| |
C © updated 04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama :
Susilo Bambang Yudhoyono
Lahir :
Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949
Agama :
Islam
Istri :
Kristiani Herawati,
putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo
Anak :
dua orang
Pangkat terakhir :
Jenderal TNI
Pendidikan:
- Akademi Militer Nasional (1970-1973)
- MA dari Webster University AS
- Airborne and Ranger Course di Fort Benning, Georgia, AS (1976)
- Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, AS
(1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle Warfare Training di
Panama (1983)
- Anti Tank Weapon Course di Belgia dan Jerman (1984)
- Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985)
- Seskoad di Bandung (1988-1989)
- Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, AS
(1990-1991)
|
|
| |
|
|
|
|
Susilo Bambang Yudhoyono
Sang Capres Kuda Hitam
SBY, demikian ia akrab disapa. Namanya mencuat seba-gai seorang
kandidat presiden yang dijagokan Partai Demokrat, partai yang didirikannya.
Partai ini sangat PD memosisikannya sebagai calon presiden, bukan wakil
presiden. Pemosisian demikian itu membuat keberadaannya di Kabinet
Megawati menjadi tidak pas. Ia pun sempat tidak dilibatkan dalam beberapa
sidang kabinet, yang mengakibatkan ia memilih mengundurkan diri. Bisa saja
ia akan menjadi kuda hitam Pemilu Presiden.
Gaya bicaranya tenang dan berwibawa. Kata-katanya jelas mencerminkan
wawasan berpikirnya yang luas. Pantas saja para pengamat politik
memberinya julukan: Jenderal yang Berpikir.
Pria tegap kelahiran Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949 ini, semenjak
kecil hingga remaja gemar menulis puisi dan cerpen. Di samping itu ia juga
senang mengikuti kegiatan kesenian seperti melukis, bermain peran dalam
teater dan wayang orang serta bermain band. Beberapa karya puisi dan
cerpennya sempat dikirimkan ke majalah anak-anak waktu itu, misalnya ke
Majalah Kuncung. Sedangkan aktivitas bermain band masih dilaksanakan
hingga tingkat satu Akabri Darat sebagai pemegang bas gitar. Sesekali ia
juga masih menulis puisi. Di samping kesenian, ia juga menyukai dunia olah
raga seperti bola voli, ia senang travelling, baik jalan kaki, bersepeda
atau berkendaraan.
Darah prajurit bapak berputra dua ini menurun dari ayahnya yang pensiun
sebagai Letnan. Tekadnya sebagai prajurit kian kental saat kelas V SD
(1961) berkunjung ke AMN di kampus Lembah Tidar Magelang. “Saya tertarik
dengan kegagahan sosok-sosok taruna AMN yang berjalan dan berbaris dengan
tegap waktu itu. Ketika rombongan wisata singgah ke Yogyakarta, saya
sempatkan membeli pedang, karena dalam bayangan saya, tentara itu membawa
pedang dan senjata,” kenang SBY, seorang penganut agama Islam yang taat.
Pendidikan militernya dimulai di Akademi Militer Nasional (1970-1973). Ia
adalah lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan Adi
Makayasa. Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and Ranger Course
di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di
Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle
Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan
Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di
Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort
Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991). Gelar MA diperoleh dari Webster
University AS.
Penampilan publiknya mulai menonjol sejak menjabat Kepala Staf Teritorial
ABRI (1998-1999) dan semakin berkibar saat menjabat Menko Polsoskam (Pemerintahan
Presiden KH Abdurrahman Wahid) dan Menko Polkam (Pemerintahan Presiden
Megawati Sukarnopotri).
Dalam perjalanan karirnya di dunia politik, ia menunjukkan sikapnya
sebagai pribadi yang memiliki integritas. Ketika menjabat sebagai Menteri
Pertambangan dan Energi pada pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid ia
memilih pensiun dini dari jabatannya sebagai Kepala Staf Teritorial Markas
Besar Tentara Nasional Indonesia. Ketika itu ia masih berpangkat letnan
jenderal dan akhirnya pensiun dengan pangkat jenderal kehormatan.
Kemudian pada 28 Mei 2001, bersama beberapa menteri tidak menyetujui
rencana Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Dekrit Presiden. Bahkan
tidak bersedia melaksanakan Maklumat Presiden yang menugaskannya sebagai
Menkopolsoskam untuk mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mengatasi
krisis, memelihara keamanan, ketertiban dan hukum.
Akibatnya ia diberhentikan dengan hormat dari jabatan Menkopolsoskam pada
1 Juni 2001, kerena menolak rencana Presiden mengeluarkan Dekrit. Ketika
itu, ia ditawari jabatan Menteri Perhubungan atau Menteri Dalam Negeri
namun ditolaknya. Lalu pada Sidang Istimewa MPR-RI, 25 Juli 2001, ia
dicalonkan memperebutkan jabatan Wakil Presiden yang lowong setelah
Megawati Sukarnoputeri dipilih menjadi presiden. Ia bersaing dengan Hamzah
Haz dan Akbar Tandjung.
Dalam meniti karir, SBY sangat mengidolakan Sarwo Edhi, yang tidak lain
adalah mertuanya sendiri. Dalam pandangannya, Sarwo Edhi adalah seorang
prajurit sejati, jiwa dan logika kemiliterannya amat kuat. Selain belajar
strategi, taktik dan kepemimpinan militer, dari mertuanya itu ia
meneladani gaya hidup yang amat sederhana dan keteguhan memegang
prinsip-prinsip yang diyakini. ►tsl, Majalah Tokoh
Indonesia ==>
BIOGRAFI
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|