| WAWANCARA MTI 24 |
|
|
 |
Probosutedjo
Habibie Nyatakan Sanggup
WAWANCARA 04: MTI: Waktu Pak Harto kembali dari Kairo,
melihat keadaan sudah kacau-balau apakah beliau langsung menuju ke
rumah?
PROBO: Ya, Pak Harto langsung ke rumah. Saya sudah menunggu di situ
sejak pukul empat pagi atau mungkin pukul tiga. Pak Harto sampai ke
rumah setengah lima.
Saya melaporkan keadaan demo mahasiswa semakin tidak karu-karuan,
terjadi penjarahan. Dalam hati saya ingat, bahwa sebelumnya saya sudah
melarang tetapi pergi juga. Namun saya tidak mengingatkannya lagi sebab
bisa-bisa malah menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Tanggal 16 Mei dilanjutkan lagi demonstrasi, itu terus saja terjadi dan
tidak ada henti-hentinya. Makin liar kesana-kemari. Lalu tanggal 17 dan
18 Mei massa mahasiswa demonstran akhirnya dimasukkan ke gedung MPR.
Mayor Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Pangdam Jaya ketika itu, diminta
oleh Pangab Jenderal Wiranto supaya mengerahkan mobilnya mengangkut
mahasiswa yang ada dimana-mana ke gedung MPR supaya disatukan. Tapi
Sjafrie tidak mau. Alasannya kalau mahasiswa menjadi satu nanti lebih
berbahaya lagi. Akhirnya dicarilah dan digerakkanlah bis.
Anak saya, Tanto, minta supaya saya membantu memberikan makanan
demonstran. “Ini sudah setengah satu siang belum ada makanan, tolonglah
agar Pak Probo mengirim makanan, kasihan ini mahasiswa,” begitu kata
anak saya. “Jangan dilayanilah nanti malah kita ikut-ikutan,” saya
bilang.
Setengah jam kemudian, Tanto ketemu lagi sama saya. “Kok sekarang Pak,
sudah banyak makanan, malah berlebihan,” katanya. Nah, berarti sudah
direncanakan bikin dapur umum. Mana mungkin pesanan makanan setengah
sampai satu jam bisa selesai. Itu tidaklah mungkin. Berarti sejak pagi,
dapur umum sudah direncanakan. Makanan itu banyak dan datang
terus-menerus setiap hari tanggal 18, 19, 20 dan 21 Mei.
Pada tanggal 19 Mei, Pak Harto menyuruh Pak Saadillah Mursjid untuk
memanggil Dr Nurcholis Madjid, karena dia dianggap sebagai tokoh Islam
yang mempunyai pengaruh. Dia seorang teknokrat yang punya pengaruh luas
dan tidak fanatik. Dia datang ke Cendana. Saya ada di situ.
Nurcholis Madjid sama Pak Harto berdua saja bicara. Tapi saya masuk
saja. Waktu dipilih nama Amien Rais untuk ikut dipanggil, saya bilang
janganlah dia dipanggil. Sebab keadaan menjadi begini karena Amien Rais.
Waktu saya bilang jangan panggil Amien Rais, itu Pak Harto diam saja.
Cak Nur lalu bilang, “Jadi bagaimana, Pak. Dia saya anggap teman saya di
Amerika, sama-sama kuliah di Amerika.”
“Ya, tapi kelakuannya tidak benar lagi. Ini, keadaan kacau begini
gara-gara dia. Jadi lebih baik jangan dipanggil kalau besok diadakan
pertemuan,” kata saya.
Waktu itu Pak Harto sudah mengusulkan diadakan pertemuan, dan menyuruh
memanggil figur-figur masyarakat, tokoh-tokoh Islam, untuk ikut
pertemuan di Istana. Pertemuannya direncanakan tanggal 19 Mei pagi, tapi
mahasiswa sudah penuh di Senayan.
Dalam pertemuan besok pagi-pagi itu, saya ditugasi memanggil siapa-siapa
yang saya kenal yang bisa dipanggil. Saya bilang oke, saya bisa panggil
Prof KH Ali Yafei, dan Gus Dur. Kedua orang yang saya panggil itu tidak
mengerti untuk apa dipanggil. Saya hanya bilang datang saja ke rumah.
Kumpullah di rumah untuk kemudian ikut perundingan di Istana.
Masalahnya, ketika jumpa di Istana, saya nurut saja sama Tutut dan
Hartono yang minta supaya saya jangan masuk. Karena saya orangnya kan
sering-sering tidak tahu aturan, suka masuk saja.
Karena dilarang sama Tutut, saya tidak masuk. Jenderal-jenderal ada di
luar semua. Ada Wiranto, Hartono, Prabowo, Subagyo semua kumpul di situ.
Waktu itu saya tanya sama Wiranto, mengapa mahasiswa digerakkan ke
Senayan, mereka kan menjadi tambah kuat dan jadi seenaknya saja, di
suplai makanan lagi. Kata Wiranto, kalau tidak dikumpulkan nanti di
jalan-jalan malah lebih kacau lagi.
Pertemuan di Istana memutuskan tuntutan mahasiswa, yakni supaya Pak
Harto mundur, dituruti. Di situlah Pak Harto menjawab bahwa kalau memang
disuruh mundur tidak masalah sebab tidak menjadi presiden pun tidak
pateen (pateen itu sakit puru, dagingnya pincang-pincang). Daripada
ribut-ribut oke, silahkan. Kalau mau ambil ya ambillah, kata Pak Harto.
Terus, malamnya ada pertemuan Keluarga Cendana. Keadaan semakin kritis
saja. Sebelum diputuskan bahwa Pak Harto mau mengundurkan diri kita
sesungguhnya masih terus berusaha mengadakan pendekatan dengan MPR.
“Coba saja dengan cara bagaimana yang bisa ditempuh,” kata yang lain
kepada saya.
“Bagaimana kalau saya berhubungan dengan Baramuli saja,” saya bilang.
“Ya boleh, coba,” kata mereka lagi. Terus, saya mendatangi Baramuli ke
rumahnya. Baramuli saya kasih tahu keadaannya sudah begini, begini.
Bagaimana nih Pak Harto dituntut pula bertanggung jawab. “Lho, Pak Harto
kan sudah bertanggung jawab, ini kan belum lama sidang MPR,
pertanggungjawaban Presiden sudah ada. Jadi tangung jawab apa lagi,”
kata Baramuli.
Saya jawab, “Iya, kalau saya yang ke MPR orang kenal sama saya.
Bagaimana kalau Pak Baramuli yang ke sana, mencoba bicara dengan
orang-orang di MPR untuk menyelesaikan masalah. Memberi tahu supaya
betul-betul menyadari bahwa Pak Harto tidak bisa dimintai
pertanggungjawaban sekarang. Karena baru tiga bulan yang lalu Sidang
MPR, baru diangkat menjadi presiden, mengapa sekarang dimintai
pertanggungjawaban lagi.”
Setelah berada di gedung MPR, dia kemudian menelepon saya, memberi tahu,
“Aduh, keadaannya sudah lain Pak. Orang-orang semuanya pada tidak ada
yang mau membantu Pak Harto. Jadi, bagaimana ini,” kata Baramuli. “Kalau
begitu ya sudah, terserah saja,” saya bilang.
Lalu muncul juga surat pernyataan dari 14 menteri yang menyatakan tidak
mau membantu Pak Harto lagi, tidak mau duduk dalam kabinet, dan tidak
mau duduk dalam Dewan Reformasi.
Iya sudah besoknya mundurlah Pak Harto pada tanggal 21 Mei 1998 itu.
Sebelum itu, waktu Pak Harto ternyata mau mundur, saya tanya sama
beliau. “Terus, siapa penggantinya, Mas, siapa yang sanggup?”
“Ya, Habibie mengatakan sanggup, bersedia menjadi presiden,” kata Pak
Harto.
Saya tidak percaya lalu saya tanya lagi. “Dia sanggup?”
MTI: Berarti Pak Harto masih sempat berdialog dengan Pak Habibie
sebelum mengundurkan diri.
PROBO: Ya, tiap hari berdialog terus mereka itu. Tapi ‘dia sanggup’,
sampai begitu saya katakan tetap bertanya.
“Dia mengatakan sanggup, mudah-mudahan,” jawab Pak Harto.
Setelah pengunduran diri Pak Harto, Nurcholis Madjid menelepon saya.
“Pak, Habibie diingatkan bahwa dia menjadi pejabat presiden sementara.
Jangan terus menganggap dirinya sebagai pengganti presiden definitif,
belum. Dia hanya sementara saja. Pak Probo supaya menelepon dia,” kata
Nurcholis.
“Ah, tidak mau,” saya bilang. “Tidak mau lagi berhubungan sama
orang-orang itu. You-lah hubungi sendiri,” saya bilang.
“Wah, gimana itu nanti kalau dia jadi presiden, jadinya apa negara ini,”
katanya. Itulah kata Nurcholis Madjid waktu itu. Saya ingat itu, dia
menelepon saya.
Kabar Habibie
MTI: Apakah Pak Harto masih pernah
membicarakan kabar tentang Pak Habibie?
PROBO: Tidak. Saya sendiri juga tidak mau menyinggungnya. Habis saya
sejak dulu selalu anti dengan Habibie. Saya kan selalu tidak senang
dengan Habibie.
Dulu juga sering saya katakan mana bisa Habibie itu dipercaya. Tapi Pak
Harto bilang pembangunan yang akan datang adalah Iptek. Jadi pembangunan
fisik sudah selesai semua, tinggal yang meneruskan Iptek-nya. Siapa lagi
yang ahli dalam Iptek, kan Habibie.
MTI: Jadi, tadinya Pak Harto sudah lama menginginkan Pak Habibie menjadi
penerus pembangunan?
PROBO: Ya supaya bisa meneruskan pem-bangunan pertanian, pembangunan
nelayan, dan semuanya bisa diteruskan.
Kalau Habibie mau datang ke rumah Pak Harto, itu hingga sekarang masih
belum mau diterima. Dan yang disuruh untuk menolaknya ya saya juga.
Habibie sama Ginanjar, ini ada tandatangannya. (Menunjuk copy tanda
tangan 14 Menteri yang menyatakan tidak bersedia duduk dalam Kabinet
Reformasi Pak Harto)
Akbar Tandjung, Hari Raya Lebaran 2004 lalu sudah datang. Dulu waktu Pak
Harto masih Presiden tiap sore dia datang ke rumahnya Tutut.
Ada pepatah asal Tapanuli yang cocok menggambarkan posisi Pak Harto
dengan pembantu-pembantunya, termasuk Habibie menjelang mundur 21 Mei
itu. Yakni, Situnjang na gadap. Molo ho monang marjuji sude mandok lae,
molo ho talu marjuji sude mandok te. Pepatah dari Tapanuli itu
benar-benar tepat barangkali.
Arti bebasnya, jika seseorang jatuh, semua menginjak. Jika seseorang
menang judi, semua bilang saudara dan sahabat, tapi bila kalah semua
bilang tai.
Atau penggalan pengalaman saya sebagai guru di Pematang Siantar dan
Serbelawan. Ada orang tua murid di sana yang menyekolahkan anaknya.
Masih SMP anaknya itu, dan selalu diusahakan supaya anaknya itu lulus.
“Anak ini tidak mau belajar, nakal akhirnya jadi begini,” kata orangtua
itu. Tapi dikatakannya lagi, “Akan lebih susah lagi kalau tidak punya
anak, ya, pak?”. “Oh, iya Pak,” saya jawab saja begitu.
Ikut Menghujat
MTI: Mengenai mantan orang-orang terdekat Pak Harto yang
dahulu ikut-ikutan menghujat, ternyata mereka menjadi manusia kaya raya
saat ini. Adakah komentar Pak Harto mengenai mereka?
PROBO: Ya, orang-orang yang dahulu dekat sekali sama Pak Harto, termasuk
dekat sama saya, itu sejak Pak Harto mundur tak ada yang mau dekat lagi
dengan Pak Harto. Sama saya pun begitu, tidak mau dekat, menjauh semua.
Dan nyatanya sekarang mereka menjadi kaya semua.
Pak Harto tidak banyak bicara mengenai mereka. Dulu sewaktu masih sehat
pun dia juga tidak mau menjelekkan pembantu-pembantunya itu. Biarlah
orang melihat sendiri. Kalau saya melihat kenyataan sendiri bahwa dulu
orang-orang yang dekat dengan Pak Harto kini menjadi kaya semua.
MTI: Bisakah disebutkan nama salah seorang saja dari antara mereka?
PROBO: Tidak usahlah disebut namanya sebab rakyat juga sudah tahu.
Suruh Yusril
MTI: Adakah sesuatu yang Pak Harto sampaikan secara khusus kepada
Pak Probo, sebelum pengunduran dirinya?
PROBO: Dia kan orangnya tidak banyak ngomong. Cuma dia sering saya
tanya. Seperti, memanggil Nurcholis Madjid untuk diajak bicara,
bagaimana, maunya apa. Juga ulama-ulama, dan tokoh-tokoh terkemuka
lainnya.
Satu lagi, waktu mau diadakan reformasi, saya yang menyuruh menghubungi
ulama-ulama dan tokoh-tokoh masyarakat, kepada Yusril Ihza Mahendra.
MTI: Mengapa menyuruh Yusril Ihza Mahendra, bukannya Pak Saadillah
Mursjid?
PROBO: Karena sudah tidak ada lagi orang yang mau duduk dalam kabinet.
Waktu itu banyak juga yang menyampaikan sama saya, meminta supaya
didudukkan di dalam Dewan Reformasi.
Jadi tokoh-tokoh yang lain, tidak ada yang mempunyai pengalaman seputar
pengundur-an diri Pak Harto 21 Mei 1998, seperti saya. Karena yang
berani datang kepadanya cuma saya saja. ►mti
***Majalah Tokoh Indonesia |