| |
C © updated 28062008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/setneg |
|
| |
Nama :
Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono
Lahir :
Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949
Jabatan:
Presiden Republik Indonesia
Istri :
Kristiani Herawati,
putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo
Pangkat terakhir :
Jenderal TNI (25 September 2000)
Alamat Rumah:
Jl. Alternatif Cibubur Puri Cikeas Indah
No. 2 Desa Nagrag Kec. Gunung Putri Bogor-16967
|
|
| |
|
|
|
|
Catatan Staf Khusus
Membaca Presiden dari Pengagumnya
Oleh WISNU NUGROHO, Kompas, Sabtu, 28 Juni 2008: Selain anggota
keluarganya, yaitu Kristiani Herawati, Agus Harimurti Yudhoyono, dan
Edie Baskoro Yudhoyono, tidak banyak orang yang dekat secara intens
dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sudi Silalahi adalah satu dari
sedikit orang itu.
Sejak Yudhoyono terpilih dan dilantik sebagai Presiden, Oktober 2004,
bertambah sedikit orang yang dekat secara intens dengannya. Mantan
Direktur Amerika Utara dan Tengah Departemen Luar Negeri Dino Patti
Djalal adalah salah satunya.
Dino mendekat ke Cikeas setelah Yudhoyono memenangi pemilihan presiden
putaran kedua. Pergeserannya ke Cikeas membuka jalan bagi kedekatan
intensnya dengan Presiden Yudhoyono.
Setelah pelantikan Presiden, 20 Oktober 2004, Dino diangkat menjadi Staf
Khusus Bidang Hubungan Internasional/Juru Bicara Kepresidenan. Presiden
merasa satu frekuensi dengan Dino sejak pertama bekerja sama tahun 2000
di Washington DC.
Saat itu, Dino adalah Kepala Bidang Politik di Kedutaan Besar RI di
Amerika Serikat dan Yudhoyono menjabat Menteri Koordinator Bidang
Politik dan Keamanan. Dino membantu Yudhoyono menyiapkan talking points
saat akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Madeline
Albright.
Yudhoyono puas dan memuji Dino sebelum meninggalkan Washington DC. ”Din,
good job. Nanti kalau kembali ke Jakarta, hubungi saya,” ujar Yudhoyono,
seperti dikenang Dino.
Kenangan Dino akan orang yang dikaguminya itu ditulis dalam buku Harus
Bisa! Seni Memimpin ala SBY. Di akhir buku ini dikisahkan lebih jauh
bagaimana komunikasi dengan Yudhoyono berlanjut setelah Dino kembali ke
Jakarta.
Buku yang didesain menawan dengan kertas eksklusif ini diluncurkan pada
Jumat (27/6) malam di Jakarta. Namun, sebelum diluncurkan, buku ini
telah diedarkan di antara tamu istimewa peringatan 100 tahun Kebangkitan
Nasional yang dihadiri Presiden Yudhoyono di Gelanggang Olahraga Bung
Karno, 20 Mei 2008.
Buku ini dibagi dalam enam bab, dengan fokus praktik kepemimpinan
Yudhoyono yang dimaknai Dino selalu secara positif. Buku ini tidak
mengangkat sisi kontroversial kepemimpinan Yudhoyono, seperti penilaian
sejumlah kalangan yang menyebutnya sebagai pemimpin yang lambat, peragu,
dan indecisive (kurang tegas).
Terhadap penilaian kepemimpinan Yudhoyono yang indecisive, Dino mengulas
dan memaknainya secara positif. ”Isu ini pada awalnya disebarkan oleh
orang-orang yang tidak mengetahui mengenai timing di kepala Yudhoyono.
Mereka mungkin kecewa atau tidak sabar karena timing mereka tidak sama.”
Dino mengambil contoh perombakan Kabinet Indonesia Bersatu yang pertama
dan kedua, yang dinilai berlarut-larut. Menurut catatan Dino, panjangnya
waktu tanpa kepastian itu digunakan Yudhoyono untuk memetakan siapa
kawan dan lawan politiknya sebagai bahan pertimbangan.
Pelukan di bandara
Buku diawali dengan catatan seputar bencana tsunami di Nanggroe Aceh
Darussalam dan Nias, Sumatera Utara, akhir tahun 2004. Saat bencana itu
terjadi di ujung barat Indonesia, Presiden didampingi Ny Ani Yudhoyono
berada di ujung timur Indonesia, Papua, meninjau korban gempa.
Jarak dari ujung ke ujung, dengan informasi yang serba gelap, membuat
suasana tak menentu selama perjalanan udara dari Jayapura menuju Lhok
Seumawe. Presiden transit di Makassar dan Batam sebelum mendarat di Lhok
Seumawe karena menggunakan pesawat kecil.
Setelah Presiden mendapatkan informasi betapa dahsyatnya tsunami yang
menggulung Aceh, Dino menyaksikan Presiden sempat menyendiri, memeluk
dan menenangkan Ny Ani Yudhoyono yang tak kuasa menahan tangis saat
pesawat transit di Batam.
Perjalanan Presiden dari satu bencana ke bencana lain yang memang kerap
terjadi di awal pemerintahannya dimaknai sebagai ”dalam krisis, pemimpin
harus selalu berada di depan”.
Atas apa yang dilihatnya di Aceh, Dino memberi catatan kepemimpinan
dengan menyentil mantan Ketua MPR Amien Rais yang dinilainya tidak
berlaku layaknya ksatria. Dari pengalaman itu, ia tidak lagi menjadi
pengagum Amien.
Soal perubahan, ditulis bagaimana setelah dilantik, Presiden melakukan
empat perubahan dalam dirinya sendiri, yaitu menjadi ekonom, crisis
leader, above politics, dan negarawan internasional. Perubahan atau
transformasi kepemimpinan ini dipadankan dengan transformasi Jenderal
Besar Soedirman.
Ditulis cukup panjang bagaimana Presiden, Ny Ani Yudhoyono, dan stafnya
melawan fitnah Eggi Sudjana dan Zaenal Ma’arif secara terpisah. Presiden,
Ibu Negara, dan stafnya menggugat sendiri dan kemudian menang di
pengadilan.
Eggi menyebut sekretaris kabinet, juru bicara presiden, dan putra
Presiden menerima mobil Jaguar dari pengusaha Harry Tanoesoedibyo.
Zaenal menuduh Presiden pernah menikah sebelum masuk Akademi Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia (Akabari). Dino mencatat, Presiden sangat
marah hingga merah padam raut mukanya karena fitnah Zaenal.
Saat melaporkan Zaenal ke Polda Metro Jaya, didampingi Ny Ani yang akan
pergi ke China, Yudhoyono berujar, ”Saya ingin menunjukkan, yang akan
menang nanti bukan kekuasaan, tetapi kebenaran. Saya ingin hal ini
dilihat dan dipahami anggota masyarakat lainnya yang juga kena fitnah.
Siapa pun dapat menggunakan hukum untuk membela martabatnya.”
Selain menjelaskan soal prinsip kepemimpinan dengan hal serius, Dino
menyelipkan beberapa cerita lucu yang dimaknainya tetap dalam fokus
kepemimpinan, seperti parsel mangga dari Ical (Aburizal Bakrie). Sejak
dilantik, Presiden mendukung larangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
agar pejabat tak menerima parsel.
Saat sidang kabinet, Ical interupsi kepada Presiden soal parsel
mangganya yang dikembalikan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa.
Wakil Presiden M Jusuf Kalla menyambung interupsi karena menerima parsel
mangga Ical. Wapres curiga jangan-jangan mangga yang ditolak Hatta yang
dikirimkan Ical kepadanya.
Cerita lain terjadi saat tengah malam di Hotel Millenium, New York, AS.
Presiden yang mengenakan baju tidur warna abu-abu muncul menghalangi
Dino dan staf lainnya yang akan tidur. Presiden kesal karena pidato yang
akan dibacakan esok harinya di Sidang Majelis Umum Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) belum dikoreksi sesuai dengan arahannya.
Atas kejadian itu, Dino menyebut Yudhoyono sebagai pemimpin yang cermat
dan peduli detail, termasuk dalam substansi dan materi pidato. ”SBY
memandang detail sebagai bagian dari penguasaan substansi,” tulis Dino
dalam bukunya.
Ditulis juga kenapa Presiden gemar membuat lagu di tengah banyaknya
masalah dan kemudian meluncurkan album pertama, Rinduku Padamu. Membuat
lagu dan bermain musik adalah satu-satunya pelariannya. ”Saya ingin
menjaga keseimbangan dalam jiwa dan pikiran saya.”
Oleh karena itu, justru pada saat banyak masalah, Presiden produktif
mencipta lagu. Di tengah pesimisme akan masa depan bangsa, Presiden
menciptakan lagu Lorong Berujung yang dinyanyikan Kangen Band.
Saat buku ini diterbitkan Red & White Publishing, masalah blue energy
belum mencuat dan menjadi kontroversi. Karena itu, tidak ada sedikit pun
catatan Dino tentang kontroversi yang menyeret-nyeret nama Yudhoyono
yang pernah menjadi Menteri Pertambangan dan Energi.
Namun, untuk masalah serupa dengan blue energy, Presiden berujar,
”Pemimpin tidak boleh keliru menerima dan mengolah informasi. Kalau
masukan kepada saya salah, hampir pasti keputusan dan tindakan saya
salah. Saya tidak mau ini terjadi.”
Untuk menetapkan tim pendampingnya atau anggota di lingkaran dalamnya,
Presiden memilih sendiri. ”Kualitas seorang pemimpin biasanya tecermin
dari kualitas tim pendampingnya,” tulis Dino.
Dengan sampul biru, seperti warna Partai Demokrat dan isi 500 halaman,
buku ini sukses sebagai sarana mencari pengagum baru bagi Yudhoyono.
Buku ini mirip buku SBY Sang Demokrat yang terbit tahun 2004.
►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia
BIOGRAFI ==
01
02
03
04
05
06
07 ==
|
|