| |
C © updated
04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama :
Megawati
Nama Lengkap :
Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri
Tempat/Tgl. Lahir :
Yogyakarta, 23 Januari 1947
Agama :
Islam
Suami :
Taufik Kiemas
Karir :
:: Presiden RI (2001 - 2004)
:: Wakil Presiden RI (1999- 2001)
:: Anggota DPR/MPR RI (1999)
:: Anggota DPR/MPR RI (1987-1992)
Pendidikan :
:: SD s/d SMA Perguruan Cikini
:: Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran (1965-1967)
:: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972).
Organisasi :
:: Ketua PDI Cabang Jakarta Pusat (1987-1992)
:: Ketua Umum DPP PDI (1993 - 1998)
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (1998-2003)
Alamat :
Jalan Teuku Umar 27-A, Jakarta Pusat
Artikel Lain:
Megawati Opera Sabun II
Megawati Opera Sabun III
Manakala Megawati Bicara |
|
| |
|
|
|
|
== 1 2
3
4 5 6 7 ==
Megawati Sukarnoputeri (2)
Mbak Pendiam itu Emas
MTI-09: Diam (tak banyak bicara), akhirnya
menjadi suatu kekuatan bagi Megawati. Kendati, mendapat tekanan dan
rintangan bahkan caci-maki, dia tetap diam dan sabar. Buahnya, dia pun
berhasil menggapai singgasana Presiden RI ke-5. Kini, ia masih diunggulkan
akan memenangkan Pemilu Presiden. Bahkan Ketua Umum DPP Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDI-P) ini diperjuangkan oleh partainya sudah menang
pada putaran pertama Pemilu Presiden. Suatu optimisme yang dinilai para
pesaing dan lawan politiknya berlebihan.
Untuk memuluskan perjuangan politiknya, di antaranya mempertahankan NKRI
dan memperjuangkan wong cilik, dengan harus lebih dulu memenangkan Pemilu
Presiden, dia kini berupaya menggalang koalisi berkaki tiga atau empat,
kemungkinan bersama Partai Golkar, NU-PKB dan PPP. Namun dalam upaya
membangun koalisi itu, ia tetap tidak banyak bicara, sehingga peran
suaminya Taufik Kiemas yang lebih kerap ngomong terkesan lebih menonjol.
Karena terlalu diam, beberapa pengamat dan lawan politiknya sempat
menuding itu sebagai indikasi kebodohan. Namun Megawati tetap diam dan
sabar. Setelah menjabat presiden, ia pun tetap tak banyak bicara. Puteri
Bung Karno ini pun semakin sulit ditebak.
Dia memang sudah terbiasa mendapat tekanan sejak ayahandanya, Soekarno,
diturunkan dari jabatan Presiden pada SI-MPRS 1996. Selama 32 tahun,
Megawati (keluarga Bung Karno), tidak bebas mengekspresikan aspirasi
politiknya. Namun, posisi diamnya memberi ruang gerak bagi Megawati,
dibandingkan saudara-saudaranya, sehingga dia ‘dibiarkan’ masuk dalam
kancah politik, masuk Senayan dan memimpin PDI Cabang Jakarta Pusat
(1987-1992).
Ketika dia terpilih menjadi Ketua Umum DPP PDI (1993-1998), pemerintah
Orde Baru menentangnya dengan keras. Pertentangan ini berbuntut panjang
melahirkan peristiwa 27 Juli 1996, dimana kantor DPP PDI yang dikuasai
oleh pendukung Mega direbut oleh kelompok Soerjadi. Puluhan pendukung Mega
tewas pada Peris-tiwa 27 Juli itu. Namun, meskipun sulit, dia tetap teguh
dalam perjuangan dan tetap juga diam.
PDI pun menjadi dua. Yakni, PDI pimpinan Megawati dan PDI pimpinan
Soerjadi. Massa PDI lebih berpihak dan mengakui Mega. Tetapi, pemerintah
mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Akibatnya, PDI pimpinan
Mega tidak bisa ikut Pemilu 1997. Setelah rezim Orde Baru tumbang, PDI
Mega berubah nama menjadi PDI Perjuangan. Partai politik berlambang
banteng gemuk dan bermon-cong putih itu berha-sil memenangkan Pemilu 1999.
Pada Pemilu 1999, Megawati ‘mengalah’ berkenan menjadi Wakil Presiden
dalam pemerintahan Gus Dur — kendati partainya PDI-P memperoleh suara
terbanyak (35%) dibanding PKB hanya 10%. Namun, pemerintahan Gus Dur tidak
bertahan lama. Pemerintahan Gus Dur mulai goyah akibat keputusannya yang
sering memberhentikan para menteri yang merupakan perwakilan aspirasi dari
partai politik yang ada tanpa alasan yang jelas.
Maka ketika menggelinding kasus Bulogate, yang melibatkan Gus Dur dan
lingkarannya, PDI-P menjadi berseberangan dengan Gus Dur dan PKB-nya.
Terbentuklah Pansus Bulogate DPR-RI, yang berujung pada jatuhnya Gus Dur
pada Sidang Istimewa MPR, 23 Juli 2001.
Kepatutan politik pun terwujud. Ketua umum partai pemenang Pemilu menjadi
Presiden. Terwujudlah amanat Kongres PDI-P di Bali yang menghendaki
Megawati menjadi Presiden. Kekalahan Megawati atas KH Abdurrahman Wahid
(Gus Dur) pada Sidang Umum 1999, yakni 313 banding 373, terbayar dengan
kemenangannya pada SI-MPR 2001.
Puteri proklamator ini dilahirkan di Yogyakarta, 23 Januari 1947.
Fatmawati melahirkannya dalam suasana yang tidak nyaman. Ketika itu hujan
turun deras, atap rumah bocor, guntur menggelegar, kilat menyambar-nyambar
dan tanpa listik. Mega lahir dalam suasana cahaya temaram lampu minyak
tanah.
Menurut kerabat, suasana kelahiran Megawati itu menjadi semacam pertanda
untuk perjalanan hidupnya kemudian. Memang, setelah Soekarno jatuh, Mega
dan keluarga mendapat cobaan dan tekanan politik yang cukup berat. Mega
dan saudara-saudaranya terasing dari dunia ramai. Mereka hidup dalam
kondisi yang tertekan. Sampai-sampai kuliah Megawati di Fakultas Pertanian
Unpad (1965-1967) dan Fakultas Psikologi UI (1970-1972) tak bisa
diselesaikannya. Bahkan saat menjabat presiden pun, ia masih ditekan. ►tsl/Majalah
Tokoh Indonesia Volume 09
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|