar 30
Oktober 1952, dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen)
Departemen Pertahanan RI sejak 15 April 2005. Sebelumnya menjabat
sebagai Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI tahun 2002-2005.
Karier militer Letjen Sjafrie Samsoeddin seusai lulus dari Akabri Bagian
Darat tahun 1974 diawalinya, sebagai Komandan Peleton Grup 1 Komando
Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Kemudian bertugas dipasukan dengan
berbagai jabatan dan penugasan operasi militer di dalam negeri, seperti
menjadi Komandan pada Nanggala X Timor Timur tahun 1976, Nanggala XXI
Aceh tahun 1977, Tim Maleo Irja 1987 dan Satgas Kopassus Timor Timur
tahun 1990. Sedangkan penugasan ke luar negeri dikutinya sebagai tugas
belajar yaitu di Australia dan Amerika Serikat.
Beberapa jabatan strategis yang diembannya seperti menjadi Komandan Grup
A Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pada tahun 1993,
Danrem-061/SK Kodam III/Siliwangi tahun 1995, Kepala Staf Garnisun Tetap
(Kasgartap) -1 Ibukota tahun 1996, Kepala Staf Kodam (Kasdam) Jaya pada
tahun 1996 dan menjadi Panglima Kodam Jaya (Pangdam) Jaya pada tahun
1997. Tahun 1998 menjabat Asisten Teritorial Kepala Staf Umum (Aster
Kasum) TNI dan pernah pula menjadi Staf Ahli Polkam Panglima TNI tahun
1998, serta menjabat sebagai Koorsahli Panglima TNI tahun 2001.
Riwayat pendidikan militer umum maupun pengembangan spesialisasi yang
pernah diikutinya, yaitu Para Komando, Susjurpa Jump Master, Borne, Path
Finder, Free Fall, Suslapa Inf di USA, Sus Interstrat, Sekolah Staf dan
Komando TNI Angkatan Darat (Seskoad) dan Terorism in Low Intensity
Conflic serta Lemhanas pada tahun 2000. Sedangkan Master Of Businness
Adm (MBA) di perolehnya setelah mengikuti pendidikan di Institut
Manajemen Bisnis Indonesia.
Ayah dari Moh. Benrieyadin dan Siti Benita Friyati serta suami dari Etty
Sudiati, selama mengabdikan dirinya kepada negara dan bangsa telah
menerima berbagai penghargaan dan tanda jasa diantaranya Satya Lencana
Seroja, Wira karya, Kesetiaan VIII, XVI, XXIV Th, Gom IX/Raksaka, Gom
VIII/Dharma Pala serta Bintang Kartika Eka Paksi Nararya III dan Bintang
Yudha Dharma Nararya. ►ti (sumber Dephan RI)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
======
Sjafrie Sjamsoeddin
Era Baru Pengadaan Persenjataan TNI
Letnan Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin tidak akan pernah lupa pesan yang
disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono maupun Menteri Pertahanan
Juwono Sudarsono ketika ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Departemen
Pertahanan pada tahun 2005. Ia diminta untuk mengubah citra Dephan
sebagai departemen yang "boros dan bocor".
Tiga departemen yang dikenal tak efisien dalam menggunakan anggarannya
adalah Departemen Pertahanan, Departemen Pendidikan, dan Departemen
Agama.
Sjafrie kemudian mencoba melakukan pembenahan ke dalam, terutama dalam
pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Ia membentuk tim
bersama di dalam departemen di mana keputusan pengadaan alutsista
dibahas oleh Dealing Center Management (DCM).
Mengubah sebuah sistem yang sudah mengakar tidaklah mudah, apalagi
begitu banyak kepentingan yang bermain di dalamnya, termasuk berbagai
pihak yang selama ini ikut menikmati rezeki nomplok dari pengadaan
alutsista untuk kepentingan Tentara Nasional Indonesia.
Besarnya kenaikan harga yang dinikmati dari setiap pembelian alutsista
antara 30 hingga 40 persen. Tidak usah heran apabila Departemen
Pertahanan dikenal sebagai departemen yang "boros dan bocor".
Cara-cara seperti itu bukan hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga
membuat TNI tak pernah bisa memiliki postur yang bisa diandalkan.
Padahal, uang yang disediakan untuk pengadaan alutsista sangat terbatas.
Tak bisa sendiri
Karena menyangkut sebuah sistem, pembenahan tidak mungkin dilakukan
sendiri. Apalagi pemainnya bukan hanya berasal dari kalangan dalam
Dephan maupun TNI, tetapi juga pihak luar, termasuk kalangan swasta,
baik itu swasta murni maupun "setengah" swasta.
Pengalaman masa lalu menunjukkan besarnya peranan "pihak ketiga". Dalam
pengadaan alutsista yang terakhir ketika Indonesia mendapat kredit
negara dari Rusia sebesar 1 miliar dollar AS, masih kuat keinginan dari
"pihak ketiga" untuk berperan serta.
Sejak awal pembicaraan telah ada pihak yang mencoba mengatasnamakan
Pemerintah Indonesia untuk melakukan transaksi bisnis dengan pihak Rusia.
Sampai-sampai ketika delegasi resmi Dephan yang dipimpin Sekjen Dephan
tiba di Moskwa, tim ini sempat dipertanyakan keabsahannya karena sudah
ada pihak pertama yang datang untuk melakukan negosiasi.
Meski sistem politik besar sudah berubah, perilaku dari bangsa ini masih
seperti dulu. Kebiasaan untuk mendapatkan rente seperti pada masa lalu
masih tetap kuat.
Untuk itu, langkah Dephan untuk menerapkan sistem satu pintu pada
pengadaan alutsista harus didukung. Seperti diakui Menhan Juwono, tidak
mudah untuk menghapuskan sama sekali yang namanya "rekanan". Tetapi,
Dephan sangat serius untuk mengubah citranya sebagai departemen yang "boros
dan bocor". Niatan Badan Pemeriksa Keuangan untuk ikut mengawasi setiap
pengadaan alutsista juga dinilai positif. (SURYOPRATOMO, Kompas 12
September 2007) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|