| TOKOH UTAMA MTI 24 |
|
|
 |
HM Soeharto
Malah Dituduh Terkait G-30-S/PKI
TOKOH UTAMA 04: Reformasi ternyata kebablasan juga menghembuskan
pemutarbalikan fakta sejarah. Mereka yang terlibat G-30-S/PKI malah
menuding Pak Harto terkait.
Bualan Latief bahwa Pak Harto terlibat G- 30-S/PKI dimulai dari
pengakuan pertemuannya dengan Pak Harto. Bu Dul, yang menjadi kepala
rumah tangga sekaligus juru masak keluarga Pak Harto di Jalan H. Agus
Salim, No. 98, Jakarta, kala itu, menjadi saksi bagaimana Kolonel Latief
bisa bertemu dengan Pak Harto. Latief mendekati Bu Dul untuk memohon
agar Pak Harto berkenan ditemui Latief. Pak Harto menyanggupi permintaan
itu.
Kemudian, Latief memutarbalikkan isi pembicaraan dalam pertemuan itu. H
Probosutedjo, adik kandung Pak Harto menyampaikan fakta dan kesaksian
seputar pemutarbalikan fakta dalam tuduhan Latief tersebut, eksklusif
kepada TokohIndonesia.
Minggu, 25 September 1965, pukul 11.00. Latief, Asintel Kodam V Jaya,
(yang kemudian menjadi komandan operasi militer G-30-S/PKI), bertandang
ke kediaman Pak Harto di Jalan H. Agus Salim 98, Jakarta. Pak Probo saat
itu ada di rumah, karena ia tinggal di situ, jadi ia tahu tentang
pertemuan tersebut. Tetapi Pak Probo tidak dengar apa yang mereka
bicarakan.
Setelah Latief pulang, kakak beradik itu makan siang satu meja. Pak
Probo mengajukan pertanyaan: “Ada apa mas koq Latief tadi lama sekali?”
Pak Harto menjawab: “Latief tanya soal Dewan Jenderal. Ia pikir Dewan
Jenderal itu mau melawan Bung Karno. Ketuanya kan saya. Masa’ saya mau
mengkup pemerintah.”
Lalu Pak Harto memberi penjelasan lebih lanjut kepada Latief: “Dewan
Jenderal itu tujuannya untuk menyaring kenaikan pangkat perwira tinggi
AD, agar jangan sampai terus mengalir ke atas. Nanti kebanyakan
jenderal.”
Latief intelnya PKI dan Kodam V Jaya. Latief tentu tidak bisa ketemu
begitu saja dengan Pak Harto, tanpa ada orang yang menjembatani. Dia pun
mendekati Bu Dul.
Bu Dul, yang tidak berprasangka meminta waktu Pak Harto supaya bisa
menerima Latief. Pak Harto setuju. Hal ini diketahui Pak Probo dari Bu
Dul sendiri.
Tetapi sewaktu terjadi G-30-S/PKI, lima hari kemudian (30 September
1965), dan Latief terlibat, Pak Probo marah pada Bu Dul: “Kenapa dia
dibawa ke sini?” Bu Dul menjawab: “Waduh, saya ini kan nggak ngerti nak.
Saya pikir orangnya baik. Tapi kok begitu.”
Menurut Pak Probo, itulah kejadian yang sebenarnya. Jadi, tidak benar
Pak Harto terlibat. Itu memang pekerjaan orang PKI, orang tidak ber
Tuhan, orang atheis. PKI itu kerjanya memutar balik fakta.
Terus terang saja, PKI sudah dua kali mengkhianati republik ini. Yang
pertama September 1948, di Madiun. Waktu itu mereka yang terlibat tidak
sempat diadili. Sebab dalam bulan Desember, tentara Belanda menyerbu
kota Yogyakarta (ibukota RI di pengungsian). Semua tahanan PKI
dibebaskan, ikut bertempur lagi, akhirnya dilupakan.
Pertemuan di RS
Sementara itu, Pak Harto sebagaimana dikutip di dalam buku, Siti
Hartinah Soeharto, Ibu Utama Indonesia (1992) mengisahkan: “Tanggal 30
September 1965. Kira-kira pukul sembilan malam, saya bersama istri
berada di Rumah Sakit Gatot Subroto. Kami menengok anak kami, Tommy,
yang masih berumur empat tahun, dirawat di sana karena tersiram air sup
yang panas. Kira-kira pukul 10 malam saya sempat menyaksikan Kol. Latief
berjalan di depan zaal tempat Tomy dirawat.”
Lalu menurut Pak Probo, soal Latief mengaku ketemu Pak Harto di rumah
sakit Gatot Subroto pada malam menjelang G-30-S/PKI, sebenarnya ia tidak
ketemu. Ia cuma mengecek apakah benar Pak Harto ada di RS. Karena ia
tanya lagi kepada Bu Dul, dan dijelaskan: “Putra Pak Harto (Tommy)
tersiram sop panas sehingga dirawat di rumah sakit. Pak Harto setiap
malam tidur di rumah sakit.”
Pada hari Senin (26/9-65), ada orang yang mengantar daging rusa,
sebagian dimasak sendiri oleh Bu Tien, dibuat sop. Sewaktu Bu Tien
(istri Pak Harto) mengangkat sop yang sudah matang, Tommy, ketika itu
berusia 4 tahun, berlari-lari, menabrak Bu Tien, sopnya tumpah menyiram
sekujur tubuh Tommy. Tommy berlari-lari karena dikejar adiknya, Mamiek
yang waktu itu sedang belajar jalan.
Sewaktu Tommy dirawat, kedua orang tuanya menjaga bergiliran, Bu Tien
siang hari dan Pak Harto malam hari. Siangnya, Pak Probo dan adik Bu
Tien, kadang-kadang menemani Bu Tien menjaga Tommy. Malam itu (Senin),
Latief ingin membuktikan, apakah benar Pak Harto ada di rumah sakit,
ternyata benar.
Ketika terjadi operasi penculikan oleh PKI, dinihari 1 Oktober 1965,
rumah Pak Harto tidak digerebek oleh pasukan Cakrabirawa, karena Pak
Harto tidak di rumah. Pak Harto selamat.
Pak Probo yakin, itu sudah merupakan ketentuan Tuhan. Kenapa Tommy
kesiram sop sehingga dirawat berhari-hari dan Pak Harto mesti ada di
rumah sakit. Seandainya Tommy tidak tersiram sop, Pak Harto ada di
rumah, ia pasti digerebek oleh pasukan penculik PKI.
Tidak Dekat Pak Harto
Menurut Pak Probo, Latief tidak dekat dengan Pak Harto, bukan anak buah
langsung. Dulu di zaman perang gerilya tahun 1949, ia memang bergerilya
di Yogyakarta bagian barat. Sedangkan Pak Harto komandan Wherkreise III
yang keliling seluruh Yogya, jadi sering ke Yogya Barat. Pak Probo juga
gerilya di situ. Pak Probo ingat, Latief di Yogya barat bagian selatan,
sedang ia sendiri Yogya barat bagian utara. Yang memimpin perang gerilya
di seluruh Yogya adalah Pak Harto.
Jadi Latief tidak berhubungan sama sekali dengan Pak Harto.
Jika Latief mengatakan sewaktu anaknya disunat dipangku oleh Bu Tien,
menurut Pak Probo, itu kan omongan yang berlebihan. “Mana ada orang
sunat dipangku ibunya. Di mana pun orang sunat nggak ada yang dipangku
ibunya, apalagi dipangku oleh ibu lain. Itulah kebohongan Latief,” kata
Probo. ►mti/sh
===============================================
Boks
Perihal Letkol Untung
Sewaktu konfrontasi dengan Malaysia, ada seorang
Mayor di Kostrad, namanya Untung. Pak Harto,
Panglima Kostrad. Tahu-tahu Untung mengajukan lamaran kepada Kolonel
Sabur, Komandan Cakrabirawa, untuk diterima sebagai Komandan
Cakrabirawa. Lamaran itu diterima oleh Sabur.
Waktu itu, Pak Harto kaget dapat surat dari Sabur. Tahu-tahu Untung
dipindahkan ke situ. Pak Harto kemudian menelpon Sabur. (Pak Probo ada
di dekat Pak Harto).
“Kenapa Untung dimasukkan ke situ. Orangnya berbahaya, tidak bisa
dipegang,” kata Pak Harto kepada Sabur. “Biar saja nanti saya yang
mengendalikan. Saya perlu orang seperti dia,” jawab Sabur.
Kemudian, Letkol Untung ternyata memimpin Dewan Revolusi Indonesia,
atasan Kolonel Latief di dalam operasi militer Gerakan 30 September yang
didalangi PKI. ►mti/sh
***Majalah Tokoh Indonesia |