| |
C © updated
24042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/dok kel |
|
| |
Nama:
Try Sutrisno .
Lahir:
Surabaya, 15 November 1935
Agama:
Islam
Golongan darah:
AB
Menikah:
Bandung, 5 Februari 1961
Isteri:
Tuti Sutiawati (lahir, 3-4-1940)
Anak:
1. Nora Tristiyana: 5-4-1962
2. Taufik Dwi Cahyono: 9-8-1964
3. Firman Santya Budi: 17-11-1965
4. Nori Chandrawati: 31-3-1967
5. Isfan Fajar Satrio: 7-2-1970
6. Kunto AriefWibowo: 15-3-1971
7. Natalia Indrasari: 30-12-1974
Pengalaman Pendidikan
Pendidikan Umum:
- Sekolah Dasar: 1942 -1950
- SMP:1950-1953
- SMA/B:1953-1956
Pendidikan Militer:
- Atekad: 1956- 1959
- Susjurpazikon/MOS: 1962
- Latsar Para: 1964
- Kupaltu: 1965
- MOS Amfibi: 1967
- Suslapa Zeni: 1968
- Seskoad: 1972
- Seskogab: 1977
Riwayat Jabatan dan Kepangkatan:
- Dilantik menjadi Letda CZI NRP. 18436: 1-10-1959
- Danton Zipur di Palembang: 1959-1962
- Danton Zikon di Kendari: 1962-1963
- Naik Pangkat menjadi Lettu: 1-1-1963
- Dankima Yonzikon-2 di Palembang: 1964
- Dankizi I/DTR di Jakarta: 1965-1867
- Kupaltu: 1965
- Naik Pangkat menjad i Kapten: 1-1-1966
- Wadan Denma Ditziad di Jakarta: 1967-1968
- Wadanyon Zipur 9/Para di Bandung: 1968-1970
- Naik Pangkat menjadi Mayor: 1-1-1970
- Danyon Zipur 10/FIB di Pasuruan: 1970-1971
- Naik Pangkat menjadi Letkol: 1-1-1972
- Karo Suad-2 di Jakarta: 1972-1974
- ADC Presiden di Jakarta: 1974-1978
- Naik Pangkat menjadi Kolonel: 1-4-1976
- Kasdam XVI/Udy di Denpasar: 1978-1979
- Naik Pangkat menjadi Brigadir Jenderal: 1-5-1979
- Pangdam IV/Swj di Palembang: 1979-1982
- Naik Pangkat menjadi Mayor Jenderal: 1-12-1982
- Pangdam V/Jaya di Jakarta: 1982-1985
- Naik Pangkat menjadi Letnen Jenderal: 20-8-1985
- WakasaddiJakarta: 1985-1986
- KasaddiJakarta: 1986-1988
- Naik Pangkat menjadi Jenderal: 20-4-1987
- Pangab: 1988-1993
- Anggota MPR RI di Jakarta: 1983-1993
- Ketua Umum PBSI: 1985-1993
- Wakil Presiden RI: 1993-1998
- Ketua Umum DPP Pepabri: 1998-2002
- Ketua Umum Prima (Persahabatan RI-Malaysia): 2002-sekarang
Bintang-bintang/Tanda-tanda Jasa:
Dalam Negeri:
- Bintang Republik Indonesia Adipradana.
- Bintang Mahaputra Adipurna
- Bintang Mahaputra Adipradana
- Bintang Yudha Dharma Utama
- Bintang Dharma
- Bintang Kartika Eka Paksi Utama
- Bintang Jalasena Utama
- Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama
- Bintang Bhayangkara Utama
- Bintang Kartika Eka Paksi Pratama
- Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
- Satya Lancana GOM VII
- Satya Lancana Sapta Marga (PRRI Sumbar)
- Satya Lancana Sapta Marga (PRRI Sumsel)
- Satya Lancana Satya Dharma
- Satya Lancana Wira Dharma
- Satya Lancana Penegak
- Satya Lancana Seroja
- Satya Lancana Kesetiaan VIII
- Satya Lancana Kesetiaan XVI
- Satya Lancana Kesetiaan XXIV
- Satya Lancana Wira Karya.
Dari Luar Negeri:
- Bt. Order of The Yugoslav Flag With Golden Star (Yugoslavia)
- Bt. Order for The Military Merits With Golden Stafr(Yugoslavia)
- Bt. Das Grosse Verdienstkreuz Mit Stern (Jerman)
- Bt. The Most Noble Order of The Crown of Thailand (Thailand)
- Bt. Commandeur de La Legion D'Honneur (Prancis)
- Bt. Darjah Paduka Mahkota (Johor)
- Bt. Ereteken Voor Verdienste (Belanda)
- Bt. Legion of Merit (USA)
- Bt. Nishan-I-Imtiaz (Pakistan)
- Bt. Kepahlawanan Panglima Gagah Angkatan Tentera (Malaysia)
- Bt. Darjah Yang Mulia Pangkuan Negara (Malaysia)
- Bt. Tong II (Republik Korea)
- Bt. Kehormatan Darjah Utama Bakti Chemerlang (Singapura).
- Bt. The Most Exalted Order of The White Elephant (Thailand)
- Bt. Kebesaran Negara (Brunei Darussalam)
- Bt. Philippine Legion of Honor (Philipina).
|
|
| |
|
|
|
|
== 1 2 3
4 5 6 7 ==
Try Sutrisno
Sang Negarawan Berpendirian Teguh
Mantan Wakil Presiden ini dikenal sebagai seorang negarawan yang jujur,
bersahaja, loyal, berdedikasi tinggi dan berpendirian teguh. Putra terbaik
bangsa ini bukanlah seorang yang haus jabatan (ambisius) yang mau
menghalalkan segala cara untuk meraih jabatan tertentu. Mantan Panglima
ABRI dan Ajudan Presiden Soeharto ini terbilang loyal kepada atasan namun
selalu teguh pada pendirian. Ia selalu bijak dan bajik mengambil posisi
sesuai batas-batas kepantasan tanggung jawabnya.
Kendati ia begitu loyal dan dekat dengan Pak Harto, baik sebagai ajudan
dan Panglima ABRI (TNI) maupun sebagai Wakil Presiden, ia tetap bisa
menjaga posisi. Seperti, tidak ikut dalam berbagai yayasan yang didirikan
Pak Harto. Ia juga bisa menjaga jarak dengan para konglomerat yang dikenal
dekat dengan penguasa ketika itu.
Maka tak heran ketika pencalonannya sebagai wakil presiden oleh Fraksi
ABRI, Preisden Soeharto disebut-sebut kurang menyetujuinya dan merasa di-fait
accompli. Namun walaupun begitu, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai
Wapres dengan penuh dedikasi dan loyalitas.
Kemudian, pada periode berikutnya, 1997, banyak pengusaha dan profesional
yang menghendakinya tetap menjadi wakil presiden yang suatu ketika dapat
menggantikan Pak Harto sebagai Presiden. Namun Pak Harto dan Golongan
Karya yang telah didominasi kalangan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia) lebih memilih BJ Habibie. Ketika hal ini diisyaratkan bahwa
wakil presiden harus menguasai teknologi, yang mengarah kepada BJ Habibie, pasar langsung bereaksi negatif
yang membuat nilai rupiah makin merosot tajam hingga mencapai Rp17.000 per
1 US dollar.
Namun Pak Harto tak merespon keinginan pasar tersebut dan
tetap memilih BJ Habibie menjadi wakil presiden yang kemudian bersama 14
menteri mempraktekkan ungkapan politik bahwa tidak ada persahabatan yang
abadi tetapi kepentinganlah yang abadi.
Tidak demikian dengan Pak Try. Kendati Pak Harto lebih memilih BJ Habibie
menjadi Wakil Presiden Kabinet Pembangunan VII, Try Sutrisno tetap membina
hubungan baik dengan Pak Harto. Bahkan ketika Pak Harto ‘ditinggalkan’ BJ
Habibie dan 14 menteri Kabinet Pembangunan VII yang mendorong Pak Harto
memilih mengundurkan diri (lengser), Try Sutrisno tetap menghormati Pak
Harto. Ia seorang dari sedikit pejabat Orde Baru yang tetap memberi
dorongan moril dengan mengunjungi Pak Harto setelah lengser.
Padahal ketika itu, pasar masih menghendekakinya untuk tampil sebagai
calon presiden. Dan ketika itu orang menduga-duga maksud keterlibatannya
di Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) adalah dalam rangka pencalonannya
menjadi presiden. Tetapi ia langsung menjawab bahwa ia tidak perlu
dicalonkan menjadi presiden karena merasa sudah terlalu tua untuk itu.
Baginya ladang pengabdian tidak harus selalu ada di puncak kekuasaan.
Melainkan sebagai seorang putera bangsa prajurit pejuang, ia bertekad
mengabdi sepanjang hayat dalam berbagai bidang. Try Sutrisno, Purnawirawan
Jenderal TNI AD yang menjadi Wakil Presiden masa pemerintahan Soeharto
pada Kabinet Pembangunan VI, ini setelah pensiun dari berbagai tugas yang
dibebankan negara, masih bergelut dan memimpin beberapa organisasi seperti,
Pepabri, Lembaga Persahabatan Indonesia-Malaysia (PRIMA), pembina
perkumpulan keagamaan “Spiritual Journeyff”, penasehat Yayasan Kejuangan
Panglima Besar Sudirman yang bergerak di bidang pendidikan, yang membawahi
UPN, Veteran dan SMU Taruna Nusantara.
Dan sejak bergulirnya reformasi, dikenal juga sebagai salah seorang
Penasehat dan Sesepuh Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).
Dalam menuangkan sumbangan pemikiran dan aspirasinya bagi bangsa dan
negara, ia pun aktif dalam "Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya”.
Pesuruh dan Pengasong
Mantan Pangdam Jaya kelahiran Surabaya, 15 November 1935, ini berasal dari
keluarga sederhana. Subandi, ayahnya bekerja sebagai pengemudi mobil
Ambulance PGD/DKK (Dinas Kesehatan Kota), dan Mardhiyah ibundanya seorang
ibu rumah tangga yang sangat tekun mengasuh putra/putrinya. Orang tuanya
dikenal sebagai pasangan suami-isteri yang harmonis, jujur dan berdisiplin
serta menerapkan sistem pendidikan yang keras bernuansa agamis. Pendidikan
yang kemudian tertanam kepada Try, putera ketiga mereka dan
saudara-saudaranya.
Lahir sebelum kemerdekaan dan melewati masa remajanya pada saat revolusi,
membuat masa kecil Try boleh dikatakan cukup keras. Perang dan mengungsi
menjadi satu sejarah yang tak terpisahkan dalam kehidupannya. Ketika
Pasukan Sekutu, yang di dalamnya termasuk tentara Belanda mendarat dan
menduduki kota Surabaya antara tahun 1946-1948, para Pejuang Republik
melakukan perlawanan yang gigih dan gagah berani.
Namun karena kekuatan Pasukan Sekutu dengan Pasukan Pejuang tidak seimbang,
akhirnya para pejuang menarik diri dan menyiapkan perang berlarut dengan
menggunakan strategi dan taktik perang gerilya bersama seluruh rakyat.
Dalam situasi seperti itu, masyarakat kota Surabaya, termasuk keluarga
Try, akhirnya harus mengungsi ke luar kota. Keluarganya ketika itu
mengungsi ke Mojokerto. Pak Subandi, sang ayah kemudian selama mengungsi
bergabung di Bagian Kesehatan Batalyon Poncowati di Purwoasri, Kediri.
Try yang baru berusia 11 tahun waktu itu, terpaksa sekolah terhenti,
karena harus mencari nafkah untuk meringankan beban hidup keluarga dengan
menjual air minum, kemudian menjual koran, dan akhirnya menjadi penjual
rokok di stasiun Mojokerto.
Dua tahun dalam pengungsian, tepatnya pada tahun 1948, bertepatan dengan
usianya yang baru 13 tahun, ia diangkat sebagai Tobang (pesuruh) di
Batalyon Poncowati, kemudian menjadi kurir sekaligus sebagai anggota PD (Penyelidik
Dalam) dengan tugas mencari informasi ke daerah pendudukan Belanda dan
kemudian menyampaikannya kepada para pejuang Republik, sembari membawa
perbekalan dan obat-obatan.
Keadaan mulai tenang sehubungan setelah adanya pengakuan kedaulatan yakni
pada tahun 1949, keluarganya kembali ke Surabaya. Try kemudian melanjutkan
sekolahnya yang sempat terhenti sekitar 3 tahun ke Perguruan Taman Siswa,
sekolahnya sebelumnya pada zaman Jepang, sambil membantu kakaknya
berjualan ayam di pasar Genteng. Demikian juga dengan ayahnya, kembali
bekerja di Dinas Kesehatan Kota. Tidak berdinas di lingkungan Tentara/TNI
lagi sebagaimana masa pengungsian. Sang ayah akhirnya pensiun sebagai
Pegawai Negeri dari Dinas Kesehatan Kota pada tahun 1953.
Tempaan masa perang yang keras dan sarat dengan tantangan inilah, yang
dikemudian hari membentuk watak dan mental kepejuangan Try Sutrisno yang
teguh, tegar, dan penuh semangat dalam menghadapi setiap permasalahan.
Demikian pula menempah sifat dalam jiwanya sehingga selalu sederhana dalam
segala hal, tidak mudah terhanyut oleh arus trend masanya, tidak mudah
tergiur dan terseret oleh iming-iming yang bersifat keduniawian, serta
senantiasa berpegang pada prinsip kejujuran, kebenaran dan keadilan.
Sifatnya yang sejak kecil selalu baik, jujur, setia, dan suka menolong
orang yang dalam kesulitan, itu membuat kawan-kawannya selalu menyenangi
dan menyeganinya. Dan karena kesetiaannya dalam berteman, membuat
teman-temannya selalu menjadikannya sebagai pemimpin kelompoknya.
Olahraga yang disenanginya, terutama sejak SMP adalah bersepeda, pencak
silat, angkat besi dan renang. Dari olahraga angkat besi sudah ditekuninya
dengan serius sejak SMP, membuat bentuk tubuhnya atletis bagai huruf "V”.
Bentuk bahu dan pundaknya yang kekar mengembang dengan otot-otot yang
keras menonjol seperti yang terlihat sampai hari tuanya itu merupakan
hasil dari kegemarannya pada olahraga angkat besi tersebut.
Setamat dari SMP II Surabaya, ia melanjut ke SMA II. Sekolahnya yang
selalu terputus-putus dan tersendat-sendat terutama ketika di SR akibat
suasana perang di masa itu, membuatnya tamat SMA tahun 1956, pada saat
usianya sudah 21 tahun.
Ia disenangi oleh kawan-kawannya sejak si abngku SR, SMP dan SMA. Bukan
saja karena pribadinya yang baik, jujur, setia dan dermawan, tetapi karena
postur tubuhnya yang gagah dengan wajah bersih dan tampan bagai Elvis
Presley. Tak heran bila banyak di antara teman-teman wanita di sekolahnya,
baik sewaktu masih di SMP maupun di SMA, yang secara diam-diam maupun
terang-terangan sebagaimana umumnya remaja, menaruh rasa simpati dan
bahkan tak sedikit yang jatuh hati kepadanya.
Masuk Tentara
Selepas dari SMA (1956), Try yang sejak semula sangat ingin menjadi
tentara, serta ingin mengabdikan segenap jiwa raganya kepada nusa dan
bangsa, tertarik untuk mendaftarkan diri dan mengikuti test masuk Akademi
Teknik Angkatan Darat (Atekad). Setelah melewati test akademi yang
dilaksanakan di Surabaya, Try dinyatakan lulus. Tapi kemudian dalam test
kesehatan yang dilaksanakan di Malang, ia dinyatakan tidak memenuhi syarat.
Namun atas perhatian dan perintah dari Jenderal GPH Djuatikusumo ia
mendapatkan panggilan kembali. Bersama yang lainnya ia kemudian dikirim ke
Bandung untuk mengikuti Phsychotest. Akhirnya Try dinyatakan diterima
sebagai Taruna Akademi Genie yang kemudian berubah nama menjadi Atekad.
Di Atekad, Try mengikuti pendidikan pada Cabang Zeni. Ketika berpangkat
Kopral Taruna, Try ditugaskan ke Aceh. Kemudian pada saat menjadi Sersan
Taruna, dia bersama teman-temannya sempat dikirim ke daerah Operasi
Penumpasan Pemberontakan PRRI/Permesta di daerah Sumbar. Mayjen TNI GPH
Djatikusumo yang saat itu menjabat sebagai Direktur Zeni Angkatan Darat (Dirziad)
sengaja mengirimkan para taruna ke daerah operasi yang sebenarnya, agar
mereka memiliki bekal pengalaman nyata pada pelaksanaan tugasnya kelak,
pengalaman yang tak mungkin didapatkan di Lembaga Pendidikan.
Perjalanan Karir
Lulus dari Atekad di tahun 1959, dengan pangkat Letda Czi, ia ditugaskan
pertama kali di Kodam IV /Sriwijaya sebagai Dan Ton Zipur. Kemudian pada
tahun 1962 ditugaskan pada Yon Zikon Komando Mandala di Kendari. Seusai
tugas Mandala, ia yang waktu itu sudah berpangkat Lettu Czi kembali ke
satuan Induknya Kodam IV/Sriwijaya sebagai Dan Kima Yon Zikon-2/Dam IV SWJ.
Pada tahun 1962 Lettu Try mengikuti pendidikan MOS Pazikon. Dan tahun 1964
ia mengikuti Latihan Dasar Para.
Tahun 1965 ia pindah ke Jakarta sebagai Dan Ki Dump Truck. Setelah lulus
mengikuti pendidikan Kupaltu di tahun 1965, ia dilantik menjadi Kapten
pada 1 Januari 1966 dan diangkat menjadi Dan Ki I/Dump Truck, kemudian
menjadi Wadan Denma Ditziad. Pada tahun 1967 Kapten Try Sutrisno ini
sempat mengikuti Latihan MOS Amfibi. Kemudian dari Ditziad tahun 1968, ia
dipindahtugaskan ke Bandung sebagai Wadan Yonzipur-9/Para. Tahun itu pula
ia mengikuti tugas belajar di Suslapa Zeni.
Pada tahun 1970 naik pangkat menjadi Mayor Czi, dan dipercaya memimpin
Yonzipur/Amfibi di Pasuruan. Tahun 1972 seusai mengikuti pendidikan
Seskoad, ia naik pangkat menjadi Letkol Czi dan pindah ke Mabesad Jakarta
sebagai Karo Binlatsat Staf Operasi TNI AD. Pada tahun 1977 ia dikirim ke
Bandung untuk mengikuti pendidikan Seskogab ABRI.
***
Di tengah kesibukannya itu, ia tidak pernah melupakan kekasih hatinya,
Tuti Sutiawati seorang mojang Bandung, puteri pertama dari pasangan
Sukarna - Hj. Hasanah. Pak Sukarna ini adalah seorang guru yang dikenal
jujur, cakap dan berdisiplin, yang hingga akhir hayatnya sepenuhnya
mengabdikan diri di lingkungan pendidikan.
Pada tanggal 5 Februari 1961, Try resmi menikah dengan Tuti Sutiawati
dan kemudian telah melahirkan baginya 4 orang putera dan 3 orang puteri.
Dalam mendidik keluarganya, Try selalu bertolak pada pola hidup sederhana,
berdisiplin dan menjunjung tinggi nilai-nilai aturan hukum, tradisi budaya
dan syari'at agama. Pasangan suami-isteri ini dikenal sangat harmonis dan
bersahaja.
Dari 4 orang puteranya, seorang mengabdikan diri sebagai anggota Polri,
dan yang seorang lagi mengabdikan diri sebagai anggota TNI AD mengikuti
jejaknya. Sementara puteri sulungnya yang berprofesi sebagai dokter gigi,
bersuamikan seorang anggota TNI AD juga, Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu,
yang menjabat Kasad pada pemerintahan Megawati Soekarnoputri.
***
Kesempatan yang langka akhirnya diperoleh pada saat ia berpangkat Letkol.
Pada tahun 1974 ia ditugaskan menjadi Ajudan Presiden RI, Soeharto ketika
itu. Selang dua tahun, ia naik pangkat menjadi Kolonel Czi. Banyak
pengalaman berharga yang berhasil dia timba selama dirinya bertugas
sebagai Ajudan Presiden. Ia mengetahui tentang aturan protokoler, etiket
kalangan atas, pergaulan dengan para pejabat tinggi negara, sistem
pengamanan VVIP, sistem administrasi level puncak, mekanisme pengambilan
keputusan dalam berbagai masalah kenegaraan, kesibukan tugas seorang
Kepala Negara, bagaimana cara Pejabat Tinggi membagi waktu, sikap Pemimpin
Negara dalam menghadapi situasi kritis, tingginya semangat juang dan
tanggung jawab seorang Pemimpin dalam mengemban amanah kepemimpinannya,
dan lain-lain.
Dua tahun sesudah menyandang pangkat Kolonel, tepatnya pada tahun 1978, ia
ditugaskan menjabat sebagai Kasdam XVI/Udayana yang bermarkas di Denpasar,
mendampingi Mayjen TNI Dading Kalbuadi yang kala itu menjabat Pangdam.
Setahun kemudian yakni tahun 1979, ketika masih menjabat sebagai Kasdam
XVI/Udayana, pangkatnya dinaikkan menjadi Brigjen TNI, dan tak lama
kemudian diangkat menjadi Pangdam IV/Sriwijaya. Pada saat menjabat Pangdam
IV/Swj itu ia melaksanakan Operasi Ganeca, yakni sebuah operasi lingkungan
hidup berupa pengembalian gajah-gajah ke habitatnya. Selain itu, ia yang
sekaligus bertindak selaku Laksusda Sumatera Selatan, juga giat
menjalankan operasi pemberantasan penyelundupan timah, dan pemberantasan
kriminalitas yang amat meresahkan masyarakat setempat pada masa itu. Dan
pada saat menjabat Pangdam itu pulalah yakni pada tahun 1980, ia diangkat
menjadi Anggota MPR RI Utusan Daerah Sumatera Selatan.
Kemduian, pada 1 Desember 1982, ia diangkat menjadi Pangdam V/Jaya hingga
tahun 1985 dan pangkatnya juga naik menjadi Mayjen TNI. Di masa
pengabdiannya memimpin Kodam V/Jaya inilah Try dihadapkan dengan beberapa
peristiwa gangguan kemanan ibu kota yang cukup menyita perhatian. Di
antaranya, yaitu peristiwa terbakarnya Toserba Sarinah, peristiwa Tanjung
Priok, dan peristiwa peledakan bom di sebuah Kantor Cabang Bank BCA.
Agustus 1985 pangkatnya dinaikkan lagi menjadi Letjen TNI sekaligus
diangkat menjabat Wakasad mendampingi Kasad. Jenderal TNI Rudhini ketika
itu. Dan pada tahun itu juga, dirinya dipercaya memimpin organisasi
olahraga bulutangkis PB. PBSI, yang merupakan cabang olahraga idola
masyarakat. Pada masa jabatannya di organisasi tersebut, ia banyak
mengadakan penyegaran di tubuh PB. PBSI yang saat itu sedang mengalami
krisis pemain dan krisis prestasi.
Ia bersama Pengurus Pusat bekerjasama dengan seluruh Pengurus Daerah
membuat Program Pembinaan PBSI jangka panjang, jangka menengah, dan jangka
pendek. Ia juga merintis berdirinya Pelatda-Pelatda dan Pelatnas serta
mendirikan Yayasan PBSI sebagai wadah pembibitan kader pemain di
daerah-daerah dan pusat.
Hasil dari pembinaannya selama dua periode itu beberapa tahun kemudian
langsung terlihat, dan puncaknya adalah diraihnya 2 (dua) medali emas, 2 (dua)
medali perak dan 1 (satu) medali perunggu pada event Olimpiade Barcelona
tahun 1992. Ia memimpin PB. PBSI selama dua periode yakni dari tahun 1985
hingga tahun 1993, dan kemudian digantikan oleh Letjen TNI Suryadi.
Tak lama menjabat sebagai Wakasad, pada bulan Juni tahun 1986 atau sepuluh
bulan sejak diangkat menjadi Wakasad, ia pun kemudian diangkat menjadi
Kasad menggantikan Jenderal TNI Rudhini.
Selama menjadi Kasad, yang hanya sekitar satu setengah tahun, Try mengakui
tak sempat berbuat banyak dalam membina TNI AD. Ia dengan jujur mengatakan
hanya bisa melakukan beberapa pembenahan terbatas di bidang pembinaan
personil (terutama pendidikan dan latihan serta pembinaan karier) dan
pembinaan material (terutama penataan persenjataan satuan tempur dan
asrama prajurit), karena pada awal tahun 1988 ia dipromosikan menjadi
Pangab menggantikan Jenderal TNI LB. Moerdani. Namun walaupun begitu ia
masih sempat merintis berdirinya Badan TWP TNI AD (Tabungan Wajib
Perumahan TNI AD), yang bertujuan membantu para prajurit TNI AD dan PNS
TNI AD dalam pengadaan rumah murah yang terjangkau oleh kemampuan mereka,
dengan dilandasi oleh semangat gotong royong seluruh warga TNI AD.
Jenderal TNI Try Sutrisno memimpin ABRI, sejak tahun 1988 hingga tahun
1993. Ketika itu ABRI masih terdiri dari institusi TNI AD, TNI AL, TNI AU,
dan POLRI. Banyak peristiwa penting yang patut dicatat selama
kepemimpinannya, seperti meletusnya kembali pemberontakan GPK (Gerakan
Pengacau Keamanan) di Aceh pada pertengahan tahun 1989, menyusul
dibubarkannya Kodam I/Iskandarmuda. GPK separatis Aceh tersebut merupakan
kelanjutan (kambuhan) dari GPLHT (Gerakan Pengacau Liar Hasan Tiro) yang
lahir pada tahun 1976 dan yang telah berhasil ditumpas pada tahun 1982.
Seiring dengan era keterbukaan yang merebak ke semua sendi kehidupan, GPK
Aceh generasi 1989 ini semakin berkembang dengan adanya dukungan politik,
militer, maupun logistik, dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan, dan
dibantu serta dikendalikan dari luar negeri.
Pada tahun 1992 gerakan separatis ini berhasil diredam dan dilokalisasi,
dan banyak dari anggotanya yang menyerahkan diri dan bersumpah untuk tetap
setia kepada NKRI. Ini terjadi semasa Pangdam Bukit Barisan dijabat oleh
Mayjen TNI Pramono. Bahkan pelaksanaan Pemilu 1992 di Aceh tersebut ketika
itu bisa berlangsung dengan aman, tertib serta berjalan lancar di seluruh
daerah. Perkembangan kondisi Aceh selanjutnya setelah Try tak lagi menjadi
Pangab, memang menampakkan trend ancaman dengan eskalasi yang semakin
meningkat, disebabkan oleh berbagai faktor yang sangat kompleks.
Kemudian, selain gangguan keamanan di Aceh, pada awal tahun 1990 itu di
Lampung juga terjadi Peristiwa Talangsari. Peristiwa ini terjadi karena
adanya di sana sebuah gerakan perlawanan terhadap Pemerintah yang sah,
yang berbau radikalisme dan fanatisme sempit aliran keagamaan.
Dan pada tahun 1991, terjadi juga Peristiwa Santa Cruz yang memakan banyak
korban jiwa. Saat itu para anggota gerombolan GPK Timtim (Fretilin) turun
ke kota melakukan provokasi kepada masyarakat, dengan melakukan
demonstrasi secara brutal menentang integrasi, menyusul dibukanya daerah
Timtim dengan dunia luar.
Dalam masalah keamanan dalam negeri saat itu, ia memfokuskan perhatiannya
untuk memelihara kondisi stabilitas keamanan di tiga daerah rawan yakni,
Aceh, Timtim, dan Irian Jaya. Sehingga ia dengan jajaran ABRI serta dengan
dukungan seluruh rakyat, berhasil memelihara stabilitas keamanan di ketiga
daerah tersebut dalam tingkat yang kondusif untuk menjalankan program
pembangunan nasional, maupun dalam menunjang kegiatan sosial ekonomi dan
sosial budaya masyarakat.
Belakangan setelah tidak menjabat pimpinan militer lagi, ia mengaku, masih
mempunyai dua ganjalan hati dan fikiran ketika meninggalkan jabatan
tersebut. Kedua ganjalan hati Jenderal tampan yang terkenal ramah ini yang
belum bisa direalisasikannya secara tuntas adalah: Pertama, keinginannya
untuk melengkapi (mengganti) alat utama sistem persenjataan ABRI yang
sebagian besar sudah sangat ketinggalan zaman; serta Kedua, keinginannya
untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan prajurit (makan, perlengkapan
perorangan, dan perumahan).
Kedua hal tersebut tidak dapat dituntaskannya, disebabkan oleh alokasi
anggaran pertahanan keamanan yang sangat minim, yang saat itu juga diakui
dan bahkan menjadi keprihatinan para Anggota DPR (khususnya Komisi I).
Namun di tengah-tengah keterbatasan anggaran untuk ABRI, ia masih sempat
melakukan penggantian sebagian kecil Alut Sista TNI AD yakni peluru
kendali Rapier untuk pengamanan obyek vital Arun dan Bontang. Demikian
pula penggantian Alut Sista TNI AL dengan beberapa kapal bekas pakai. Juga
pembaruan terhadap beberapa Alut Sista TNI AU berupa pengadaan pesawat
tempur F-16 dan pesawat latih kelas Charlie, walaupun pembayarannya dengan
cara dicicil (multi year program). Sedangkan POLRI mendapatkan perhatian
pada pengadaan peralatan khusus untuk keperluan penyidikan, serta
perlengkapan untuk Satuan Reserse dan Satuan Lalu Lintas.
Wakil Presiden
Majelis Permusyawaratan Rakyat masa bakti 1992 – 1997 melalui Sidang
Umumnya pada tahun 1993, akhirnya memilih putra bangsa ini menjadi Wakil
Presiden RI mendampingi HM. Soeharto, presiden terpilih saat itu. Adalah
Fraksi ABRI MPR-RI yang lebih dahulu mencalonkannya, mendahului pilihan
terbuka dari Presiden Soeharto ketika itu. Suatu hal yang tidak lazim pada
era Orde Baru itu. Konon, Presiden Soeharto merasa di-fait accompli.
Dalam pidato pelantikannya, Try berjanji akan membantu tugas-tugas
Presiden RI secara optimal sekuat kemampuannya, berdasarkan ketentuan
konstitusi dan dengan mengindahkan pengarahan Bapak Presiden. Terpilihnya
dirinya sebagai Wapres RI, disikapinya dengan sikap khudhu', tawadhu', dan
tasyakur, menyadari bahwa semua itu tak akan terjadi tanpa izin Allah SWT.
Dan sesuai dengan batas kewenangan dan tanggungjawabnya selaku Pembantu
Presiden, fokus perhatian Try selama menjabat Wapres adalah pada bidang
pengawasan atas penyelenggaraan pembangunan dan pengawasan terhadap
jalannya pemerintahan.
Selama lima tahun menjabat Wapres itu, isterinya, Ny. Tuti Sutiawati,
aktif dalam kegiatan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dan berbagai
kegiatan sosial lainnya, khususnya yang berhubungan dengan masalah
kemanusiaan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Pada tahun 1998 tugasnya sebagai Wapres berakhir, dan kemudian digantikan
oleh BJ. Habibie pada Sidang Umum MPR 1998. ►tsl =>
LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|