| DEPTHNEWS MTI 24 |
|
|
 |
Pembangunan Era Reformasi
Pertarungan Politik Empat Presiden
Selepas pemerintahan Orde Baru, atau dalam tujuh tahun reformasi, di
bawah pimpinan empat presiden, praktis belum ada pembangunan yang
berarti. Para pemimpin dan elit
politik sangat sibuk dengan kepentingan politik masing-masing. Bahkan
pengendalian nilai tukar rupiah masih saja sangat lemah, sering terjadi
fluktuasi yang sangat tinggi. Terakhir RAPBN pun telah menjadi sebuah
wacana. Sehingga ada majalah menyebutnya sebagai impian kelas tinggi.
Pembangunan Era Reformasi
SBY Pilihan Rakyat, Kaya Wacana
DPTHNEWS 14: S BY, panggilan populernya, adalah Presiden Republik
Indonesia pertama hasil pilihan rakyat secara langsung. Dia yang kaya
wacana dan retorika berhasil mengalahkan Megawati Soekarnoputri dalam
Pemilu Presiden putaran kedua, 20 September 2004. Wacana dan retorika
itu berlanjut setelah dia memimpin Kabinet Indonesia Bersatu.
Janji dalam 100 hari pemerintahannya, tidak terpenuhi. Sampai satu
tahun, janji-janji kampanyenya untuk membuka lapangan kerja justru makin
jauh dari harapan. Pengangguran makin bertambah. Kemiskinan makin
membelenggu yang berpuncak pada terjadinya busung lapar di beberapa
daerah. Penyakit polio merebak, anak sekolah gantung diri.
Ditambah lagi kelangkaan BBM yang memaksa rakyat harus antri berjam-jam,
bahkan berhari-hari.
Sialnya, berbagai bencana pun terjadi. Mulai dari tabrakan kendaraan di
jalan tol Jagorawi, tabrakan kereta api, pesawat terbang jatuh, sampai
bencana alam di beberapa tempat dan terdahsyat bencana tsunami Aceh dan
Nias. Terakhir bencana banjir di Sumatera Barat. Sudah banyak yang jadi
korban!
Beberapa pengamat menyebut, di era pemerintahan SBY, belum terlihat
adanya program perbaikan ekonomi. Semuanya masih dalam wacana. Bahkan
RAPBN yang dipidatokannya di depan Sidang Paripurna DPR, 16 Agustus
2005, dikesankan sarat wacana. Antara lain, lantaran asumsi harga minyak
tidak realistis, sangat jauh di bawah harga nyata.
Fluktuasi nilai tukar rupiah, yang pada masa Megawati sudah relatif
stabil, justru menggila menembus batas psikologis Rp 10.000 bahkan
sempat mencapai di atas Rp 11.000. Jangankan perbaikan ekonomi, bahkan
tingkat kepercayaan pasar tampaknya makin menurun.
Presiden pilihan rakyat ini, dituntut dapat beraksi cepat, tepat dan
berani untuk mengatasi kondisi ekonomi saat ini, untuk mencegah
kemungkinan terjadinya krisis ekonomi gelombang kedua.
Namun, menjawab berbagai kritik atas kinerjanya, SBY berujar enteng: I
don’t care with my popularity. Walaupun dalam berbagai langkah dan
wacananya terkesan dia masih selalu lebih cenderung populis.
Jika kondisi ini tidak dapat diatasi, menurut pengusaha Probosutedjo,
kemampuan pemerintah ini akan semakin sangat terbatas untuk melaksanakan
pembangunan. ►mti/crs
=============================================
Boks
Posisi Puncak SBY
SBY berpasangan dengan Muhammad Jusuf Kalla, menawarkan program
memberikan rasa aman, adil dan sejahtera kepada rakyat. Janji ini telah
mengantarkan SBY pada posisi puncak kepemimpinan nasional.
Penampilan publiknya mulai menonjol sejak menjabat Kepala Staf
Teritorial ABRI (1998-1999) dan semakin berkibar saat menjabat Menko
Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid) dan Menko Polkam
(Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnopotri).
Ketika reformasi mulai bergulir, SBY masih menjabat Kaster ABRI. Pada
awal reformasi itu, TNI dihujat habis-habisan. Pada saat itu, sosok SBY
semakin menonjol sebagai seorang Jenderal yang Berpikir. Ia memahami
pikiran yang berkembang di masyarakat dan tidak membela secara buta
institusinya. “Penghujatan terhadap TNI itu menurut saya tak lepas dari
format politik Orde Baru dan peran ABRI waktu itu,” katanya. Maka, Tokoh
Indonesia DotCom menjulukinya sebagai ‘mutiara di atas lumpur’.
Siapakah Susilo Bambang Yudhoyono yang berhasil meraih pilihan suara
hati nurani rakyat pada era reformasi dan demokratisasi itu?
Pensiunan jenderal berbintang empat berwajah tampan dan cerdas, ini
adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotji dan Sitti Habibah. Darah
prajurit menurun dari ayahnya R. Soekotji yang pensiun sebagai Letnan
Satu (Peltu). Sementara ibunya, Sitti Habibah, putri salah seorang
pendiri Ponpes Tremas, mendorongnya menjadi seorang penganut agama Islam
yang taat. Dalam dirinya pun mengalir kental jiwa militer yang relijius.
Selain itu, lulusan terbaik Akademi Militer (Akmil) angkatan 1973, ini
juga memiliki garis darah biru, sebagai keturunan bangsawan Jawa yang
mengalir dari dua arah dan berujung pada Majapahit dan Sultan
Hamengkubuwono II. Kakeknya dari pihak ayah, bernama R. Imam Badjuri,
adalah anak dari hasil pernikahan Kasanpuro (Naib Arjosari II - darah
biru Majapahit) dan RM Kustilah ( sebagai turunan kelima trah Sultan
Hamengkubuwono II bernama asli RA Srenggono). Bahkan dalam silsilah
lengkapnya, SBY juga memiliki garis keturunan dari Pakubuwono.
Kendati SBY anak tunggal, dia hidup dengan prihatin dan kerja keras.
Pada saat sekolah di Sekolah Rakyat Gajahmada (sekarang SDN Baleharjo
I), SBY tinggal bersama pamannya, Sasto Suyitno, ketika itu Lurah Desa
Ploso, Pacitan. Prestasinya saat SR sudah menonjol.
Dalam proses pengasuhan yang berdisiplin keras, pada masa kecil dan
remajanya, SBY juga mengasah dan menyalurkan bakat sebagai penulis
puisi, cerpen, pemain teater dan pemain band.
Pria tegap yang memiliki tinggi badan sekitar 175 cm, kelahiran Pacitan,
Jawa Timur, 9 September 1949, ini senang mengikuti kegiatan kesenian
seperti melukis, bermain peran dalam teater dan wayang orang. Beberapa
karya puisi dan cerpennya sempat dikirimkan ke majalah anak-anak waktu
itu, misalnya ke Majalah Kuncung. Sedangkan aktivitas bermain band masih
dilaksanakan hingga tingkat satu Akabri Darat sebagai pemegang bas
gitar. Sesekali masih juga menulis puisi.
Di samping kesenian, ia juga menyukai dunia olah raga seperti bola voli,
ia senang travelling, baik jalan kaki, bersepeda atau berkendaraan.
Sedangkan olah raga bela diri hingga saat ini masih aktif dilakukan.
Tekadnya menjadi prajurit mengental saat kelas V SR (1961) berkunjung ke
AMN di kampus Lembah Tidar Magelang. ”Saya tertarik dengan kegagahan
sosok-sosok taruna AMN yang berjalan dan berbaris dengan tegap waktu
itu. Ketika rombongan wisata singgah ke Yogyakarta, saya sempatkan
membeli pedang, karena dalam bayangan saya, tentara itu membawa pedang
dan senjata,” kenang SBY.
Mewarisi sikap ayahnya yang berdisiplin keras, SBY berjuang untuk
mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi tentara dengan masuk Akademi
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) setelah lulus SMA akhir
tahun 1968. Namun, lantaran terlambat mendaftar, SBY tidak langsung
masuk Akabri. Maka dia pun sempat menjadi mahasiswa Teknik Mesin
Institut 10 November Surabaya (ITS).
Namun kemudian, SBY malah memilih masuk Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan
Pertama (PGSLP) di Malang, Jawa Timur. Selagi belajar di PGSLP Malang
itu, ia pun mempersiapkan diri untuk masuk Akabri.
Tahun 1970, dia pun masuk Akabri di Magelang, Jawa Tengah, setelah lulus
ujian penerimaan akhir di Bandung. SBY satu angkatan dengan Agus
Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, dan Prabowo Subianto. Semasa
pendidikan, SBY yang mendapat julukan Jerapah, sangat menonjol.
Terbukti, dia meraih predikat lulusan terbaik Akabri 1973 dengan
menerima penghargaan lencana Adhi Makayasa.
Saat menempuh pendidikan di Akademi Militer, itu SBY berkenalan dengan
Kristiani Herrawati, putri Sarwo Edhie. Saat itu, Mayjen Sarwo Edhi
Wibowo, menjabat Gubernur Akabri. Perkenalan terjadi saat SBY menjabat
sebagai Komandan Divisi Korps Taruna.
Perkenalan itu berlanjut dengan berpacaran, bertunangan dan pernikahan.
Mereka dikaruniai dua orang putra, yakni Agus Harimurti Yudhoyono
(mengikuti dan menyamai jejak dan prestasi SBY, lulus dari Akmil tahun
2000 dengan meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa) dan Edhie Baskoro
Yudhoyono (lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, Magelang yang kemudian
menekuni ilmu ekonomi).
Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and Ranger Course di Fort
Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di Fort
Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle
Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan
Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di
Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort
Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991). Gelar MA diperoleh dari Webster
University AS dan gelar doktor dari IPB (2004). ►mti/crs
***Majalah Tokoh Indonesia |