| |
C © updated
16052005 - 12092002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ricky-l |
|
| |
Nama:
Letjen TNI (Purn)Dr (HC) H Sutiyoso, SH
Lahir:
Semarang, 6 Desember 1944
Agama:
Islam
Jabatan:
Gubernur DKI Jakarta 1997-2007
Pangkat Militer terakhir:
Letnan Jenderal TNI
Istri:
Setyorini (Menikah 1974)
Anak:
- Yessy Riana Dilliyanti
- Renny Yosnita Ariyanti
Ayah:
Tjitrodihardjo
Ibu:
Sumini
Pendidikan:
- Sekolah Dasar, 1955
- Sekolah Menengah Pertama, 1959
- Sekolah Menengah Atas, 1963
- Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil, Untag Semarang, 1964 (hanya satu
tahun)
- Akademi Militer Nasional, Magelang, 1968
- Kursus Sussarcab, 1969
- Kursus Suslapa Infantri, 1978
- Pendidikan Seskoad, 1984 l Pendidikan Seskogab, 1990
- Kursus Lemhanas, 1994
- Doktor Kehormatan (Honoris Causa) Bidang Ilmu Politik, dari
Universitas Busan, Korea Selatan, tahun 2001
Penugasan Militer:
- Operasi PGRS/Paraku (1969) - Operasi Flamboyan, Timtim (1975)
- Operasi Aceh Merdeka (1978)
Karir:
- Asisten Personel Kopassus, 1988
- Asiten Operasi Kopassus, 1990 l Asisten Operasi Kepala Staf Kostrad,
1991
- Wakil Komandan Jenderal Kopassus, 1992
- Komandan Korem 062 Suryakencana, Bogor, 1993
- Kepala Staf Kodam Jaya, Maret 1994
- Pangdam Jaya, April 1996
- Gubernur DKI Jakarta, 1997-2002
- Gubernur DKI Jakarta, 2002-2007
Penugasan Luar Negeri:
- Ke Republik Korea tahun 1982
- Ke Kerajaan Inggris, menjalani on the job training di Airborne, 1987
- Ke Australia 1989
- Ke Amerika Serikat tahun 1991, menjalani latihan loncat terjun payung
bersama tentara Amerika di Fortbragg
Organisasi Olahraga:
- Ketua Pelaksana Harian Perbakad l Ketua Umum PB PERBAKIN, 1997
s/d 2001
- Pembina Persija Jakarta, hingga saat ini
- Ketua Umum PB PERBASI, sampai 2004
- Ketua Umum Damai Indah Golf
- Ketua Umum Independent Golf
- Ketua Umum PB PBSI, 2004-2008
Organisasi Pemerintah:
- Ketua Asosiasi Pemerintahan Daerah Seluruh Indonesia
Penghargaan:
- GOM VIII/Dharma Pala
- Seroja
- Kesetiaan VIII Tahun
- Penegak G30S PKI
- Kesetiaan XVI Tahun
- Dwija Sistha
- Kesetiaan XXIV Tahun
- Bintang Kep. Nararya
- Satyalancana Mahaputera Utama
- The Award of Honor of The President of Ukraina
- Manggala Karya Kencana
- Satyalancana Wira Karya
- Penghargaan sebagai Danrem Terbaik se-Indonesia,1994
- Penghargaan sebagai “Gubernur Pembuat Berita Terpopuler Indonesia
Tahun 2002”
- Penghargaan “Satu-Satunya Gubernur di Indonesia yang Mengalami Lima
Kali Pergantian Presiden”, dari Museum Rekor Indonesia (MURI), tahun
2004
- Gubernur Paling Kreatif, dari Yayasan Pengembangan Kreativitas (YPK),
2005
Hobby:
Bulutangkis, Tenis, Golf, Menembak, Basketball, dan Sepakbola
Alamat Kantor:
Gedung Balaikota
Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 8-9, Jakarta Pusat
Telp. (021) 345.6058 Pswt. 2200, Faks. 021-384.8653
Alamat Rumah:
Jalan Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat
Telepon (021) 314.4146 Pswt. 2800
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
==
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12 ==
Sutiyoso
Pemimpin Bermental Platinum
Gubernur DKI Jakarta (1997-2007) yang berlatar militer dengan pangkat
Letnan Jenderal (purn), ini akrab disapa Bang Yos. Dia salah seorang
putera bangsa yang berintegritas sebagai pemimpin bangsa. Seorang
pemimpin berkepribadian dan berprinsip kuat. Mantan Pangdam Jaya ini
sangat layak digelari sebagai sosok pemimpin bermental platinum.
Sejak masa kecil, pria kelahiran Semarang, 6 Desember 1944, ini memang
sudah ditempa dalam proses pengasuhan berdisiplin keras. Sampai-sampai
anak keenam dari delapan bersaudara, ini sempat memberontak dan salah
memahami didikan keras Sang Ayah Tjitrodihardjo dan kakak-kakaknya yang
kemudian dilampiaskannya di luar rumah menjadi anak nakal dan sering
berkelahi.
Sampai suatu saat, dibimbing dan diinspirasi kasih sayang ibunya,
Sumini, dia pun merenung dan memahami tujuan baik dari ayah dan
kakaknya. Kesadaran dan pemahaman itu membuatnya mampu mengubah perilaku
dan paradigma arah jalan hidup, ibarat dari tanah liat menjadi emas
murni atau butiran pasir menjadi mutiara berharga.
Lukisan perjalanan hidup suami dari Setyorini dan ayah dua puteri (Yessy
Riana Dilliyanti dan Renny Yosnita Ariyanti), ini sungguh sebuah
fenomena proses pengasuhan anak manusia yang penuh misteri dan
paradoksal. Dilukis dan disepuh dalam bingkai disiplin keras dan kasih
sayang. Dia ibarat anak kerang yang kemasukan pasir dalam tubuhnya yang
lembek, kemudian membalutnya dengan lendir tubuhnya sehingga menjadi
mutiara. (Selanjutnya baca artikel: Menyepuh Mutiara dalam Dirinya).
Dari sudut pandang paedagogie, mendidik dengan cara kekerasan tentulah
bukan cara yang terbaik, bahkan merupakan cara yang sangat tidak baik.
Adalah jauh lebih baik mendidik dengan pendekatan kasih sayang. Namun
pengasuhan dan pembelajaran dengan kasih sayang tanpa penegakan disiplin
secara tegas juga bukanlah cara mendidik yang baik. Demikianlah misteri
paradoksal kehidupan itu sendiri berlangsung. Misteri yang terlukis
sangat kontras dan sempurna dalam perjalanan hidup Bang Yos.
Jadilah, Bang Yos menjadi seorang pemimpin yang berani mengambil
keputusan yang ‘pahit’ dan tak populis bahkan ditentang sebagian
khalayak, tapi diyakininya benar dan strategis sebagai ‘obat’ terbaik
untuk mengatasi suatu masalah atau mencapai suatu tujuan. Beberapa
kebijakannya semula terasa ‘pahit’ sehingga mengundang banyak protes,
tapi kemudian terbukti menjadi solusi (obat) mengatasi suatu masalah.
Visi dan kebijakan Doktor (Honoris Causa) Bidang Ilmu Politik, dari
Universitas Busan, Korea Selatan (2001), ini sepertinya terasa sulit
dipahami dan diterima pada awalnya jika tidak memahami tujuan baik masa
depan yang diusungnya.
Seperti, kebijakannya tentang masalah transportasi, di antaranya
penggunaan badan jalan untuk busway yang semula dianggap justru
menimbulkan kemacetan baru. menebangi pepohonan untuk monorel serta
rencana pemberlakuan usia kendaraan. (Selengkapnya baca: Revolusi
Transportasi Jakarta).
Begitu pula penertiban (yang populer disebut penggusuran) rumah penduduk
di bantaran kali dan di beberapa tempat (Selengkapnya baca Wawancara
Bang Yos Menjawab); perubahan badan hukum beberapa rumah sakit menjadi
perseroan (Selengkapnya baca: Peduli Kesehatan dan Warga Miskin); serta
peraturan tentang bebas rokok dan polusi udara (Selengkapnya baca:
Progran Langit Biru); pemberian izin hypermarket dan pembongkaran pasar
dan lain-lain.
Dalam mengambil keputusan dan menjalankan program yang diyakininya
benar, adil (sesuai aturan hukum) dan bermanfaat untuk kepentingan umum,
Bang Yos siap, berani dan sabar menghadapi berbagai tantangan bahkan
caci-maki. Baginya, kepentingan warga dan bangsa yang lebih besar harus
diutamakan daripada kepentingan sesaat yang hanya menguntungkan sedikit
kelompok secara semu.
Keberanian seperti itu, hanya mungkin dimiliki seorang pemimpin yang
cerdas, berkepribadian, berprinsip dan bermental kuat serta siap bekerja
keras. Apalagi, Bang Yos memimpin Jakarta dalam dua era kebebasan yang
berbeda. Di bawah kendali lima presiden dengan gaya kepemimpinan
berbeda, tentu memerlukan kecerdasan, integritas, kapasitas dan kekuatan
mental tersendiri. (Selengkapnya baca: Pemimpin Harus Siap Dipimpin).
Pertama kali diangkat (1997) pada era era kebebasan yang sangat dibatasi
secara ketat terkendali di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.
Kemudian diawali kerusuhan Mei 1998, bergulir cepat memasuki era
reformasi dengan kebebasan yang kadang kala melampaui koridor kebebasan
itu sendiri, di bawah kepemimpinan empat presiden berikutnya (BJ
Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang
Yudhoyono) dengan gaya kepemimpinan berbeda pula.
Pada era reformasi dengan kebebasan yang bahkan sempat terbilang paling
terbebas di dunia itu, Bang Yos, di tengah krisis ekonomi dan arus
(reformasi) kebebasan yang sedemikian rupa, berani menjalankan kebijakan
yang tidak populis. Dia bukanlah tipe pemimpin yang safety player.
Walaupun itu dengan risiko sangat sering didemo oleh mahasiswa dan warga
sendiri. Dikiritik tajam oleh para pengamat. Bahkan dia dianggap keras
kepala dan keras hati.
Sungguh, dari sudut pandang positif, dia memang seorang yang keras
kepala dan keras hati untuk suatu tujuan yang diyakininya baik (secara
rasional dan nurani) bagi masa depan warga Jakarta dan bangsanya. Dia
bersikukuh menjalankan berbagai kebijakan dan tindakan sebab telah lebih
dahulu mempersiapkan dan mempertimbangkannya secara cermat. Untuk itu,
dia pun harus siap bekerja keras, membangunkan para stafnya setiap saat
bila diperlukan dalam 24 jam setiap harinya.
Bahkan sebagai seorang pemimpin yang digembleng dalam pendidikan dan
karir militer, tampaknya alumni Akademi Militer Nasional Magelang
(1968), Seskoad (1984), Seskogab (1990) dan Lemhanas (1994), ini pun
siap menghadapi kemungkinan risiko terburuk dari setiap kebijakan dan
tindakannya. Namun, keyakinan dan keberaniannya justru berbuah manis,
hal mana dia terpilih kembali secara demokratis untuk periode kedua
(2002-2007) memimpin kota metropolitan Jakarta.
Pada periode pertama (1997-2002) dia dihadapkan pada situasi sulit untuk
mengatasi krisis ekonomi, kerusuhan massal, ketidaktertiban dan
ketidakamanan yang memuncak, serta kebebasan bersuara yang kadang kala
kebablasan. Dia pun berhasil memulihkan dan merehabilitasi kehidupan
Jakarta, walau diwarnai berbagai rintangan, protes dan demonstrasi.
(Baca: Gubernur di Masa Sulit).
Saat baru ditunjuk menjadi Gubernur DKI Jakarta (1997) tidaklah mudah
bagi Sutiyoso untuk harus pensiun sebelum waktunya. Sebab dia
sesungguhnya masih lebih berkeinginnan melanjutkan karir militernya.
Namun sebagai prajurit pejuang, dia berprinsip harus menjalankan tugas
sebagai Gubernur dengan sepenuh hati dan kemampuannya.
Perilaku kepemimpinan yang dahulu struktur komando, disesuaikannya.
Sebagai perwira militer, dia mengerti betul ada hal-hal yang baik dan
positif dari tradisi kemiliteran yang bisa diadopsi dan diterapkan di
lingkungan sipil. Sebagai pelayan masyarakat, Bang Yos berprinsip
pegawainya harus siap melayani warga 24 jam sehari.
Memasuki periode kedua, peraih Satyalencana Wira Karya dan Manggala
Karya Kencana serta The Award of Honor of The President of Ukraina, ini
bergerak mengakselerasi pembangunan Jakarta, terutama mengatasi berbagai
masalah krusial yang sudah bertahun-tahun sulit diatasi, seperti
transportasi umum dan kemacetan lalulintas, kependudukan dan pemukiman
liar, banjir, sampah dan polusi yang makin naik di atas ambang batas.
Beberapa kebijakannya untuk mengatasi hal-hal di atas, sangat
spektakuler dan kontroversial bahkan pantas disebut sebagai revolusioner
atau reformasi total.
Satu di antaranya, Pola Transportasi Makro (PTM) Jakarta atau Jakarta
Macro Transportation Scheme (JMaTS), yang diawali dengan pengoperasian
busway TransJakarta (Tije) sebagai titik start atau embrio reformasi
total (revolusi) angkutan umum ibukota Jakarta yang lebih nyaman, layak
dan manusiawi.
Program PTM Jakarta itu mengintegrasikan empat sistem transportasi umum,
yakni bus priority (antara lain busway), Light Rail Transit (LRT), Mass
Rapid Transit (MRT) dan Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP).
Dengan PTM yang memanfaatkan tiga basis transportasi yaitu jalan, rel
dan air, ditambah kebijakan traffic restraints (pembatasan lalu lintas),
diharapkan kemacetan Jakarta sudah mulai teratasi pada 2007 atau paling
lambat 2010.
Program dan kebijakan ini mendapat protes dan tantangan cukup keras.
Namun, tampaknya, Bang Yos sangat sadar bahwa seorang nabi pun tak luput
dari protes dan caci-maki orang-orang di sekitarnya. Apalagi dia dan
para stafnya hanya manusia biasa yang tidak luput dari kelemahan dan
kesalahan. Kesadaran demikian ini tampaknya membuat dia makin kuat,
sekuat platina (platinum, yang juga sering kali digunakan sebagai simbol
penghargaan tertinggi di atas perunggu, perak dan emas).
Kendati Bang Yos sendiri tak bermaksud supaya diberi penghargaan
platinum atau digelari menjadi pahlawan pembangunan Jakarta, atau
setidaknya menyamai track record Ali Sadikin, namun demikianlah layaknya
kepantasan seorang pemimpin yang berjiwa pahlawan yang dibutuhkan setiap
bangsa. Pemimpin yang mampu dan berani mengatasi masalah sesuai dengan
tuntutan zamannya.
Sementara orientasi politik Sutiyoso belumlah dapat terbaca, khususnya
apabila diposisikan menjelang 2009. Maklum masa kepemimpinannya sebagai
Gubernur yang menuntutnya harus bertindak netral, itu masih berlangsung
hingga 2007. Namun sebagai pemimpin yang berhasil membangun kepercayaan
rakyat pastilah namanya akan sangat ‘layak jual’ meraih massa pemilih. ►ti/ch
robin simanullang
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|