| |
C © updated
16052005 - 12092002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ricky-l |
|
| |
Nama:
Letjen TNI (Purn)Dr (HC) H Sutiyoso, SH
Lahir:
Semarang, 6 Desember 1944
Agama:
Islam
Jabatan:
Gubernur DKI Jakarta 1997-2007
Pangkat Militer terakhir:
Letnan Jenderal TNI
Istri:
Setyorini (Menikah 1974)
Anak:
- Yessy Riana Dilliyanti
- Renny Yosnita Ariyanti
Ayah:
Tjitrodihardjo
Ibu:
Sumini
Pendidikan:
- Sekolah Dasar, 1955
- Sekolah Menengah Pertama, 1959
- Sekolah Menengah Atas, 1963
- Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil, Untag Semarang, 1964 (hanya satu
tahun)
- Akademi Militer Nasional, Magelang, 1968
- Kursus Sussarcab, 1969
- Kursus Suslapa Infantri, 1978
- Pendidikan Seskoad, 1984 l Pendidikan Seskogab, 1990
- Kursus Lemhanas, 1994
- Doktor Kehormatan (Honoris Causa) Bidang Ilmu Politik, dari
Universitas Busan, Korea Selatan, tahun 2001
Penugasan Militer:
- Operasi PGRS/Paraku (1969) - Operasi Flamboyan, Timtim (1975)
- Operasi Aceh Merdeka (1978)
Karir:
- Asisten Personel Kopassus, 1988
- Asiten Operasi Kopassus, 1990 l Asisten Operasi Kepala Staf Kostrad,
1991
- Wakil Komandan Jenderal Kopassus, 1992
- Komandan Korem 062 Suryakencana, Bogor, 1993
- Kepala Staf Kodam Jaya, Maret 1994
- Pangdam Jaya, April 1996
- Gubernur DKI Jakarta, 1997-2002
- Gubernur DKI Jakarta, 2002-2007
Penugasan Luar Negeri:
- Ke Republik Korea tahun 1982
- Ke Kerajaan Inggris, menjalani on the job training di Airborne, 1987
- Ke Australia 1989
- Ke Amerika Serikat tahun 1991, menjalani latihan loncat terjun payung
bersama tentara Amerika di Fortbragg
Organisasi Olahraga:
- Ketua Pelaksana Harian Perbakad l Ketua Umum PB PERBAKIN, 1997
s/d 2001
- Pembina Persija Jakarta, hingga saat ini
- Ketua Umum PB PERBASI, sampai 2004
- Ketua Umum Damai Indah Golf
- Ketua Umum Independent Golf
- Ketua Umum PB PBSI, 2004-2008
Organisasi Pemerintah:
- Ketua Asosiasi Pemerintahan Daerah Seluruh Indonesia
Penghargaan:
- GOM VIII/Dharma Pala
- Seroja
- Kesetiaan VIII Tahun
- Penegak G30S PKI
- Kesetiaan XVI Tahun
- Dwija Sistha
- Kesetiaan XXIV Tahun
- Bintang Kep. Nararya
- Satyalancana Mahaputera Utama
- The Award of Honor of The President of Ukraina
- Manggala Karya Kencana
- Satyalancana Wira Karya
- Penghargaan sebagai Danrem Terbaik se-Indonesia,1994
- Penghargaan sebagai “Gubernur Pembuat Berita Terpopuler Indonesia
Tahun 2002”
- Penghargaan “Satu-Satunya Gubernur di Indonesia yang Mengalami Lima
Kali Pergantian Presiden”, dari Museum Rekor Indonesia (MURI), tahun
2004
- Gubernur Paling Kreatif, dari Yayasan Pengembangan Kreativitas (YPK),
2005
Hobby:
Bulutangkis, Tenis, Golf, Menembak, Basketball, dan Sepakbola
Alamat Kantor:
Gedung Balaikota
Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 8-9, Jakarta Pusat
Telp. (021) 345.6058 Pswt. 2200, Faks. 021-384.8653
Alamat Rumah:
Jalan Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat
Telepon (021) 314.4146 Pswt. 2800
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
==
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12 ==
Sutiyoso (02)
Mengasah Mutiara dalam Dirinya
Proses pengasuhan Sutiyoso penuh liku-liku dan paradoksal. Dididik dalam
bingkai disiplin yang keras oleh Sang Ayah dan diasuh dalam balutan
kasih sayang oleh Sang Ibu. Namun, dia malah sering berkelahi di luar
rumah sehingga dianggap bagai pasir dalam sepatu di tengah disiplin
keluarga keluarga yang ketat. Sampai akhirnya, secara sadar dalam proses
perenungan, dia memahami dan memilih jalan hidupnya. Jadilah dia
mengubah debu jadi platina, dan menyepuh pasir jadi mutiara dalam
dirinya.
Laksana seekor anak kerang yang kemasukan pasir dalam tubuhnya yang
lemah, terasa sakit. Namun Sang Ibu (induk) tak bisa berbuat apa-apa
selain mengibur dan membalutnya dengan kasih sayang. Si anak kerang pun
membalut pasir dalam perutnya dengan lendir tubuhnya. Berproses
sedemikian rupa, sehingga jadilah dia anak kerang yang lebih bernilai
dari kerang lainnya. Kerang yang mengubah pasir jadi mutiara.
Analogi anak kerang yang menghasilkan mutiara itu, sungguh sangat baik
menggambarkan kisah hidup Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta (1997-2007),
seorang pemimpin bermental platinum.
Sutiyoso yang lahir 6 Desember 1944 dan menghabiskan masa kecil di
sebuah desa di Semarang, Jawa Tengah, itu hidup di lingkungan keluarga
pendidik (guru). Mereka, saudara kandung, terdiri delapan orang
bersaudara. Dia adalah anak keenam. Ayahnya, Tjitrodihardjo, bekerja
sebagai guru dan menjabat Kepala Sekolah di tempat Sutiyoso kecil
menempuh pendidikan SD.
Sutiyoso sejak kecil dididik secara keras oleh ayahnya. Bahkan
dirasakannya melebihi disiplin militer. Kasih sayang Sang Ayah yang
diterapkan dengan cara mendidik yang disertai hukuman itu sempat
dirasakan terlalu berat untuknya. Sehingga terkadang hatinya terasa
sakit dan memberontak.
Pada usia lima tahun, Sutiyoso kecil sudah dimasukkan SD kelas satu.
Maklum, pada saat itu pendidikan TK belum banyak dikenal. Selain di
sekolah, Sutiyoso juga diajar sendiri oleh ayahnya di rumah. Setiap kali
ia dikasih soal-soal pelajaran, di sebelahnya sudah tersedia penggaris
yang terbuat dari bahan kayu. Untuk setiap jawaban yang salah, Sang Ayah
akan langsung memukul dengan penggaris.
Padahal Sutiyoso ketika belajar di malam hari itu, terkadang sudah out
of control, tak lagi bisa mengendalikan rasa kantuk setelah seharian
banyak bermain terutama sepakbola. Akibatnya, ia seringkali salah
menjawab dan itu berarti akan semakin sering menerima pukulan.
Unjuk Rasa
Hukuman kemudian bertambah, sebab Sutiyoso kecil terkadang ‘unjuk rasa’
saking tak senangnya menerima didikan keras. Sebenarnya, dia tahu apa
jawaban pertanyaan namun sengaja tidak mau menjawabnya. Tapi dia kesal
dan protes dengan cara tak mau jawab. Dia siap menerima risiko, dipukul
dengan penggaris.
Cara mendidik yang keras, membuat kekerasan hatinya pun muncul.
Sekalipun semakin sering dan semakin keras dihukum, Sutiyoso kecil tak
sedikit pun menangis. Dia menguatkan diri menahan rasa sakit. Justru
Sang Ibu, Sumini, yang tak tega melihat anak keenamnya itu dihukum. Sang
Ibu sering kali secara sembunyi-sembunyi mengintip dari kamar manakala
anaknya dihukum dengan penggaris kayu itu.
Hukuman tidak hanya diterima di rumah. Di sekolah, di bawah pohon
sirsak, disaksikan oleh anak-anak yang lain, Sutiyoso kerapkali
memperoleh hukuman dari ayah yang juga gurunya itu.
Kemudian, jika saja ia hanya mampu memperoleh nilai enam ke bawah,
Sutiyoso kecil pun akan dihukum tak boleh makan siang dan dikurung di
kamar. Dikunci sendirian, tanpa diberi makan. Dalam posisi mendapat
hukuman dikurung seperti itu, sentuhan kasih Sang Ibu selalu memberinya
kelegaan, harapan dan kekuatan baru.
Sang Ibu, secara sembunyi-sembunyi, selalu berusaha menyelundupkan
makanan melalui celah bawah pintu. Itupun hanya rempeyek yang bisa
menembus tipisnya celah pintu. Dididik keras yang disertai hukuman,
telah membuat Sang Ibu yang melahirkannya semakin iba dan sangat
mengasihi Sutiyoso. Sang Ibu sesungguhnya juga tahu, bahwa Sang Ayah
juga sangat mengasihi Sutiyoso. Oleh karena itulah Sang Ayah mendidiknya
dengan keras, cara yang berbeda (kontras) dengan Sang Ibu.
Didikan keras, bukan saja dari Sang Ayah. Abang-abangnya pun turut
mendidiknya dengan keras. Komposisi anak keenam dari delapan bersaudara,
itu membuat Sutiyoso malah sempat merasa harus rela diperlakukan
abangnya sedemikian rupa.
Karena tak selalu menurut, Sutiyoso seringkali dimarahi ketiga orang
kakak lelakinya. Sehingga kadangkala dia dimarahi dan menjadi bahan
candaan oleh kakaknya. Saat dimarahi, hati Sutiyoso kecil sering dongkol
dan memberontak. Dia pun melampiaskan pemberontakannya di luar rumah.
Suka Berkelahi di Luar Rumah
Dididikan dengan disiplin keras dari ayah dan kakak-kakaknya, telah
membentuk Sutiyoso menjadi petualang di luar rumah. Ia mencari
kompensasi, pemuasan diri dan pelampiasan kemarahan di luar rumah.
Walau masih anak kecil, murid SD, Sutiyoso sudah suka berkelahi dan
seringkali meninggalkan rumah tanpa pamit. Lalu tidur di rumah teman
atau di mana saja tanpa merasakan ada perbedaan apakah sedang tidur di
rumah teman atau rumah sendiri. Yang penting tidur saja.
Karena tidak ada alat komunikasi, seperti handphone seramai sekarang, ia
pun sering dikira hilang. Lalu dicari ayah-ibu, kakak dan kerabatnya
dari desa satu ke desa lain. Saat dicari ayah dan kakak-kakaknya,
sejenak dia merasakan besarnya kasih sayang keluarganya. Tapi perasaan
itu tidak selalu muncul manakala dia dihukum.
Ketika menanjak remaja (sudah memasuki bangku SMP dan SMA), Sutiyoso
semakin bertualang dan kerap berkelahi. Dia semakin nakal. Namun di
tengah kenakalannya, Sutiyoso berhasil juga menyelesaikan SD di desanya
(1955), SMP di Ibukota Kabupaten (1959) dekat Semarang dan SMA di
Semarang, Ibukota Provinsi Jawa Tengah (1963).Ketika itu, dia kurang
menyadari bahwa untuk meraih prestasi itulah dia dididik dengan keras
oleh Sang Ayah.
Bahkan dia bisa memilih masuk kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Teknik
Sipil Tujuh Belas Agustus (UNTAG), Semarang. Namun ketika itu, dia
merasakan sepertinya dipaksa untuk harus melanjutkan kuliah. Ibunya yang
paling berkehendak Sutiyoso harus kuliah di UNTAG, bukan menjadi
tentara. Sang ibu beralasan traumatis melihat Mas Parto, kakak Sutiyoso
yang menjadi tentara pelajar, dahulu dikuyo-kuyo sama Belanda. Ibunya
mempunyai kesimpulan pendek bahwa menjadi tentara itu berarti pasti
cepat mati.
Karena merasa dipaksa, lalu dalam hati kecil Sutiyoso merencanakan akan
kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK-Undip),
Semarang. Alasannya sederhana, kalau jadi dokter setiap nyuntik orang
akan dapat duit.
Niatnya itu disampaikan kepada kakaknya yang lain yang saat itu sudah
menjabat dekan di Kalimantan. Sang Kakak pun menyambut baik keinginan
Sutiyoso, lalu berkomunikasi dengan Dekan FK-Undip. Sutiyoso pasti akan
bisa diterima di FK-Undip asal ikut ujian. Namun hasilnya menjadi lain.
Sebab saat ujian berlangsung, Sutiyoso malah keluyuran ke mana-mana. Dia
tidak ikut ujian. “Nah, test saja nggak ikut masak mau masuk,” kata
Sutiyoso mengenang.
Akhirnya dia bersedia ujian dan diterima Fakultas Teknik Jurusan Teknik
Sipil Untag. Jurusan ini sesungguhnya kurang disukai Sutiyoso jika
dibandingkan Teknik Arsitektur, yang masih agak menarik baginya. Tapi,
nggak apa-apa, yang penting asal kuliah saja dulu. Sebab kakaknya masih
memberikan jaminan tahun depan asal ikut tes lagi, Sutiyoso pasti bisa
masuk kedokteran.
Jaminan itu sesungguhnya disadari Sutiyoso tidak ada maknanya. Relevansi
kedokteran dengan kuliah yang dijalaninya selama satu tahun penantian
itu tidak ada relevansinya. Antara teknik sipil dengan kedokteran tidak
ada satu pun pelajarannya yang nyambung. Namun, keinginan masuk
kedokteran tahun depan itu mempengaruhi proses belajarnya juga. “Ngapain
aku sungguh-sungguh di sini toh nanti saya tinggalkan,” Sutiyoso
membatin.
Dalam suasana demikian, petualangan, kenakalan dan kegemarannya
berkelahi terus saja berjalan. Maka, selama satu tahun itu penyakit lama
Sutiyoso senang berkelahi tambah berkembang biak. Kenakalan sepertinya
sudah menjadi bagian hidup Sutiyoso.
Saking seringnya berkelahi, jika ditanya, sudah berapa kali berkelahi?
Sutiyoso pun tak lagi bisa menghitungnya. Pokoknya sangat sering. Sebab
jika tidak ada masalah, ia sendirilah yang akan mencari-cari masalah
supaya ada alasan berkelahi. Masalah orang lain pun ia campuri apalagi
masalahnya sendiri pasti akan berujung pada perkelahian. Dipandang orang
lain dengan cara yang tak lazim saja sudah menjadi alasan kuat baginya
mengajak orang itu berkelahi.
Sebagai jago berkelahi, di kalangan teman-teman reputasi Sutiyoso sudah
menjadi tokoh sentral. Di luar arena perkelahian, Sutiyoso juga
menyibukkan diri mengurus drumband dan baris-berbaris di lingkungan
Universitas.
Sutiyoso sebenarnya tak sungguh-sungguh kuliah. Ia hanya pura-pura
kuliah. Kalau pun berangkat dari rumah berpenampilan layaknya seperti
mahasiswa betulan, tak lebih itu dilakukan hanya untuk membuat ibunya
senang.
Tiba Saat Pertobatan
Sampai suatu ketika, saat hendak memasuki kuliah tahun kedua, Sutiyoso
secara sadar dan jujur bertanya kepada dirinya sendiri: “Sutiyoso,
apakah kamu itu bisa jadi sarjana kalau kuliah di kedokteran tahun
depan?” Lalu introspeksi bernada tanya itu dijawab sendiri: “Saya tidak
bisa menjadi sarjana.”
Saat itu dalam perenungannya, Sutiyoso meyakini bahwa Fakultas Teknik
atau Kedokteran bukanlah habitatnya. Ia bisa gagal dalam hidup karena
tidak mencintai bidang dan profesi teknik sipil atau kedokteran. Dia
sangat sadar bahwa jika ingin berhasil kuliah harus tekun, belajar
sungguh-sungguh, biayanya harus cukup, dan segala macam persyaratan. Ia
kembali mengulang gumamannya: “Saya tidak bisa jadi sarjana, itu bukan
habitat saya.”
Walau keluarga dan kakaknya bisa saja menopangnya menjadi sarjana,
tetapi Sutiyoso merasa dirinya hanya cocok menjadi tentara sesuai obsesi
masa kecilnya. Mental dan fisiknya juga sudah terbentuk kuat. Sutiyoso
kecil ke mana-mana selalu jalan kaki membuat fisiknya kuat. Dari kakak
tertuanya, Mas Parto, yang tergabung dalam TRIP (Tentara Republik
Indonesia Pelajar), Sutiyoso sejak kecil sudah terobsesi dengan
kehidupan militer. Mas Parto, itu setiap kali kembali ke Semarang dari
markasnya di Jogyakarta selalu menceritakan petualangan dan pengalaman
tempurnya bergerilya melawan Belanda dan Jepang. Sutiyoso kecil tertarik
menyimak penuturan heroik dari Sang Kakak.
Kesimpulan untuk menjadi tentara akhirnya bulat setelah dipikirkan dua
hari dua malam. Ia membulatkan hati harus banting setir meninggalkan
dunia kampus dan masuk militer. Kebetulan bersamaan waktu sedang dibuka
pendaftaran Akademi Militer Nasional di Magelang, Jawa Tengah.
Sutiyoso lalu menghitung, jika memasuki akademi militer persoalan yang
mungkin timbul paling-paling hanya dari orangtua, terutama Sang Ibu,
yang pasti tak akan setuju dengan alasan trauma dan takut anak
kesayangannya yang bandel itu cepat mati.
Trauma ibu muncul sebab sempat menyaksikan bagaimana di jaman Belanda
dan Jepang tentara pejuang-pejuang Indonesia disiksa. Penyiksaan itu
disaksikan Sang Ibu ketika Sutiyoso masih bayi. Ditambah lagi oleh
kakaknya yang sudah menjadi perwira marinir, sehingga ibunya pasti
memaklumkan cukup satu saja yang menjadi tentara.
Namun karena sudah bertekad bulat, ketika masuk AMN Magelang, Sutiyoso
terpaksa tidak segera memberitahu Ayah-Ibunya. Proses menjalani tes,
mulai dari tingkatan Kodam Diponegoro, lalu di Bandung dan terakhir di
Lembang, semua belum dilaporkan kepada kedua orangtuanya.
Setelah diterima sebagai Prajurit Taruna (Pratar), Sutiyoso bersama
semua Pratar yang lulus bergerak dari Lembang menuju Akmil Magelang,
menaiki kereta api sambil mengenakan pakaian tentara hijau-hijau yang
warnanya mirip pakaian Hansip, serta topi bagong yang melekat di kepala.
Setelah tiba di Magelang, barulah Sutiyoso menyurati orangtua.
Isinya antara lain, berbunyi bahwa dirinya tidak usah dicari-cari ke
mana-mana. Ia sudah di AMN Magelang. Sutiyoso menceritakan pula berat
badannya akan turun sehari-hari ini. Dan dengan sangat, Sutiyoso meminta
agar orangtua jangan mengambilnya dari Magelang.
Permintaan demikian perlu ditegaskan, sebab aturan akademi yang berlaku,
kalau saja orangtua memang tak mau anaknya masuk Akmil, bisa dan berhak
mengambil kembali anaknya kapan saja sewaktu-waktu diinginkan.
Karena itulah Pratar Sutiyoso selalu merasakan kekhawatiran, selama
menjalani pendidikan terutama di basis selama empat bulan pertama.
Jantung Sutiyoso pasti akan berdegub kencang deg-degan manakala
mendengar ada pengumuman di ruang makan. Jangan-jangan bunyi pengumuman
itu adalah panggilan dari orangtua terhadap Sutiyoso yang menyuruh
pulang.
Sutiyoso baru berkesempatan bertemu dengan kedua orangtuanya pada saat
dilantik menjadi Prajurit Taruna. Ayah-Ibunya diundang datang
menyaksikan pelantikan, dan keduanya berkenan hadir. Pada pertemuan
itulah mereka menangis haru. Sang Ayah terlihat bahagia, karena didikan
keras yang diterapkannya telah membuat Sutiyoso kuat dan mandiri.
Karena keras dan beratnya pendidikan, tubuh Sutiyoso sudah berubah
menjadi seperti jelangkung. Pipinya pun sudah tidak jelas seperti apa
bentuknya. Perubahan fisik yang drastis, itu terjadi bukan cuma karena
mengalami pendidikan keras. Batin Sutiyoso sekalian menderita pula
ketika itu. Uniknya derita batin muncul bukan karena kerasnya pendidikan
tetapi karena terjadi perubahan disiplin hidup yang luar biasa sekali.
Kehidupan Sutiyoso sebagai petualang jalanan dahulu, itu harus segera
disesuaikan dengan disiplin militer. Misalnya, sebagai Pratar, Sutiyoso
harus bangun pagi-pagi pada jam-jam tertentu. Ia juga harus menata
sendiri tempat tidurnya padahal sebelumnya tinggal main lempar saja
benda apa pun ke tempat tidur. Sutiyoso seringkali disuruh push up oleh
petugas piket hanya karena tempat tidurnya tidak rapi. Sehingga dia
sering kali memilih lebih baik tidur di kolong tempat tidurnya hanya
agar kasurnya tetap tertata rapi.
Sutiyoso kembali mengalami surprise atau kejutan luar biasa tatkala
sebagai Sersan Taruna, ia cuti lalu pulang ke rumah. Ketika tiba di
rumah, tampak di mata kakak-kakak dan orangtuanya si anak bandel ini
telah berubah total. Ia sudah sangat santun, bersahabat, disiplin, tidak
lagi berkelahi, tak lagi keluyuran dan segala macam.
Sersan Taruna Sutiyoso ini tak lagi berkelahi karena memang disiplin
militer tak mengizinkannya. Sebab jika saja masih mengulangi kebiasaan
nakalnya dulu, bisa-bisa ia dikeluarkan dari Akademi. “Jadi, nggak
berani berkelahi karena itu,” kata Sutiyoso dalam percakapan dengan
wartawan Tokoh Indonesia. Ia tak lagi mau kembali ke kehidupan
perkelahian demi reputasi sebagai Sersan Taruna yang sedang menjalani
pendidikan militer.
Paradigma Platinum
Karena dahulu hidup laksana dalam kubangan lumpur dan polusi debu
kenakalan, dan laksana anak kerang kemasukan pasir dalam tubuhnya,
pengalaman itu pada akhirnya justru menjadi bermanfaat tatkala Sutiyoso
mulai menata hidup lebih teratur sejak perobahan pradigmanya tentang
kehidupan dan masa depannya. Dia tidak sekadar memperbaiki tingkah laku,
melainkan mengubah paradigma menjadi tentara sebagai pilihan membangun
jenjang karier dan kehidupan berikutnya.
Sejak masuk Akmil dan kemudian menjadi Letnan Dua, ia secara sadar
mengatur hidupnya. Karir kemiliteran dikemasnya sedemikian rupa dengan
ukiran etos kerja dan prestasi.
Karir militer Sutiyoso terus meroket bukan karena relasi bukan pula
karena dekat dengan atasan, melainkan karena ia sudah berprinsip harus
hidup berprestasi. Sebuah sikap yang tetap dipertahan-kannya tatkala
dipercaya memimpin Ibukota Negara Republik Indonesia, sebagai Gubernur
Kota Jakarta.
Dalam perjalanan hidup itu, setelah dewasa dan mengabdikan diri dalam
militer, dia melakukan flashback ke belakang. Dulu, Sutiyoso tak
mengerti betul mengapa ayahnya mendidiknya sedemikian keras. Ia hanya
bisa menerka, ayahnya mungkin terobsesi dengan model pendidikan Belanda
yang menekankan disiplin dan pendidikan keras. Lalu harus diterapkan di
keluarga yang berpendidikan dan tergolong terhormat demi untuk menjaga
nama baik keluarga.
Kehidupan keluarga Sutiyoso memang terbilang berkecukupan atau berada di
atas ukuran keluarga lain yang rata-rata miskin pada masa itu. “Jika
diukur dari masa sekarang, ya miskin juga,” kata Sutiyoso merendah.
Ayahnya sendiri berharap hidup Sutiyoso akan lebih sejahtera, dengan
memberi kata akhir dalam namanya “Yoso”, yang artinya memiliki atau
kaya.
Memori-memori masa kecil membuat Sutiyoso awalnya sangat membenci
didikan Sang Ayah. Namun setelah dewasa melakukan flashback ulang ke
belakang, barulah dia dapat memahami, didikan keras disertai hukuman
pukul dari Ayahnya ketika kecil itu telah mengajarinya untuk harus hidup
mandiri dan bertanggung jawab.
Sutiyoso akhirnya menyadari justru dengan didikan dan disiplin keras
dari Sang Ayah itulah ia bisa bertahan dan berprestasi sebagai prajurit
komando selama puluhan tahun, termasuk menjadikannya mampu tampil
sebagai pemimpin militer maupun sipil yang terkemuka dan layak disegani.
“Itulah masa yang sangat unik. Ya, mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran
bagi anak-anak kita,” kata Sutiyoso. Bahwa seorang yang bandel tapi
kalau mau mengerti dirinya dan mengubah hidupnya, bisa menjadi orang
yang berhasil dan berprestasi. Bak kata orang bijak, mengubah pasir
menjadi mutiara. Sutiyoso pun mengukir perjalanan hidupnya dari polusi
debu yang beterbangan menjadi platina yang kuat dan teguh. Yang lama
telah berlalu dan yang baru sesungguhnya sudah tiba, menjadi platinum. ►ti/sh-ht-crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|