| |
C © updated
04072004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kps |
|
| |
Nama:
Dr. Soebandrio
Lahir:
Kepanjen, Malang, 15 September 1914
Meninggal:
Jakarta, 3 Juli 2004
Agama:
Islam
Isteri:
= dr Hurustiati (meninggal April 1974)
= Sri Kusdyantinah
Anak:
= Budoyo (meninggal Februari 1974)
Anak Lainnya:
= Bambang Wahyu Aji (Meninggal)
= Bambang Bima Aji (meninggal)
= Bambang Indrayana
= Bambang Darmayoga
Cucu:
12 Orang
Ayah:
Kusnadi (mantan wedana Kepanjen)
Ibu:
Safina
Jabatan:
1947-1949: Wakil RI di Inggris
1950-1954: Dubes RI untuk Inggris
1954-1956: Dubes RI untuk Uni Soviet
1956-1957: Sekjen Kementerian Luar Negeri
1957-----: Menteri Luar Negeri
1965: Wakil Perdana Menteri I dan Kepala Biro Pusat Intelijen (BPI)
Dipenjara:
Selama 29 Tahun
Buku:
= Perjuangan Irian Barat
= Kesaksianku tentang G30S
Alamat:
Jl H Jian No 18, Cipete, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3
4 5 6
7 ==
Soebandrio (2)
Cuplikan Kesaksian G-30-S
Ada peristiwa kecil, namun dibesar-besarkan oleh Kelompok Bayangan
Soeharto, sehingga kemudian menjadi sangat penting dalam sejarah
Indonesia. Peristiwa itu adalah sakitnya Bung Karno pada awal Agustus
1965. Dalam buku-buku sejarah banyak ditulis bahwa sakitnya Bung Karno
pada saat itu adalah sangat berat.
Dikabarkan, pimpinan PKI DN Aidit sampai mendatangkan dokter dari RRT.
Dokter RRT yang memeriksa Bung Karno menyatakan bahwa Bung Karno sedang
kritis. Intinya,
jika tidak meninggal dunia, Bung Karno dipastikan bakal lumpuh. Ini
menggambarkan bahwa Bung Karno saat itu benar-benar sakit parah.
Dari peristiwa itu (seperti ditulis di berbagai buku) lantas dianalisis
bahwa PKI -yang saat itu berhubungan mesra dengan Bung Karno - merasa
khawatir pimpinan nasional bakal beralih ke tangan orang AD. PKI tentu
tidak menghendaki hal itu, mengingat PKI sudah bermusuhan dengan AD sejak
pemberontakan PKI di Madiun, 1948. Menurut analisis tersebut, begitu PKI
mengetahui bahwa Bung Karno sakit keras, mereka menyusun kekuatan untuk
merebut kekuasaan. Akhirnya meletus G30S.
Ini alibi rekayasa Soeharto yang mendasari tuduhan bahwa PKI adalah dalang
G30S. Ini juga ditulis di banyak buku, sebab memang hanya itu informasi
yang ada dan tidak dapat dikonfirmasi, karena pelakunya – Bung Karno, DN
Aidit dan dokter RRT -ketiga-tiganya tidak dapat memberikan keterangan
sebagai bahan perbandingan. Bung Karno ditahan sampai meninggal. Aidit
ditembak mati tanpa proses pengadilan; sedangkan dokter RRT itu tidak
jelas keberadaannya. Itulah sejarah versi plintiran.
Tetapi ada saksi lain selain tiga orang itu, yakni saya sendiri dan Wakil
Perdana Menteri-II, dr.Leimena. Jangan lupa, saya adalah dokter yang
sekaligus dekat dengan Bung Karno. Saya juga mengetahui secara persis
peristiwa kecil itu. Yang benar demikian: memang Bung Karno diperiksa oleh
seorang dokter Cina yang dibawa oleh Aidit, tetapi dokternya bukan
didatangkan dari RRT, melainkan dokter Cina dari Kebayoran Baru, Jakarta,
yang dibawa oleh Aidit. Fakta lain: Bung Karno sebelum dan sesudah
diperiksa dokter itu juga saya periksa. Pemeriksaan yang saya lakukan
didampingi oleh dr. Leimena. Jadi ada tiga dokter yang memeriksa Bung
Karno.
Penyakit Bung Karno saat itu adalah: masuk angin. Ini jelas dan dokter
Cina itu juga mengatakan kepada Bung Karno di hadapan saya dan Leimena
bahwa Bung Karno hanya masuk angin. DN Aidit juga mengetahui penyakit Bung
Karno ini. Mengenai penyebabnya, sayalah yang tahu. Beberapa malam
sebelumnya, Bung Karno jalan-jalan meninjau beberapa pasar di Jakarta.
Tujuannya adalah melihat langsung harga bahan kebutuhan pokok. Jalan
keluar-masuk pasar di malam hari tanpa pengawalan yang memadai sering
dilakukan Bung Karno. Nah, itulah penyebab masuk angin.
Tetapi kabar yang beredar adalah bahwa Bung Karno sakit parah. Lantas
disimpulkan bahwa karena itu PKI kemudian menyusun kekuatan untuk
mengambil-alih kepemimpinan nasional. Akhirnya meletus G30S yang didalangi
oleh PKI. Kabar itu sama sekali tidak benar. DN Aidit tahu kondisi
sebenarnya. Ini berarti bahwa kelompok Soeharto sengaja menciptakan isu
yang secara logika membenarkan PKI berontak atau menyebarkan kesan (image)
bahwa dengan cerita itu PKI memiliki alasan untuk melakukan kudeta.
Ketika Kamaruzaman alias Sjam diadili, ia memperkuat dongeng kelompok
Soeharto. Sjam adalah kepala Biro Khusus PKI sekaligus perwira intelijen
AD. Sjam mengaku bahwa ketika Bung Karno jatuh sakit, ia dipanggil oleh
Aidit ke rumahnya pada tanggal 12 Agustus 1965. Ia mengaku bahwa dirinya
diberitahu oleh Aidit mengenai seriusnya sakit Presiden dan adanya
kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan segera apabila Bung Karno
meninggal. Masih menurut Sjam, Aidit memerintahkan dia untuk meninjau
kekuatan kita dan mempersiapkan suatu gerakan. Pengakuan Sjam ini menjadi
rujukan di banyak buku.
Tidak ada balance, tidak ada pembanding. Yang bisa memberikan balance
sebenarnya ada lima orang yaitu Bung Karno, Aidit, dokter Cina (saya lupa
namanya), Leimena dan saya sendiri. Tetapi setelah meletus G30S semuanya
dalam posisi lemah. Ketika diadili, saya tidak diadili dengan tuduhan
terlibat G30S, sehingga tidak relevan saya ungkapkan.
Kini saya katakan, semua buku yang menyajikan cerita sakitnya Bung Karno
itu tidak benar. Aidit tahu persis bahwa Bung Karno hanya masuk angin,
sehingga tidak masuk akal jika ia memerintahkan anak buahnya, Sjam, untuk
menyiapkan suatu gerakan. Ini jika ditinjau dari logika: PKI ingin
mendahului merebut kekuasaan sebelum sakitnya Bung Karno semakin parah dan
kekuasaan akan direbut oleh AD. Logikanya, Aidit akan tenang-tenang saja,
sebab bukankah Bung Karno sudah akrab dengan PKI? Mengapa PKI perlu
menyiapkan gerakan di saat mereka disayangi oleh Presiden Soekarno yang
segar bugar?
Intinya, pada bulan Agustus 1965 kelompok bayangan Soeharto jelas
kelihatan ingin secepatnya memukul PKI. Caranya, mereka melontarkan
provokasi-provokasi seperti itu. Provokasi adalah cara perjuangan yang
digunakan oleh para jenderal AD kanan untuk mendorong PKI mendahului
memukul AD. Ini taktik untuk merebut legitimasi rakyat. Jika PKI memukul
AD, maka PKI ibarat dijebak masuk ladang pembantaian (killing field).
Sebab, AD akan - dengan seolah-olah terpaksa - membalas serangan PKI. Dan,
serangan AD terhadap PKI ini malah didukung rakyat, sebab seolah-olah
hanya membalas.
Ini taktik AD Kubu Soeharto untuk menggulung PKI. Jangan lupa, PKI saat
itu memiliki massa yang sangat besar, sehingga tidak dapat ditumpas begitu
saja tanpa taktik yang canggih. Tetapi PKI tidak juga terpancing. Pelatuk
tidak juga ditarik meskipun PKI sudah diprovokasi sedemikian rupa. Mungkin
PKI sadar bahwa mereka sedang dijebak.
Peran Aidit sangat besar, dengan tidak memberikan instruksi kepada
anggotanya. Tetapi toh akhirnya PKI dituduh mendalangi G30S, walaupun
keterlibatan langsung PKI dalam peristiwa itu belum pernah diungkap secara
jelas. Pelaku G30S adalah tentara dan gerakan itu didukung oleh Soeharto
yang juga tentara. Sedangkan Aidit langsung ditembak mati tanpa proses
pengadilan.
Dewan Jenderal
Isu Dewan Jenderal sebenarnya bersumber dari Angkatan Kelima. Dan seperti
diungkap di bagian terdahulu, Angkatan Kelima bersumber dari rencana
sumbangan persenjataan gratis dari RRT. Tiga hal ini berkaitan erat. Pada
bagian terdahulu diungkapkan bahwa tawaran bantuan persenjataan gratis
untuk sekitar 40 batalyon dari RRT diterima Bung Karno. Hanya tawaran yang
diterima, barangnya belum dikirim. Bung Karno lantas punya ide membentuk
Angkatan Kelima. Tapi Bung Karno belum merinci bentuk Angkatan Kelima itu.
Ternyata Menpangad Letjen A Yani tidak menyetujui ide mengenai Angkatan
Kelima itu. Para perwira ABRI lainnya mengikuti Yani, tidak setuju pada
ide Bung Karno itu. Empat angkatan dinilai sudah cukup. Karena itulah
berkembang isu mengenai adanya sekelompok perwira AD yang tidak puas
terhadap Presiden. Isu terus bergulir, sehingga kelompok perwira yang
tidak puas terhadap Presiden itu disebut Dewan Jenderal. Perkembangan isu
selanjutnya adalah bahwa Dewan Jenderal akan melakukan kup terhadap
Presiden.
Menjelang G30S meletus, Presiden memanggil Yani agar menghadap ke Istana.
Yani rupanya merasa bahwa ia akan dimarahi oleh Bung Karno karena tidak
menyetujui Angkatan Kelima. Yani malah sudah siap kursinya (Menpangad)
akan diberikan kepada orang lain. Saat itu juga beredar isu kuat bahwa
kedudukan Yani sebagai Menpangad akan digantikan oleh wakilnya, Mayjen
Gatot Subroto. Presiden Soekarno memerintahkan agar Yani menghadap ke
Istana pada 1 Oktober 1965 pukul 08.00 WIB. Tetapi hanya beberapa jam
sebelumnya Yani diculik dan dibunuh.
Yang paling serius menanggapi isu Dewan Jenderal itu adalah Letkol Untung
Samsuri. Sebagai salah satu komandan Pasukan Kawal Istana - Cakra Birawa –
ia memang harus tanggap terhadap segala kemungkinan yang membahayakan
keselamatan Presiden. Untung gelisah. Lantas Untung punya rencana
mendahului gerakan Dewan Jenderal dengan cara menangkap mereka. Rencana
ini disampaikan Untung kepada Soeharto.
Menanggapi itu Soeharto mendukung. Malah Untung dijanjikan akan diberi
bantuan pasukan. Ini diceritakan oleh Untung kepada saya saat kami
sama-sama ditahan di LP Cimahi, Bandung (lengkapnya simak sub-bab Menjalin
Sahabat Lama).
Saya menerima laporan mengenai isu Dewan Jenderal itu pertama kali dari
wakil saya di BPI (Badan Pusat Intelijen), tetapi sama sekali tidak
lengkap. Hanya dikatakan bahwa ada sekelompok jenderal AD yang disebut
Dewan Jenderal yang akan melakukan kup terhadap Presiden. Segera setelah
menerima laporan, langsung saya laporkan kepada Presiden. Saya lantas
berusaha mencari tahu lebih dalam. Saya bertanya langsung kepada Letjen
Ahmad Yani tentang hal itu.
Jawab Yani ternyata enteng saja, memang ada, tetapi itu Dewan yang
bertugas merancang kepangkatan di Angkatan Bersenjata dan bukan Dewan yang
akan
melakukan kudeta.
Masih tidak puas, saya bertanya kepada Brigjen Soepardjo (Pangkopur II).
Dari Soepardjo saya mendapat jawaban yang berbeda. Kata Soepardjo: Memang
benar. Sekarang Dewan Jenderal sudah siap membentuk menteri baru.
Pada 26 September 1965 muncul informasi yang lebih jelas lagi. Informasi
itu datang dari empat orang sipil. Mereka adalah Muchlis Bratanata, Nawawi
Nasution, Sumantri dan Agus Herman Simatupang. Dua nama yang disebut
terdahulu adalah orang NU sedangkan dua nama belakangnya dri IPKI. Mereka
cerita bahwa pada tanggal 21 September 1965 diadakan rapat Dewan Jenderal
di Gedung Akademi Hukum Militer di Jakarta.
Rapat itu membicarakan antara lain: Mengesahkan kabinet versi Dewan
Jenderal. Muchlis tidak hanya bercerita, ia bahkan menunjukkan pita
rekaman pembicaran dalam rapat. Dalam rekaman tersebut ada suara Letjen S.
Parman (salah satu korban G30S) yang membacakan susunan kabinet.
Susunan kabinet versi Dewan Jenderal - menurut rekaman itu - adalah
sebagai berikut: Letjen AH Nasution sebagai Perdana Menteri, Letjen A Yani
sebagai Waperdam-I (berarti menggantikan saya) merangkap Menteri Hankam,
Mayjen MT Haryono menjadi Menteri Luar Negeri, Mayjen Suprapto menjadi
Menteri Dalam Negeri, Letjen S Parman sendiri menjadi Menteri Kehakiman,
Ibnu Sutowo (kelak dijadikan Dirut Pertamina oleh Soeharto) menjadi
menteri Pertambangan.
Rekaman ini lantas saya serahkan kepada Bung Karno. Jelas rencana Dewan
Jenderal ini sangat peka dan sifatnya gawat bagi kelangsungan pemerintahan
Bung Karno. Seharusnya rencana ini masuk klasifikasi sangat rahasia.
Tetapi mengapa bisa dibocorkan oleh empat orang sipil?
Saya menarik kesimpulan: tiada lain kecuali sebagai alat provokasi. Jika
alat provokasi, maka rekaman itu palsu. Tujuannya untuk mematangkan suatu
rencana besar yang semakin jelas gambarannya. Bisa untuk mempengaruhi
Untung akan semakin yakin bahwa Dewan Jenderal - yang semula kabar angin -
benar-benar ada.
Hampir bersamaan waktunya dengan isu Dewan Jenderal, muncul Dokumen
Gilchrist. Dokumen ini sebenarnya adalah telegram (klasifikasi sangat
rahasia) dari Duta Besar Inggris untuk Indonesia di Jakarta Sir Andrew
Gilchrist kepada Kementrian Luar Negeri Inggris.
Dokumen itu bocor ketika hubungan Indonesia-Inggris sangat tegang akibat
konfrontasi Indonesia-Malaysia soal Borneo (sebagian wilayah Kalimantan).
Saat itu Malaysia adalah bekas koloni Inggris yang baru merdeka. Inggris
membantu Malayia mengirimkan pasukan ke Borneo.
Saya adalah orang yang pertama kali menerima Dokumen Gilchrist. Saya
mendapati dokumen itu sudah tergeletak di meja kerja saya. Dokumen sudah
dalam keadaan terbuka, mungkin karena sudah dibuka oleh staf saya.
Menurut laporan staf, surat itu dikirim oleh seorang kurir yang mengaku
bernama Kahar Muzakar, tanpa identitas lain, tanpa alamat. Namun
berdasarkan informasi yang saya terima, surat tersebut mulanya tersimpan
di rumah Bill Palmer, seorang Amerika yang tinggal di Jakarta dan menjadi
distributor film-film Amerika. Rumah Bill Palmer sering dijadikan
bulan-bulanan demonstrasi pemuda dari berbagai golongan. Para pemuda itu
menentang peredaran film porno yang diduga diedarkan dari rumah Palmer.
Isi dokumen itu saya nilai sangat gawat. Intinya: Andrew Gilchrist
melaporkan kepada atasannya di Kemlu Inggris yang mengarah pada dukungan
Inggris untuk menggulingkan Presiden Soekarno. Di sana ada pembicaraan
Gilchrist dengan seorang kolega Amerikanya tentang persiapan suatu operasi
militer di Indonesia. Saya kutip salah satu paragraf yang berbunyi
demikian: rencana ini cukup dilakukan bersama 'our local army friends.'
Sungguh gawat. Sebelumnya sudah beredar buku yang berisi rencana Inggris
dan AS untuk menyerang Indonesia. Apalagi, pemerintah Inggris tidak pernah
melontarkan bantahan, padahal sudah mengetahui bahwa dokumen rahasia itu
beredar di Indonesia.
Saya selaku kepala BPI mengerahkan intelijen untuk mencek otentisitas
dokumen itu. Hasilnya membuat saya yakin bahwa Dokumen Gilchrist itu
otentik. Akhirnya dokumen tersebut saya laporkan secara lengkap kepada
Presiden Soekarno. Reaksinya, beliau terkejut.
Berkali-kali beliau bertanya keyakinan saya terhadap keaslian dokumen itu.
Dan berkali-kali pula saya jawab yakin asli. Lantas beliau memanggil para
panglima untuk membahasnya. Dari reaksi Bung Karno saya menyimpulkan bahwa
Dokumen Gilchrist tidak saja mencemaskan, tetapi juga membakar. Bung Karno
sebagai target operasi seperti merasa terbakar. Namun sebagai negarawan
ulung, beliau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kecemasan. Menurut
penglihatan saya, tentu Bung Karno cemas. Saya menyimpulkan, Bung Karno
sedang terbakar oleh provokasi itu.
Terlepas dari asli-tidaknya dokumen itu, saya menilai bahwa ini adalah
alat provokasi untuk memainkan TNI AD dalam situasi politik Indonesia yang
memang tidak stabil. Saya mengatakan provokasi jika ditinjau dari dua hal.
Pertama: isinya cukup membuat orang yang menjadi sasaran merasa ngeri.
Kedua, dokumen sengaja dibocorkan agar jatuh ke tangan pendukung-pendukung
Bung Karno dan PKI.
Bagaimana mungkin dokumen rahasia seperti itu berada di rumah Palmer
yang menjadi bulan-bulanan demo pemuda. Apakah itu bukan suatu cara
provokasi?
Saya katakan jika Dokumen Gilchrist sebagai upaya provokasi, maka itu
adalah provokasi pertama. Sedangkan provokasi kedua adalah isu Dewan
Jenderal. Jika diukur dari kebiasaan aktivitas terbuka, maka sumber utama
dua alat provokasi itu memang cukup rumit untuk dipastikan.
Di sisi lain, Soeharto juga bermain dalam isu Dewan Jenderal. Beberapa
waktu sebelum G30S meletus, Yoga diutus oleh Soeharto untuk menemui Mayjen
S Parman guna menyampaikan saran agar Parman berhati-hati karena isu bakal
adanya penculikan terhadap jenderal-jenderal sudah santer beredar. Namun
tidak ada yang tahu siapa yang menyebarkan isu seperti itu.
Parman tidak terlalu serius menanggapi saran itu, sebab itu hanya isu.
Parman bertanya kepada Yoga: Apakah pak Yoga sudah punya bukti-bukti? Yang
ditanya menjawab: Belum, pak. Lantas Parman menyarankan agar Yoga mencari
bukti. Jangan hanya percaya isu sebelum ada bukti, kata Parman. Yoga
menyanggupi akan mencarikan bukti.
Setelah G30S meletus, saya teringat saran Yoga kepada Parman itu. Yoga
adalah anggota Trio Soeharto. Saya kemudian berkesimpulan bahwa informasi
yang disampaikan oleh Yoga kepada Parman itu bertujuan untuk mengetahui
reaksi Parman yang dikenal dekat dengan Yani. Info tersebut tentu untuk
memancing, apakah Parman sudah tahu. Sekaligus – jika memungkinkan -
mengungkap seberapa jauh atisipasi Parman terhadap isu tersebut. Dan
karena Parman adalah teman dekat Yani, reaksi Parman ini bisa disimpulkan
sebagai mewakili persiapan Yani.
Dengan reaksi Parman seperti itu, maka bisa disimpulkan bahwa Parman sama
sekali tidak mengantisipasi arah selanjutnya jika seandainya Dewan
Jenderal benar-benar ada. Parman tidak siap meghadapi kemungkinan yang
bakal terjadi selanjutnya. Ini juga bisa disimpulkan bahwa Yani juga tidak
siap. Jika ini saya kaitkan dengan pertanyaan saya pada Yani soal isu
Dewan Jenderal, maka jelas-jelas bahwa Yani tidak punya persiapan sama
sekali.
Intinya, info dari Yoga kepada Parman berbalas info, sehingga kelompok
Soeharto mendapatkan info bahwa kelompok Yani sama sekali belum siap
mengantisipasi
kemungkinan terjadinya penculikan. Lebih jauh, rencana Soeharto melakukan
gerakan dengan memanfaatkan Kolonel Latief dan memanipulasi kelompok
Letkol Untung, belum tercium oleh kelompok lawan: Kelompok Yani.
Jika seandainya gerakan gagal mencapai tujuan (khususnya bila Parman tidak
berhasil dibunuh), maka peringatan Yoga akan lain maknanya. Peringatan itu
bisa berubah menjadi jasa Soeharto menyelamatkan Parman. Maka Soeharto
tetap tampil sebagai pahlawan. Jadi tindakan Soeharto ini benar-benar
strategis.
Peran Amerika Serikat
Apakah AS berperan memlintir isu sakitnya Presiden dan Dewan Jenderal?
Sudah jelas AS takut Indonesia dikuasai oleh komunis. Dan karena Bung
Karno cenderung kiri, maka proyek mereka ada dua: hancurkan PKI dan
gulingkan Bung Karno.
Selain tidak suka pada Bung Karno, AS juga punya kepentingan ekonomis di
Indonesia dan secara umum di Asia. Sebagai gambaran: Malaysia hanya kaya
akan karet dan timah;
Brunei Darussalam hanya kaya minyak; sedangkan Indonesia memiliki
segalanya di bidang tambang dan hasil bumi. Terlebih wilayahnya jauh lebih
luas dibandingkan dengan Malaysia dan Brunei. Secara kongkrit bisnis
minyak AS di Indonesia (Caltex) serta beberapa perusahaan lainnya - bagi
AS - harus aman.
Karena itu politik Bung Karno dianggap membahayakan kepentingan AS di
Indonesia. Namun mereka kesulitan mengubah sikap Bung Karno yang tegas.
Ada upaya AS untuk membujuk Bung Karno agar mengubah sikap politiknya
tetapi gagal. Secara politis Bung Karno juga sangat kuat. Di dalam negeri
Bung Karno didukung oleh Angkatan Bersenjata dan PKI. Tak kalah pentingnya,
rakyat sungguh kagum dan simpati terhadapnya. Di luar negeri ia mendapat
dukungan dari negara-negara Asia Tenggara dengan politik Non-Bloknya.
Itulah sebabnya, secara intuitif saya yakin bahwa AS ikut main di dua isu
itu. Soal sakitnya Presiden, target mereka bukan menjebak PKI melakukan
gerakan - sehingga PKI masuk ladang pembantaian - sebab Aidit tahu persis
Presiden hanya masuk angin.
Plintiran isu tersebut lebih untuk konsumsi publik. Jika suatu saat ada
gerakan perebutan kekuasaan, maka akan terlihat wajar bila gerakan itu
dilakukan oleh PKI. Jika Presiden sakit keras, wajar PKI merebut kekuasaan,
karena takut negara akan dikuasai oleh militer. Dan karena itu, wajar pula
jika PKI dihabisi oleh militer.
Dewan Jenderal lebih banyak dimainkan oleh pemain lokal, meskipun AS bisa
membantu dengan isu senjata dari RRT, Angkatan Kelima dan penolakan Yani
terhadap Angkatan Kelima.
Tetapi Dokumen Gilchrist jelas ada pemain Amerikanya. Dokumen itu awalnya
disimpan di rumah warga Amerika Bill Palmer. Dokumen tersebut menurut saya
otentik, namun mengapa dibocorkan?
Itu semua secara intiusi. Faktanya: pada pertengahan November 1965 AS
mengirim bantuan obat-obatan dalam jumlah besar ke Indonesia. Bantuan
tersebut mengherankan saya. Indonesia tidak sedang dilanda gempa bumi.
Juga tidak ada bencana atau perang. Yang ada adalah bahwa pada 1 Oktober
1965 terjadi pembantaian enam jenderal dan seorang letnan. Seminggu
sesudahnya, AD di bawah pimpinan Soeharto dan dibantu
oleh para pemuda membantai PKI. Pada saat obat-obatan itu dikirim
kira-kira sudah 40 ribu anggota PKI dan simpatisannya dibantai.
Nah, di sinilah pengiriman obat-obatan itu menjadi janggal. Suatu logika
yang sangat aneh jika AS membantu obat-obatan untuk PKI. Baru beberapa
waktu kemudian saya mendapat laporan bahwa kiriman obat-obatan itu hanya
kamuflase; hanya sebuah selubung untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih
penting. Sebenarnya itu adalah kiriman senjata untuk membantu tentara dan
pemuda membantai PKI. Sayangnya, pengetahuan saya tentang hal ini sudah
sangat terlambat. Bung Karno sudah menjelang ajal politik.
Paling tidak ini menambah keyakinan saya bahwa AS ikut bermain dalam
rangkaian G30S. Bagi AS, menghancurkan komunis di Indonesia sangat tinggi
nilainya untuk menjamin dominasi AS diAsia Tenggara. Di sisi lain,
reputasi mereka di bidang subversif sudah dibuktikan dengan tampilnya
agen-agen CIA yang berpengalaman menghancurkan musuh di berbagai negara,
walaupun reputasi itu di dalam negeri malah dikecam habis-habisan oleh
rakyat AS sendiri.
Salah satu agen CIA yang andal adalah Marshall Green (Dubes AS untuk
Indonesia). Reputasinya di bidang subversif tak diragukan lagi. Sebelum
bertugas di Indonesia ia adalah Kuasa Usaha AS di Korea Selatan. Di sana
ia sukses menjalankan misi AS membantu pemberontakan militer oleh Jenderal
Park Chung Hee yang kemudian memimpin pemerintahan militer selama tiga
dekade. Di Indonesia ia menggantikan Howard Jones menjelang meletusnya
G30S. Jadi pemain penting asing dalam drama 1 Oktober 1965 itu adalah
Green dan Jones.
Tentu CIA tidak dapat bekerja sendiri menghancurkan komunis di Indonesia.
Apalagi pada Februari 1965 AS memulai pemboman pertama di Vietnam Utara.
Praktis konsentrasinya - khusus untuk penghancuran komunis - terbagi. Baik
di Indonesia maupun Vietnam Utara, mereka butuh mitra lokal.
Di Indonesia mereka merekrut Kamaruzaman yang lebih terkenal dengan
panggilan Sjam sebagai spion. Sjam adalah tentara sekaligus orang PKI.
Kedudukan Sjam di PKI sangat strategis yaitu sebagai Ketua Biro Khusus PKI
yang bisa berhubungan langsung dengan Ketua PKI DN Aidit.
Sebaliknya, para perwira kelompok kontra Dewan Jenderal memberi
informasi kepada saya bahwa Sjam sering memimpin rapat intern AD. Tidak
jelas benar, apakah Sjam itu tentara yang disusupkan ke dalam tubuh PKI
atau orang PKI yang disusupkan ke dalam AD. Tetapi jelas ia adalah mitra
lokal CIA. Dan CIA beruntung memiliki mitra lokal yang berdiri di dua kubu
yang berseberangan.
Tetapi permainan Sjam sangat kasar. Ingat pernyataannya bahwa pada tanggal
12 Agustus 1965 ia mengaku dipanggil oleh Aidit untuk membahas betapa
seriusnya sakit Presiden. Juga Kemungkinan Dewan Jenderal mengambil
tindakan segera jika Presiden meninggal. Itu dikatakan setelah Aidit
dibunuh.
Di pengadilan Sjam mengatakan bahwa perintah menembak para jenderal
datang dari dia sendiri, namun itu atas perintah Aidit yang disampaikan
kepadanya. Inilah satu-satunya pernyataan yang memberatkan Aidit selain
keberadaan Aidit di Halim pada taggal 30 September 1965 malam. Namun Aidit
tidak sempat bicara sebab dia ditembak mati oleh Kolonel Yasir Hadibroto (kelak
dijadikan Gubernur Lampung oleh Soeharto) beberapa hari setelah G30S di
Boyolali, Jateng.
Jika Sjam itu seorang tentara, ia ibarat martil. Keterangannya sangat
menguntungkan pihak yang menghancurkan PKI. Namun setelah bertahun-tahun
berstatus tahanan, Sjam diadili dan dihukum mati. Keberpihakannya kepada
PKI, AD dan AS akhirnya tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri. ►tsl
=>Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|