| |
C © updated 09092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ist |
|
| |
Nama :
Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono
Lahir :
Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949
Agama :
Islam
Istri :
Kristiani Herawati,
putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo
Anak :
Agus Harimurti Yudhoyono dan
Edhie Baskoro Yudhoyono
Pangkat terakhir :
Jenderal TNI (25 September 2000)
Pendidikan:
= Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
= American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
= Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
= Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
= On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
= Jungle Warfare School, Panama, 1983
= Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984
= Kursus Komando Batalyon, 1985
= Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
= Command and General Staff College, Fort = Leavenwort,Kansas, AS
Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS
Karier:
- Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (1974-1976)
- Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad (1976-1977)
- Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
- Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978)
- Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981)
- Paban Muda Sops SUAD (1981-1982)
- Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
- Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988)
- Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988)
- Dosen Seskoad (1989-1992)
- Korspri Pangab (1993)
- Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994)
- Asops Kodam Jaya (1994-1995)
- Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995)
- Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di
Bosnia-Herzegovina (sejak awal November 1995)
- Kasdam Jaya (1996-hanya lima bulan)
- Pangdam II/Sriwijaya (1996-) sekaligus Ketua Bakorstanasda
- Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
- Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI (1998-1999)
- Mentamben (sejak 26 Oktober 1999)
- Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid)
- Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnopotri) mengundurkan
diri 11 Maret 2004
Penugasan:
Operasi Timor Timur (1979-1980), dan 1986-1988
Penghargaan:
- Adi Makayasa (lulusan terbaik Akabri 1973)
- Honorour Graduated IOAC, USA, 1983
- Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003.
Alamat :
Jl. Alternatif Cibubur Puri Cikeas Indah
No. 2 Desa Nagrag Kec. Gunung Putri Bogor-16967
|
|
| |
|
|
|
|
BIOGRAFI ==
01
02
03 04
05 06
07 ==
Susilo Bambang Yudhoyono (2)
Pilihan Suara Rakyat
Pilihan suara hati nurani rakyat akhirnya terbukti. Sebagian
rakyat Indonesia, pada Pilpres putaran pertama, mempercayakan pilihannya kepada pasangan capres-cawapres
Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla. Paduan figur pasangan
ini menawarkan program memberikan rasa aman, adil, dan sejahtera kepada
rakyat, telah memikat hati para pemilih kepada keduanya.
Pasangan itu kini
siap-siap memasuki putaran terakhir pemilihan presiden, 20 September 2004.
Siapakah sesungguhnya Susilo Bambang Yudhoyono yang sangat diidolakan
rakyat dan mengapa pasangan itu berjodoh?
SBY, demikian ia akrab disapa. Gaya bicaranya tenang, sistematis, dan
berwibawa. Kata-katanya jelas mencerminkan wawasan berpikirnya yang luas.
Pantas saja para pengamat politik memberinya julukan: Jenderal yang
Berpikir. Ia pun mendirikan Partai Demokrat yang kemudian memperoleh suara
signifikan pada Pemilu 2004 dan menghantarkannya menjadi calon presiden.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Kabinet Gotong-Royong ini
mengundurkan diri dari jabatannya karena merasa tidak dipercaya lagi oleh
Presiden Megawati Soekarnoputri. Surat permintaan pengunduran dirinya
dikirim kepada Presiden, Kamis 11 Maret 2004 pagi, setelah sebelumnya ia
menyurati presiden, mempersoalkan kewenangannya yang "dipreteli", tapi
tidak ditanggapi oleh Megawati.
Pengunduran diri pria kelahiran Pacitan 9 September 1949 itu dilakukan
setelah dua minggu kemelut politik terbuka dengan Megawati. Keputusan
mundur dari kabinet itu tampaknya merupakan pemanasan dari kemelut panjang
dalam kancah perebutan kekuasaan.
Yudhoyono, yang makin populer lewat iklan pemilu damainya di televisi,
tampaknya telah memicu kemelut yang mengakibatkan orang-orang Megawati
gerah.
Ketika mengumumkan permintaan pengunduran dirinya, SBY mengatakan, "Sesuai
dengan hak politik saya, jika nanti pada saatnya ada partai politik,
katakanlah Partai Demokrat dan dengan gabungan partai lain yang
mengusulkan saya sebagai calon presiden, insya Allah saya bersedia."
Berarti, ia siap bersaing dengan Megawati untuk merebut kursi kepresidenan
di Pemilu 2004 ini.
Keputusan pengunduran dirinya dinilai berbagai pihak suatu keputusan yang
elegan. Dalam perjalanan kariernya, Yudhoyono, memang selalu ingin tampak
elegan baik dalam bertutur maupun bertindak. Sikap itu terlihat dalam
beberapa peristiwa penting yang melibatkan langsung menantu Jenderal (Purn)
Sarwo Edhie Wibowo itu.
Proses pengunduran dirinya yang terkesan akibat tersisihkan dalam Kabinet
Megawati telah mengangkat popularitasnya yang tercermin dalam perolehan
suara Partai Demokrat pada Pemilu 2004 yang sangat signifikan, menduduki
peringkat lima.
Ketika mantan Kepala Staf Teritorial Markas Besar Tentara Nasional
Indonesia ini tanggal 27 Januari 2000 memutuskan untuk pensiun lebih dini
ketika menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada pemerintahan
Presiden KH Abdurrahman Wahid. Ketika itu ia masih berpangkat letnan
jenderal dan akhirnya pensiun dengan pangkat jenderal kehormatan.
Kemudian pada 28 Mei 2001, bersama beberapa menteri tidak merekomendasikan
rencana Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Dekrit Presiden. Bahkan
tidak bersedia melaksanakan Maklumat Presiden yang menugaskannya sebagai
Menkopolsoskam untuk mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mengatasi
krisis, memelihara keamanan, ketertiban, dan hukum.
Akibatnya ia diberhentikan dengan hormat dari jabatan Menkopolsoskam pada
1 Juni 2001, kerena menolak rencana Presiden mengeluarkan Dekrit. Ketika
ia ditawari jabatan Menteri Perhubungan atau Menteri Dalam Negeri, ia
menolaknya.
Lalu pada Sidang Istimewa MPR-RI, 25 Juli 2001, ia dicalonkan
memperebutkan jabatan Wakil Presiden yang lowong setelah Megawati
Sukarnoputeri dipilih menjadi presiden. Ia bersaing dengan Hamzah Haz dan
Akbar Tandjung. Ia kalah dengan alasan sederhana, tidak mempunyai
kendaraan politik berupa partai.
Pada 10 Agustus 2001, Presiden Megawati mempercayai dan melantiknya
menjadi Menko Polkam Kabinet Gotong-Royong. Dia pun menjalankan tugasnya
dengan baik. Salah satu pelaksanaan tugasnya adalah mengumumkan
pemberlakuan status darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
pada 19 Mei 2003.
Kemudian popularitasnya makin memuncak. Pertama kali dia masuk bursa calon
presiden, ketika Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI)
menimangnya menjadi salah satu kandidat calon presiden dan wakil presiden.
Kemudian, Partai Demokrat menyebutnya sebagai calon presiden, bukan calon
wakil presiden.
Lalu iklan damainya muncul di berbagai stasiun televisi. Ia pun menjawab
pertanyaan wartawan yang menannyakan soal tidak dilibatkannya dia dalam
beberapa kegiatan kabinet yang menyangkut masalah politik dan keamanan.
Akibatnya, suami Presiden Megawati, Taufiq Kiemas menyebutnya
kekanak-kanakan karena dinilai melapor kepada wartawan bukan kepada
presiden (1/3/2004).
Dalam pada itu, dua kali rapat koordinasi bidang Polkam batal dilakukan
karena ketidakhadiran para menteri terkait. Lalu pada 9 Maret 2004, dia
pun menyurati Presiden Megawati mempertanyakan kewenangannya sekaligus
minta waktu bertemu. Namun, Presiden tidak menjawab surat itu. Mensesneg
Bambang Kusowo kepada pers mengatakan tidak seharusnya seorang menteri (pembantu
presiden) mesti membuat surat meminta bertemu dengan presiden. Dia pun
diundang menghadiri rapat menteri terbatas.
Tapi, merasa suratnya tak ditanggapi lalu pada 11 Maret 2004, ia memilih
mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam karena merasa kewenangannya
sebagai Menko Polkam telah diambil-alih oleh Presiden Megawati
Soekarnoputri. Lalu, malam harinya, di sebuah hotel, ia bertemu
Abdurrahman Wahid yang diisukan sudah sejak beberapa waktu menimangnya
menjadi calon presiden dari PKB.
Langkah pengunduran diri ini dinilai berbagai pihak membuatnya lebih
leluasa menjalankan hak politik yang akan menghantarkannya ke kursi puncak
kepemimpinan nasional. Berbagai hasil polling memang selalu menempatkannya
pada posisi terbaik, baik sebagai calon presiden apalagi sebagai calon
wakil presiden. Polling TokohIndonesia DotCom, misalnya, ketika itu
menempatkannya sebagai calon wakil presiden yang paling puncak.
Hasil jajak pendapat yang diselenggarakan Centre for Political Studies-Soegeng
Sarjadi Syndicated, yang diumumkan Selasa 30/7/2002, nama Jenderal TNI (Purn)
Susilo Bambang Yudhoyono menduduki urutan teratas (15,5 persen) untuk
menjadi wakil presiden berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri (presiden)
dan urutan kelima (5,4 persen) berpasangan dengan Amien Rais. Jajak
pendapat ini melibatkan 4.133 responden yang rata-rata terpelajar di kota
Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Makassar,
Penampilan yang tenang dan berwibawa serta tutur kata yang bermakna dan
sistematis telah mengantarkan SBY pada posisi yang patut sangat
diperhitungkan dalam peta kepemimpinan nasional. Penampilan publiknya
mulai menonjol sejak menjabat Kepala Staf Teritorial ABRI (1998-1999) dan
semakin berkibar saat menjabat Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH
Abdurrahman Wahid) dan Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati
Sukarnopotri).
Ketika reformasi mulai bergulir, SBY masih menjabat Kaster ABRI. Pada awal
reformasi itu TNI dihujat habis-habisan. Pada saat itu, sosok SBY semakin
menonjol sebagai seorang Jenderal yang Berpikir. Ia memahami pikiran yang
berkembang di masyarakat dan tidak membela secara buta institusinya. "Penghujatan
terhadap TNI itu menurut saya tak lepas dari format politik Orde Baru dan
peran ABRI waktu itu," katanya.
Banyak orang mulai tertarik pada sosok militer yang satu ini. Pada saat
institusi TNI dan oknum-oknum militernya dibenci dan dihujat, sosok SBY
malah mencuat bagai butiran permata di atas lumpur. Siapa sesungguhnya SBY
di masa sebelum ini?
Ia yang pada masa kecil dan remajanya adalah penulis puisi, cerpen, pemain
teater, dan pemain band. Pria tegap kelahiran Pacitan, Jawa Timur, 9
September 1949 ini senang mengikuti kegiatan kesenian seperti melukis,
bermain peran dalam teater dan wayang orang. Beberapa karya puisi dan
cerpennya sempat dikirimkan ke majalah anak-anak waktu itu, misalnya ke
Majalah Kuncung. Sedangkan aktivitas bermain band masih dilaksanakan
hingga tingkat satu Akabri Darat sebagai pemegang bas gitar. Sesekali
masih juga menulis puisi.
Disamping kesenian, ia juga menyukai dunia olah raga seperti bola voli, ia
senang travelling, baik jalan kaki, bersepeda, atau berkendaraan.
Sedangkan olah raga bela diri hingga saat ini masih aktif dilakukan.
Ia juga seorang penganut agama Islam yang taat. Darah prajurit Bapak
berputra dua ini menurun dari ayahnya yang pensiun sebagai Letnan.
Tekadnya sebagai prajurit kian kental saat kelas V SD (1961) berkunjung ke
AMN di kampus Lembah Tidar Magelang. "Saya tertarik dengan kegagahan
sosok-sosok taruna AMN yang berjalan dan berbaris dengan tegap waktu itu.
Ketika rombongan wisata singgah ke Yogyakarta, saya sempatkan membeli
pedang, karena dalam bayangan saya, tentara itu membawa pedang dan senjata,"
kenang SBY.
Pendidikan militernya dimulai di Akademi Militer Nasional (1970-1973). Ia
adalah lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan Adi
Makayasa. Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and Ranger Course
di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di
Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle
Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan
Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di
Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort
Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991). Gelar MA diperoleh dari Webster
University AS.
Dalam meniti karir, SBY sangat mengidolakan Sarwo Edhie Wibowo yang tidak
lain adalah mertuanya sendiri. Dalam pandangannya, Sarwo Edhie adalah
seorang prajurit sejati. Jiwa dan logika kemiliterannya amat kuat. Selain
belajar strategi, taktik, dan kepemimpinan militer, mertuanya itu amat
sederhana dalam hidup dan teguh dalam memegang prinsip-prinsip yang
diyakini.
Tugas terberatnya sebagai Menko Polkam adalah mengembalikan kepercayaan
masyarakat dan dunia bahwa keamanan di Indonesia dapat diwujudkan. Faktor
keamanan inilah yang sering dijadikan investor asing untuk membatalkan
rencana investasinya di Indonesia. Sedangkan dari dalam negeri, masyarakat
sering kali merasa was-was dengan berbagai gangguan seperti teror bom yang
kerap terjadi.
Persoalan lainnya adalah, upaya menghentikan pertikaian di daerah konflik,
yang secara perlahan memperlihatkan kemajuan. Namun, karena besarnya
masalah yang dihadapi, keberhasilan tugasnya itu sering tidak ditanggapi
serius. Masih banyak pekerjaan besar menunggu untuk segera diselesaikan.
Menghadapi tugas berat, ternyata menjadi bagian sejarah hidup SBY yang
sebelum menjadi menteri sempat diprediksi bakal menjadi orang nomor satu
di lingkungan militer. Ketika Presiden KH Abdurrahman Wahid berkuasa, ia
sempat diberi tugas untuk melobi keluarga mantan Presiden Soeharto. Maksud
langkah persuasif yang dilakukannya itu agar Keluarga Cendana bersedia
memberikan sebagian hartanya kepada rakyat dan bangsa. Khususnya untuk
membawa pulang harta keluarga Soeharto yang diperkirakan masih tersimpan
di luar negeri. Padahal saat itu masyarakat tengah menunggu dengan seksama
hasil peradilan orang kuat Orde Baru tersebut.
Presiden Wahid pada awal tahun 2001 pernah memintanya untuk membentuk
Crisis Centre. Dalam lembaga nonstruktural ini Presiden Wahid meminta
Yudhoyono menjabat sebagai Ketua Harian dan menempatkan pusat informasi
atau kegiatan (operation centre) di kantor Menko Polsoskam. Lembaga baru
ini berfungsi untuk memberikan rekomendasi kepada Presiden Wahid dalam
menjawab berbagai persoalan. Termasuk di antaranya sikap Kepala Negara
dalam merespon pemberian dua memorandum oleh DPR.
Walau berulang kali menerima kepercayaan bukan berarti Yudhoyono ‘lembek’
dalam menghadapi Presiden Wahid. Ketika terdengar kabar Presiden Wahid
ngotot akan menerbitkan dekrit pembubaran DPR, maka, bersama Panglima TNI
Laksamana Widodo A.S. dan jajaran petinggi TNI lainnya menantu mendiang
Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo ini meminta Gus Presiden mengurungkan
niatnya.
Siapa nyana, setelah batal menerbitkan dekrit, Presiden Wahid malah
mengeluarkan maklumat. Di sini pun Yudhoyono lagi-lagi mendapat ujian
karena Kepala Negara menunjuknya sebagai pejabat yang bertanggung jawab
untuk menegakkan keamanan dan ketertiban di Indonesia dalam menghadapi
Sidang Paripurna yang dikhawatirkan banyak pihak bakal menimbulkan konflik
di masyarakat. Tak lama setelah itu, Gus Dur malah melengserkan jabatan
SBY. Dalam Sidang Istimewa MPR, giliran Gus Dur yang diturunkan dari kursi
presiden dan digantikan Megawati. ►ht
== 1
2
3 4
5 ==
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|