| ATENSI MTI 24 |
|
|
 |
HM Soeharto Jenderal Besar TNI
Bapak Pembangunan Indonesia
ATENSI: Jenderal Besar TNI Haji Muhammad Soeharto, dipanggil akrab
Pak Harto, adalah tokoh terbesar Indonesia yang masih hidup pada saat
Indonesia merayakan 60 tahun kemerdekaannya. Beliau memimpin Republik
Indonesia, selama 32 tahun. Suatu kemampuan kepemimpinan luar biasa yang
harus diakui oleh teman dan lawan politiknya (senang atau tidak).
Ia menggerakkan pembangunan Indonesia dengan strategi Trilogi
Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan). Bahkan sempat
mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilan menggapai swasembada
pangan (1985). Maka, pantas saja rakyat Indonesia melalui Ketetapan MPR
menganugerahinya penghargaan sebagai Bapak Pembangunan Nasional.
Dalam 60 tahun usia republik ini, Pak Harto mengukir karya besar
pembangunan, dibanding para pemimpin lainnya, mulai dari Presiden
Soekarno, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan
Susilo Bambang Yudhono saat ini.
Pak Harto berhasil menurunkan secara tajam jumlah penduduk miskin. Dari
70 juta jiwa atau 60 persen dari jumlah penduduk di era 1970-an menjadi
26 juta atau hanya 14 persen, pada tahun 1990-an.
Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,8 persen setahun, bahkan 8,1 persen
tahun 1995. Sektor industri tumbuh rata-rata 12 persen setahun, peranan
industri dalam produksi nasional naik tajam dari 9,2 persen tahun 1969
menjadi 21,3 persen tahun 1991. Dan pendapatan per kapita meningkat
tajam dari hanya 70 menjadi 800 dolar AS per tahun.
Program Kependudukan dan KB, berhasil gemilang sehingga Pak Harto
memperoleh Penghargaan Tertinggi PBB di Bidang Kependudukan atau UN
Population Award. Penghargaan ini disampaikan langsung oleh Sekjen PBB
Javier de Cuellar di markas besar PBB di New York, 1989.
Terlalu banyak jika disebut satu-persatu. Selama kepemimpinannya tiada
hari tanpa pembangunan. Sementara belakangan ini, jangankan membangun
menyebut kata pembangunan saja sangat jarang. Presiden sesudah Pak Harto
beserta para elit politiknya terjebak dalam euforia reformasi.
Para elit sibuk memperjuangkan kepentingan sendiri dan kelompoknya.
Stabilitas nasional sangat rendah, tindakan anarkis dan main hakim
sendiri merajalela. Sampai tujuh tahun, krisis ekonomi merambah jadi
krisis multidimensional, belum teratasi. Bahkan belakangan, angka
kemiskinan makin tinggi.
Tak heran, bila keadaan ini membawa ingatan masyarakat, terutama
masyarakat bawah di kota dan pedesaan, kepada sosok Pak Harto. Bagi
mereka, Pak Harto adalah Bapak Pembangunan Indonesia, pemimpin terbesar
Indonesia yang masih hidup saat ini.
Sebagai manusia, apalagi sebagai pemimpin yang banyak berbuat, pastilah
beliau tidak sempurna dan punya kekurangan dan kelemahan. Tetapi sebagai
bangsa besar, sepatutnya bangsa ini menghormati para pejuang dan
pemimpin yang mengabdikan diri kepada bangsa dan negaranya.
Kini, meski usianya semakin tua dan sakit, beliau masih belum berubah
dengan senyum khasnya yang teduh dan kebapakan. Setelah lengser
keprabon, Mei 1998, mantan presiden RI kedua itu menghabiskan waktunya
di rumah bersama anak-anak dan cucu-cucunya. Ia pernah berkata akan
meneruskan hidupnya sebagai pandito.
Pak Harto, memang meneruskan hidupnya demikian. Menjadi pandito, artinya
menjadi orang yang tawakal dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Kalau kita mendekati Tuhan, berarti tetap mendekatkan diri pada
sifat-sifat Tuhan, yakni sifat yang baik termasuk sifat yang sabar.
Melatih diri untuk berpikir positif. Juga, melakukan sholat.” Demikian
ucapannya suatu ketika.
Kesabaran. Itulah kunci yang dipegangnya ketika banyak hujatan dan
cacian dialamatkan kepadanya. Berbagai macam tudingan, bahkan dakwaan
hukum tidak membuat sang Jenderal Besar itu marah. Ia tetap tenang,
tabah dan tawakal.
Maka dalam rangka 60 tahun Indonesia merdeka, dan Hari Kesaktian
Pancasila, 1 Oktober 2005, kami meneguhkan hati memaparkan peran beliau
sebagai Bapak Pembangunan Indonesia. Kami pun melakukan serangkaian
wawancara dengan H Probosutedjo, adik kandung satu ibu Pak Harto. Selain
itu kami juga melengkapinya dari beberapa referensi, di antaranya buku
Otobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. ►mti/crs
***Majalah Tokoh Indonesia |