A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Mabes TNI
 ► Mabes Polri
 ► Pemda
 ► BUMN
 ► Purnabakti
 ► Asosiasi
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 28102008  
   
  ► e-ti/repro  
  Nama:
Sri Sultan Hamengku Buwono X
Nama Asli:
Bandoro Raden Mas (BRM) Herdjuno Darpito
Lahir:
Yogyakarta, 2 Maret 1946
Agama:
Islam
Ayah:
Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Istri:
Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas
Anak:
1. Gusti Raden Ajeng (GRAJ) Nurmalita Sari
2. Gusti Raden Ayu (GRAy) Nurma Gupita
3. Gusti Raden Ajeng (GRAJ) Nurkamnari Dewi
4. Gusti Raden Ajeng (GRAJ) Nurabra Juwita
5. Gusti Raden Ajeng (GRAJ) Nur Astuti Wijareni
Pendidikan:
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Pekerjaan:
- Anggota MPR sejak Tahun 1992
- Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, sejak 3 Oktober 1998 – Sekarang
- Sri Sultan Hamengku Buwono X, dinobatkan 7 Maret 1989
Karya Ilmiah:
- Kerangka Konsepsi Politik Indonesia (1989)
- Bercermin Di Kalbu Rakyat (1999)
 
     
 
BERITA

Sri Sultan Hamengku Buwono X

Siap Maju Jadi Capres


Sultan HB X menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai calon presiden (Capres) daloam Pemilu 2009. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato selama dua menit di forum Gelar Budaya dan Pisowanan Ageng di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta, Selasa (28/10/2008) dihadapan 47 raja yang mewakili 105 raja di Indonesia, di panggung kehormatan.

 

”Dengan mohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dengan niat yang tulus memenuhi panggilan kepada Ibu Pertiwi, dengan ini saya menyatakan siap maju menjadi Presiden 2009,” ujar Sultan di atas podium disambut tepuk tangan meriah ratusan ribu orang yang memadati Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta serta jalan-jalan di kawasan keraton.
 

Kehadiran para raja-raja nusantara itu, KRMT Indro Suseno, selaku koordinator acara, merupakan simbol pluralitas Indonesia. "Meskipun mereka tak akan menyampaikan pidato politik, tetapi kehadiran para raja sangat membesarkan hati dan membanggakan, karena ini merupakan simbol pluralitas Indonesia," kata KRMT Indro Suseno.

Dalam jumpa pers seusai acara Pisowanan Ageng, Sultan mengatakan, keputusan untuk maju ke kancah nasional sudah melewati perenungan pribadi serta mempertimbangkan masukan dari keluarga. ia menyatakan ingin mengabdi bukan untuk mencari kekuasaan. "Kalau Saudara ingin berubah, mari bersama saya melakukan perubahan. Saya ingin perubahan,” kata Sultan.

Sri Sultan mengaku semakin tidak tahan melihat penderitaan rakyat. Menurutnya, selama 10 tahun setelah reformasi, tidak ada perubahan fundamental untuk kesejahteraan masyarakat maupun terbentuknya pemerintahan yang akuntabel. Kemiskinan dan pengangguran semakin marak dan bangsa tidak bisa kompetitif menatap masa depan.

 

Sultan menilai sejauh ini tidak ada perubahan fundamental yang menjadikan bangsa ini maju dan sejahtera dengan pemerintahan yang akuntabel.

"Selama masih seperti itu bangsa ini tidak akan kompetitif menghadapi tantangan masa depan. Karena itu kita harus mengubah strategi, dan jika rakyat ingin perubahan, mari kita bersama-sama melakukannya," katanya.

Sultan kemudian menegaskan, "Apa artinya Hamengku Buwono jika diminta menjadi presiden tetapi rakyat sendiri tidak ingin perubahan. Saya ingin menjadi agen perubahan itu".

 

Sultan menyatakan ingin mengubah cara pandang sebagian masyarakat DIY. "Saya memang sultan, tetapi bukan wong agung seperti 100 tahun lalu, dan Yogyakarta sekarang telah menjadi bagian dari republik," katanya.

"Saya harus mendukung demokratisasi karena saya seorang demokrat. Saya juga harus bisa berfungsi sebagai agen perubahan dan harus pula bisa menjadi teladan," katanya.

Menurut Sultan, yang harus dipahami juga bahwa Sultan adalah juga seorang warga bangsa yang tunduk pada demokrasi di mana kedaulatan ada di tangan rakyat.

Sultan berharap dengan kesediaannya maju sebagai capres, masyarakat Yogyakarta siap mendukung demokratisasi.

 

Dalam kesempatan itu, Sultan menegaskan siap kalah dalam pertarungan politik. Disebutkan, kesediaan Sultan untuk maju dalam kancah politik nasional didorong oleh tingginya aspirasi dari masyarakat.
 

Sultan tidak mempersoalkan kalah atau menang dalam pertarungan politik tahun depan. "Atas permintaan rakyat Yogyakarta, saya bersedia maju sebagai capres. Jika kalah tidak masalah, tidak perlu merasa turun harga diri, apalagi merasa malu. Logika saya tidak seperti itu. Tetapi sebaliknya kalau menang janganlah sombong, karena semua adalah amanah," katanya.

Perihal partai politik mana atau lewat jalur politik apa yang akan mengusungnya jadi Capres, Sultan masih menunggu pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Di samping itu, Sultan juga belum menentukan kriteria calon wakil presiden karena harus menunggu kristalisasi dalam proses politik.

Menurut Sultan, Pisowanan Ageng merupakan wujud demokrasi langsung yang tidak sekadar demokrasi prosedural. Masyarakat tidak sekadar menjadi obyek, tetapi subyek. Forum Pisowanan Ageng dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari partai politik, akademisi, budayawan, hingga masyarakat dari pelosok desa dan sejumlah raja-raja.

 

Perihal peluang sebagai capres, Sultan menyatakan keyakinan karena masih ada proses kristalisasi di masyarakat dan partai politik (parprol).

"Parpol rata-rata memang akan menentukan pilihan setelah hasil pemilihan umum legislatif, dan saat ini saya hanya menjawab pertanyaan masyarakat apakah bersedia maju atau tidak maju sebagai capres, dan saya menyatakan bersedia," katanya.

"Langkah selanjutnya, akan melihat perkembangan perolehan suara parpol dan dirinya belum bisa memperkirakannya apalagi pembahasan RUU Pilpres belum selesai termasuk posisinya sebagai Gubernur DIY apakah akan mundur atau tidak," kata Sultan.

Draft RUU Pilpres yang diajukan pemerintah kepada DPR menyebutkan jika pejabat negara hasil pemilihan yang akan maju sebagai capres tidak perlu mundur tetapi hanya minta zin cuti agar tidak menggunakan fasilitas negara.

"Bagi pejabat negara yang bukan hasil pemilihan harus mengundurkan diri. Saya tidak tahu keputusan RUU Pilpres nanti. Apakah klasifikasi saya itu termasuk pejabat negara hasil pemilihan atau tidak, saya hasil perpanjangan jabatan. Kalau itu dianggap pejabat negara bukan pemilihan dan harus mengundurkan diri, kemungkinan akan saya pertimbangkan untuk melakukannya," kata Sultan.

Ditanya apakah siap juga menjadi calon wakil presiden (cawapres), Sultan menyatakan dirinya belum berpikir soal itu karena ke depan masih akan kristalisasi dalam proses politik.

"Sedangkan untuk calon independen, saat ini masih tidak mungkin karena harus mengamandemen undang undang, jadi semua pencalonan harus melalui parpol," katanya.

Sultan menegaskan kembali bahwa yang menjadi dasar bagi dirinya bersedia maju sebagai capres adalah ingin mengabdi dan bukan mencari kekuasaan.

"Motivasi dan keputusan saya untuk maju setelah saya bertanya dulu pada diri dan nurani sendiri, apakah saya mampu mengabdi yang tidak hanya untuk rakyat DIY saja tetapi juga untuk bangsa dan negara, apakah saya sanggup untuk mengabdi dengan segala pengorbanan, keihlasan," katanya.

Pada kesempatan itu, pengamat politik Sukardi Rinakit dan pelaku seni Garin Nugroho menyampaikan orasi politik. "Kita tidak butuh presiden yang hanya bisa tersenyum, tapi kita butuh presiden yang mengerti pluralisme," kata Sukardi.

Sementara itu, Garin Nugroho mengatakan sebagai bagian dari Bangsa Indonesia, diharapkan rakyat Yogyakarta, bersama Sultan bisa membawa perubahan bagi masyarakat Indonesia.

Tampil pula Franky Sahilatua membawakan lagu baru berjudul "Aku Ingin Presiden Baru", yang disambut antusias peserta Pisowanan Agung.

Sebelumnya, tampil dua orang perwakilan masyarakat menyampaikan aspirasi politik, yakni Arifman dan Sugiono. Disebutkan, rakyat Indonesia sangat merindukanKeduanya pun meminta warga Yogya untuk legowo seandainya Sultan harus tampil di tingkat nasional.

 

Pro-Kontra

Pernyataan kesiapan Sri Sultan menjadi Capres mengundang beragam pendapat. Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono yang dimintai komentarnya menanyakan kendaraan politik apa yang akan digunakan Sultan HB X. Sebab, meskipun tercatat sebagai kader Golkar, Sultan tak bisa serta merta menggunakan partai berlambang pohon beringin itu sebagai kendaraan politiknya mengantarkan ke RI 1.

"Itu hak beliau untuk mengambil sikap. Namun, yang menjadi permasalahan mau pakai kendaraan apa? Kalau kendaraan Golkar, kami sudah memutuskan ditetapkan segera setelah pemilu legislatif," kata Agung di Gedung DPR, Selasa (28/10).

Sementara itu, sejumlah mahasiswa dan warga luar Jawa yang tinggal di Yogyakarta menyambut baik pencapresan Sultan. Mahasiswa asal Kalimantan Barat yang mengikuti Gelar Budaya dan Pisowanan Ageng dengan menggunakan pakaian tradisional, mengatakan, Sultan memiliki kepribadian yang tepat untuk menjadi seorang pemimpin. Selain sebagai sosok pemersatu, Sultan juga dianggap tidak berambisi untuk menduduki kursi kekuasaan.

Di mata mereka, Sultan tidak diskriminatif, termasuk kepada semua mahasiswa yang menuntut ilmu di Yogya. "Ia sebagai bapak, mengayomi kami," kata Umar Asrori, mahasiswa semester tiga BSI.


Pendapat senada dikemukakan Yohanes Richad Trio, tokoh Paguyuban Masyarakat NTT yang sekaligus menjadi anggota DRPD Sleman bahwa Sultan memiliki beberapa karakteristik yang menonjol, yakni pluralisme dan falsafah kebangsaan yang cukup kuat untuk memimpin bangsa.
 

Sementara itu, pernyataan pencapresan Sultan juga dipandang bisa menimbulkan pandangan pro-kontra masyarakat Yogyakarta. Sebagian masyarakat Yogyakarta ada yang mendukung, namun ada pula yang menolak.

Kumpulan seniman Yogyakarta yang tergabung dalam Forum Budaya Bangsa mendukung Sultan mencalonkan diri jadi capres. Namun, Forum Ngeman Sultan (FNS) yang terdiri dari aktivis LSM dan mantan aktivis mahasiswa menolak pencalonan itu.

"Sikap dukungan yang digulirkan oleh pihak-pihak tertentu selama ini seakan tergesa-gesa," ujar Koordinator FNS Adam Purwanto di Taman Budaya Yogyakarta, Jumat (17/10/2008).

"Tentu Sultan akan lebih terhormat jika tetap menjadi guru bangsa. Namun jika beliau masih mantap maju sebagai capres ya kita tentu tak bisa melarang," kata Humas FNS Kari Tri Adji.

 

Sementara itu, Reksonegoro seorang Warga Negara dan Pencinta Republik Indonesia mengomentari urgensi dan jumlah raja yang menghadiri acara Pisowanan Ageng. "Sejak SR (belum ada SD) saya tidak diajarkan adanya 47 raja apalagi 114 kerajaan. Mengapa setelah 10 tahun reformasi muncul raja-raja di nusantara?" tananya dalam surat elektronik ke redaksi Tokoh Indonesia.

 

Reksonegoro menambahkan: "Selamat untuk Hamengku Buwono X yang berhasil mengumpulkan 47 raja di Jogjakarta

pada saat hari ulang tahun sumpah pemuda. Mudah-mudahan selamat atau barangkali berusaha untuk mendirikan UNITED

KINGDOM OF INDONESIA," tulisnya. ►ti/sam

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) 

 

 

 

         
KOMENTAR:

Jika Anda punya komentar tentang Pencapresan Sri Sultan, kirim ke E-Mail:

 

redaksi@tokohindonesia.com