A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  P E M U K A
 ► Pemuka
 ► Sesepuh
 ► Pahlawan
 ► Islam
 ► Kristen
 ► Katolik
 ► Hindu
 ► Buddha
 ► Agama Lain
 ► Adat-Golongan
 ► Legenda
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
SESEPUH  
   
   

Abdul Haris Nasution (1918-2000)

Adam Malik^

Habibie,BJ

Mohammad Hatta^

Mohammad Noer

Roeslan Abdulgani (1914-2005)

Simatupang, TB^

Siti Hartinah Soeharto^

Soeharto

Soekarno^

Soeratin Soesrosoegondo

Sri Sultan Hamengkuwono IX^

Sudirman^

Try Sutrisno

Umar Wirahadikusumah^

 

HM Soeharto (1)

Dikhianati Pembantu Dekatnya

HM Soeharto, adalah sosok nama besar yang memimpin RI, selama 32 tahun. Suatu kepemimpinan luar biasa yang harus diakui oleh teman dan lawan politiknya (senang atau tidak). Sempat mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilan menggapai swasembada pangan (1985). Namun, akhirnya ia harus meletakkan jabatan secara tragis, bukan semata-mata karena desakan demonstrasi mahasiswa (1998), melainkan lebih akibat pengkhianatan para pembantu dekatnya yang sebelumnya ABS dan ambisius tanpa fatsoen politik.

 

Abdul Haris Nasution (1918-2000)

Jujur Pada Sejarah dan Nurani

Gaya hidup bersahaja dibawa Jenderal Besar A.H. Nasution sampai akhir hayatnya, 6 September 2000. Ia tak mewariskan kekayaan materi pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme. Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, tetap tampak kusam, tak pernah direnovasi.

 

 

Siti Hartinah Soeharto

Perjuangan Ibu Negara

Sejak remaja aktif di Laskar Putri indonesia berjuang di garis belakang mempertahankan kemerdekaan. Apalagi setelah menjadi Ibu Negara sebagai pendamping setia Presiden Soeharto, ia mencetuskan beberapa gagasan yang melahirkan beberapa proyek monumental, di antaranya Taman Mini Indonesia Indah. Ia meninggal, Minggu 28 April 1996, menginggalkan karya gemilang bagi bangsanya. Setelah meninggal, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

 

Umar Wirahadikusumah

Banyak Bekerja dan Sedikit Bicara

Mantan Wakil Presiden RI ke-4 (1983-1988) Umar Wirahadikusumah menghembuskan napas terakhir, sekitar pukul 07.53 WIB, Jumat 21 Maret 2003 di Rumah Sakit Pusat TNI-AD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, setelah sempat mendapat perawatan intensif selama dua pekan. Ia seorang putera terbaik bangsa yang jujur, rendah hati, taat pada aturan main dan lebih banyak bekerja daripada berbicara. Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan ini juga dinilai relatif bersih dari KKN. Ia juga orang yang legowo, tidak ambisius, menerima apa adanya.
 

Soeratin Soesrosoegondo

Pahlawan Sepak Bola

Rapat Paripurna Nasional PSSI 2005 mengusulkan kepada pemerintah untuk mengangkat pendiri PSSI, Ir Soeratin Soesrosoegondo, sebagai pahlawan nasional (Kep/09/Raparnas/XI/2005). Siapa Soeratin? Dia perintis dan pendiri organisasi sepakbola di Indonesia (PSSI).

 

Mohammad Noer

Sang Pamong Abdi Rakyat

Pada usia hampir 90 tahun, M. Noer tak pernah berhenti berpikir dan berkarya. Tujuan utamanya meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pendidikan sumber daya manusia. Sebab, tujuan kemerdekaan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, membuat wong cilik biso minggo kemuyu (orang kecil bisa sejahtera).

 

Roeslan Abdulgani (1914-2005)

Api yang Tak Kunjung Padam

Ia dikenal sebagai tokoh penting bagi terselenggaranya Konferensi Asia - Afrika di Bandung, 1955. Jiwa nasionalismenya tak lekang dimakan usia, laksana api yang tak kunjung padam. Dia selalu memimpikan dapat melihat dunia yang benar-benar damai.

 

Try Sutrisno

Negarawan Berpendirian Teguh

Mantan Wakil Presiden ini dikenal sebagai seorang negarawan yang jujur, bersahaja, loyal, berdedikasi tinggi dan berpendirian teguh. Putra terbaik bangsa ini bukanlah seorang ambisius yang mau menghalalkan segala cara untuk meraih jabatan tertentu. Ia selalu bijak dan bajik mengambil posisi sesuai kepantasan tanggung jawabnya.

 

Habibie, Bacharuddin Jusuf

Sosok Manusia Multidimensi

Mantan Presiden RI Ketiga, Si Jenius ahli konstruksi pesawat terbang, ini pada masa emas kejayaan dengan sejumlah jabatan,  adalah manusia paling multidimensional di Indonesia. Ia manusia cerdas ajaib yang sempat menghadirkan selaksa harapan kemajuan teknologi demi kejayaan negeri ini.

 

Adam Malik

Si Kancil Pengubah Sejarah

Ia merupakan personifikasi utuh dari kedekatan antara diplomasi dan media massa. Pria otodidak yang secara formal hanya tamatan SD (HIS) ini pernah menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York dan merupakan salah satu pendiri LKBN Antara. Ia berpengalaman sebagai duta besar, menteri, Ketua MPR/DPR hingga menjadi wakil presiden.

 

Proklamator Soekarno

Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Soekarno (Bung Karno) Presiden Pertama Republik Indonesia, 1945- 1966, menganut ideologi pembangunan ‘berdiri di atas kaki sendiri’. Proklamator yang lahir di Blitar, Jatim, 6 Juni 1901 ini dengan gagah mengejek Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya: "Go to hell with your aid." Persetan dengan bantuanmu. Namun, akhirnya ia lebih condong ke Blok Timur (Komunis) yang dikendalikan Uni Soviet dan RRC. Pemimpin Besar Revolusi ini berhasil menggelorakan semangat revolusi bagi bangsanya, tapi belum berhasil dalam bidang pembangunan ekonomi untuk membawa rakyatnya dalam kehidupan sejahtera, adil makmur.


Bung Hatta, Sang Proklamator

Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya.

 

Sri Sultan HB IX

Sang Bangsawan Demokratis

Pemerintahan Kesultanan Yogyakarta mengalami banyak perubahan di bawah pimpinannya. Pendidikan Barat yang dijalaninya sejak usia 4 tahun membuat Sri Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) menemukan banyak alternatif budaya untuk menyelenggarakan Keraton Yogyakarta. Dengan wawasan barunya ia menunjukkan bahwa raja bukan lagi gung binathara, melainkan demokratis.