| |
C © updated 02042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/gatra |
|
| |
Nama:
Hj. Siti Hardiyanti Hastuti Indra Rukmana
Nama Panggilan:
Tutut
Lahir:
23 Januari 1949
Agama:
Islam
Nama Orangtua:
Haji Moh. Soeharto (ayah)
Hj. Suhartnah Soehato (ibu)
Nama Suami:
Indra Rukmana
Nama anak:
1. Dandy Nugroho Hendro Maryanto, lahiran 10 Maret 1973
2. Danty, lahir 20 Juni 1975
3. Danny Bimo Hendro Utomo Rukmana, lahir tahun 1978.
Pendidikan:
- SD
- SMP
- SMA I Budi Utomo, Jakarta
- Universitas Trisakti, Jakarta
Pekerjaan:
- Politisi
Pengusaha
- Pekerja Sosial
Organisasi:
-Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB)
-Ketua HIPSI (Himpunan Pekerja Sosial Indonesia)
-Ketua Umum PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasionallndonesia)
-Ketua Umum PDDI (Perhimpunan Donor Darah Indonesia)
-President FIODS (International Federation Blood Donor Organization)
-Ketua Yayasan Tiara Indah (Bhakti Nusantara Indah)
-Ketua Yayasan Tiara Indonesia (Kreativitas Pemuda dan Remaja Indonesia)
-Bendahara Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan
-Ketua Yayasan KARANA
Alamat kantor:
PT Citra Lamtorogung Persada
Gedung Bank Bumi Daya Lantai 23-26 Jalan Imam Bonjol No.61 JakartaPusat
Alamat rumah:
Jalan Yusuf Adiwinata No. 14 Menteng, JakartaPusat |
|
| |
|
|
|
|
Siti Hardiyanti Rukmana
Capres Restu Pak Harto
Bagi Siti Hardiyanti Rukmana nama mantan Presiden Soeharto ayahnya masih
sangat laik jual di bidang politik. Untuk menjadi pemimpin tertinggi di
republik ini dia, yang dipanggil Mbak Tutut, menyebut kendaraan politik
pengusungnya yakni Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) adalah satu-satunya
partai yang pendiriannya direstui oleh Pak Harto.
Pak Harto adalah pemegang Kartu Tanda Anggota (KTA) PKPB nomor
satu. Sama seperti sebelum menjadi politisi PKPB, setiap tampil di muka
umum Tutut selalu menggunakan kerudung indah yang dibalut senyum manis
khasnya.
Menjelang Pemilu 2004 Tutut hadir menjadi politisi baru mewakili trah Pak
Harto. Isu yang digongkan oleh Tutut dan segenap jajaran teras PKPB adalah
besarnya kerinduan masyarakat untuk kembali mengalami kehidupan yang
tenang, damai, sejahtera, berkecukupan, dan berketuhanan. Kehidupan
seperti itu pernah disajikan oleh rezim Orde Baru yang dipimpin Pak Harto
selama 32 tahun. Tutut tidak membawa sedikitpun paham ideologi
Soehartoisme.
Ketika Pak Harto masih berkuasa pernah terbetik analisa politik Mbak Tutut
telah dipersiapkan Pak Harto untuk memimpin Indonesia kelak. Tutut
kerapkali dilibatkan dalam rombongan kepresidenan di dalam dan luar negeri.
Tutut juga dicantelkan di organisasi Golkar sebagai salah seorang ketua.
Golkar adalah mesin politik Orde Baru. Kalkulasi itu semakin riil tatkala
Pak Harto memasukkan nama Tutut sebagai Menteri Sosial dalam Kabinet
Pembangunan VII periode tahun 1998-2003. Muncul ketakutan besar bakal
mandegnya rekrutmen politik secara terbuka untuk hanya beredar di
lingkaran dalam Keluarga Cendana.
Sebagai Menteri Sosial di sebuah masa yang sedang susah Tutut aktif terjun
ke bawah menyaksikan langsung bagaimana dampak krisis moneter menimpa
seluruh rakyat bawah. Dia lalu membagi-bagikan sembako, kupon makan murah
di warung tegal, mempopulerkan gerakan cinta rupiah, dan berbagai kegiatan
lain yang diharapkan bisa menahan kelaparan besar yang sedang menimpa.
Tujuannya agar kekuasaan ayahnya ikut tertopang sambil menunggu
keberhasilan penanganan krisis. Tapi apa daya akumulasi kemarahan dan
kegeraman lawan politik ayahnya sudah lebih besar. Hal itu masih
diperparah oleh banyaknya pembantu dekat ayahnya mulai berpaling muka dari
pemimpin “tua” itu.
Lewat PKPB rencana besar Pak Harto mendudukkan Tutut di kursi presiden
dimulai sekaligus ditata ulang kembali. Tutut jika ingin menjadi presiden
harus melewati proses alamiah disertai perjuangan dan pengorbanan yang
besar. Usia 55 tahun dirasakan Tutut sudah mampu berjuang sendiri tanpa
katrolan klik politik ayahnya. Tutut, kelahiran 23 Januari 1949 menamatkan
pendidikan di SMA Negeri I Budi Utomo, Jakarta, serta kuliah di
Universitas Trisakti, Jakarta.
Tutut biasa menyebut diri sebagai pekerja sosial dan pengusaha. Pekerjaan
sosial Mbak Tutut terpatri lewat berbagai kegiatan berikut organisasi
sosial yang dia pimpin. Tutut adalah pendiri, pemilik, serta pemimpin PT
Citra Lamtorogung Persada yang membawahi berbagai anak perusahaan.
Diizinkannya anak-anak Pak Harto berbisnis dinilai kalangan pengamat
menjadi pertanda awal mulai pudarnya semangat kejuangan Pak Harto
membangun bangsa. Sekaligus pula awal malapetaka kejatuhan pamor Pak Harto.
Menjelang dekade 1990-an adalah awal Tutut mulai dipersiapkan oleh ayahnya
tampil menghadapi publik. Momentum itu Tutut sendiri yang pilih menunggu
anak-anak tumbuh dewasa. Si bungsu, misalnya, sudah mulai menginjak bangku
SMP. Tutut mengaku sebelum itu jarang tampil di muka umum sebab harus
mengasuh secara intens ketiga anaknya. Tutut adalah murni “orang rumahan”
yang terjun langsung mengawasi ketiga anaknya. Yakni Dandy Nugroho Hendro
Maryanto kelahiran 10 Maret 1973, Danty 20 Juni 1975, dan Danny Bimo
Hendro Utomo Rukmana kelahiran tahun 1978. Tutut dan suami Indra Rukmana
sepakat untuk urusan luar rumah dan luar sekolah akan ditangani Indra.
Sementara urusan dan kegiatan dalam rumah Tutut yang berperan.
Tutut mengajari anak-anaknya sama persis dengan bagaimana dahulu bapaknya
Pak Harto dan ibunya Ibu Tien Soeharto mengajari Tutut dan adik-adiknya.
Terutama jika menyangkut pola hubungan dalam keluarga menuju suasana rukun
dan harmonis berikut nuansa dan romansanya. Demikian pula ajaran ayahnya
tentang kepemimpinan. Tutut merasa beruntung berkesempatan belajar
langsung dari yang terbaik yakni bapaknya sendiri.
“Menurut saya, Bapak adalah pemimpin yang baik. Secara terprogram sekali
pun semula hal itu tak saya sadari –Bapak memimpin saya menjadi pemimpin.
Dimulai dengan tugas memimpin adik-adik saya ketika kami masih serumah.
Dari hal-hal yang tampaknya sepele, Bapak menanamkan sifat, sikap dan
kultur memimpin ke dalam kehidupan sehari-hari saya,” kata Tutut.
Tutut juga masih ingat betul sebuah pesan kepemimpinan dari ayahnya yang
besar kemungkinan akan menjiwai langkah Tutut berebut kursi kepresidenen
2004. “Seorang pemimpin yang sukses tidak harus cemerlang kecerdasannya.
Yang penting, sebagai pemimpin ia harus punya kehausan untuk berhasil,
harus punya keyakinan mutlak atas tugas yang diembannya, dan ia harus
punya keberanian untuk meniadakan hal-hal yang bisa menggagalkan tugasnya
untuk mencapai sasaran.” Itulah Tutut, yang sangat yakin betul masih
banyak rakyat yang mengagumi ayahnya, berikut kagum pada kerudung dan
senyum manis khas dia, tentunya. ►ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|