MAJALAH TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

 

Dapatkan di TOKO BUKU Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia dan AGEN-AGEN atau
E-MAIL: SIRKULASI atau
Telp: 021-83701736 Fax: 021-9101871


 
Inheadnews  
 
   

MAJALAH TOKOH INDONESIA 34

 

Pernyataan Politik SOKSI


Prihatin Atas Munculnya Fenomena Phobia Pancasila

 

SOKSI (Sentral Organisasi Karya-wan Swadiri Indonesia menyuarakan beberapa keprihatinan dalam tujuh poin pernyataan politiknya pada Rapat Pimpinan Nasional I SOKSI tanggal 20-21 Agustus 2006. Antara lain menyatakan: Prihatin atas munculnya fenomena phobia terha-dap Pancasila; Praktik pelaksanaan UUD 1945 setelah mengalami empat kali amandemen justru telah memunculkan berbagai kerancuan dalam sistem ketatanegaraan; Perkembangan format politik di era multipartai yang cenderung menim-bulkan politik biaya tinggi, lemahnya moralitas dan budaya politik kebang-saan; Masih banyak rakyat Indonesia yang menderita di bawah garis ke-miskinan; Maraknya praktik mafia peradilan; dan, Masifnya kemerosot-an nilai-nilai budaya nasional. Sehu-bungan dengan itu, SOKSI meman-dang perlu Reformasi Jilid II, yaitu Reformasi Budaya yang lebih mene-kankan pada upaya merekonstruksi kembali budaya nasional sebagai cen-trum dalam mendorong kreativitas, inovasi dan identitas keindonesiaan.

Selengkapnya, Pernyataan Politik SOKSI yang tertuang dalam
Lampiran Keputusan Rapimnas I SOKSI Nomor: Kep-04/
Rapimnas-I/SOKSI/VIII/2006 yang ditandatangani Ketua Umum Depinas SOKSI Syamsul Mu’arif dan Sekretaris Jenderal FMT Radjagukguk, itu sebagai berikut:


Tanpa mengabaikan berbagai hasil yang telah dicapai dalam proses reformasi pem-bangunan nasional, SOKSI beranggapan bahwa satu windu perjalanan reformasi telah menunjukkan betapa tekad dan harapan untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih adil, demokratis, dan sejahtera ternyata belum memuas-kan. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan reformasi belum sepenuhnya memberikan dampak positif dan optimal.

 

Bahkan fenomena menguatnya kekuasaan atas dasar kepentingan-kepentingan para elite politik, baik di pusat maupun di daerah pada akhirnya cenderung melupakan nasib dan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam upaya memperbaiki tingkat kesejahteraan rakyat pada umumnya. Hal tersebut telah menjadi perhatian besar dan keprihatinan mendalam para kader SOKSI di seluruh tanah air.


Setelah mengkaji dan merefleksikan secara seksama dan mendalam atas keseluruhan proses reformasi yang belum memberikan dampak signifikan bagi transformasi tatatan dan moralitas kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan, maka Rapat Pimpinan Nasional I SOKSI menyatakan pandangan dan sikap politik SOKSI sebagai berikut:


Kesatu: SOKSI sangat prihatin atas menguatnya krisis ideologi nasional yang ditandai dengan muncul fenomena phobia terhadap Pancasila, merosotnya kesadaran elit terhadap Pancasila, bahkan tumbuh suburnya kelompok-kelompok ahistoris yang secara sistematis hendak menggantikan Pancasila. SOKSI sebagai pengawal Pancasila mencermati bahwa tiga kecenderungan tersebut sangat membahayakan bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indone-sia (NKRI) di tengah berbagai potensi keretakan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara merupakan harga mati dan harus tetap dipertahankan dan diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara demi kelanjutan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Kedua: SOKSI mengamati bahwa praktik pelaksanaan UUD 1945 setelah mengalami empat kali amandemen justru telah memunculkan berbagai kerancuan dalam sistem ketatanegaraan. Di samping belum mampu mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik seperti yang dicita-citakan reformasi, SOKSI memandang hasil amandemen UUD 1945 pasca reformasi lebih memberikan ruang gerak liberalisasi dan neo-liberalisme. Untuk mengatasi berbagai kerancuan konstitusi dewasa ini, SOKSI mengajak segenap kekuatan masyarakat untuk merapatkan barisan dan mendorong konsolidasi perundang-undangan termasuk amandemen ke-5 guna mengembalikan jiwa dan semangat UUD 1945 yang diamanatkan oleh the founding fathers Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Ketiga: SOKSI prihatin atas perkembangan format politik di era multipartai yang cenderung menimbulkan politik biaya tinggi, lemahnya moralitas dan budaya politik kebangsaan yang ditandai dengan maraknya trend money politics, sistem presidensial yang tidak efektif, serta mandulnya pendidikan politik dan kepemimpinan politik. Kebijakan multipartai ternyata kurang mampu meletakkan bangunan budaya politik dan mekanisme politik yang bersifat efektif dan produktif. SOKSI memandang bahwa keberadaan dan fungsi partai politik ke depan harus tegas melalui parameter treshold sehingga mampu melahirkan jumlah partai yang proporsional guna mendorong efektivitas sistem presidensial sekaligus memperkuat mekanisme checks and balances.


Keempat: SOKSI prihatin bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang menderita di bawah garis kemiskinan, masih tingginya tingkat pengangguran, dan rendahnya tingkat pendapatan masyarakat. Dalam rangka memberdayakan perekonomian rakyat, SOKSI memandang perlu gerakan kekaryaan yang mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia kader-kader ekonomi yang tangguh dan memiliki kemampuan untuk membuka lapangan kerja baru. Seiring dengan semakin menipisnya cadangan bahan bakar minyak, SOKSI mendukung upaya pemerintah di dalam mencari terobosan baru, berupa energi alternatif pengganti bahan bakar minyak.


Kelima: SOKSI prihatin terhadap maraknya praktik mafia peradilan, kecenderungan penegakan hukum yang belum menyentuh esensi penegakan keadilan, masih maraknya praktik-praktik korupsi, masih maraknya upaya penegakan hukum yang cenderung tumpang-tindih wewenang antarinstitusi hukum dan peradilan. SOKSI melihat upaya lebih serius penegakan hukum dan HAM secara adil hendaknya dilakukan dengan pengaturan sanksi seberat-beratnya bagi aparat penegak hukum yang melakukan praktik pelanggaran hukum. Dalam hubungan penegakan hukum, SOKSI juga merasakan sebuah situasi yang sangat tidak kondusif atas terlambatnya pengambilan keputusan pemerintah terhadap kasus Gubernur Provinsi Lampung dalam rangka supremasi hukum yang berkeadilan dalam kepastian hukum guna mewujudkan good governance dan clean government.


Keenam: SOKSI prihatin terhadap masifnya kemerosotan nilai-nilai budaya nasional, nilai-nilai budi pekerti luhur, dan nilai-nilai kearifan budaya lokal di tengah arus kuatnya komersialisasi, efek negatif globalisasi dan kecenderungan merosotnya keyakinan elit terhadap Pancasila. SOKSI memandang perlu Reformasi Jilid II, yaitu Reformasi Budaya yang lebih menekankan pada upaya merekonstruksi kembali budaya nasional sebagai centrum di dalam mendorong kreativitas, inovasi, dan identitas ke-Indonesiaan serta mengembangkan budaya bangsa yang bersumber dari nilai-nilai luhur Pancasila tanpa adanya upaya manipulasi dari pihak mana pun.


Ketujuh: Mencermati perkembangan dukungan Partai Golkar kepada Pemerintah dan hasil pembangunan selama ini masih belum mampu mengatasi berbagai krisis yang cenderung merugikan rakyat. SOKSI sebagai salah satu ormas pendiri Partai Golkar mengimbau Partai Golkar agar mengevaluasi kembali dukungan politik Partai Golkar terhadap pemerintah dalam Kabinet Indonesia Bersatu secara kritis, objektif, dan profesional.
 

Demikianlah pandangan dan sikap politik SOKSI sebagai bentuk keprihatinan dan rasa tanggungjawab SOKSI terhadap eksistensi dan masa depan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Semoga berbagai bentuk keprihatinan dan sumbang saran solusi alternatif sebagaimana telah dikemukakan dapat bermanfaat bagi kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara. Amien. ► mti

     

Majalah Tokoh Indonesia 34

Suhardiman, Futurolog Politik Indonesia

TOKOH UTAMA: Prof Dr Suhardiman, SE, Futurolog Politik Indonesia = Tolak Carik Desa Jadi Dukun Politik = Kehidupan Keluarga = Yakin Hidup 100 TahunPERSPEKTIF: Etos Nasionalisme Baru = Regenerasi Kepemimpinan Bangsa = Menuju Indonesia Raya Ketiga 2045 = Analisis Suhardiman Tentang Teokrasi, Indi-vidualisme, Kapitalisme dan SosialismeWAWANCARA: Suhardiman: Perlu Reformasi Jilid Dua DEPTHNEWS: SOKSI Pencetak Kader Bangsa = Dinamika Perjuangan SOKSIFaham Asas, Tujuan & Tugas SOKSI =
Dewan Penasihat dan Depinas SOKSIINHEADNEWS: Pernyataan Politik SOKSI KAPUR SIRIH: Politisi Negarawan