| |
C © updated
13102003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
|
|
| |
Nama:
Drs. Theo L Sambuaga
Lahir:
Manado, 6 Juni 1949
Agama:
Kristen Protestan
Isteri:
Dra. Erna Soedaryati Soekardi
Anak:
Eddy Khrisna Patria Sambuaga, MSc
Jerry Adithya Ksatria Sambuaga
Pendidikan:
Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Indonesia (1978)
School of Advanced International Studies (SAIS), John Hopkins University,
Washington DC, AS (1989)
Lemhanas KSA IV (1994)
Pengalaman Organisasi:
Ketua Umum Ikatan Siswa SMAN I Manado
Pimpinan Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) di Sulawesi Utara (1967)
Wakil Ketua Umum Dewan Mahasiswa (Dema) Universitas Indonesia (1973-1974)
Pimpinan Pusat GMNI (1970-1976)
Sekretaris Jenderal DPP KNPI (1981-1984)
Ketua DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia AMPI (1984-1989)
Anggota Dewan Penasehat Asian Youth Council (AYC) (1987-1992)
Ketua Kelompok Kerja (POKJA) Departemen Hubungan Luar Negeri dan
Cendekiawan (1984-1993)
Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar (1993-1998)
Ketua DPP Partai Golkar (1998 – sekarang)
Ketua Pengurus Pusat Badan Informasi Komunikasi (BIK) Partai Golkar (hingga
sekarang)
Pengalaman Kerja:
Anggota DPR/MPR-RI mewakili Golongan Pemuda (1982)
Anggota DPR/MPR-RI Fraksi Karya Pembangunan dari Jawa Timur (1987-1997)
Anggota DPR/MPR-RI Fraksi Karya Pembangunan dari Sulawesi Utara
(1997-1998)
Wakil Ketua Badan Kerjasama Antarparlemen (BKSAP) (1987-1990)
Wakil Ketua Komisi I DPR-RI (1990-1994)
Ketua BKSAP (1994-1997)
Ketua Fraksi Karya Pembangunan (FKP DPR-RI) (1997)
Menteri Tenaga Kerja pada Kabinet Pembangunan VII (1998)
Menteri Negara Perumahan dan Pemukiman pada Kabinet Reformasi Pembangunan
(1998-1999)
Ketua Panitia Ad Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR-RI
Ketua Komisi A Sidang Umum MPR-RI 1999 yang menghasilkan GBHN 1999-2004
Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) MPR (1999 – hingga sekarang)
Ketua Working Committee AIPO ke-17 di Bali (1997)
Ketua Delegasi DPR-RI ke Konferensi Parlemen tentang Pariwisata di The
Hague, Belanda (1989)
Ketua Delegasi DPR-RI ke Konferensi IPU di Kopenhagen, Denmark (1994),
Madrid, Spanyol (1995), Bucharest, Rumania (1995), Istambul, Turki (1996),
Beijing, RRC (1996), Seoul, Korea (1997), Kairo, Mesir (1997)
Ketua Delegasi DPR-RI ke Sidang Umum Asia Pasific Parliamentary Forum (APPF)
V di Vancouver, Canada (1997)
|
|
| |
|
|
|
|
==
1 2
3 4 ==
Wawancara Theo L Sambuaga (2)
Langkah Konkrit Memberantas Korupsi
Pertama, aparatur pemerintahan harus berdasarkan sistem good
governance. Kedua, civil society harus kuat. Sektor negara seperti
pemerintah, MA, BPK dan sektor masyarakat seperti pers, mahasiswa, LSM,
Parpol harus diberdayakan. Semuanya ini harus kuat tidak hanya di Pemilu
saja tetapi setelah Pemilu terus diperkuat sehingga sektor masyarakat
ini menjalankan fungsi kontrolnya sebagaimana mestinya, sementara sektor
negara bekerja secara terbuka, akuntabel dan transparan.
Ketua DPP Partai Golkar The L. Sambuaga dalam percakapan dengan
Marjuka, Atur Lorielcide dan Ch Robin Simanullang dari TokohIndonesia
DotCom, Jumat 10 Oktober 2003 di Jakarta, juga menampik keraguan
beberapa pihak atas komitmen Partai Golkar jika nanti tampil sebagai
pemenang Pemilu, untuk melakukan koreksi tehadap kesalahan-kesalahan
orde baru. Menurutnya, mengenai koreksi itu sudah merupakan komitmen
dari Golkar. Sekarang saja Golkar sudah mengoreksi dirinya. Golkar jelas
punya komitmen pro reformasi, dan kita sudah melaksanakan reformasi,
demokratis termasuk dalam diri sendiri. Jadi mengenai itu tidak perlu
diragukan lagi.
Ia juga berbicara tentang perbedaan Golongan Karya dengan Partai
Golkar dan tuduhan kepada Golkar mencuri start kampanye. Juga tentang
ekses reformasi, dan posisi Indonesia sekarang di forum internasional
khususnya ASEAN.
Selain itu, ia juga bicara tentang potensi kemajemukan bangsa ini.
Indonesia adalah bangsa yang majemuk, yang terdiri dari berbagai suku,
agama, dan latar belakang. Marilah kita belajar hidup bersama, tidak
perlu dijadikan satu atau seragam, biarlah kita tumbuh berdasarkan latar
belakang sosialnya, etniknya, pemikirannya. Tetapi yang penting kita
mempunyai komitmen, satu tujuan membangun bangsa ini secara keseluruhan.
Berikut ini, simak petikannya:
Bila dirunut dari perjalanan organisasi, mulai dari Pramuka, OSIS,
GSNI, GMNI hingga Golkar, Anda dibesarkan dalam budaya kemajemukan.
Saya lahir dari keluarga etnis Minahasa, yang beragama Kristen tetapi
begitu saya berkenalan dengan organisasi, saya memilih organisasi yang
menampung kemajemukan. Karena saya ingin melihat dan bergaul dengan
orang yang berbeda latar belakang dengan saya. Karena itulah saya
beruntung bergabung di Pramuka. Karena itu, prinsip-prinsip kebangsaan
itu tertanam mulai dari Pramuka, GSNI, GMNI, sehingga ketika saya dewasa
saya menganggap kemajemukan atau pluralisasi adalah suatu anugerah,
berkat dari Tuhan.
Maka kemajemukan harus kita hargai dan kita manfaatkan menjadi suatu
potensi, suatu kekuatan. Oleh karena itu perlunya suatu kebersamaan,
kita memadukan hal-hal yang baik dari semua unsur-unsur kemajemukan itu
menjadi suatu kekuatan. Kemajemukan ini termasuk perbedaan, mendorong
untuk menjadi lebih kreatif.
Menurut Anda kemajemukan adalah kekuatan. Prinsip-prinsip apa yang
harus dipahami dalam pengembangan kemajemukan itu dalam tingkah laku
seseorang?
Dari segi budaya dan sosial kita ini bangsa yang majemuk dalam
pengertian ada berbagai suku, agama, dan latar belakang. Marilah kita
belajar hidup bersama, tidak perlu dijadikan satu atau seragam, biarlah
kita tumbuh berdasarkan latar belakang sosialnya, etniknya, pemikirannya.
Tetapi yang penting kita mempunyai komitmen, satu tujuan membangun
bangsa ini secara keseluruhan. Melindungi segenap bangsa ini tanpa
membeda-bedakan asal-usul atau latar belakang agamanya, sukunya.
Membangun seluruh tumpah darah Indonesia tanpa membedak-bedakan apakah
dia di Lhoksemawe atau di Manado. Biarlah kita tumbuh dengan identitas,
latar belakang, kulturnya masing-masing dan berkompentisilah secara
sehat.
Oleh karena itu, perlakuan kita terhadap masyarakat bukan dilihat
karena sukunya, agamanya, atau keturunannya, tetapi dilihat sebagai
bangsa Indonesia, masyarakat yang harus ktia sejahterakan. Tidak ada
yang dianakemaskan, tidak ada yang dianaktirikan.
Hukum kita harus hukum nasional yang berlaku sama untuk semua warga
negara. Tiap warga negara mempunyai kewajiban dan hak yang sama.
Kesempatan juga begitu. Setiap warga negara mempunyai kesempatan yang
sama untuk maju dan berkembang, untuk berpartisipasi dalam pemerintahan
tidak dibeda-bedakan entah menjadi presiden, menteri, apa saja.
Seseorang bukan dilihat dari suku atau agamanya, tetapi dilihat dari
kemampuan, komitmen dan idealisme membangun bangsa. Kita harus belajar
hidup bersama dalam perbedaan bukan mematikan perbedaan. Bila orang
Minang sudah dari sananya seperti itu, jangan kita memaksa dia menjadi
sama seperti kita.
Dari pengalaman bangsa ini setelah 58 tahun merdeka, bagaimana Anda
melihat, pemahaman kemajemukan dalam praktek kehidupan berbangsa dan
bermasyarakat?
Saya kira main line-nya itu tetap, orang masih hormat menghormati.
Cuma yang terjadi seperti konflik Poso, Ambon orang lihat di sana
konflik antaragama. Betul terjadi konflik horizontal tapi itu dipicu
oleh provokator. Sebenarnya rakyat di Ambon sejak ratusan tahun lalu
hidup rukun bertetangga beda agama, beda suku. Tapi kemudian mungkin
solidaritas nasionalnya jadi menurun karena mungkin hidup semakin susah,
orang berlomba-lomba mencari nafkah untuk memenuhi kehidupannya yang
sulit. Kemungkinan terjadi persinggungan bisnis, lalu masuk provokator.
Itulah yang mengakibatkan. Syukurlah sekarang berhasil diatasi dan sudah
mulai rukun lagi. Kita senang soal itu.
Kalau ditanya dalam kehidupan politik, kita pada dasarnya, rakyat
kuat pemikiran kebangsaannya, tetapi yang terjadi kadang-kadang itu
dimanipulasi oleh orang-orang yang tidak mendapat tempat dengan
kompetisi yang sehat. Kalau berkompetisi secara sehat dalam kehidupan
politik mungkin tidak mendapatkan tempat kemudian dia memainkan isu-isu
suku, agama secara terselubung.
Sekarang kita masuk ke era yang terbuka dimana orang-orang seperti
tadi akan makin tersingkirkan, yang memainkan emosi rakyat, yang
memainkan jurnalisme sempit, untuk kepentingan dirinya akan makin
tersisih. Semakin terbuka kita, semakin demokratis kita pemikiran sempit
seperti itu akan semakin kurang mendapat tempat.
Barangkali desadaran kemajemukan di elit politik, justeru yang paling
perlu diasah lebih dulu?
Kesadaran itu ada tapi yang penting wawasan kebangsaan terus
ditingkatkan dan jangan tergoda untuk kepentingan sempit. Kadang-kadang
tergoda untuk kepentingan sempit yaitu kekuasaan pribadi, sehingga
memainkan isu-isu suku, agama dan kelompok.
Bagaimana pandangan Anda tentang era reformasi sekarang ini?
Selama orde baru tekad kita membangun adalah melaksanakan Pancasila
secara murni dan konsekuen. Idenya baik, membangun itu supaya rakyat
jangan terlalu konsentrasi ke politik. Tentang pembangunan ekonomi,
banyak hal-hal positif yang menjadi hasil orde baru.
Tapi kita juga mengetahui bahwa ada hal-hal yang tidak benar, tidak
tepat, inilah yang perlu kita luruskan. Seperti kita ketahui selama orba
di samping keberhasilan, kemajuan khususnya di bidang perekonomian,
bahan-bahan pokok tercukupkan, muncul persoalan yaitu masalah keadilan,
besarnya gap antara yang kaya dengan yang miskin, korupsi, kemudian
sentralisasi yang berlebihan, sentralisasi dalam arti bukan saja antara
daerah dengan pusat tetapi juga antar sektoral, sehingga terjadi
kecemburuan. Tetapi semua itu dapat diredam dengan suatu manajemen
politik yang ketat dan tertutup.
Sehingga dalam reformasi ini beberapa hal yang salah dan kurang tepat
itu perlu dikoreksi. Kita sekarang bergerak ke arah demokratisasi,
desentralisasi, menghormati dan menjunjung tinggi HAM, dan penegakan
hukum.
Walaupun saya sendiri melihat bahwa banyak keluhan terhadap reformasi
sekarang ini. Terjadi euforia yang berlebihan sehingga ada yang
mengatakan demokrasi sudah terlalu liberal. Tetapi saya kira itu bagian
dari perjalanan kita. Saya sendiri tidak pesimis, ke depan kita akan
lebih baik. Yang penting menurut saya adalah dasar kehidupan berpolitik
yang demokratis sudah pada tempatnya. Kita sudah mempunyai sistem
multipartai yang saya kira sejalan dengan kondisi kemasyarakatan kita
yang sangat majemuk. Kita memang hidup dalam masyarakat yang sangat
majemuk, jadi sistem multipartai itu cocok dan sejalan dengan kenyataan.
Yang penting sekarang ini bagaimana Parpol yang dibentuk itu
betul-betul dapat ditumbuhkan dan dikembangkan menjadi Parpol yang baik
dan bertanggung jawab, membangun dan mempersiapkan kader-kadernya yang
berintegritas, berkemampuan, serta memelihara etika politik.
Hal ini yang masih merupakan perjuangan panjang, tetapi kita harus
tetap optimis dan tidak boleh mundur. Kita harus maju terus. Kita
sekarang ‘on the right track’, tinggal bagaimana kita meminimalkan
berbagai ekses-ekses yang tidak perlu. Memang terjadi ekses-ekses yang
berlebihan tetapi saya secara prinsipil mendukung kebebasan pers yang
sekarang kita nikmati. Itu suatu pilar yang penting dalam kehidupan
politik. Demokrasi yaitu sistem multipartai, Pemilu yang bebas
demokratis, kebebasan pers, dan penegakan hukum.
Inilah yang harus kita tegakkan. Banyak kekurangan-kekurangan tetapi
kita harus terus mengembangkan dan membangun kehidupan demokrasi itu.
Jadi menurut saya, dalam era reformasi ini, kita tidak boleh terlalu
mengeluh. Misalkan tentang otonomi daerah. Ada keluhan dimana kepala
daerah menjadi raja-raja kecil, daerah menjadi tidak terkontrol, itulah
yang harus kita perbaiki, karena itu adalah ekses.
Begitu juga dengan demokrasi, dimana lahir sampai ratusan partai,
nanti rakyat yang menyeleksi, kalau ada 200 Parpol tapi yang memenuhi
syarat ke Pemilu mungkin jauh dari situ, karena kemudian rakyat yang
menyaring, dan katakanlah 40 atau 30 yang ikut Pemilu, mungkin hanya 20
atau 10 yang memperoleh kursi di DPR. Hal itu tidak apa-apa, itulah
proses demokrasi.
Ada beberapa hal yang perlu dalam membangun demokrasi yaitu: Pertama,
menaati etika politik yang menjadi landasan bersama, tanggung jawab
moral kita bersama untuk juga menjadi bingkai atau pagar. Kedua, masalah
korupsi. Kita harus betul-betul menghilangkan money politik karena ini
termasuk bagian dari korupsi. Mengenai ini kita tidak ada pilihan lain,
kita harus betul-betul memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya dan
korupsi itu terjadi pada masa orba dan sekarang juga terjadi. Ini memang
suatu tantangan terutama bagi Parpol, pimpinan Parpol, politisi. Korupsi
harus diberantas karena korupsi tidak hanya di pemerintahan tetapi juga
di parlemen dan masyarakat.
Ketiga, penegakan hukum. Korupsi itu ada yang dapat secara jelas dan
transparan terlihat oleh hukum dan ada yang saking halusnya sehingga
tidak terlihat tapi orang bisa rasakan, tetapi tidak bisa dibuktikan.
Oleh karena itu yang paling penting adalah semua harus bersinergi dalam
penegakan hukum, hukum yang benar-benar preventif dan representatif
dapat mencegah korupsi.
Budaya anti korupsi harus tumbuh berkembang di semua lini, terutama
di kalangan masyarakat sehingga orang yang korupsi bukan saja kena hukum,
terancam hukuman kemudian dihukum, tetapi juga kena sanksi sosial
masyarakat. Masyarakat kemudian mencibirkan dan meminggirkan orang yang
korupsi. Jadi ada sangsi sosial untuk mencegah dan mendukung usaha
membangun suatu aparatur pemerintah yang berwatak good governance.
Akibat dari korupsi bisa dilihat dari bocornya keuangan negara,
masyarakat jor-joran dan hidup konsumtif yang berlebihan, tetapi orang
lain hidup susah dan terpinggirkan, orang mendewakan materi. Sendi-sendi
kehidupan sosial kita rusak, solidaritas nasional menurun, orang tidak
merasa senasib sepenanggungan, tidak merasa sebangsa setanah air, karena
ekses-ekses akibat dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Padahal
kalau kita bisa mengurangi atau memberantas korupsi, uang yang hilang
itu bisa digunakan unuk kepentingan pendidikan, kesehatan, membangun
infrastruktur, dan sebagainya.
Korupsi juga mengakibatkan kita tidak efisien dalam melaksanakan
kegiatan-kegiatan termasuk kegiatan perekonomian, akibatnya daya saing
kita tidak ada, produktifitas menurun, dalam segala hal kita tidak bisa
diandalkan.
Kemarin saya membaca bahwa kita berada pada urutan keenam negara
terkorup dari 133 negara. Barangkali tidak seluruhnya benar, tetapi
pasti ada benarnya. Kita harus punya satu sistem yang komprehensif dan
mudah-mudahan sekarang kita sudah membuat Komite Anti Korupsi, hukum
dapat benar-benar ditegakkan.
Langkah-langkah konkrit apa yang dilakukan seorang pemimpin negara
ini untuk bisa mengakhiri korupsi?
Pertama, aparatur pemerintahan berdasarkan sistem good governance.
Kedua, civil society harus kuat. Sektor negara seperti pemerintah, MA,
BPK dan sektor masyarakat seperti pers, mahasiswa, LSM, Parpol harus
diberdayakan,. Semuanya ini harus kuat tidak hanya di Pemilu saja tetapi
setelah Pemilu terus diperkuat sehingga sektor masyarakat ini
menjalankan fungsi kontrolnya sebagaimana mestinya, sementara sektor
negara bekerja secara terbuka, akuntabel dan transparan.
Sektor masyarakat diperlukan supaya ada yang terus berteriak sebagai
mekanisme kontrol. Masyarakat juga yang akan menilai apakah yang
diteriaki itu benar atau tidak. Bila teriakannya tidak benar, pasti
tidak efektif. Tetapi kalau benar, pasti akan laku dan membuat tersentak
orang yang berada di sektor negara, diingatkan untuk koreksi diri.
Mungkin tidak diakui tapi diam-diam dia mengoreksi diri, itu sudah bagus.
Jadi biarlah sektor masyarakat itu tetap teriak, meskipun bising tapi
tidak apa-apa, karena fungsinya yaitu mengontrol.
Ketiga, penegakan hukum baik secara preventif maupun represif tanpa
pandang bulu. Keempat, perbaikan sistem. Sistem peradilan yang terbuka.
Hakimnya berintegritas, para penegak hukum berintegritas termasuk aparat
pemerintahan.
Kemampuan profesional terus ditingkatkan, disiplin dan
komitmen untuk berjuang demi kepentingan bangsa. Dan juga yang sangat
penting adalah hidup yang layak. Gaji dan tunjangan harus betul-betul
layak sehingga tidak perlu lagi mereka memikirkan hal-hal lain untuk
menunjang hidup, dari gajinya harus bisa hidup layak. Kita harus
meningkatkan disiplin serta kesejahteraan para aparatur pemerintahan
khususnya aparatur penegak hukum. Sehingga bekerja dengan jujur dan
bersih sehingga meningkatkan efisiensi, produktifitas, daya saing, hasil
produk dan kualitas yang baik.
Parpol adalah wadah pengkaderan pemimpin bangsa ini. Tetapi banyak
pengamat melontarkan kritik terhadap Parpol di negeri ini yang dinilai
belum layak disebut sebagai solusi bahkan mungkin menjadi masalah.
Bagaimana pendapat Anda?
Sebagai orang yang bergerak di bidang politik, kita harus terus
menerus introspeksi, mawas diri dan memperbaiki diri sebab harus diakui
banyak kelemahan, apakah itu secara pribadi, organisasi atau partai.
Misalkan sebagai Parpol yang mendapat kepercayaan memimpin bangsa dan
negara, ia harus terus memperbaiki dirinya, memperbaiki perilaku
politiknya dan dapat mengambil keputusan kebijakan publik dengan benar.
Jadi Parpol harus mampu membina, mendidik anggota-anggotanya dan
kadernya menjadi kader yang mempunyai integritas yang kuat, berkemampuan,
mempunyai ilmu pengetahuan, dan komitmen. Komitmen terhadap perjuangan
untuk mewujudkan aspirasi rakyat. Jadi dia harus bertanggung jawab dan
terbuka, akuntabilitas harus ada, bersedia dikontrol. Kalau rakyat
mengatakan tidak becus, ya harus siap diganti, siap mundur. Parpol harus
terus melihat ke dalam, terus memperbaiki diri.
Yang dipilih rakyat menjadi gubernur, menteri, presiden, Parpol tentu
yang baik. Oleh karena itu, kita harus terus-menerus meningkatkan
kemampuan, integritas, tanggung jawab dan komitmen perjuangan sehingga
yang diberikan kepada rakyat benar-benar kader-kader yang baik,
berkemampuan dan berintegritas. Jadi, masyarakat yang akan melihat,
menilai dan mengoreksi.
Pada pihak lain saya mengharapkan supaya orang-orang yang mengkritik
itu kalau bisa juga turut terlibat. Parpol itu kan bukan milik
perorangan. Kalau para tokoh-tokoh yang berkualitas dan berintegritas
masuk ke Parpol, kita bisa bersama-sama memperbaiki dan memimpin. Niat
kita untuk memperbaiki akan lebih cepat kalau semua tenaga-tenaga
terbaik itu joint bersama. Sebab akhirnya yang memimpin negara kan dari
Parpol. Kalau stoknya kurang bagus atau malah jelek, bagaimana bisa
diharapkan menjadi pemimpin.
Jadi teman-teman kita yang bagus-bagus di luar Parpol jangan hanya
mengamati dan berdiri di luar, tapi silahkan maju dan perbaiki kalau
perlu pimpin, itu tidak masalah.
Kembali ke belakang, sebagai seorang yang senang berorganisasi dari
kecil dan bermuara ke Parpol, apa yang mendorong Anda memilih Golkar
sebagai kendaraan Politik?
Sewaktu saya terjun ke politik tahun 1978/1979, waktu itu baru ada
tiga Parpol yaitu PDI, PPP dan Golkar. Di samping alasan-alasan lain
yang lebih subyektif, mungkin lingkungan saya karena sudah di Golkar.
Pilihan pertama saya ke PDI, di sana banyak teman pada waktu itu, kalau
dilihat dari hubungan historis GMNI, meskipun GMNI sebenarnya independen.
Tetapi saya lihat sebagai satu wadah, PDI waktu itu kurang mempunyai
konsep-konsep dan program-program yang menyentuh upaya kita untuk
mengejar kemajuan. Kalau PPP, waktu itu mereka hanya menerima kader
Islam, sehingga saya tidak bisa.
Lalu saya pilih Golkar, karena selain berlatarbelakang kebangsaan
juga menawarkan suatu upaya-upaya pembaharuan dan pemikiran-pemikiran,
konsep-konsep, dan program-program untuk menyejahterakan bangsa, program
meningkatkan partisipasi rakyat dan seterusnya. Golkar menawarkan
doktrin karya-kekaryaan, berideologi Pancasila yang juga sama dengan PDI,
tapi di samping itu dia menjelaskan bahwa membangun itu orientasi kita
kekaryaan, orientasi kepada achievement. Sehingga saya tertarik masuk ke
situ, walaupun saya juga melihat berbagai masalah yang ada di dalam.
Sebagai Parpol, Golkar termasuk organisasi yang tergolong mapan
walaupun ada gelombang yang dilalui pada era reformasi ini. Tapi apa
yang membedakan Golongan Karya dengan Partai Golongan Karya?
Waktu Golkar yang dulu, sistem politik pada waktu itu mengakibatkan
Golkar tidak mau menawarkan diri sebagai Parpol meskipun yang
dijalankannya adalah peranan Parpol. Jadi yang jelas namanya pada waktu
itu bukan partai politik meskipun ikut Pemilu dan menjalankan fungsi
Parpol. Ada dualisme sebenarnya waktu itu.
Pada waktu itu, Golkar jelas bukan suatu organisasi yang independen.
Golkar saat itu sangat dependen karena apa yang disebut waktu itu tiga
jalur dan sangat dependen pada birokrasi, birokrasi TNI maupun birokrasi
sipil. Jelasnya Golkar waktu itu tidak berdiri sendiri dan kenyataannya
sangat tergantung kepada kekuasaan malah menjadi alat pembenaran
kekuasaan. Itulah kelemahannya. Kemudian kita koreksi pada reformasi,
kita perbaiki sendiri. Golkar mereformasi dirinya.
Kemudian Golkar yang sekarang yaitu Partai Golkar menjadikan diri
sebagai Parpol yang independen, tidak lagi menjadi bagian dari tiga
jalur itu. Tidak lagi mempunyai hubungan dengan birokrasi, tidak menjadi
alat politik kekuasaan. Yang mengendarai dia adalah anggota Golkar.
Karena itulah menjadi prinsip, kita menjadi partai yang mandiri, bebas,
independen. Dan Golkar yang sekarang komit berjuang dalam suasana sistem
Parpol yang banyak, multi partai politik. Itulah saya kira perbedaannya.
Dan Golkar sendiri juga yang merubah, mereformasinya.
Salah satu langkah yang dilakukan Golkar saat ini adalah melakukan
penjaringan calon presiden melalui konvensi. Apa yang mendorong Anda
ikut dalam konvensi tersebut?
Pertama, karena konvensi ini diadakan dengan prinsip demokrasi dan
terbuka, siapa saja boleh ikut. Orang dari partai Golkar maupun dari
luar Golkar asal memenuhi syarat-syarat. Dan saya merasa ada sesuatu
yang ingin saya sumbangkan pada negara ini dalam posisi mencalonkan diri
sebagai calon presiden dari partai Golkar. Biarlah rakyat atau jajaran
partai Golkar mendapat banyak option. Kita memberikan pilihan kepada
rakyat, termasuk saya dalam alternatif yang dipilih oleh rakyat, dengan
melihat, menelanjangi kita semua, ini pikiran, keadaan dan
gagasan-gagasan saya, karena saya pingin memberikan sesuatu kontribusi
buat negara kita.
Kedua, memberikan pilihan yang banyak kepada rakyat khususnya dengan
partai Golkar supaya dia pilih, mana yang lebih baik yang akan dia pilih.
Ketiga, saya merasa kita harus membangun kepercayaan baik bagi diri
sendiri dan bagi rakyat bahwa siapapun kita, setiap warga negara
mempunyai hak dan kewajiban yang sama di depan hukum dan pemerintahan.
Jadi saya ingin membangun suatu pemikiran bahwa jangan karena agama
kita agama Kristen atau kita orang Manado, terus kita merasa bahwa ini
bukan milik kita untuk menjadi presiden. Harus kita hilangkan pemikiran
begitu. Setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama,
mempunyai kesempatan yang sama. Mari kita buktikan, biarlah rakyat yang
memilih sehingga kalau dipilih itu bukan karena agama atau suku kita.
Saya yakin rakyat itu luas wawasannya, kuat komitmen perjuangannya,
juga daya kreatifitasnya sehingga kalau dia memilih, dia akan memilih
orang yang terbaik , yang mempunyai kemampuan memimpin, mempunyai
kemampuan menawarkan pemikiran-pemikiran atau program.
Oleh karena itu silahkan kita maju. Mungkin saya tidak akan jadi
presiden jadi calon pun tidak, tapi setidaknya saya ingin membangun atau
menunjukkan suatu perasaan atau keyakinan di tengah-tengah masyarakat
bahwa setiap orang mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Kita pantas
untuk dipilih oleh rakyat dan kita pantas untuk menawarkan diri.
Jangan khawatir, takut, minder, jangan merasa mempunyai perasaan
minority complex., sehingga takut, “Sudahlah... jangan maju, sayakan
bukan mayoritas, tapi minoritas’. Jangan ada pemikiran begitu, sehingga
ke depan orang akan maju tidak akan berpikiran seperti itu. Inilah
kesadaran yang harus dibangun oleh orang keturunan Cina, Arab, dan
lainnya.
Kalaupun rakyat atau jajaran partai Golkar tidak memilih saya, itu
bukan karena mereka tidak suka saya, atau bukan karena mereka melihat
bahwa saya beragama Kristen, orang Minahasa, minoritas. Saya yakin
mereka tidak pilih saya karena ada yang lebih baik dari saya dari sekian
opsi yang ada. Saya hormati itu. Inilah yang Golkar bangun, kesadaran
dan konfidens ini di tengah-tengah masyarakat. Ini merupakan suatu
proses sosialisasi prinsip-prinsip kemajemukan tadi.
Bagaimana respon dari kader-kader di daerah ketika Anda
menyosialisasikan pencalonan Anda ke daerah-daerah?
Mereka berdialog dan menanggapi saya. Saya pergi ke minimal 20
provinsi ke Sulut, Sulteng, Sulsel, Gorontalo, Banten, DKI, Jambi,
Sumsel, Jatim, Jateng, Jabar, Maluku, Maluku Utara dan lain-lain semua
menerima saya dengan baik.
Jadi dari alasan mengikuti konvensi dihubungkan dengan respon dari
kader-kader Golkar di daerah yang Anda kunjungi, apa kesan Anda?
Saya mendapat kesan bahwa mereka menerima saya, mereka menanyakan
hal-hal yang kritis, tidak ada yang menentang saya menjadi calon
presiden, tidak ada yang sinis, semua terbuka menerima kenyataan bahwa
saya maju. Cuman soal mereka pilih saya atau tidak itu adalah soal lain,
sebab kalau ada yang terbaik jadi piihan mereka, saya hormati tindakan
mereka. Tapi yang jelas, tidak ada yang tidak menyambut saya.
Bagaimana tanggapan Anda mengenai pendapat orang yang mengatakan
bahwa konvensi ini salah satu cara dari Partai Golkar untuk mencuri
start kampanye.
Mengenai apa pandangan orang lain dari apa yang Golkar maksudkan, itu
tidak benar. Yang pertama, yang dimaksudkan Golkar itu jelas bahwa
Golkar justru mengoreksi yang lalu-lalu, dimana pememilihan calon
presiden hanya keputusan dari DPP, atau paling jauh keputusan dari Rapat
Pimpinan seperti dalam pencalonan Pak Habibie dulu. Malah
sebelum-sebelumnya hanya diputuskan oleh Rapat Dewan Pembina saja,
anggota tinggal melaksanakan.
Sekarang setelah era reformasi ini dimana pemilihan presiden juga
sudah langsung, ini memang termasuk yang Golkar perjuangkan juga, karena
Golkar sekarang telah menjadi Golkar Baru. Mengingat nantinya rakyatlah
yang menentukan siapa yang menjadi presiden, maka baiklah, Golkar
menunjukkan kepada rakyat termasuk rakyat partai Golkar sendiri, siapa
yang menurut mereka pantas untuk dijual menjadi calon presiden.
Ini dilakukan secara terbuka sejak tahap awal, tahap penjaringan.
Siapapun, bukan cuma orang Golkar saja, buktinya ada 40 orang lebih
calon tapi akhirnya terverifikasi menjadi 19. Dari 19 ini hanya 3 orang
pengurus pusat yaitu, Ketua Umum Pak Akbar, Marwah sebagai ketua dan
saya sebagai ketua. Dan hanya 4 orang penasehat yaitu yang secara
struktur memberi nasehat yaitu, Pak Haryono Suyono, Muladi, Yusuf Kalla.
Sedangkan 12 orang lainnya tidak ada hubungan dengan DPP Golkar.
Dan kemudian seleksinya juga, konvensi dari bawah dilaksanakan secara
terbuka seperti yang sekarang berlangsung yaitu konvensi di tingkat II
dan tingkat I. Besok tanggal 20 akan konvensi prakonvensi nasional.
Kurang lebih 506 yaitu dari DPD II, DPD I, DPP dan organisasi akan
berkumpul. Di situ calon akan terpilih secara terbuka. Orang berpendapat
bahwa ini curi start, ya...silahkan tapi Golkar tidak bermaksud begitu.
Dan yang kedua, tidak ada ketentuan yang dilanggar soal itu Ada
aturan-aturan mengenai Pemilu dan kampanye, tapi satu ayat pun tidak ada
ketentuan yang dilanggar.
Konvensi ini dilaksanakan untuk sosialisasi, untuk kampanye Golkar di
forum sendiri, tidak ada orang luar. Calon-calon yakinkan visi dan
misinya di forum Golkar sendiri.
Bahwa itu kemudian membawa manfaat bagi popularitas Golkar, sehingga
rakyat lebih senang kepada Golkar, dan kemudian Golkar sendiri jadi
lebih bergairah, karena memang seperti pesta. Karena memilih lurah saja
sudah ramai apalagi calon presiden jadi memang seperti pesta, lebih
bergairahlah khususnya buat Partai Golkar. Dan memang Golkar bekerja
keras untuk itu, tapi tidak menyalahi dan melanggar UU.
Kalau nanti Golkar tampil sebagai pemenang Pemilu, banyak orang
meragukan Golkar itu bisa melakukan koreksi tehadap kesalahan-kesalahan
orde baru. Bagaimana pendapat Anda tentang itu.
Mengenai koreksi itu sudah merupakan komitmen dari Golkar. Sekarang
saja Golkar sudah koreksi dirinya. Buktinya sesudah reformasi tahun
1998, Golkarlah yang pertama-tama melakukan Munas Luar Biasa, hanya
kurang dari 2 bulan setelah bergulirnya reformasi.
Kalau bisa kita pakai reformasi 20 Mei 1998 sebagai tanggal startnya,
maka tanggal 8 Juli 1998 Golkar sudah Munas Luar Biasa. Merombak
strukturnya secara total, tidak ada lagi Dewan Pembina, tidak ada lagi 3
jalur, pemilihan semua dilakukan secara voting, terbuka. Kemudian
melalui DPR, Golkar yang masih mayoritas saat itu, 75% di DPR/MPR. Waktu
itu sudah bikin UU Kebebasan Pers misalnya. Kalau Golkar misalnya tidak
komit dengan reformasi, gampang saja, tinggal hambat saja, maka tidak
jadi undang-undang itu. Tapi justru Golkar yang merespon UU Kebebasan
Pers.
Dalam hal desentralisasi, kalau dulu sangat sentralisasi, kemudian
dibikin UU No 25 tahun 1999. UU tentang Desentralisasi-otonomi luas,
peranan Golkar di sana tidak bisa dipungkiri, karena Golkar 75% di DPR
waktu itu. Setiap UU kalau didiamkan saja maka tidak jadi UU itu,
apalagi kalau tidak setuju. Jadi justru Golkarlah yang mensponsori.
Kemudian sistem partai menjadi sistem multi partai, Pemilu dilakukan
secara bebas dan demokratis, luber, kemudian tentara tidak boleh
berpolitik, PNS tidak boleh berpolitik, itu semua UU yang baru dibikin,
dan itu bukan pada saat Golkar menang. Jadi masih belum menang saja
Golkar sudah laksanakan reformasi. Apalagi kalau menang nanti dalam
Pemilu.
Golkar jelas punya komitmen pro reformasi, dan kita sudah
melaksanakan reformasi, demokratis termasuk dalam diri sendiri. Jadi
mengenai itu tidak perlu diragukan lagi.
Anda sebagai Ketua Badan Informasi dan Komunikasi DPP Partai Golkar,
apa tugas-tugasnya.
Di Golkar itu ada Ketua Umum yaitu Bung Akbar kemudian ada
ketua-ketua, termasuk saya. Kemudian dibagi lagi, ada Korbid (Kordinator
Bidang). Saya Korbid Hubungan Luar Negeri dan Antar Lembaga. Disamping
itu saya juga Ketua Badan Informasi dan Komunikasi (BIK).
Tugasnya untuk memperluas informasi dan komunikasi ke luar maupun ke
dalam. Jadi menjaga, meningkatkan informasi, komunikasi, memenej
informasi internal ke dalam organisasi maupun ke luar.
Anda sebagai Ketua BIK, apakah ada input dari informasi tersebut yang
bisa diberikan kepada partai.
BIK juga mendapat ‘feed back’ dari masyarakat, yang menjadi bahan
telaah yang kemudian kita berikan kepada DPP sebagai bahan pengambilan
keputusan, di samping tugas-tugas kita memenej informasi internal maupun
komunikasi dengan pers maupun lembaga-lembaga di luar.
Sebagai Ketua BIK, Bagaimana prediksi Anda dalam perolehan suara
partai Golkar pada Pemilu mendatang.
Kalau itu bukan bagian saya sebagai Ketua BIK, karena kita hanya
informasi dan komunikasi. Kalau itu ada di Lembaga Pemenang Pemilu dan
kita membuat Rakornas. Dan mengenai prediksi kita, terakhir sampai
beberapa bulan yang lalu, kita menghitung bahwa kita mencapai 31% untuk
perolehan suara Pemilu nanti. Sekarang kita hanya 24%, jadi naiklah
prediksinya menjadi 31%. Ini akan di-‘up date’ pada 2 minggu yang akan
datang dalam Rapim. Apakah tetap 31% atau malah turun ataupun naik.
Bagaimana Anda melihat posisi Indonesia sekarang di forum
internasional khususnya ASEAN.
Saya pikir, sudah tentu kita harus fokus mengatasi berbagai masalah
dalam negeri dengan apa yang terjadi 5 tahun terakhir ini di mana kita
kena krisis, kemudian reformasi, perhatian kita terlampau terkuras
kepada masalah-masalah ini. Tetapi itu jangan membuat kita melepaskan
perhatian kita kepada masalah luar negeri, karena dalam politik luar
negeri itu kita harus turut berperan untuk menciptakan kawasan
lingkungan yang kondusif. Jadi itu harus paralel dilakukan, jangan
dibiarkan.
Prioritas politik luar negeri kita adalah menciptakan lingkungan
kawasan yang kondusif, berarti dia (negara tetangga) bersahabat dengan
kita, atau minimal tidak bermusuhan atau tidak mengandung unsur-unsur
tidak bersahabat, mengandung unsur-unsur ancaman permusuhan dengan kita.
Oleh karena itu harus kita upayakan, harus kita bangun, dan harus
kita buktikan dengan kepemimpinan kita, karena kita mempunyai sejarah
yang panjang mengenai kepemimpinan percaturan internasional
setidak-tidaknya kawasan.
Kita tidak harus jadi pemimpin secara formal tapi kita harus pemegang
inisiatif di dalam ASEAN kemudian di lingkungan yang lebih luas di Asia
Timur dan sampai ke dunia global. Jadi bukan sekedar pemimpin, tapi
inisiatif itu, pemikiran-pemikiran atau konsep-konsep, langkah-langkah
‘action’, kita selalu menjadi orientasi, contoh dan bermanfaat buat
saudara-saudara kita yang lain.
Meski sudah tentu berbeda-beda prioritasnya, tapi yang pertama sudah
tentu di ASEAN, Asia Timur. Tetapi ke dunia berkembang, Non Blok dalam
hubungannya dengan negara-negara besar untuk memperjuangkan kepentingan
bersama, kita harus selalu pegang inisiatif.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Marjuka
- Atur
Lorielcide Paniroy |
|