A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Buku
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 31052006  
   
  ► e-ti/  
  Nama:
H. Muhammad Soeharto
Lahir:
Kemusuk, Argomulyo, Godean, 1 Juni 1921
Jabatan Terakhir:
Presiden Republik Indonesia (1966-1998)
Alamat:
Jalan Cendana No.8, Menteng
Jakarta Pusat
 
     
 
BERITA

 

Mulai Pulih

Pak Harto Pulang, Dirawat di Rumah


Jakarta, 31/05/2006: Mantan Presiden Soeharto diizinkan meninggalkan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) setelah dirawat selama 27 hari, sejak 4 - 31 Mei 2006. Jenderal bintang lima itu sempat menjalani operasi pemotongan usus sepanjang 40 sentimeter. Tim Dokter Kepresidenan menilai kondisi kesehatan Pak Harto sudah makin membaik sehingga bisa pulang dan selanjutnya akan dirawat di rumah.

Koordinator tim dokter spesialis dari RSPP dan Tim Dokter Kepresidenan, Prof Djoko Rahardjo, di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta, Rabu (31/5) mengatakan para dokter tetap akan mengawasi perkembangan kondisi Pak Harto. "Beliau masih memakai pengaman, yaitu selang yang ada di dalam perut Pak Harto belum dilepas," kata Djoko. Asupan makanan bagi mantan pemimpin Orde Baru itu tetap diawasi.

Krononologi Kesehatan Pak Harto

4 Mei 2006
Pendarahan masif di usus besar, antara usus halus dan anus. Dibawa ke Rumas Sakit Pusat Pertamina, Jakarta

5 Mei 2006
Pendarahan terus berlanjut, dilakukan transfusi darah untuk mempertahankan kondisi Pak Harto.

6 Mei 2006
Pak Harto kekurangan oksigen. Karena menderita penyakit darah rendah yang menggangu aliran darah dari jantung ke seluruh tubuh.

7 Mei 2006
Tim dokter kepresidenan melakukan pemeriksaan kolonoskopi terhadap usus besar Pak Harto.

8 Mei 2006
Tim dokter melakukan operasi selama tiga jam, memotong 40 sentimeter usus besar Pak Harto, dibantu dengan pemasangan alat pacu jantung.

9 Mei 2006
Fungsi kedua ginjal Pak Harto terganggu. Namun kesadaran mulai pulih, gerak peristaltik usus telah kembali dan dapat mencerna makanan lembut. Pak Harto juga telah bisa duduk dan transfusi darah dihentikan.

10 Mei 2006
Paru-paru digenangi cairan, sehingga menyebabkan batuk-batuk. Sementara fungsi ginjal mulai membaik.

11 Mei 2006
Dioperasi lagi untuk memasang pipa pembuangan cairan udara di lambung. Pipa tersebut dipasang di dinding perut sebelah kiri atas.

12 Mei 2006
Sebagai akibat operasi kadar hemoglobin turun lagi.

13 Mei 2006
Ginjal belum berfungsi secara sempurna. Lambung sudah berfungsi. Paru-paru masih digenangi cairan. Pendarahan masih terjadi di usus. Obat pengecer darah dihentikan.

14 Mei 2006
Pendarahan di usus mulai berhenti, namun cairan makin banyak menggenangi paru-paru. Fungsi pencernaan membaik. Namun masih kesulitan berbicara (afasia).

15 Mei 2006
Kondisi masih kritis dan labil. Pendarahan kadang masih terjadi, namun obat pengecer darah harus diberikan. Asupan kalori terbatas hanya 1.000 dari 1.500 atau 2.000 semestinya.

16 Mei
Pendarahan berhenti dan obat pengecer darah juga dihentikan. Paru-paru membaik namun ginjal belum sembuh.

18 Mei 2006
Kondisi memburuk, terserang stroke. Kesadaran menurun, kejang-kejang, dan terjadi gangguan menelan.

19 Mei 2006
Dioperasi lagi untuk mengeluarkan gumpalan darah 90 cc di bawah kulit bekas operasi usus besar, jika tidak akan menyebabkan infeksi.

20 Mei 2006
Kondisi kesehatan Pak Harto masih kritis, kendati secara umum membaik. Kadar hemoglobin kembali naik jadi 10,1 gram per desiliter, dari sebelumnya 9,1 gram per desiliter (normalnya 13,8 sd 17,22 gram per desiliter). Masih sering mengantuk. Fungsi ginjal masih belum banyak perubahan. Namun, kerja jantung dinilai memadai.

22 Mei 2006
Senin pagi sekitar pukul 10.00, mulai menjalani fisioterapi secara pasif, untuk melemaskan anggota badan dan memperlancar peredaran darah perifer. Secara umum kondisi Soeharto lebih baik dibandingkan dengan hari sebelumnya.

23 Mei 2006
Kondisi kesehatan Pak Harto yang sempat dikabarkan membaik, kembali menurun. Sejak Senin malam terjadi lagi pendarahan lambung. Selain itu, melalui pipa lambung atau gastrostomy tampak pendarahan kemerahan. Selain itu, tampak feses berwarna kehitaman dari caecostomy dan anus. Untuk mencari sumber pendarahan dan sekaligus mencoba menghentikannya, dokter akan melakukan endoskopi.

24 Mei 2006
Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto kembali membaik, setelah sempat menurun karena perdarahan di lambung. Namun, setelah diobati dan dilakukan endoskopi, sejak Rabu lalu dilaporkan perdarahan di sekitar pipa lambung berhenti.


25 Mei 2006
Kamis pagi Tim Dokter Kepresidenan yang diketuai Dr Mardjo Soebiandono melaporkan bahwa perdarahan tidak ada lagi. Fungsi-fungsi organ vital seperti ginjal, paru-paru, dan jantung dilaporkan juga membaik. Bahkan, para dokter berencana mencabut kateter dan pipa lampung dari usus besar.


31 Mei 2006
Mantan Presiden Soeharto diizinkan meninggalkan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) setelah dirawat selama 27 hari, sejak 4 - 31 Mei 2006. Tim Dokter Kepresidenan menilai kondisi kesehatan Pak Harto sudah makin membaik sehingga bisa pulang dan selanjutnya akan dirawat di rumah. ►e-ti

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

`